Tuesday, May 27, 2008

Mari pertahankan Indonesia kita!


Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia-an kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain.

Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menhancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.

Marilah kita jaga republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi itu.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.

Jakarta, 10 Mei 2008

ALIANSI KEBANGSAAN untuk KEBEBASAN BERAGAMA dan BERKEYAKINAN

A. RAHMAN TOLLENG . A. Sarjono . A. Suti Rahayu . A. SYAFII MAARIF . AA GN Ari Dwipayana . Aan Anshori . Abdul Moqsith Ghazali . Abdul Munir Mulkhan . Abdul Qodir Agi . l Abdur Rozaki . Acep Zamzam Nur . Achmad Chodjim . Achmad Munjid . Ade Armando . Ade Rostina Sitompul . Adi Wicaksono . Adnan Buyung Nasution . Agnes Karyati . Agus Hamonangan . Agustinus Ahmad Fuad Fanani . Ahmad Baso . Ahmad Fuad Fanani . Ahmad Nurcholish . Ahmad Sahal . Ahmad Suaedi . Ahmad Taufik . Ahmad Tohari . Akmal Nasery Basral . Alamsyah M. Dja'far . Albait Simbolon . Albertus Patty . Amanda Suharnoko . Amien Rais . Ana Lucia . Ana Situngkir . Anak Agung Aryawan . Anand Krishna . Andar Nubowo . Andreas Harsono . Andreas Selpa . Anick H Tohari . Antonius Nanang E.P . Ari A. Perdana . Arianto Patunru . Arief Budiman . Arif Zulkifli . Asep Mr . Asfinawati . Asman Aziz . Asmara Nababan . Atika Makarim . Atnike Nova Sigiro . Ayu Utami . Azyumardi Azra .

Bachtiar Effendy . Benny Susetyo, SJ . Bivitri Susanti . Bonnie Tryana . BR. Indra Udayana . Budi Purwanto . Christianto Wibisono . Christina Sudadi . Cosmas Heronimus . Daddy H. Gunawan . Daniel Dakhidae . Daniel Hutagalung . Djaposman S . Djohan Effendi . Doni Gahral Adian . Donny Danardono . Donny Gahral Ardian . Eep Saefulloh Fatah . Eko Abadi Prananto . Elga J Sarapung . Elizabeth Repelita . Elza Taher . Endo Suanda . Erik Prasetya . Eva Sundari .

F. Wartoyo . Fadjroel Rahman . Fajrime A. Goffar . Farid Ari Fandi . Fenta Peturun . Fikri Jufri . Franky Tampubolon . Gabriella Dian Widya . Gadis Arivia . Garin Nugroho . Geovanni C. . Ging Ginanjar . Goenawan Mohamad . Gomar Gultom . Gus TF Sakai . Gustaf Dupe . Gusti Ratu Hemas . Hamid Basyaib . Hamim Enha . Hamim Ilyas . Hamka Haq . Hasif Amini . Hendardi . Hendrik Bolitobi . Herman S. Endro . Heru Hendratmoko . HS Dillon .

I Gede Natih . Ichlasul Amal . Ifdal Kasim . Ihsan Ali-Fauzi . Ika Ardina . Ikravany Hilman . Ilma Sovri Yanti . Imam Muhtarom . Imdadun Rahmad . Indra J. Piliang . Isfahani . J. Eddy Juwono . Jacky Manuputty . Jajang C. Noer . Jajang Pamuntjak . Jajat Burhanudin . Jaman Manik . Jeffri Geovanie . Jerry Sumampow . JN. Hariyanto, SJ . Johnson Panjaitan . Jorga Ibrahim . Josef Christofel Nalenan . Joseph Santoso . Judo Purwowidagdo Julia Suryakusuma . Jumarsih . Kartini . Kartono Mohamad . Kautsar Azhari Noer . Kemala Chandra Kirana .

KH. Abdud Tawwab . KH. Abdul A'la . KH. Abdul Muhaimin . KH. Abdurrahman Wahid . KH. Husein Muhammad . KH. Imam Ghazali Said . KH. M. Imanul Haq Faqih . KH. Mustofa Bisri . KH. Nuril Arifin . KH. Nurudin Amin . KH. Rafe'I Ali . KH. Syarif Usman Yahya . Kristanto Hartadi .

