Thursday, May 09, 2013

Naik kereta api menuju Brussels


Beberapa kawan
usul agar saya mencoba naik kereta api di Eropa. Jangan naik pesawat terbang. Harga sama, waktu juga relatif sama, bila diperhitungkan perjalanan ke airport, check in, menunggu dan boarding. Lebih menarik lagi. Stasiun kereta api selalu terletak dalam kota. Beda dengan airport, jauh dari kota, harus naik taxi.

Berlin Hauptbahnhof
Saya memilih naik kereta dari Berlin ke Freiburg, lantas dari Freiburg ke Koln dan Brussels. Pilihan di Jerman, tentu saja, kereta api adalah  Intercity-Express (ICE). Ia kereta cepat yang operasi di Jerman dan sekitarnya.

Senang sekali naik ICE karena tempat duduk luas, bisa jalan langsung ke pusat kota tanpa perlu naik taxi macam keperluan pesawat terbang. Kecepatan sekitar 225 km/jam. Saya kira Eropa adalah benua kereta api. Ia menjangkau hampir seluruh daratan Eropa.

Gerbang masuk Parc du Cinquantenaire

Human Rights Watch, Brussels
Di Brussels, setiap hari saya melewati dan menghabiskan waktu di Parc du Cinquantenaire. Ia sebuah taman, terletak dekat kantor Human Rights Watch dimana saya bekerja. Taman ini berbentuk macam huruf U dan dibangun atas permintaan Raja Leopold II untuk Pameran Nasional pada 1880. Pameran tersebut dibikin untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Belgia.

Saya sering menghabiskan waktu untuk makan siang di taman ini. Beli sandwich di sebuah toko milik orang Arab lalu cari tempat duduk di taman. Pernah juga diajak makan siang di sebuah cafe pinggir taman.

Di Brussels saya suka tinggal di sebuah hotel kecil. Namanya, Derby, bangunan kuno lima lantai, dekat Parc du Cinquanterainer. Semalam hanya 75 Euro termasuk sarapan. Satu lantai hanya lima kamar. Ada balkon sehingga bisa melihat ke jalan. Saya suka menghabiskan waktu dengan melihat jalanan, matahari terbit dan matahari terbenam. Pagi hari, saya jogging sekali di taman Parc du Cinquanterainer.

Pelangi dari Hotel Derby
Saya bekerja rutin saja tiap hari di Brussels: pagi sarapan di kamar, lalu berangkat ke kantor, dari pukul 9.30 sampai pukul 18, kembali ke hotel, mandi dan makan malam dekat hotel, pukul 20 kembali ke kamar dan bekerja sampai tidur. Tiap hari rutinitas ini. Makin hari saya makin banyak berjalan. Saya sekarang membiasakan diri mengurung diri di kamar saja guna menghemat tenaga.

Parc du Cinquanterainer dari Hotel Derby

Di Brussels orang juga bisa sewa sepeda. Ia diatur oleh pemerintah kota Brussels. Sistemnya, orang bisa sewa dan pakai lalu ditinggalkan di tempat parkir sepeda manapun. Orang tak perlu mengembalikan ke tempat parkir awal. Saya kira ia usaha yang praktis. Ada kawan saya biasa naik sepeda saat pulang kantor saja, satu jurusan, karena jalanan menurun. Dia tak mau naik sepeda saat jalanan menaik.

Luxembourg Plaza adalah lapangan persis di tengah daerah Parlemen Eropa di Brussels. Saya lihat pameran gambar, sejarah Eropa dari Perang Dunia I hingga sekarang. Gambar-gambar raksasa diletakkan sekeliling plaza. Saya perhatikan bagaimana negara-negara yang dulu saling membunuh --Perang Dunia I dan Perang Dunia II-- kini bisa bekerja sama, menghilangkan perbatasan mereka (tanpa imigrasi), mengakui kesalahan masa lalu, memakai mata uang tunggal Euro, hanya dalam waktu 60 tahun. Ada gambar kepala pemerintah Jerman dan Perancis berpegang tangan sambil meletakkan karangan bunga ke kuburan massal orang Yahudi. Dampak dari pembentukan Uni Eropa adalah saya bisa naik kereta api dari Berlin menuju Brussels tanpa satu pun orang memeriksa paspor saya.

Waffel dan cappucino tak sampai 10 Euro

Beberapa kenalan mengatakan bila datang ke Brussels harus mencoba makanan khas mereka: waffel. Pakai cream, ice cream vanila dan sirup coklat. Rasanya manis. Saya mencicipi waffel khas Brussels di daerah De Brouckere. Duduk dan mengamati orang mengobrol serta melihat kesibukan mereka.

Stasiun Brussels Utara

No comments: