Saturday, May 10, 2008

Mundur dari Yayasan Pantau


Saya memutuskan untuk mundur dari manajemen Yayasan Pantau setelah hampir delapan tahun memimpin, mulanya majalah Pantau, dan sejak 2004, mengubahnya jadi sebuah NGO media. Saya kira delapan tahun cukup lama buat jabatan ini. Pantau memerlukan orang baru dengan ide-ide segar. Saya juga ingin moving on dengan karir saya.

Kini kami lagi mencari seorang direktur eksekutif buat menggantikan saya. Board Yayasan Pantau akan mengadakan rapat pada 24 Juni guna menentukan kriteria dan mekanisme seleksi direktur baru.

Saya kira Pantau tak bisa memakai Budi “Buset” Setiyono atau saya, dua dari beberapa pendiri Yayasan Pantau, untuk terus-menerus menjadi bagian dari manajemen. Ia secara hukum juga harus dipisahkan. Kami ingin organisasi ini berkembang menjadi makin profesional.

Saya ingin lebih banyak memberikan waktu untuk keluarga saya dan mencari pekerjaan baru. Buset mengatakan, "Sudah lima tahun kita di Pantau. Sekarang relatif mapan. Dan sekarang kita bisa mulai memikirkan hidup kita sendiri."

Saya menyampaikan rencana mundur ini mulanya dalam rapat Yayasan Pantau Januari lalu. Kini Pantau sudah punya sedikit uang buat membayar direktur eksekutif. Kontrak dengan beberapa lembaga dana juga masih cukup lama: Open Society Institute (hingga Juni 2010) serta Cordaid (Desember 2009).

Saya juga minta masukan dari beberapa kenalan lama soal pergantian ini. Sheila Coronel, kini profesor Universitas Columbia, New York, mengingatkan saya agar pergantian ini dijamin dengan adanya dana untuk dua atau tiga tahun. Saya kira dana Pantau kini cukup terjamin. Yayasan Pantau juga sudah melunasi sebagian besar utang-utang peninggalan majalah. Buset dan saya akan tetap mengajar untuk kursus-kursus Pantau.

Saya berharap bisa segera punya waktu guna menyelesaikan dua buku saya: From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalisme serta Agama Saya Adalah Jurnalisme.

Link Terkait
Lowongan Executive Director PANTAU

19 comments:

Yati said...

yah, mundur mas? trus? konsen ke buku atau ada penerbitan lain? koran?

hehehe, yati, mau tauuuu aja

Ed said...

Mundur selangkah, maju seribu langkah!? Gwa doain semoga sukses selalu Pak Andreas. Dan juga semoga masalah keluarga Bapak terselesaikan dengan baik.

Andreas Harsono said...

Untuk Yati dan Ed,

Terima kasih untuk komentarnya. Saya belum tahu persis apa rencana berikutnya. Ada peluang bekerja di sebuah organisasi internasional. Namun saya harus mempertimbangkan Norman. Dia kasihan kalau pindah sekolah --kehilangan teman-teman sejak kelas satu-- dan akan jarang bertemu ibu kandungnya.

Kemungkinan lain adalah mendirikan suatu media baru di Jakarta. Ini tantangan berat sekali. Namun kebiasaan saya adalah menjadi "ikan besar di kolam kecil" daripada bekerja di media mapan. Saya belum mengambil keputusan. Kini pekerjaan merapikan manajemen Yayasan Pantau masih banyak. Setidaknya, saya akan fokus pada dua buku, yang sudah hampir selesai ini, sambil menentukan langkah selanjutnya.

Saya juga sudah berumur 43 tahun. Mungkin pekerjaan baru ini bakal jadi pekerjaan terakhir saya sebelum suatu hari pensiun.

Insaf Albert Tarigan said...

semoga sukses mas, yang jelas aku sudah menantikan bukunya. Kalau rencana gabung dengan media baru nggak ada ya mas ? kan lagi banyak nih di jakarta, atau harus mendirikan sendiri?

Oryza Ardyansyah Wirawan said...

Mas Andreas yang baik, keputusan untuk mundur dari PANTAU adalah keputusan berani, menurut saya. Jarang ada orang yang mau mundur dari pucuk pimpinan yang diperjuangkannya dengan keringat dan air mata selama bertahun-tahun.

Menurut saya, keputusan itu tak perlu membuat siapapun gamang.

Seperti kata Iwan Fals:

"satu-satu daun berguguran, jatuh ke bumi dimakan usia, tak terdengar tangis, tak terdengar tawa, redalah reda."

