Sunday, April 18, 2010

Tiga Hari Terakhir Gus Dur


Awal Januari 2010, ketika saya berada di New York, Sapariah menelepon dan bilang ada orang dari Pensil-324 memberitahu bahwa buku saya, Hari-hari Terakhir Gus Dur di Istana Rakyat, sudah terbit. Mereka juga menelepon Yayasan Pantau namun tak bisa hubungi saya.

Saya bingung. Sejak kapan saya menulis buku soal Gus Dur? Coba mengingat-ingat, akhirnya sadar bahwa Adi Sulistiono dari Pensil-324 memang pernah kirim email dan minta izin menerbitkan naskah dari majalah Pantau. Judulnya, "Kecepatan, Ketepatan, Perdebatan." Ia diterbitkan Pantau pada edisi September 2001. Isinya, rekaman tentang perilaku beberapa media di Jakarta --termasuk Metro TV, RCTI, Kompas, Forum-- dalam meliput tiga hari terakhir kekuasaan Presiden Abdurrahman Wahid pada 20-23 Juli 2001. Saya mengizinkannya.

Saya kira ia salah satu liputan terbaik yang pernah dikerjakan oleh Pantau. Ia dikerjakan sebuah tim yang terdiri dari Agus Sudibyo, Andreas Harsono, Coen Husain Pontoh, Dyah Listyorini, Elis N. Hart, dan Eriyanto. Desain polling dan monitoring televisi dikerjakan Eriyanto. Saya kebetulan yang menuliskan semua laporan tersebut sehingga byline dicetak Andreas Harsono et al.

Buku soal Gus Dur dari Pensil-324.

Persoalannya, Pensil-324 tak pernah konsultasi penerbitan naskah tersebut dengan saya. Judul mereka ganti juga tanpa memberitahu saya. Setiba di Jakarta, saya disodori sebuah kontrak dimana Pensil-324 menulis ia dicetak 5,000 eksemplar karya tersebut. Saya enggan tandatangan kontrak karena Pensil-324 bekerja tanpa prosedur benar. Namun saya juga tak mau ribut. Saya percaya pada copy left dimana suatu karya interlektual, sesudah ia terbit, menjadi milik masyarakat --bukan copy rights dimana karya dilindungi selama beberapa dekade. Ini juga bukan pertama kali naskah saya dipakai orang lain.

Beberapa kawan juga memberi ucapan selamat karena buku tersebut sudah terbit. Ada yang lihat ia dijual di Gramedia tapi juga di muktamar Nadlatul Ulama di Makassar bulan Maret. Saya sih oke saja. Saya jawab, "Saya sendiri belum lihat buku tersebut." Mereka gantian kaget.

Saya pikir minimal orang-orang bisa memiliki bacaan soal bagaimana media meliput upaya impeachment terhadap Gus Dur. Pensil-324 mungkin juga mengambil momentum Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009. Kematian Gus Dur membuat banyak orang terkenang pada kebaikan dan perjuangan Gus Dur dalam menegakkan kemanusiaan. Pensil-324 hanya perlu dua minggu guna menerbitkan naskah tersebut.

Minggu ini, secara tak sengaja saya lihat buku tersebut di toko buku Gunung Agung, Senayan City. Harganya Rp 25,000. Saya beli satu eksemplar. Saya perhatikan disain kulit muka baik. Sekilas disain dalam juga baik.

Sampai rumah, saya perhatikan ternyata setiap kali saya menulis waktu, mereka menambahkan kata "WIB" alias Waktu Indonesia Barat. Misalnya pada kalimat, ".... Mereka bergegas meliput langsung acara itu pukul 17.30 WIB dari Istana Negara ...."

Secara konsisten, kata WIB selalu dicantumkan pada setiap keterangan waktu. Impeachment terhadap Gus Dur ini terjadi di Jakarta, selama tiga hari, dari jam ke jam. Apa artinya, setiap kali menulis waktu diberi tanda WIB. Bukankah orang sudah tahu semuanya terjadi di Jakarta dan Jakarta masuk zona Waktu Indonesia Barat. Tanpa perlu diberi keterangan WIB, WIB, WIB, WIB, WIB .... Saya kecewa sekali. Saya biasa mengajar orang menulis dan selalu mengatakan agar mereka tak mencantumkan keterangan zona waktu bila kejadian suatu event terjadi pada zona sama.

Ini soal style. Saya biasa memperlakukan semua media setara. Artinya, saya biasa mengetik nama Tempo, bukan TEMPO, seperti kebiasaan majalah itu bila mengacu diri sendiri. Artinya, saya juga mengetik Forum, Kompas, Suara Pembaruan dan sebagainya. Pensil-324 mengubahnya jadi TEMPO. Namun nama media lain tak dibuat konsisten.

Murizal Hamzah, seorang wartawan dari Banda Aceh, juga kirim SMS. Dia menemukan inakurasi dimana Metro TV disebutkan mulai operasi pada Desember 2000 --namun di alinea lain disebut Desember 2001. Saya kira ini kekeliruan dari majalah Pantau. Naskah tersebut terbit September 2001. Mana mungkin Metro TV mulai siaran pada Desember 2001?

Singkat kata, saya kecewa dengan ketidakrapian buku ini. Mungkin ia bisa dicegah bila Pensil-324 mau sedikit sabar dan memberi kesempatan pada saya memeriksa naskah, merancang disain dan proof reading. Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.


Related Link
Kecepatan, Ketepatan, Perdebatan
Gus Dur Foundation Bantu BIN Lobby Washington

4 comments:

stwbod said...

BUng Andreas, terlepas dari fakta bahwa buku ini tidak Anda periksa sebelum terbit, saya ingin memiliki. Melihat deretan penulisnya, termasuk Bung Andreas sendiri, saya yakin mutunya bagus.

Taufik Al Mubarak said...

Selamat ya mas, meski banyak terdapat kekurangan seperti mas sampaikan tapi itu tetaplah sebuah karya yang patut diharga. tetap semangat, saya sudah membaca tautan link, dan membuat wawasan saya jadi terbuka

Vico DJ said...

untung saya belum baca. waktu sempat lihat sekilas saat dateng ke launcing bukunya Edi Budiarso.

airbender_a2ng said...

Bener Mas.. nasi dah jadi bubur, sekarang gimana bubur jadi enak