Friday, May 08, 2009

Najwa Shihab dalam Facebook


Pada awal Mei 2009, Jusuf Kalla mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia. Partai Kalla, Golkar, mendapatkan suara kedua terbanyak sesudah Partai Demokrat pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Ia pencalonan menarik. Bukan saja karena Presiden Yudhoyono pecah kongsi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla namun juga karena kepribadian mereka berbeda. Yudhoyono lebih pelan, terkesan hati-hati, mengatur bicara dengan teliti. Jusuf Kalla lebih blak-blakan, praktis dan sering bikin pernyataan yang kontroversial. Kalla juga orang Bugis. Ini pertama kali ada orang non-Jawa mencalonkan diri sebagai presiden di Indonesia. Kalla maju bersama Jenderal Wiranto dari Partai Hati Nurani Rakyat sebagai calon wakil presiden.

Pada 8 Mei 2009, mereka memilih untuk tampil berdua di Metro TV. Ini penampilan mereka pertama setelah menyatakan siap untuk bertanding melawan Presiden Yudhoyono. Wajar jika banyak orang, setidaknya di Jakarta, ingin tahu apa yang hendak ditawarkan Jusuf Kalla.

Alamak! Interview tersebut jadi terganggu karena kekurangsiapan Metro TV. Mereka memasang Najwa Shihab, seorang wartawan Metro TV, untuk memimpin interview. Saya terganggu karena Shihab lebih panjang bicara daripada memberi kesempatan kepada Kalla dan Wiranto. Mungkin kesimpulan saya salah.

Maka saya menuangkan pikiran tersebut ke dalam Facebook. Ini sebuah media sosial dimana ketika interview berlangsung, ternyata tanggapan orang beruntun masuk ke dalam wall saya. Tanggapan datang dari cukup banyak wartawan. Mereka kebanyakan setuju dengan saya. Najwa Shihab bicara lebih banyak daripada nara sumbernya.
Bambang Wisudo dari Aliansi Jurnalis Independen menulis, “Perlu ada pelatihan dasar-dasar wawancara untuk para presenter dan pewawancara televisi. Hanya sedikit yang bagus, sebagian besar ngawur wur wur.”

Facebook sudah berubah. Bukan saja sebagai media sosial –buat mencari kawan lama-- tapi juga media alternatif guna melancarkan kritik terhadap media mainstream. Ini salah satu kelebihan media sosial walau saya juga perlu mengingatkan setiap orang yang menulis di media sosial, tetap harus memperhatikan kaidah jurnalisme.


May 5 at 10:31pm

Andreas Harsono Najwa Shihab interview Jusuf Kalla dan Wiranto di Metro TV. Kesan saya, Shihab bicara lebih panjang daripada kedua nara sumbernya. Ini kebiasaan wartawan Majapahit: lebih banyak bicara daripada sumbernya.

Wu Su Wei, Ready Susanto, Caisar Hadi P and 15 others like this.

Heriyanto Sagiya at 10:36pm May 5

Sering saya merasa tidak nyaman ketika menonton acara dialog di televisi, dimana si pewawancara terkesan sok pintar. Mereka juga suka memotong seenaknya ketika narsum sedang menjelaskan, mendebat si narsum, dan suka "over" barangkali supaya dianggap "lebih".

Gembong Nusantara at 10:37pm May 5

I like your "majapahit" term. remind me to panji koming. piye nda? hahahahaaaa

Wahyuddin Halim at 10:39pm May 5

Saya setuju dengan kesan mas Andreas dan Heriyanto tentang pewawancara spt Najwa Shihab: dia tidak paham etika berdiskusi dan cenderung pamer kemampuan menjebak narsum. Gimana caranya memberitahu dia dengan bijak ya. Kalao di Metro TV, pavorite saya untuk acara bincang2 adalah Kania Sutisnawinata. Dia cerdas dan lebih santun

Andreas Harsono at 10:42pm May 5

Interview yang baik selalu "terbuka" --what, where, who, why, when, how-- dan tidak "tertutup" --jawabannya bisa ya atau tidak. Makin pendek suatu pertanyaan, makin tinggi daya tangkap sumber (maupun pemirsa). Makin panjang suatu pertanyaan, makin menurun daya tangkap. Wartawan2 televisi Majapahit tampaknya suka bertanya "tertutup" dan panjang2. Shihab bertanya sering lebih dari 40 kata. Juga tertutup. Pertanyaan yang baik hanya satu kata "why" dan kalau harus lebih panjang, max 16 kata.

Mary Osmond at 10:44pm May 5

Hahahhahahha. Bener bgt Mas Andreas. Last week aku ke acara peluncuran buku, dia jadi moderator diskusi. Suka motong pembicaraan narasumber. Terlalu provokasi gitu kesannya.

