Monday, February 01, 2010

Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia



BILA nasib baik bulan ini sebuah esai aku akan terbit dengan judul "Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia." Bersama Jamila Trindle, seorang wartawan televisi Philadelphia, dan Lexy Rambadeta dari Offstream, kami pergi ke Pulau Lombok guna meliput para pengungsi Ahmadiyah di Transito, sebuah gedung pemerintah di Mataram, pada Maret 2009. Kini saya lagi coba menerbitkan naskah ini di Jakarta.

Kini makin sedikit organisasi media yang sanggup membiayai liputan panjang. Liputan kami disponsori oleh International Center for Journalists. Kami mewawancarai seorang petani Ahmadiyah di dusun Gegerung, Ketapang, sekitar 90 menit dari Mataram. Dia berdiri di tanah dimana rumah miliknya dulu berada. Kini rumah tersebut sudah habis dibakar orang dan dijadikan sawah.

Aku suka dengan esai ini. Aku mengerjakan dengan lambat karena harus melakukan pekerjaan lain. Ia akan jadi salah satu naskah panjang aku. Ada beberapa kawan membantu melakukan fact checking.

Kini beberapa kawan sudah mulai merancang sebuah antologi baru, semua karya panjang aku, dijadikan satu buku. Mulai dari liputan soal majalah The New Yorker hingga Acheh, dari privatisasi air minum Jakarta hingga Ahmadiyah. Ada satu naskah yang belum pernah diterbitkan dimana-mana juga akan masuk dalam antologi baru tersebut.

5 comments:

MUBARIK said...

Hi Andreas…ditunggu bukunya ya…
Ma'af saya tidak sempat menemani ke Lombok bersama Jamila saat itu.
Good luck!

jeng dwita said...

ajiiiib....

budiandra said...

hai anderas, sukses ya ditunngu esainya..salut anda hebat dan berani

antonius said...

Wah kalo bisa terbit, oke tuch...belajar banyak juga tentang agama, seperti di ceritain di kelas.

Sukses Mas Andreas

Salam
Anton

stefanus akim, said...

Bang, ditunggu bukunya. Pasti asyik bacanya.
Sukses