L. Ani Widianingtias . Laksmi Pamuntjak . Lasmaida S.P . Leo Hermanto . Lies Marcoes-Natsir . Lily Zakiyah Munir . Lin Che Wei . Luthfi Assyaukanie . M. Chatib Basri . M. Dawam Rahardjo . M. Guntur Romli . M. Subhan Zamzami . M. Subhi Azhari . M. Syafi'I Anwar . Marco Kusumawijaya . Maria Astridina . Maria Ulfah Anshor . Mariana Amirudin . Marsilam Simanjuntak . Martin L. Sinaga . Martinus Tua Situngkir . Marzuki Rais . Masykurudin Hafidz . MF. Nurhuda Y . Mira Lesmana . Mochtar Pabottingi . Moeslim Abdurrahman . Moh. Monib . Mohammad Imam Aziz . Mohtar Mas'oed . Monica Tanuhandaru . Muhammad Kodim . Muhammad Mawhiburrahman . Mulyadi Wahyono . Musdah Mulia .

Nathanael Gratias . Neng Dara Affiah . Nia Sjarifuddin . Nirwan Dewanto . Noldy Manueke . Nong Darol Mahmada . Nono Anwar Makarim . Noorhalis Majid . Novriantoni . Nugroho Dewanto . Nukila Amal . Nur Iman Subono . Pangeran Djatikusumah . Panji Wibowo . Patra M. Zein . Pius M. Sumaktoyo . Putu Wijaya . Qasim Mathar . R. Muhammad Mihradi . R. Purba . Rachland Nashidik . Radityo Djadjoeri . Rafendi Djamin . Raja Juli Antoni . Rasdin Marbun . Ratna Sarumpaet . Rayya Makarim . Richard Oh . Rieke Dyah Pitaloka . Rizal Mallarangeng . Robby Kurniawan . Robertus Robet . Rocky Gerung . Rosensi . Roslin Marbun . Rumadi .

Saiful Mujani . Saleh Hasan Syueb . Sandra Hamid . Santi Nuri Dharmawan . Santoso . Saor Siagian . Sapardi Djoko Damono . Sapariah Saturi Harsono . Saparinah Sadli . Saras Dewi . Save Dagun . Shinta Nuriyah Wahid . Sitok Srengenge . Slamet Gundono . Sondang . Sri Malela Mahegarsari . St. Sunardi . Stanley Adi Prasetyo . Stanley R. Rambitan . Sudarto . Suryadi Radjab . Susanto Pudjomartono . Syafiq Hasyim . Syamsurizal Panggabean. Sylvana Ranti-Apituley . Sylvia Tiwon .

Tan Lioe Le . Taufik Abdullah . Taufik Adnan Amal . TGH Imran Anwar . TGH Subki Sasaki . Tjiu Hwa Jioe . Tjutje Mansuela H. . Todung Mulya Lubis . Tommy Singh . Toriq Hadad . Tri Agus S. Siswowiharjo . Trisno S. Sutanto . Uli Parulian Sihombing . Ulil Abshar-Abdalla . Usman Hamid . Utomo Dananjaya . Victor Siagian . Vincentius Tony V.V.Z .

Wahyu Andre Maryono . Wahyu Effendi . Wahyu Kurnia I . Wardah Hafiz . Wiwin Siti Aminah Rohmawati . WS Rendra . Wuri Handayani . Yanti Muchtar . Yayah Nurmaliah . Yenni Rosa Damayanti . Yenny Zannuba Wahid . Yohanes Sulaiman . Yosef Adventus Febri P. . Yosef Krismantoyo . Yudi Latif . Yuyun Rindiastuti . Zacky Khairul Umam . Zaim Rofiqi . Zainun Kamal . Zakky Mubarok . Zuhairi Misrawi . Zulkifli Lubis . Zuly Qodir

Hadiri Apel Akbar
1 Juni 2008
Pukul 13.00-16.00 WIB
di Lapangan MONAS - JAKARTA

18 comments:

merlin said...

