Saturday, April 28, 2007

Norman Menjelang Perceraian


Salah satu pikiran yang selalu menghantui aku menjelang perceraianku dengan Retno Wardani adalah anak kami Norman. Aku sangat mencintai Norman. Kami bergaul lebih merupakan teman dari hanya ayah dan anak. Kami pergi belanja bersama-sama. Norman menemani aku belanja setiap minggu. Kami saling cerita soal kesukaan kami masing-masing. Bila Retno tak tidur di rumah, kami memilih tidur di ruang tamu, menghadap televisi dan mengobrol sepanjang malam.

Hukum Indonesia tak menguntungkan posisi seorang ayah soal perwalian anak kecil bila menggugat cerai ibunya. Aku menunda-nunda keinginan menggugat cerai Retno karena posisi lemah ini. Aku tak mau hubunganku dengan Norman menurun bila kami bercerai. Namun aku juga tahu tak sehat bagi Norman hidup dalam keluarga yang hubungan orang tuanya sudah begitu buruk. Aku dan Retno saling tak mempercayai. Sebenarnya ketika baru setahun menikah, aku sudah berpikir tak cocok dengan Retno. Aku pernah membatalkan rencana pernikahan kami namun Retno keberatan.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Foto ini aku ambil suatu sore menjelang perceraian kami pada Desember 2003. Kami pergi belanja. Lalu lintas macet. Hujan deras sekali. Maka aku minta Norman berpose dalam mobil Taruna kami. Aku menangis dalam hati ketika memotret Norman. Dia senang sekali bila harus pergi belanja menemani papanya.

Ketika akhirnya para pengacara kami mengambil keputusan menyelesaikan perceraian ini secara damai, aku sepakat menerima hak separoh perwalian Norman saja. Kalau aku mau membongkar tingkah-laku Retno, kemungkinan besar aku akan menang di pengadilan negeri Jakarta Selatan. Namun aku kasihan pada Norman. Retno juga minta agar rahasianya tak diberitahukan kepada keluarganya, terutama ibunya, M.Th. Koesmiharti. Retno kuatir ibunya usah. Aku memenuhi janji itu.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sri Maryani, seorang gadis tani dari Tawangmangu, yang mulai bekerja di rumah Pondok Indah, mengasuh Norman, sejak Desember 2002, aku minta tetap bekerja disana. Yani mulanya ingin ikut aku. Namun aku bilang dia lebih aku perlukan untuk mengasuh dan menemani Norman di rumah Retno. Yani justru dibutuhkan Norman.

Maka aku pun menyewa sebuah apartemen di Senayan. Ini letaknya dekat dengan kantor Retno sehingga bila Norman pulang sekolah, aku harap dia bisa menunggu mamanya di tempatku. Bila Norman pulang sekolah, dia memang akan melewati apartemen aku. Pondok Indah terlalu jauh dari sekolahnya. Belakangan ternyata Retno tak mengizinkan Norman berhenti di apartemenku.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Aku juga perlu punya orang yang aku percaya guna membantu Norman. Retno juga bekerja sehingga dia sering pulang malam. Yani menemani Norman ke sekolah. Norman baru umur enam tahun ketika kami bercerai. Yani terbukti jadi pengasuh yang bertanggungjawab. Dia sangat memperhatikan kebutuhan Norman.

Aku menyiapkan dua set kamar untuk Norman. Di Pondok Indah dan di Senayan. Aku membayar semua keperluannya. Dari uang sekolah, makan bulanan, uang bensin Retno, uang bus sekolah, kesehatan, asuransi rawat inap, gaji bulanan Yani dan sebagainya. Di Senayan, Norman juga punya kamar sendiri. Mainan sendiri. Koleksi video sendiri dan sebagainya. Pokoknya, aku tak mau dia merasa dua rumah ini tak seimbang untuk keperluannya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Aku selalu ingat hari pertama ketika mengantar Norman pergi ke rumah Retno --rumah kami yang aku berikan ke Retno sesudah dia menolak menjualnya sesuai kesepakatan-- Norman menangis sepanjang jalan. Why, why, why? ujarnya. I don't want to live without you. Aku menangis dalam hati.

Beberapa kali dia sembunyi di bawah ranjangnya di apartemen bila saat pindah rumah mendekat. Retno lagi-lagi memaki-maki bila Norman terlambat datang ke tempatnya. Kini setiap kali mengantarnya ke tempat Retno, mood sedih itu selalu menghampiri Norman. Aku selalu merasa bersalah tak bisa memberikan keutuhan orang tuanya kepada Norman. Aku sangat mencintai Norman. Aku ingin dia jadi orang yang bahagia.

8 comments:

dayu pratiwi said...

Aku membaca dalam diam. Tak tahu kenapa butiran hangat keluar disudut mata kanan kemudian kiri.

Tussie Ayu said...

Stories about father and son always makes me cry. Aku pernah nonton film berjudul “Frequency”, intinya tentang seorang lelaki yang begitu ingin ayahnya hidup kembali. Diperankan dengan baik oleh Daniel Caviziel dan Dennis Quaid. Aku menangis 3 kali ketika menonton film ini.