"Satu-satu tunas muda bersemi, mengisi hidup gantikan yang tua, tak terdengar tangis, tak terdengar tawa, redalah reda."

Selama ini PANTAU telah melalui tranformasi luar biasa sejak kelahirannya yang pertama. Dari belasan narasumber yang saya wawancarai untuk artikel profil Mas Andreas (masih saya garap, bos...hehehe), tranformasi itu tak selamanya manis. Ada yang pahit, ada yang sengak, ada yang manis. Hingga akhirnya PANTAU jadi seperti sekarang.

Saya sepakat, sebelum Mas Andreas mundur, harus ada jaminan PANTAU akan 'hidup seribu tahun lagi'.

Saya yakin di PANTAU banyak jurnalis hebat, dan saya percaya PANTAU telah ikut membangun generasi jurnalis berbakat yang kadang silap tak terpantau media mainstream. Tapi, siapakah yang bisa memiliki kemampuan yang mewarisi kemampuan Mas Andreas untuk menjaga aliran dana segar untuk PANTAU?

Sebagian besar narasumber yang saya ajak bicara mengatakan peran besar mas dalam pencarian dana untuk PANTAU. semua memuji. Nah, ketika Mas mundur, infrastruktur dan sumber daya manusia untuk itu sudahkah terbangun?

Mengenai mentoring jurnalisme sastrawi, saya tidak terlalu pesimis. Mas pernah bilang ke saya banyak yang bisa menggantikan. Apalagi Mas ternyata masih tetap berkehendak untuk mengajar.

Mengenai karir...hmmm... mungkin beginilah nasib jurnalis freelance. Jurnalis yang bekerja di perusahaan media massa tentu punya jenjang karir jelas. Tapi seorang freelance?

Saya tidak tahu cadangan 'dana hidup' mas Andreas dan 'anggaran hidup'... Saya berharap semoga cukup banyak untuk bisa membiayai Norman, karena menurut saya sudah saatnya jurnalis seperti Mas andreas tidak berpikir lagi soal mencari uang dalam artian konvensional. Saya lebih menanti Ouvre Mas Andreas dalam bentuk buku utuh atau 'non book' book. Di Indonesia, sangat sedikit jurnalis yang mau berpikir untuk mengukur jenjang karir mereka dari kuantitas dan kualitas penulisan buku.

Oke, mungkin itu dulu dah... salam hangat dari saya...saya tunggu dua bukunya...saya pesan pertama..hehehehe...

Taufik Al Mubarak said...

Sebenarnya, aku sih merasa keberatan juga kalo mas mundur dari Pantau (meski aku bukan orang pantau). Soalnya, selama ini saya kenal mas sebagai pimpinan Pantau. Tapi tidak mengapa, semua orang punya jalan dan pilihan sendiri. Apalagi, mas Andreas, tidak total mundur, karena masih jg terlibat di Pantau meski bukan lagi di bagian manajemen.
Ya...akhirnya, kita hanya bisa pasrah bahwa semua orang punya nasibnya sendiri...dan semua orang bebas memilih karirnya sendiri, tidak boleh dibatasi. Keinginan untuk berkembang, adalah fitrah manusia.
Mungkin itu saja dulu dari saya...sambil mengutip sebuah kalimat dari GM: "Nasib sudah begitu tertib, pada lupa juga semua kita akan karib"
Selamat mas ya: Saya juga tunggu tuh bukunya.

Andreas Harsono said...

Untuk Oryza dan Taufik,

Terima kasih untuk komentarnya. Yayasan Pantau beruntung punya board yang memperhatikan organisasi ini. Ada Artine Utomo, Budi Setiyono, Daniel Dhakidae, Hamid Basyaib, Indarwati Aminuddin, Janet Steele dan RTS Masli. Mereka inilah yang menjaga Yayasan Pantau.Kini saya lagi bergumul dengan sistem keuangan dan sistem personalia. Ini penting guna memperkuat organisasi ini. Board akan punya kontrol terhadap semua kegiatan organisasi.

Saya sendiri belum tahu persis akan bekerja apa. Kalau belum dapat yang cocok, saya akan kembali bekerja sebagai wartawan freelance atau trainer wartawan. Memang berat secara finansial. Namun saya sangat mencintai pekerjaan ini. Saya ingin kelak meninggal dan dikenang sebagai orang yang berusaha jadi wartawan dengan prosedur benar.

stefanus akim, said...

Kata-kata bang Andreas, "Saya ingin kelak meninggal dan dikenang sebagai orang yang berusaha jadi wartawan dengan prosedur benar.".