Ketika membaca artikel ini kemarin, saya turut mendoakan agar pelaksanannya sukses. Tapi ketika melihat Breaking News sore tadi di Metro TV, ternyata ada kericuhan. Acara ini diselenggarakan dengan maksud baik. Oleh karenanya saya tidak habis pikir kenapa masih ada pihak-pihak tertentu yang berniat mengacaukannya.

Insaf Albert Tarigan said...

tadi pagi sepulang ibadah dari gereja kathedral jam 11.30, saya sengaja berjalan kaki pulang ke arah kebon sirih dengan maksud akan singgah di monas untuk mengikuti apel ini. Meskipun sedang libur karena sakit, saya sengaja membawa recorder, block note dan ransel karena memang bermaksud sekaligus meliput apel ini. Namun, karena monas masih dipakai ribuan anggota PDI-P saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu mengganti baju.

sesampai di rumah saya sempatkan untuk tidur siang sampai terjaga karena ada sms seorang kawan yang mengatakan apel di monas diserang FPI. Saya kaget dan tak menyangka kejadian tersebut, apalagi saya ingat mas Andreas bilang akan membawa serta keluarga bahkan pengasuh Norman, saya berharap keluarga mas Andreas tidak turut menjadi korban pemukulan.

Saya tak tahu persis alasan pemukulan tersebut namun, kepada wartawan, Munarman mengatakan mereka merasa difitnah akan mengganti Ideologi Pancasila, terlebih lagi mereka menganggap aksi tersebut melingungi kelompok Ahmadiyah. Tapi, apapun alasannya, tentu aksi kekerasan seperti itu tak boleh dibiarkan, khususnya oleh polisi.

Saya tak paham, apa yang membuat fundamentalisme di Indonesia kian menguat belakangan ini. Apakah ini hal yang wajar dalam sebuah negara yang sedang dalam masa transisi menuju demokrasi yang terkonsolidasi? atau ini akibat weak and failed govt?

saya katakan demikian karena jika kita ingat tahun 60-an, PKI bisa begitu populer juga karena hal di atas. Mereka selalu mendapatkan momentum untuk unjuk kekuatan karena kegagalan pemerintah dalam banyak hal, satu contoh dalam melaksanakan reforma agraria. Sehingga PKI melalui BTI bisa melakukan aksi sepihak tanpa ada kekuatan yang mencegah.

Demikian juga dengan kelompok ini, saya amati sejak kenaikan BBM tahun 2005 lalu, 100 tahun kebangkitan nasional, kenaikan BBM yang sekarang, serta hari lahir Pancasila benar-benar dimanfaatkan untuk menyerang pemerintah dan terutama sasaran tembaknya adalah sistem sekuler untuk digantikan dengan sistem khilafah atau syariat islam.
tentu tak ada yang salah dengan itu. Mereka berhak, hanya saja dengan catatan tanpa ada tindak kekerasan yang merugikan hak warga negara yang lain.

I-Think-Oke said...

Saya ikut prihatin. Saya kaget karena banyak figur publik bergabung dengan Aliansi Kebebasan Berkeyakinan dan Beragama. FPI tidak mewakili seluruh umat Islam dan Islam itu sendiri. Saya pemeluk Islam tidak pernah diajarkan melakukan kekerasan untuk menyikapi perbedaan dalam hal apapun. Masyarakat kita banyak yang sedang sakit dan makin dekatlah tanda-tanda akhir zaman. Saya ikut mengutuk kekerasan mengatasnamakan Islam!

Andreas Harsono said...

Dh,
Malam ini saya baru bisa melihat komputer sesudah melewati hari yang panjang. Sapariah dan saya sama sekali tak terkena serangan tersebut. Norman, yang rencananya ikut, ternyata berubah pikiran. Ada dua temannya, anak tetangga, main ke apartemen. Hanya Sapariah dan saya pergi ke Monumen Nasional.