Zahrul Kj J-Rule Fuadi at 10:44pm May 5 via Facebook Mobile

Wah thanx mas andreas.. Ilmu nya keren tu,^^

Eko Satiya Hushada at 10:45pm May 5

wartawan bukan jaksa (penyidik). biasanya ini terjadi pada wartawan yunior. tetapi ketika itu terjadi pada wartawan senior, gak berlebihan rasanya jika kita menyebutnya over acting. narsum ke studio bukan untuk dihakimi, ditelanjangi, dipermalukan. tetapi digali untuk mendapat informasi sedalam-dalamnya.

Adityas Annas Azhari at 10:46pm May 5

emang betul tuh si najwa harusnya dikasih peringatan dan saya sudah tak tertarik untuk menontonya lagi.

Jennie S. Bev at 10:46pm May 5 via Facebook Mobile

Why Kak Andreas? He didnt get basic journalistic training? It is so basic...

Maria Sinta at 10:48pm May 5

Saya lihat itu jadi trend di kalangan TV interviewer utk program2 politik sejak jaman Ira Kusno SCTV di mana saat itu memang hal demikian menjadi terobosan kejenuhan & kebuntuan suasana yg ada, walaupun sedikit banyak 'menyalahi' etika & peraturan jurnalisme (? mohon dikoreksi bila salah ya). Sejak saat itu trend ini muncul hingga saat ini, dan dianut oleh banyak host di tv swasta tsb..dan memang, terasa mengganggu dan kurang (tidak) pantas

Fitri Listiyana at 10:49pm May 5

senang mendengarkan suaranya sendiri..

Heriyanto Sagiya at 10:51pm May 5

Selain Najwa Shihab,, dulu Meutia Hafids juga sering begitu.. weleh.. weleh..

Arief Farihan at 10:51pm May 5

mungkin bang karena sebagian wartawan kadang ingin menunjukkan dirinya pintar dan tahu permasalahan (apa sok tahu ya hihi ) di depan narasumbernya...

Bayu Widagdo at 10:52pm May 5

Sorry mas... seingatku wartawan majapahit malah diem2..kan aliran kebatinan...jadi diem saja sudah tahu...

Kurniawan Junaedhie at 10:53pm May 5

Dalam catatan saya, Najwa juga pernah mengajukan pertanyaan berdasarkan kesimpulan yang salah untuk memprovokasi nara sumber. Dia menyimpulkan Ketua Bapilu Demokrat "bertepuk tangan" atas hasil quick qount, padahal kita semua tahu dan mendengar, ketua bapilu 'hanya' mengatakan "bersyukur". Saya melihat nara sumber sempat terpana.

Ahmad Iman Syukri at 11:00pm May 5

Ya itulah, seringkali syarat "utama" jadi host harus cantik dan menarik. Kemampuan belakangan.. hehe. Jauh banget dengan CNN. Host CNN yang sering saya tonton rata-rata berumur dan memiliki jam terbang liputan.

Nurlaily Afriani at 11:04pm May 5

Najwa kalau meng'cut' penjelasan narsumnya langsung tanpa tedeng aling-aling...padahal dia tahu body language dari si narsum bahwa pertanyaan selanjutnya yang diajukan sdh siap untuk dijawab...mungkin itu teknik agar acara terlihat menarik, tapi menurut sya itu gak sopan!!

Ratna Ariyanti at 11:20pm May 5

Hahaha. Anda benar mas.

Andry Kurniawan at 11:25pm May 5

saya juga masih belajar Jurnalisme ih mas Andreas. terimakasih ilmunya.

Andreas Harsono at 11:31pm May 5

Saya duga kesalahan juga terjadi karena ada dua komentator juga diundang kasih pendapat di studio. Shihab harus jungkir balik mengatur waktu. Ini mungkin membuat dia bicara cepat2 yang kesannya agresif.

Seharusnya, JK dan Wiranto diberi waktu lebih panjang untuk bicara apa yang hendak mereka janjikan. Ini akan membantu pemilih dapat informasi. Saya duga, kalau Saur Hutabarat yang interview, suasana akan lebih baik. Hutabarat lebih berpengalaman daripada Shihab. Dia mungkin berani minta interview one-on-two tanpa komentator.

Anyway, Shihab dan presenter2 Majapahit lain perlu belajar interview terbuka dan pendek. Ini bukan monopoli Najwa Shihab.

Anjani Dyah Paramita at 11:48pm May 5

kalo talkshow ringan, mending alvin adam :-) and andy f noya of course

Ruhut Ambarita at 11:51pm May 5

Berarti perlu diubah cara merekrut wartawan di Indonesia. Tidak ditentukan oleh indeks prestasi akademis, jebolan kampus lokal atau luar negeri, atau penampilan fisik semata.

Tony Suhartono at 11:54pm May 5

keren mas andreas..belajar bertanya nih..salam buat mbak ari...

