Sunday, February 21, 2010

Muaro Jambi


Sabtu kemarin, saya berjalan melihat candi-candi Buddha di Muaro Jambi. Catatan awal yang terekam mengatakan candi-candi ini sudah ada pada abad VII, di Muaro Jambi, sisi Sei Batanghari. Belum diketahui apa nama candi-candi ini.

Menurut keterangan dalam musium di Muaro Jambi, ada 82 candi sudah didata namun baru tujuh buah sudah direnovasi. Semua candi terletak pada area seluas 2,026 ha namun hanya 10 ha yang tanahnya sudah dibeli dari warga.

Ia "ditemukan" lagi pada 1820 oleh seorang petugas kolonial Belanda, S.C. Crooke, ketika sedang survei di Sei Batanghari. Sementara ini candi-candi ini dinamakan sesuai penamaan oleh warga lokal: Candi Gumpung, Candi Kedaton, Candi Koto Mahligai, Candi Tinggi dan sebagainya.

Dari 1976 hingga 2010, baru tujuh candi sudah direnovasi. Lainnya, masih berupa "menapo" --gundukan tanah dimana candi terkubur. Semua candi ini dihubungkan satu dengan lain lewat kanal-kanal.

Saya datang ke Muaro Candi bersama 20an mahasiswa Jambi. Mereka ikut sebuah workshop di Camp Sei Tapah dimana Fahri Salam dan saya mengajar pada 15-20 Februari 2010.

Peserta workshop Sei Tapah.

Candi Tinggi dengan retuntuhan batu bata.

Perlu 158 tahun agar pemerintah Hindia Belanda dan Indonesia mulai renovasi Candi Tinggi.

Rumput hijau terpelihara rapi di Muaro Jambi.

Saya geli ketika seorang manager perkebunan PT Wira Karya Sakti, seorang alumnus Institut Pertanian Bogor, mengatakan pada saya bahwa candi-candi Muaro Jambi ini adalah bukti pengaruh kekuasaan Majapahit di Jambi.

Majapahit adalah kerajaan Hindu. Candi-candi ini banyak berupa stupa. Artinya, ia adalah kebudayaan Buddha. Beberapa candi Majapahit, yang ditemukan sekitar Blitar, dibangun pada abad XII. Bagaimana mungkin kerajaan abad XII bisa mempengaruhi kerajaan abad VII, yang sudah berdiri 500 tahun sebelumnya?

Dia hanya tersenyum ketika menyadari kekeliruan itu. Mungkin ini typical produk pendidikan Indonesia. Mereka tak tahu apa-apa soal kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara. Semua dihantam dengan mitos bahwa Majapahit adalah kerajaan besar, berkuasa dengan wilayah luas. Padahal Majapahit adalah kerajaan dengan wilayah sekitar perbatasan (hari ini) Jawa Timur dan Jawa Tengah.

10 comments:

andersonite said...

Anda memang benar tentang abad kekuasaan Majapahit. Tapi mengenai wilayah kekuasaan, saya mohon klarifikasi lagi: Kalau saya baca riwayat Singapura, Sunda, maupun Bali, memang ada sejarah diserbu dan dikuasai Majapahit. Apakah benar Majapahit hanya kerajaan kecil saja?

Andreas Harsono said...

Kalau Anda sabar, saya akan membeberkan semua argumentasi tersebut, dari bacaaan2 klasik maupun sanggahan2 terhadap Muhammad Yamin, dalam buku saya A Nation in Name. Yamin adalah orang yang membangun mitos Majapahit. Mudah2an tahun depan, semua ini sudah beres dan rapi dalam buku tsb.

In-def-i-nite said...

Pak Andreas, artikel dan photo2nya boleh dishare? tentunya dengan mencantumkan sumbernya.

STR said...

Mantap. Saya tunggu bukunya, mas.

Andreas Harsono said...

Silahkan untuk share foto-foto candi dari naskah ini. Saya juga ingin orang sadar bahwa ada candi di luar Jawa yang lebih tua, lebih besar, dari candi-candi di Jawa. Terima kasih.

MUSTHOFA BISRI said...

Sejarah Majapahit Perlu Dikaji Ulang

Rabu, 10 Maret 2010 | 03:54 WIB

Medan, Kompas - Beberapa bagian dalam sejarah Majapahit perlu dikaji ulang karena diduga tidak sesuai fakta. Pembacaan ulang sumber-sumber yang ada memberikan informasi adanya kesilapan dalam penggalian sumber-sumber sejarah Majapahit. Kepentingan politik diduga menjadi penyebab munculnya kesilapan itu.

Pengajar pada Universitas Hawaii, Prof Uli Kozok, dalam ceramah berjudul ”Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatera” di Universitas Negeri Medan di Medan, Selasa (9/3), mengatakan, berdasarkan pembacaan ulang sumber-sumber primer dari sejumlah prasasti dan beberapa kitab, sebaiknya beberapa bagian dari sejarah Majapahit dikaji ulang. Prasasti dan kitab yang menjadi acuan tersebut, antara lain kitab Pararaton, kitab Negarakertagama, dan prasasti pada arca Amoghapasa.

”Parameter-parameter yang digunakan dalam sejarah Majapahit selama ini adalah perspektif dari sejarah nasional kemudian digunakan untuk menyusun sejarah lokal. Seharusnya, dari sejarah lokal kemudian muncul sejarah nasional. Hal ini demi sejarah Indonesia yang obyektif,” kata Kozok.