Kami sempat menyaksikan "sisa" dari serangan itu. Saya lihat barisan-demi-barisan milisi --termasuk Front Pembela Islam dan Laskah Mujahidin-- masih berjaga dan berbaris sekitar Monas. Suasana tak menyerangkan.

Lalu kami pindah ke Galeri Nasional dan bertemu dengan rekan-rekan yang terluka. Kami menunggu mobil buat mengangkut mereka ke rumah sakit. Suasananya tak keruan. Marah campur kecewa. Ada Goenawan Mohamad, Asmara Nababan, Rahman Tolleng, Musdah Mulia dan sebagainya.

Kami juga sempat dengar cerita orang-orang Ahmadiyah, yang dikejar dan dipukuli --termasuk ibu-ibu yang sudah sembunyi di balik semak-semak. Sapariah marah besar. Saya hanya diam. Sedih.

Rony Zakaria said...

Saya tidak habis pikir, apa mereka tidak punya anak istri atau adik di rumah masing-masing....

Indonesiaku

merlin said...

Syukurlah Mas dan keluarga tidak apa-apa. Dari kemarin saya selalu memperhatikan berita mengenai kejadian ini - jangan-jangan Mas Andreas atau keluarga termasuk dalam salah satu korban yang luka-luka

Bayu Maitra said...

Saya turut prihatin atas kericuhan yang disebabkan beberapa oknum FPI yang menyebabkan beberapa anggota Aliansi Kebangsaan terluka. Semoga pemerintah segera menindak mereka agar kejadian yang memalukan ini tak terulang. salut buat Aliansi Kebangsaan!

KANIS EHAK WAIN said...

Reformasi 1998 menghadiahi kita kemerdekaan menyampaikan pendapat. Setidak-tidaknya, kita merasa lebih nyaman, tidak takut lagi terhadap negara ketika menyampaikan pendapat secara terbuka di jalan atau di tempat publik (public space) lainnya. Akan tetapi, kebebasan bicara ini kini terancam hilang. Kita bukan lagi berhadapan dengan negara, tetapi 'sesama' warga sipil. Kenyamanan itu seolah-olah akan menguap oleh bara amarah mereka.

Saya pikir, kebebasan bicara menjadi dilematis sekaligus berbahaya di tengah masyarakat kita yang tidak reflektif dalam praktik diskursif. Mereka yang 'kalah' di level wacana cenderung reaksioner, mengambil jalan pintas untuk memenangkan kehendak mereka dengan tindakan kekerasan. Kalau kekuatan reaksioner ini dibiarkan 'bermain' di ruang publik (public sphere) maka ruang publik yang bebas akan punah. Kelompok reksioner ini merupakan ancaman yang luar biasa bagi kemerdekaan, demokrasi dan pluralisme. Siapa juga yang selamanya berani bicara dan 'tampil beda' kalau yang dihadapinya adalah pedang dan pentungan.

Haris Firdaus said...

sy membaca artikel ini minggu siang sblm bentrokan. sore sy tahu ada bentrokan. sy langsung ingat anda, mas. untung gak papa2

Andreas Harsono said...

Dear Haris Firdaus,
Kami beruntung tidak diserang walau kami berada di tengah-tengah milisi tersebut. Namun kalau lihat bekas-bekasnya di Monas, sobekan baju putih yang koyak bercampur darah atau spanduk "Ali ..." yang huruf "i' dari "aliansi" dan sisa kalimat berikutnya sudah disobek dari badan, saya merasa kesepian sekali. Jiwa saya luka. Belum pernah ada dalam sejarah modern Indonesia, di kaki tugu Monumen Nasional, orang-orang diserang karena hendak memperingati keindonesian mereka.

Sekarang orang mungkin lagi ramai bicara soal Front Pembela Islam serta Munarman --orang-orang yang dinilai sebagai "anti Pancasila" oleh Goenawan Mohamad-- namun saya berpikir euphoria ini takkan lama umurnya. Saya kuatir khayalan kita, yang kita kenal sebagai "Indonesia," sudah makin rentan. Ia terjadi bukan hanya di Monas namun juga lewat berbagai macam kekerasan, dari pembunuhan massal di Simpang Kraft hingga Abepura, dari lubang-lubang kuburan massal di Pulau Jawa hingga kuburan Santa Cruz, dekat sebuah pasar di Dili. Saya lagi merenung, bersama proyek buku saya, guna mencari tahu dimana duduk kesalahan kita?

