Saturday, May 17, 2008

Norman, Berenang dan Proyek Rakitan


Sejak 18 Maret lalu Norman tinggal sepenuhnya dengan aku di apartemen Senayan dan enggan mengunjungi ibu kandungnya, Retno Wardani, di kediaman Bintaro. Aku menemani Norman ke sekolah setiap pagi dan menjemputnya setiap siang.

Biasanya, dalam perjalanan pulang, Norman cerita apa saja yang terjadi di sekolah hari itu. Entah gosip bahwa seorang temannya, seorang anak warga Pakistan, ditaksir oleh cewek dari kelas lain. Aduh, ceritanya gegap gempira! Ini "skandal" pertama untuk anak-anak kelas enam.

Atau reaksi kelas 6C ketika Norman membawa mock up lapangan sepak bola dengan seorang pemain melakukan tendangan pisang ke arah gawang. Norman merancang dan memasang alat-alat elektronik untuk menggerakkan tendangan tersebut. Teman laki maupun perempuan mencoba mainannya.

Kalau lagi punya uang, biasanya kami mampir di Dunkin Donut. Norman suka sandwich roast beef dan es lemon tea. Dia tahu aku suka teh hijau Nu. Kalau uang sakunya (Rp 20,000) berlebih, Norman membelikan Nu untuk aku. Dia juga belajar menabung di celengan. Kami juga suka minuman mineral Mizone. Sri Maryani, pengasuh Norman sejak kelas satu, biasanya suka pesan glazzy donut atau donat putih gula.

Di apartemen, sesudah istirahat sejenak (terkadang juga bisa tidur lelap hingga dua jam), sore hari Norman berenang. Dia suka mengajak anak-anak tetangga: Genta, Tanje, Claudio, Lifi dan sebagainya. Kakak-beradik Genta dan Tanje adalah tetangga langsung kami. Orang tuanya juga kenalan lama. Tanje suka main sepak bola. Norman sangat suka berenang. Dua bulan lalu dia minta dibelikan kacamata air anti-kabut anti-silau merk Arena.

Sesudah berenang, semua kembali ke unit masing-masing. Biasanya anak-anak ini diminta mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah. Norman mengeluarkan pengumuman sekolah atau buku-bukunya. Dia juga sering memakai komputer aku untuk riset internet. Terkadang dia berlatih program Microsoft Excel untuk matematika. Paling sering, tentu saja, memakai Microsoft Word untuk mengetik esai sekolah. Kebudayaan Yunani. Kebudayaan Romawi dan sebagainya.

Bila PR tidak ada, Norman menyibukkan diri dengan mengerjakan proyek-proyek pertukangan. Dia kini suka membikin barang-barang kecil bergerak --mobil-mobilan, kapal selam, ikan hiu, kacamata dilengkapi lampu baca, tendangan pisang dan sebagainya. Aku memberinya sebuah tool box Krisbow warna oranye-hitam. Kami juga bersama-sama membeli kabel, motor, board, tang, gunting kabel, rupa-rupa selotip dan sebagainya.

Kami sering kagum melihat disainnya. Norman biasa menggambar disain lebih dulu. Cukup detail. Dia suka bermain dengan gear buat menggerakkan macam-macam tuas dan roda. Lantas disain diubahnya jadi barang. Tentu saja, Genta dan Tanje ikut menikmati proyek-proyek science ini. Pernah aku lihat mereka main kapal selam di kolam renang. Anak-anak ini menyelam guna mengikuti gerakan sebuah kapal rakitan dari ujung kolam ke ujung satunya.

Malam hari, Norman harus tidur pukul 21:00 namun ini sering diabaikannya. Aku harus berkali-kali minta dia tidur awal. Dia hanya tertawa. Ada acara "Mythbuster" di Discovery Channel yang disukainya. Tentu juga acara-acara di Cartoon Network, Disney Channel serta Nickelodeon. Aku terkadang meninggikan suara dan menyuruh dia tidur. Namun ada saja yang dia lakukan di kamar tidur. Bermain dan bergurau.

Keesokan pagi, Norman biasa bangun pukul 6:15 untuk bersiap ke sekolah. Kalau lagi tidur malam, biasanya dia masih mengantuk. Sesekali dia tidur sangat awal dan bangun pukul 5:00. Kami memanaskan mobil sekitar lima menit dan berangkat sekolah. Ini jauh lebih manusiawi daripada berangkat pukul 5:30 dari Bintaro ke sekolah.

Norman berkali-kali bilang dia memerlukan komputernya yang masih tertinggal di Bintaro. Menurut Norman, Retno dulu janji mengantar komputer ini ke Senayan. Norman suka main game dengan komputer. Laptop iBook G4 milik aku terlalu kecil. Mac tak punya game sebanyak PC.

Sri Maryani usul untuk mengambilnya di Bintaro. Norman senantiasa menolak. Aku duga dia masih kurang nyaman dengan Bintaro. Norman masih tegang bila Retno menemuinya di sekolah. Norman selalu menelepon aku dan minta dijemput "now, now, now." Norman juga minta Yani menemaninya di sekolah, kuatir dijemput oleh Retno. Yani bilang bukan hanya komputer namun juga buku-buku dan pakaian. Norman hanya punya dua setel pakaian di Senayan. Yani repot mencucinya setiap hari.

Kesulitan-kesulitan ini tak seberapa dibanding kenyamanan serta kepraktisan yang kini dimiliki Norman. Kalau sangat ingin main game, dia sesekali minta ikut aku ke kantor Yayasan Pantau untuk pinjam komputer. Ada juga komputer sekolah. Di kantor pula, Norman bisa pinjam charger telepon Samsung buat menambah listrik di teleponnya.

4 comments:

toni wahid said...

Thanks for sharing. Pengalaman hidup saya yang terbatas membuat saya jadi belajar dari Mas Andreas bahwa kehadiran anak membuat kita mempunyai tujuan dalam hidup ini. BTW, game di Mac memang terbatas, tapi banyak juga yang seru dan bisa di dapatkan di Mac Club Indonesia. Salam.

Andreas Harsono said...

Dear Toni,

Terima kasih untuk komentarnya. Aku akan coba menghubungi Mac Club Indonesia. Norman penggemar berat game Asterix. Ini game yang dibuat berdasarkan komik Asterix. Aku sebenarnya lelah secara fisik. Setiap siang harus menjemput Norman lantas kembali bekerja. Namun ini pengorbanan kecil dibanding kebahagiaan bisa bermain dan mendengar gosip terbaru di sekolah!

Fickry said...

Ya..baru saja siang tadi teman saya bilang bahwa dengan berkeluarga, apa yg kita perjuangkan dalam hidup menjadi jelas.

Beruntung sekali Norman.
Semoga kelak dia bisa membaginya dengan anak-anak lain yg tidak seberuntungnya. Semoga kelak menjadi pemimpin negeri.

Anyway, lam kenal mas Andreas.
http://defickry.wordpress.com

KANIS EHAK WAIN said...

permisi mas andreas, liat2 blog nya salam kenal