Dalam kaitan Majapahit itu, Kozok memperlihatkan, dari pembacaan ulang yang dilakukannya diketahui bahwa Adityawarman adalah putra Minang yang lahir dan besar di Minang. Baru pada usia dewasa pergi ke Majapahit dan menjadi pejabat, yaitu menteri tua, di kerajaan itu. Pengangkatan ini lebih berkaitan dengan persahabatan Melayu dan Majapahit.

Berbeda

Hasil penelitian ini berbeda dengan teks-teks yang ada dalam sejarah Indonesia yang menyebutkan, Adityawarman adalah kelahiran Jawa yang merupakan saudara sepupu Jayanagara.

Dari hasil penelitian juga diketahui, Adityawarwan hanya sebatas menjabat sebagai menteri tua. Hal ini berbeda dengan teks sejarah selama ini yang menyebutkan Adityawarman pernah menjadi duta besar Majapahit untuk China. Dalam teks yang ada juga disebutkan bahwa Adityawarman pernah memimpin ekspedisi untuk menaklukkan wilayah Sumatera bagian utara. Berdasarkan hasil penelitian, Adityawarman tidak pernah memimpin ekspedisi itu.

Kozok menyebutkan, dalam teks-teks yang ada menyebutkan bahwa wilayah Sumatera adalah wilayah bawahan Majapahit. Namun, dari penelitian diketahui bahwa Adityawarman tidak pernah terlibat dalam penaklukan beberapa wilayah di Sumatera bagian utara.

”Hubungan Majapahit dengan Melayu bukan daerah taklukan, melainkan dua daerah yang sama derajatnya,” kata Kozok. Ia mengatakan, dengan demikian maka sebenarnya pada waktu itu ada kekuatan tersendiri di wilayah Sumatera.

Memang dalam masa berikutnya Adityawarman diketahui menjadi penerus kerajaan Melayu di Dharmasraya dan sebuah kerajaan di Pagaruyung. Hal ini diketahui dari peninggalan patung bhairawa di Dharmasraya dan prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Pagaruyung yang menyebut nama Adityawarman sebagai raja.

Kozok mengatakan, ada titik awal untuk mengkaji ulang sejarah Majapahit yang berkaitan dengan Sumatera.

Mengenai kemungkinan perubahan teks-teks sejarah yang sudah ada, Kozok menyebutkan, beberapa hasil interpretasi baru kadang tidak bisa diterima oleh sejumlah kalangan. (MAR)

Arya Dimas Renaisans said...

Hm, boleh juga Mas kami diberi tahu argumentasi2 sanggahan terhadap Muhammad Yamin.

Dari luas areal, situs percandian Muaro Jambi memang terluas se Asia Tenggara. Sempat terpikir oleh saya seandainya candi-candi disini dirawat maksimal seperti di Prambanan atau di Borobudur, wah bakalan ramai turis kemari, atau dieksplor lebih dalam untuk menggali 70-an candi-candi yang masih tertimbun.

Apa arkeolog2 kurang tertarik dengan Muaro Jambi ya?

pustaka said...

saya asli muaro jambi. terima kasih telah membantu mempublikasikan cagar sejarah kami yang selama ini sempat tertimbun oleh politik historiografi nasional, bahkan hingga sekarang. saya kira,kompleks candi muaro jambi menjadi tidak tersohor bukan hanya karena mitologisasi majapahit yang superfisial, namun juga disebabkan keengganan pemerintah daerah untuk merekonstruksi,mengkonservasi,dan mempublikasikannya. hampir-hampir tidak ada prioritas perhatian yang cukup serius dari mereka.

padahal bagi orang-orang yang paham sejarah, kompleks candi muaro jambi bernilai historis tinggi. banyak sejarawan, seperti sukmono dan slamet moeljana, membuat hipotesis: kompleks candi muaro jambi merupakan ibukota kerajaan sriwijaya--kerajaan hindu maritim nusantara yang kebesaran dan kegagahannya tak kalah dibanding majapahit. dan beberapa arkeolog mengakui, kompleks candi muaro jambi dibuat dengan teknologi yang canggih. ini dapat dilihat dari batu yang digunakan dan pola arsitekturalnya. sewaktu kerajaan sriwijaya mencapai masa keemasannya, sungai batanghari berfungsi sebagai transportasi regional kerajaan sriwijaya. untuk melancarkannya, dibangun selokan-selokan yang menghubungkan sungai batanghari dengan ibukota kerajaan sriwijaya: kompleks candi muaro jambi. melalui selokan ini, lalu-lalang para punggawa kerajaan, pedangan, petani, dan duta-duta kerajaan tetangga. tapi sayang, jejak dan remah selokan-selokan ini sekarang telah sulit dilacak.

bila ingin berbincang seputar candi muaro jambi, silahkan mampir di website www.swarnabhumi.org. kami akan sangat bersukahati.

pustaka said...

mas andreas,saya minta izin nerbitin artikel "Muaro Jambi" ini di buletin kami ya, "Swarnabhumi Newsletter". makasih ya mas...

Andreas Harsono said...

Silahkan. Ini hanya naskah pendek. Bila kelak buku saya sudah terbit, saya akan membeberkan argumentasi yang lebih dalam dan lengkap. Terima kasih.