Ahmad Sahidah said...

Dari jauh, saya mencoba meletakkan peristiwa ini secara seimbang. Namun, dengan tegas, saya nyatakan menolak kekerasan yang dilakukan oleh oknum FPI.

Saya mencoba membaca pernyataan dari kedua kelompok, bahkan yang mencoba menengahi. Tapi, selalu saja, menyisakan tanya? Ada apa gerangan dengan Jakarta? Jelas, Di dalamnya menyimpan banyak 'drama' sejak Republik ini berdiri.

Di ibu kota inilah, seluruh drama negeri ditampilkan. Tumplek blek! Tumpang tindih. Ya, sekarang, berusaha untuk mengurainya.

wardah said...

Bang Andreas dkk, keberagaman seh ok aja. Pancasila juga ok banget. Orang bebas untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing. TAPI yang tidak boleh adalah MENODAI agama. Ajaran Ahmadiyah melenceng dari ajaran Islam. Sebenarnya tak masalah pula mrk mau melenceng atau kagak, itu hak mereka, asal jgn pakai nama ISLAM. Inti persoalan dari awal krn mrk ngotot pakai nama ISLAM.

Sama seperti kasus yg pernah terjadi di Samarinda bbrpa bulan lalu. Ada seorang yg mengaku MUALAF, shg dia dgn senang hati diterima dan dilayani oleh teman2. HMI dan STAIN. Belakangan, aksi mualaf itu ternyata hanya kedok saat dia dlm beberapa kali ceramahnya tak sesuai ajaran Islam dan selalu mendiskreditkan Islam. Setelah diinterogasi teman2, akhirnya ia mengaku bahwa dia diutus oleh GEREJA tertentu sebuah provinsi di bagian timur Indonesia. Misinya: menggoyahkan iman umat Islam utk masuk Kristen. Beruntung teman2 pengurus KAHMI Kaltim segera mengamankan dia shg dia lolos dari maut, lalu digiring ke Poltabes Samarinda. Dia jg mengakui umat kristen memiliki misi-misi tertentu dgn mengatasnamakan HAM, demokrasi dll (bukan berarti Islam tak mendukung HAM dan demokrasi, justru sebaliknya kami sgt mendukung) utk menggaet umat Islam. Mereka selalu berdalih semua agama itu SAMA dari satu Tuhan dan mengajarkan KASIH SAYANG. Tapi mereka sengaja lupa bahwa perbedaan prinsip Islam dan Kristen (ajaran Kristen kini telah disimpangkan oleh sejumlah murid dan pendeta sepeninggal Nabi Isa yang "diangkat" oleh Allah Swt) adalah dalam hal KEESAAN.
Kristen meyakini paham Trinitas dan menganggap Isa adalah anak Allah. (Padahal Isa sendiri semasa hidupnya menegaskan bahwa dirinya hanyalah utusan Allah, bukan anak (baik dlm pengertian biologis maupun pengertian lain) Allah). Di Islam, hal demikian sgt ditenteng krn tergolong musyrik. Musyrik adalah dosa besar. Krn itu kami sampai kapan pun tak bisa menerima dogma Kristen.

Salam.

Insaf Albert Tarigan said...

Saya kira, apa yang terjadi di Monas tak bisa ditarik jadi perdebatan paham keagamaan seperti yang dilakukan saudari wardah. Karena isu yang dibawa pada hari itu adalah soal keberagaman indonesia, bukan sekedar Ahamdiyah dan Islam. Dan lagi, tak bisa dilepaskan ada aksi kekerasan di sana, terlepas dari siapa yang melakukan provokasi.