Sungguh sebuah tekad yang luar biasa.

Jika melihat tekad itu, maka Sangat layaklah apabila bang Andreas mengatakan, "Agama saya adalah Jurnalisme."

Andreas Harsono said...

Untuk Akim,

Terima kasih untuk Comment tersebut. Aku sudah berkali-kali mengeluh, kepada banyak rekan Yayasan Pantau, karena belakangan ini jarang sekali pergi meliput. Pekerjaan aku hanya mengurus manajemen. Yayasan Pantau makin sibuk. Pekerjaan manajemen makin bertumpuk. Mulai dari menjawab surat, mengadakan rapat dan mengatasi berbagai perbedaan pendapat. Aku curiga rambut aku makin cepat jadi putih gara-gara terlalu lama tak turun ke lapangan. Aku benar-benar rindu untuk kerja penuh waktu sebagai wartawan. Bikin riset. Interview. Jalan-jalan. Bertemu orang. Jurnalisme itu ibaratnya bermain-main, senang hati, melihat banyak tempat, menempuh perjalanan dan ... dibayar.

erix said...

Bung Andreas,

Kalau orang mau turun ”tahta” biasanya gundah. Ada dua suasana yang menyelimuti kegundahan itu. Pertama, kegundahakan akan keberlangsungan masa depan, misalnya NGO. Pemegang tahtah ragu apakah NGO itu akan bersinar ketika dipegang orang lain, akankah NGO itu tetap eksis. Kedua, kegundahan karena tidak siap kehilangan fasilitas, kekuasan dan segala macam penghormatan.

Untuk kegundahan yang pertama titik kritis sebenarya ada pada pola regenerasi lalu pada transfer of knowledge and experience. Inilah yang oleh NGO banyak diabaikan, yaitu mempersiapkan calon-calon penganti.

Diakui atau tidak, NGO di Indonesia masih belum lepas dari sentralisme penokohan. Nama seorang direktur eksekutif bisa lebih berbinar dari NGO nya sendiri. Bukan cerita baru kalau banyak NGO ambruk begitu tokoh utamanya “out”. Ini masih jadi “PR” serius bagi kalangan NGO..

Kegundahan yang kedua, ini juga realitas NGO kita. Banyak direktur eksekutif yang tidak ‘rela’ melepas kekuasan. Walau AD/ART sudah mengharuskan dia ”angkat” kaki.

Lebih parahnya, banyak NGO yang didirikan seperti milik pribadi. Direktur ekseutifnya menjabat seumur hidup hehehehe...

Parahnya lagi, model-model seperti ini kerap mensiasati aturan. Disinilah lahir “blok-blok”, karena si direktur eksekutif akan memasang “orangnya” sebagai pengantinya kelak. Tujuannya untuk tetap bisa menghaegomoni. Cara ini jelas bukan regenerasi yang sehat. Namun begitulah faktanya...

Tapi bung Andreas mematahkan kedua pernyataan diatas. Saya tidak menemukan kegundahan yang luar biasa dari bung Andreas. Bung hanya masing ”bingung” setelah ”out” mau kemana, itu yang lebih kental saya tangkap.

This is Great, karena tidak banyak yang seperti bung. Bung tidak akan sekadar dikubur sebagai"Orang yang berusaha jadi wartawan dengan prosedur benar", tapi juga sebagai "Orang Besar yang Rela Berganti Peran".

Long life PANTAU..

Salam,

Erix

Andreas Harsono said...

Dear Erix,

Terima kasih untuk komentarnya. Aku kira bukan hal abnormal buat seseorang mundur dari organisasi yang ikut didirikannya. Yayasan Pantau didirikan untuk peningkatan jurnalisme yang bermutu. Ia bukan untuk individu-individu tertentu. Kami para pendirinya, hanya membuka jalan. Bila si bayi sudah besar, kami harus membiarkannya tumbuh sendiri.

Kalau kita belajar dari pengalaman lembaga-lembaga tua di Eropah, salah satu kunci dari stabilitas organisasi adalah dewan pembina dan dewan pengawas yang kuat. Mereka inilah yang menjaga jalannya organisasi. Mereka bisa ganti-ganti orang --asal jangan terlalu sering-- namun mereka tetap menentukan arah dan mengawasi organisasi.