Sulfikar Amir at 12:02am May 6

sangat menjengkelkan emang melihat para pewawancara itu mendominasi. tapi saya kira yang lebih buruk itu rizal mallarangeng di save our nation. pertanyaan dari dia, jawaban dari dia juga. jawaban yang tidak dia suka langsung di cut. saya belum menemukan jurnalis indonesia yang sekaliber tom brokav atau anderson cooper yang kalo bertanya kalem namun menohok. solanya industri berita tv kita masih sekelas infotainment. more entertaining than learning.

Henny Saptatia DN Sujai at 12:06am May 6

Kesan saya Bung Andreas, itu selalu terjadi ketika si presenter, host, anchor, interviewer merasa lebih penting dan lebih bintang dari pada pengisi acara atau tamunya... Mereka ingin menunjukan diri pada publik sebagai si brilian...

Kadang-kadang saya pengen sodori perempuan2 interviewer macam itu dengan diktat-diktat "bagaimana melakukan wawancara di TV dan radio"...

Pir Owners at 12:11am May 6

ternyata dunia KESAN itu penuh makna ya..?! ---Tanya Kenapa----hehehhehe

Kresna Astraatmadja at 12:22am May 6

Maaf ya, kalau tidak melihat topiknya, rasanya kok hanya setingkat di atas Tukul. Jawabannya disuplai produser, lantas belum dijawab narasumber sudah dikomentari sendiri, lalu diketawai penonton, lantas sudah buang waktu baru ditanya lagi ke tamunya...

Sumpah, jangankan untuk acara serius, jika bertanya dan berkomentar terlalu bertele2 memang membuat mual, sekalipun di acara "Bukan Empat Mata"nya Tukul...

Irmawati Dewanto at 1:00am May 6

Makasih Mas Andreas, masukan yang baik buat kita para jurnalis tv, terutama buat para produser talkshow ... kapan dunk bisa ngobrol2 biar ga jd wartawan majapahit..

Firqie Firmansyah at 3:33am May 6 via Facebook Mobile

Ini penyakit lama pewawancara (di tivi maupun radio): demen melakukan masturbasi siaran.. Gak peduli narsum, apalagi audiens ;)

Wahyuddin Halim at 6:59am May 6

Semoga Najwa Shihab bisa membaca postingan2 di sini...! Sayang juga jika gak nonton MetroTV, tapi kalo ada Najwa segalanya jadi gak menarik...

Bambang Wisudo at 7:20am May 6

Perlu ada pelatihan dasar-dasar wawancara untuk para presenter dan pewawancara televisi. Hanya sedikit yang bagus, sebagian besar ngawur wur wur. Semoga mereka tidak terlalu sombong untuk belajar lagi ...

Andreas Harsono at 9:39am May 6

Rizal Mallarangeng memang bukan wartawan dan tak punya pengalaman jurnalisme yang cukup significant. Dulu dia pernah kerja di harian Bernas, Jogjakarta, sebagai redaktur opini, serta berangkat ke Iraq sebagai aktivis perdamaian. Pengalaman reportase Mallarangeng kurang kuat. Saya maklum deh kalau Mallarangeng belum bisa melakukan wawancara dgn bermutu. Tapi Najwa Shihab ini kan dianggap wartawan?

Wai Mohammad S at 9:41am May 6

hahahahahahahaaaaaaaaaaaaaaa

Bambang Bider at 10:12am May 6

ya...mas kayaknya diajar untuk lebih banyak mendengar biar komentarnya lebih passs tu...si shihab

Pir Owners at 1:26pm May 6

@Sulfikar: Benar..Kalo talk show ditangani Rizal Mallarangeng pasti jadinya menyebalkan. Setahu saya ada satu host talk show yang pernah dimiliki station tv swasta yang cukup mumpuni. Namanya Rizal juga, tapi yang ini Rizal Mustary. Terakhir yang saya tahu beliau jadi Kadept di Astro tv

Bea Jimny at 4:50pm May 7

Najwa Shihab? hehehe saya paling ingat dia menangis di tv ketika membuat laporan soal tsunami di Aceh... seolah lebih sedih dari korban tsunami...

2 comments:

hahaji said...

saya jadi ingat juga dengan seorang wartawan Trans TV, melaporkan langsung musibah (belum tentu) banjir setinggi paha orang dewasa. Ujung-ujungnya dia berakting berlutut. Padahal genangan hanya setinggi telapak kaki orang dewasa. supaya naik tayang barangkali.

Lambertus L. Hurek said...

Suwun. Artikel ini mewakili unek-unek saya selama ini. Pewawancara TV sering memperlakukan sumbernya bak pesakitan, kayak interogasi, dihabisi. Mudah-mudahan redaksi televisi kita, khususnya Metro TV, membaca masukan ini. Salam.