Jika persoalan ini ditarik jadi persoalan dogma agama menjadi terlalu berlebihan, apalagi jika motof membandingkan dogma agama adalah mencari pembenaran. Pasti ada kontradiktifnya. Bukan hanya dengan Kristen, tapi juga Budha, Hindu, Scientology, Ateis, Yudhaisme, Kabalah, tapi dengan semua agama juga pasti anda akan menemukan bahwa ajarannya ada yang bertentangan dengan Islam. Tentu dengan ini anda bisa mengatakan semua agama di luar Islam adalah Musyrik. Tapi pertanyaan saya adalah, apakah dengan itu, kekerasan di monas itu bisa dibenarkan? kalau bisa, kalimat bahwa Agama mengharamkan kekerasan jadi sekedar omong kosong.

Saya sangat setuju dengan Goenawan Mohamad yang mengatakan bahwa aksi itu dilakukan bukan sekedar memberi tempat bagi Ahmadiyah tapi juga FPI dan HTI di Indonesia.

Karena, saya ingat betul, sejak SMP sudah di ajari, salah satu yang termasuk ancaman bagi negara adalah ekstrim kiri dan ekstrim kanan. HTI termasuk ekstrim kanan (menurut ajaran PMP) karena hendak mengganti ideologi negara. Kalau saya membabi buta membela Pancasila saya akan mengatakan HTI musyrik dan harus di enyahkan dari Indonesia. Tapi toh kita sama-sama bisa melihat, sampai detik ini mereka masih bisa hidup di Indonesia. Karena, mereka tidak pernah melakukan kekerasan, tidak melanggar hak orang lain di sekitarnya.

Saya kira perbedaan itu sebuah keniscayaan. Dan barangkali karena itu pula, Gus Dur, Syafii Maarif, Amien Rais bisa duduk bersama secara sejajar dengan tokoh-tokoh agama lain yang minorotas di Indonesia. Dan karena itu pula, mereka tak menangisi keputusan Wahid Hasyim dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang mencabut tujuh kata dalam piagam Jakarta. Bahwa hari ini masih ada yang rindu khilafah, sosialisme, komunisme, demokrasi dan apapun namanya, tentu juga sah-sah saja. Saya percaya dialektika sejarah suatu saat bisa saja mewujudkan kerinduan-kerinduan itu. Toh peradaban yang kecil, jaya dan super berkuasa kemudian hancur tanpa bekas sudah banyak kita temui dalam sejarah. Artinya, dunia yang saat ini lebih banyak memilih demokrasi, sepuluh tahun, seratus tahun lagi bisa jadi hancur tak berbekas diganti yang lain.

wardah said...

PERNYATAAN Sekjen PDIP Pramono Anung yang mengaku 30 menit sebelum kejadian penyerbuan ratusan massa Front Pembela Islam (FPI) ke kelompok aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas, Jakarta, ditelepon oleh mantan Kadiv Humas Polri Irjen Saleh Saaf (kini Kabag Intelkam Mabes Polri-red) menarik untuk dicermati.
Sebelum acara dialog sehari Bedah UU Pemilu DPR, DPD, DPRD, di Jakarta, Rabu (4/6), Pramono mengaku mendapat telepon dari Kabag Intelkam Mabes Polri Irjen Saleh Saaf. Karena telepon itulah PDIP tidak ikut tercoreng akibat rusuh Monas 1 Juni lalu. Pada hari itu, Monas dipenuhi massa berbagai elemen, termasuk ribuan kader PDIP yang memperingati Hari Lahir Pancasila.
Menurut Pramono, 30 menit sebelum kejadian (kerusuhan), ia ditelepon Saleh Saaf yang meminta agar massa PDIP ditarik. Karena akan ada kelompok lain yang datang. Akan ada kejadian. Kalau ada kejadian rusuh, PDIP akan tercoreng. Sekjen PDIP itu lalu mengumpulkan anggota dan akhirnya massa PDIP bisa ditarik.
Dari informasi itu, Pramono menyadari bahwa polisi sejatinya sudah mengetahui akan ada dua massa yang berhadapan. Pram menyesalkan polisi tidak mengantisipasi serangan massa FPI pada massa AKKBB. Dari cerita Pramono tersebut menunjukkan bahwa potensi akan adanya kerusuhan di Monas itu sebenarnya sudah sejak awal diketahui oleh intelkam polisi. Wajar bila muncul pertanyaan, mengapa polisi membiarkan aksi kekerasan itu terjadi, dan baru bertindak setelah jatuh korban.
Bila benar apa yang dikatakan Pramono, tentu ini sangat disesalkan. Bagaimana mungkin, aparat kepolisian yang seharusnya mencegah terjadinya kerusuhan, tetapi ini ada kesan justru membiarkan saja. Padahal, bila polisi cepat bertindak, bentrokan antara massa FPI dan massa AKKBB sebetulnya bisa dihindari.
Tetapi fakta di lapangan menunjukkan adanya pembiaran aksi anarkis itu terjadi di area publik yang berada di depan Istana Negara. Ini tentu patut disayangkan. Karena aksi kekerasan itu sebagaimana kita saksikan, telah memancing semakin keruhnya konflik horisontal di ibukota. Pada saat bersamaan, eskalasi konflik horisontal itu juga telah meluas ke sejumlah wilayah di Indonesia.