Yayasan Pantau bukan organisasi pertama yang ikut aku dirikan. Aku ikut mendirikan beberapa organisasi lain, termasuk Persatuan Sais Dokar di Salatiga serta Aliansi Jurnalis Independen dan Institut Studi Arus Informasi di Jakarta. Aku juga ikut mendirikan South East Asia Press Alliance. Aku kini bangga sekali melihat mereka tetap ada dan berkembang. Itu suatu kebahagiaan.

Soal pekerjaan baru biasa saja. Memang berat melamar kerja pada usia 43 tahun. Syarat-syaratnya makin rumit. Aku hitung, paling jelek, kalau belum punya pekerjaan baru, aku bisa jadi wartawan freelance. Bahayanya hanya income tidak rutin. Namun kalau kita rajin, aku kira bisa diatasi. Terima kasih.

Boraq Cambuq said...

asal jangan mundur dari dunia penulisan aja mas...hehehe, itu akan bikin saya menangis seperti anak kehilangan mainan....

Andreas Harsono said...

Aku kira aku takkan meninggalkan dunia penulisan. Mungkin bahkan lebih banyak mengingat aku memang suka dengan pekerjaan riset, wawancara, pengamatan, bikin analisis dan menuliskannya. Aku kira aku akan bekerja hanya pada dua bidang: menulis dan mengajar menulis. Terima kasih.

pandi merdeka said...

mundur dari direktur eksekutif yaysan pantau..uhmmm... tapi ngeblog jalan terus kan ... keep da spirit ;)

ikram said...

Wah, hebat ya, Mas. Masih ada juga orang yang mau mundur, meski sudah duduk sempurna di atas... Andai saja itu menjadi tradisi bagi orang-orang yang duduk di pemerintahan. Yang rela mundur demi memajukan organisasinya (negara). Sukses ya Mas..

Andreas Harsono said...

Dear Pandi dan Ikram,

Yayasan Pantau kini bekerja buat membenahi sistem keuangan kami serta memasang standard operating procedure. Ini pekerjaan besar dipimpin Artine Utomo dan Budi Setiyono. Saya terlibat kiri dan kanan, mulai dari memeriksa keuangan hingga mencari konsultan. Ini penting guna memperkuat organisasi. Saya perkirakan proses mencari pengganti serta transisinya akan sedikit makan waktu karena kebetulan kami juga lagi mempersiapkan laporan untuk Open Society Institute, Tifa Foundation dan Cordaid. Untuk sebuah NGO macam Pantau, masa pelaporan adalah masa-masa sibuk. Waktu rasanya lari saja.

Saya juga mulai lirik-lirik pekerjaan. Ada lowongan namun kebanyakan kontrak dan freelance. Saya agak kuatir dengan upaya menutupi biaya rutin kami a.l. uang sekolah, kredit mobil. Ada juga tawaran menjadi konsultan organisasi media serta trainer buat suratkabar. Namun ia juga tidak rutin bukan? Mencari pekerjaan yang cocok ternyata tidak mudah ya.

matacahaya said...

Then you better start swimmin'
Or you'll sink like a stone
For the times they are a-changin'.

Tiba2 saya jadi ingat lagunya Bob Dylan katika mbaca tulisan Bang Andreas.
Waktu cepat berlalu, semua
berubah,.

Btw, kapan buku dari Dari Sabang Sampai Meraukenya terbit ?. Saya, Sudah penasaran lho. Saya ingat 3 tahun lalu Bang Andreas, meyakinkan saya kalau buku ini akan bisa melakukan definisi ulang terhadap konsep nasionalisme kita, konsep keindonesiaan kita.

Saya pun yakin. Apapun jenis pencatatan sejarah diri kita sendiri, tentu akan menjadi warisan sangat berharga. Sekarang dan kelak.

Oya, perkenalkan, saya Ainur Rohman. Salah satu dari 20 orang yang main ke apartemen Bang Andreas bulan mei 2005, lampau. Setelah sekian lama, akhirnya saya menemukan catatan2 bang Andreas ini.

Konsistensi yang inspiratif.

Salam hangat dari Malang,


Ainur Rohman

Seorang Sendja said...

Yang penting tetap mengajar toh? Atau jangan2 kelas saya akan jadi kelas bersejarah, dengan sentuhan tangan terakhir mas Andreas =)

Buku John Maxwell 'thinking for a change' nampaknya akan jadi teman yang sesuai untuk pengembangan kehidupan lebih lanjut, dengan target2 besar terdekat.

Abdul Malik said...

salam mas andreas,

sedih juga mendengar kabar kemunduranmu dari pantau. yang terpenting mas andreas tetap maju dan semoga sukses selalu ya mas. thanks for inspiring me.(never give up to be a good journalist)