Temanku yang menonton film ini, mengatakan aku aneh. Menurutnya film ini biasa saja, malahan tidak masuk akal. Karena dalam akhir cerita, ayahnya hidup kembali. Menurutku, yang penting bukan itu. Tapi hubungan antara ayah dan anak lelakinya.

Jarang sekali seorang ayah bisa dekat dengan anak lelakinya, terutama di Indonesia. Di system budaya patriarki seperti kita, ayah cenderung sangat diktator. Beberapa temanku yang lelaki, bahkan bermusuhan dengan ayahnya. Aku sendiri lebih dekat dengan ibuku. Kakak lelakiku juga demikian. Kami menghormati ayah, tapi tidak terlalu dekat dengannya.

Beruntunglah anak (lelaki dan perempuan) yang bisa dekat dengan ayahnya, bahkan bisa berhubungan layaknya teman. Mas Andeas beruntung memiliki Norman, demikian juga sebaliknya. Aku doakan yang terbaik buat kalian semua. Semoga kedekatan kalian terus berlanjut sampai Norman dewasa. Ngga ada yang bisa memisahkan hubungan darah. Oh ya, rumahku juga di Bintaro lho, di sektor IX. Rumah baru Norman Bintaro di mananya?

Memang terlalu jauh Bintaro-Kemayoran. Waktu SMA, aku sekolah di SMU 70 di Blok M. Itu saja aku sudah merasa terlalu jauh. Aku tidak punya kehidupan lain selain sekolah saat itu. Begitu sampai di rumah, biasanya langsung tidur. Paginya bangun dan pergi sekolah lagi. Rutinitas yang benar-benar cukup sekali dalam hidupku. Aku ngga mau ngulangin masa-masa itu lagi.

Anonymous said...

Setiap kali membaca tulisan Bang Andreas tentang Norman, hati ikut sedih.

Semoga Bang Andreas memperoleh solusi terbaik untuk Norman.

Salam dari Kota Siantar-Dame Ambarita

hakam said...

Jakarta Oh jakarta, saya kembali ingat ungkapan seorang teman ketika saya masih tinggal di Jogja, "jangan pernah satu kata pun ungkapan moral yang arahnya dari Jakarta".

Apakah ini cobaan atau sebuah kebiasaan yang harus dialami manusia modern, post-modern, atau ..... ah biasa-biasa kok.

Namun, meskipun, biasa-biasa saja tetap butiran air mata kesedihan meluncur di antara dua bola mata yang muak hidup di ibukota, atau ah! ibutiri Indonesia.....

Met Berdjuang Bung Andreas... Tuhan Memberkati...

-maynot- said...

Salam kenal, Mas Andreas :) Saya terdampar di blog ini karena foto kota Ende, namun lantas menghabiskan waktu membaca tentang Norman :)

Uuhm... saya tidak tahu (dan tidak ingin tahu) masalah Anda & mantan istri Anda. Tapi, ada satu hal yang mengganjal: is it necessary to put the story in an open blog like this? Or... should I rephrase the question a little bit: is putting the story about her mother in this publicly-accessed blog in-line with 'the best interest' for Norman you've been fighting for?

*Maaf menuliskan komentar tersebut di blog ini. Sebenarnya saya lebih suka menuliskannya lewat email, tapi saya tidak berhasil menemukan alamat email di profil Anda :)*

-maynot- said...

Sorry... salah tulis :) I mean HIS mother, not her mother :)

Andreas Harsono said...

Dh,
Ketika saya memutuskan untuk melakukan advokasi buat Norman lewat blog, kami berpikir lama sekali dalam mempertimbangkan perlu atau tidak. Hingga setahun lebih ide ini dibicarakan. Segala macam cara, dari uang hingga diplomasi, dari mediasi hingga keluarga, diupayakan agar Norman bisa mendapatkan hak dia.

Akhirnya, Norman mendesak saya agar segera melewati jalur pengadilan. Bahkan dia sudah minta gugatan hukum sejak kelas tiga. Artinya, kami perlu waktu tiga tahun untuk akhirnya setuju lewat jalur legal. Namun jalur legal harus ditemani advokasi.

Jalur advokasi --termasuk blog-- takkan digunakan bila cara-cara biasa mempan. Kami sudah menggunakan semua cara-cara yang wajar ketika gugatan hukum dan advokasi akhirnya dipakai.

Thina said...

Membaca tulisan ini,aku teringat sama keakraban Dylan anakku dengan papanya.Trisna begitu dekat dengan Dylan tapi dikarenakan ada orang ketiga diantara aku dan Trisna maka kami harus berpisah.Aku uda berusaha mempertahankan Trisna karena aku ingin Dylan punya papa,jangan seperti aku yang mengalami broken home,tapi susah memang kalo orang sedang jatuh cinta dia lebih memilih wanita itu daripada mempertahankan keluarganya.Aku masih tetap berusaha sampai saat ini...