Masyarakat pun bertanya mengapa polisi seperti tak berdaya. Ada apa ini?" Tudingan tak sedap pun terlontar dari Sosiolog Indonesia, Tamrin Amal Tomagola perihal keberadaan ormas-ormas di Indonesia, yang ditunggangi mantan penguasa orde baru dari pihak militer dan kepolisian.
Untuk diketahui Tamrin di kolom opini sebuah harian nasional menyebut-nyebut bahwa sejumlah ormas yang beredar di masyarakat sengaja dibentuk pihak intelijen, militer dan kepolisian pada era Orde Baru. Dalam tulisannya bertajuk Anak Macan yang keblinger, Tamrin secara gamblang menyebut bahwa sinyalemen itu mencuat lantaran adanya nama beberapa mantan penguasa pada masa orde baru dari pihak militer dan kepolisian sebagai pendiri dan pengurus FPI. Tanpa menyebutkan nama, lebih lanjut Tamrin mendesak mantan penguasa Orde Baru ini untuk segera mengambil jarak dan menegaskan diri tidak lagi menjadi pelindung FPI.
Menanggapi tudingan tersebut, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/6) kepada pers hanya berujar singkat, "Saya baru dengar. Kalau kasih informasi yang lengkap.Kalau beropini ya harus didukung bukti-bukti secara hukum".
Akhirnya kita hanya bisa berharap, konflik horisontal dapat secepatnya diakhiri. Kasihan masyarakat yang sudah letih dibelit kenaikan harga BBM, diikuti melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Masyarakat sudah cerdas dan bisa koreksi, siapa yang salah dan siapa yang harus dibenarkan. Untuk itu polisi harus bertindak tegas terhadap siapapun yang melakukan pelanggaran hukum. (ahmad suroso)

hasilkebun said...

Buah dari sebuah negara KAPITALISME yang berhukum lemah,
FPI merupakan salah satu kelompok yang kalah.
Wajar kalau mereka melampiaskan kebuntuannya karena merasa haknya dirampas kelompok lain.

Insaf Albert Tarigan said...

saya mulai eneg dengan tsunami pemberitaan mengenai kejadian monas itu. Tiba-tiba Habib, Munarman jadi selebritis internasional. Saya setuju dengan kompas yang memberitakan penyerahan diri munarman hanya dengan satu paragraf kecil di belakang. Saya ingin dengar pendapat mas Andreas sebagai tuan rumah diskusi ini, trima kasih. Tabik.

Mohammad Reza Ali said...

Ternyata Apel pagi di Monas itu menjadi ricuh dan membuat Indonesia jadi lupa akan kerusuhan BBM. Apakah itu semua hanya akal-akalan pemerintah tentang pengalihan isu saja?

Mas, saya adalah seorang mahsiswa yang aktif dalam dunia Jurnalis Kampus dan kami akan mengadakan pelatihan Jurnalistik di Medan maukah mas menjadi salah satu pemateri kami?

Mas, tolong kirimkan alamat email mas ke saya, mild_liar@yahoo.co.id

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih

nur said...

Anda-anda di sini, tolong buka: derap.net