Monday, June 20, 2011

Berlin Duapuluh Tahun Kemudian


PADA 1991, saya pergi berkunjung ke Berlin, dua tahun sesudah rontoknya Tembok Berlin, guna berjalan-jalan dan bikin laporan enam seri untuk harian Suara Merdeka di Semarang.

Minggu lalu, saya berkunjung lagi ke Berlin, melihat bagian barat dan bagian timur, mengamati tempat-tempat dimana dulu saya berkunjung, namun juga melihat barang-barang baru.

Pada 1991, salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah wacana menghancurkan barang-barang peninggalan rezim komunis Jerman Timur, termasuk patung Karl Marx dan F. Engel di Alexanderplatz, pusat kota Berlin sebelah timur.


Pada 1991, patung Marx dan Engel ini diberi cat merah di mulut mereka, seakan-akan mereka makan darah. Di platform patung ditulis grafiti, "Wir sind schuldig." Artinya, "Kami bersalah." Namun seseorang menambah kata "un" menjadi, "Wir sind unschuldig." Artinya, "Kami tidak bersalah."

Saya tak mau mengambil kesimpulan apakah Marx dan Engel bersalah atau tidak. Biarkan waktu kelak menilai. Namun saya senang patung raksasa ini tetap dibiarkan berada di Alexanderplatz. Ia digeser dari pusat taman ke sudut taman karena di bawah taman hendak dibangun stasiun kereta api. Bila sudah selesai, patung akan dikembali ke tempat semula.

Saya kira biarlah orang belajar sejarah tanpa tempat-tempat bersejarah dihancurkan. Setuju atau tidak setuju dengan makna dibangunnya tempat tersebut.


Die Tageszeitung di Rudi-Dutschke-Str berdiri sejak 1979. Pada Desember 2010, koperasi ini memiliki anggota 9,358 orang dengan cetak 84,258 buah (langganan 46,149 orang). Ini sebuah suratkabar independen.

Saya juga berkunjung ke kantor Die Tageszeitung, harian terkemuka di Berlin, dimana mereka bikin wawancara soal vonis penjara Abu Bakar Basyir. Media ini dimiliki oleh sekitar 10,000 orang sehingga ia dipercaya mewakili kepentingan orang banyak.

Sirkulasi sekitar 60,000 setiap hari dan 90 persen berlangganan. Model ini salah satu model paling ideal dalam jurnalisme. Tak ada pemodal yang bisa menguasai Die Tag. Saya kira Berlin beruntung sekali dengan keberadaan Die Tag.

Di Indonesia, kepemilikan media tak berubah dari 20 tahun lalu. Konglomerat media sekarang masih kelanjutan dari konglomerat zaman Soeharto. Pada 1991, media paling besar --termasuk RCTI, TVRI, Kompas Gramedia, Tempo Jawa Pos dsb-- juga masih tetap paling besar saat ini.


Perubahan wilayah Israel (putih) dan Palestina (hijau) dari 1946, 1947, 1947-1967 dan 2000. Israel makin luas. Palestina makin sempit. Peta sangat berguna untuk memahami persoalan Palestina dan Israel.

Menariknya, Marek Tuszynski dari Tactival Technology Collective, mengajar saya soal pemakaian peta dalam liputan. Dia menunjukkan berbagai macam peta dimana publik bisa belajar cepat soal perubahan. Tuszynski menunjukkan garis-garis batas negara Israel dan Palestina. Perhatikan wilayah putih (Israel) meluas, wilayah hijau (Palestina) menyempit, antara 1946, 1947, 1947-1967 serta 2000.

Saya sempat bikin rekaman You Tube satu menit terhadap warga Ramallah bernama Juman Quneis. Dia berkunjung ke Tembok Berlin dan bicara soal tembok serupa di Palestina. Quneis bilang selama tembok buatan negara Israel tersebut tidak dirobohkan, warga Palestina akan tetap menderita. Quneis berharap tembok segregasi itu dirontokkan.

Saya memang berjalan-jalan ke Berlin atas undangan Kementerian Luar Negeri Jerman. Mereka ingin saya mengenal perkembangan blog di Jerman maupun bertukar pendapat dengan blogger dari Jerman maupun beberapa negara lain dalam Deutsche Welle Global Media Forum di Bonn. Tuszynski salah seorang blogger yang pakai teknologi internet untuk mengembangkan perkakas-perkakas baru dalam jurnalisme.


Pengendara sepeda sangat banyak di Berlin. Orang bisa bawa sepeda naik kereta api. Ini membuat jalanan Berlin lebih lega. Ia tak dibikin macet oleh mobil dan motor.

Salah satu perkembangan menarik Berlin adalah transportasi. Sepeda ternyata makin berkembang. Ada jalur sepeda di setiap jalan Berlin. Pada 1991, saya suka mengamati soal transportasi. Ia terkait dengan kegiatan saya membantu Persatuan Sais Dokar di Salatiga sejak 1989. Saya senang di Berlin, 20 tahun kemudian, ternyata transportasi non-motor berkembang hebat.

Ini beda dengan Jakarta. Duapuluh tahun lalu, saya sudah menulis soal kemacetan kota Jakarta bila ia tak mengembangkan sistem transportasi multi moda: kereta api, jalur sepeda, dokar, jalan tol, trotoar. Terbukti selama 20 tahun tak banyak ada perubahan di Jakarta. Berlin justru berkembang dengan membangun jalur sepeda dan menambah kereta api.

Ini belum terlambat ditiru kota-kota lain di Indonesia. Saya tak tahu apakah ia masih bisa dilakukan di Jakarta ... salah satu kota paling hancur sistem transportasi di dunia. Namun ia seyogyanya masih bisa diperkenalkan di Singkawang atau Tobelo atau Ende.


Kathedral Berlin atau Berliner Dom. Nama resminya, Evangelical Oberpfarr- und Domkirche. Ia sebuah gereja biasa --sebenarnya bukan kathedral-- terletak di pusat kota Berlin.

Berliner Dom adalah landmark terkenal kota Berlin. Hampir setiap hari saya melewati katedral ini. Ia dibangun pada 1905 namun situsnya bekas situs gereja-gereja yang lebih tua. Gereja pertama didirikan pada 1465. Ia beberapa kali direnovasi dan diperlebar. Pada 1895 dibongkar total atas perintah Kaisar Willem II. Ia selesai dibangun ulang pada 1905 oleh arsitek Julius Raschdorff.

Berliner Dom dianggap saingan dari katedral Santo Petrus di Roma. Bedanya, Berliner Dom adalah gereja Prostestan. Santo Petrus adalah gereja Katholik. Pada Perang Dunia II, katedral ini rusak berat karena serangan bom Sekutu. Ia diperbaiki perlahan-lahan hingga selesai dipugar 1993.

Pada 1991, ketika saya berkunjung ke Berlin, katedral ini masih dipenuhi dengan kontruksi renovasi. Kini ia bisa dilihat dengan terang-benderang. Saya juga lihat langit Berlin dipenuhi dengan berbagai crane untuk kontruksi. Berlin bakal jadi kota yang menarik. Duapuluh berlalu dan saya masih lihat ia terus bekerja guna melanjutkan reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur. Ia tidak mudah. Namun 20 tahun saya lihat ia bergerak menuju perbaikan.

No comments: