Tuesday, May 05, 2009

BPN2TKI Mencuri Gambar


Pada
29 April 2009, isteri aku, Sapariah Saturi, menerima beberapa SMS dari Pontianak. Intinya, mereka menggoda Sapariah soal dia tampil di brosur TKI terbitan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Sapariah menulis di Facebook, "Ada gambar aku lagi antri, liburan di Ancol, bareng temen2 kost, eh sama BPN2TKI malah dijadikan gambar brosur TKI. Gambar itu ada di BLog misua, AH. Kok bisa. Aneh ya?"

Yeni Simanjuntak dari Bisnis Indonesia menanggapi, "... komplain aja ke Jumhur (kepala BNP2TKI). Gak bener banget sih. Brosur aja udah asal gitu, gimana ngurusin TKI-nya ya???" Dian Rakhmawati dari harian Equator menulis pesan Facebook, "Heboh tuh mba ari, liat wajah sumringah mba ari di brosur."

Sapariah penasaran. Kami minta dikirimi brosur tersebut. Wartawan-wartawan Pontianak mendapatkan brosur tersebut dari Moh Jumhur Hidayat, yang lagi berkunjung ke Pontianak dan Entikong-Tebedu, kota perbatasan Kalimantan dan Sarawak. Djumhur juga berkunjung ke kantor harian Pontianak Post dan Tribun Pontianak serta menemui Gubernur Kalimantan Barat Cornelis. Seorang wartawan lantas kirim gambar brosur itu ke Jakarta.


Kami mempelajari brosur BNP2TKI. Disana ada gambar Sapariah dan kawan-kawan kostnya, termasuk Dwi Ekawati (Wewek), Citra Kurniawati, Felicitas Novita Daniyanti (Vita), Eva Danayanti dan Fadhlila Fithriana (Lila). Mereka lagi piknik di Dunia Fantasi, Ancol. Mereka antri depan suatu permainan di Dunia Fantasi. Saya mengambil dan menaruh gambar ini dalam blog saya dengan judul "Dunia Fantasi" tertanggal 17 Desember 2005.

Menariknya, dalam gambar asli ada anak saya, Norman Harsono, yang waktu itu merengek bisa ikut piknik di Ancol. Tampaknya, orang yang membuat brosur itu menghilangkan Norman. Logikanya sederhana. Norman, seorang anak umur delapan tahun, citranya tak mendukung upaya BNP2TKI menciptakan kesan orang-orang, yang antri itu adalah para warga Indonesia, yang bekerja di luar batas negara Indonesia.

Namun dalam gambar BNP2TKI itu, sebenarnya tak ada satu seorang pun tenaga kerja di luar Indonesia. Mereka kebanyakan anak-anak kecil, ditemani orang tua mereka, sedang liburan di Dunia Fantasi.


Sapariah mengirim pesan ke Djumhur dan minta penjelasan. Djumhur membalas, "Waduh saya nggak tahu leaflet yang mana itu ya? Mungkin pembuatnya ngambil dari internet kali ya. Jadi bagaimana dong? Saya selaku kepala BNP2TKI minta maaf atas ketidaknyaman ini. Btw di Jurnas di desk apa?"

Sapariah menerangkan dia wartawan Jurnal Nasional. Lalu Djumhur membalas pesan lagi, "Nanti saya cek ke direktorat yang tangani itu ya."

Seseorang juga mengirim SMS, dari nomor 0888-9126 856, "Salam kenal Saudari Sapariah Harsono. Dengan penuh hormat saya menyampaikan permohonan maaf telah mencantumkan foto Saudari Sapariah ke leaflet dan saya tidak akan mengulangi lagi. Terima kasih banyak atas kritikannya. Salam Ayahya. $YahyaWeb." Saya duga "Yahya" adalah orang yang mencuri gambar dan membuat brosur.

Kesalahan BNP2TKI bukan saja mencuri gambar namun memakai representasi yang keliru dalam pekerjaan mereka. Mereka hendak menciptakan kesan seakan-akan orang yang sudah bekerja sebagai tenaga kerja selalu ceria, bisa tersenyum. Sapariah tak suka dengan manipulasi citra.

Sebagai fotografernya, saya juga mengirim pesan Facebook kepada Djumhur, "Saya ingin tahu, bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang mengambilnya? Siapa yang bertanggungjawab terhadap brosur itu? Mengapa diambil gambar orang antri di Ancol (ada caption) untuk dipakai dalam brosur TKI?"

Pada 3 Mei, Djumhur juga membalas pesan Facebook saya, "Itu pasti kelalaian petugas design nya. Kami minta maaf dan sisa brosur yang ada akan kami tarik segera."

Kami menerima permintaan maaf dari Djumhur dan Yahya Web. Mereka janji brosur itu tak diedarkan. Case closed.

8 comments:

Yauma Yulida H. said...

Gawat...

MUSTHOFA BISRI said...

wah ini gawat urusannya, merusak citra, saya yakin hal seperti ini sudah sering mereka lakukan, asal comot gambar di internet, baru ketahuan sekarang,, harus terus dipantau, sudah ditarik belum tu brosur.... biasanya birokrat kita suka tidak menepati janjinya....

Fahri Salam said...

HAHAHA... Ini bener-bener lutju! Menunjukkan kebodohan birokrasi di Indonesia! Gila aja, seenaknya banget amtenar urusan TKI itu comot poto orang!!! Really stupidipidu!

stefanus akim, said...

Saat BNP2TKI (Jumhur satu di antaranya) berkunjung di Pontianak mereka singgah juga di Tribun Pontianak.
Mereka juga membagikan brosur itu ke teman-teman.

Aku, sama seperti wartawan di Pontianak juga terkejut. Kok bisa-bisanya ada foto mbak Arie di brosur yg dibagikan. Teman-teman di kantor, pun terkejut dengan gambar di brosur itu.

Ini kacau...Apa sih sulitnya cari foto TKI? Datang aja ke Entikong, banyak tuh. Urus foto TKI aja SANGSOT, apalagi urus TKI-nya.

Saya setuju sama Bung Musthofa Bisri, pantau terus brosur itu benar ditarik nggak. Siapa tahu saat kunjungan di tempat lain dibagikan lagi.

haryo98 said...

perbuatan kriminal itu.. dan, gila banget.. gimana kita percaya, bahwa mereka dapat menangani TKI?

Yacob said...

Cewek berkerudung hijau corak berkaos Zeztea, saya kenal muka itu, Citra Kurniawati, eks-jurnalis Kontan seangkatan dengan saya. Dia seorang TKW? Plis deh...

Diachra said...

Blog marketing wah maen copas aja nie, kayaknya ini sudah jadi budaya yang biasa di negeri kita

Aziz said...

wah...gazwat ini..
Bener bener keterlaluan tu BPN2TKI masa asal tempel gambar punya orang?
Trus Jangan jangan cara melindungi TKI juga asal asalan nih.