Monday, February 26, 2007

Undangan Menulis soal Pantau


Kongkow dan makan adalah salah satu kegiatan rutin kalangan Pantau. Tak ada agenda namun diskusi sering jadi serius. Sering juga ia diselingi dengan nonton video, biasanya, film dokumenter. Pantau lebih suatu komunitas daripada organisasi dengan struktur jelas. Bill Kovach menyebut sebagai "sebuah suku."

Saya menawarkan ide kepada mahasiswa, wartawan atau siapa pun untuk menulis sejarah organisasi Pantau. Entah mahasiswa komunikasi, sejarah, sastra, pers mahasiswa atau siapa pun lainnya, yang mengerti metode penulisan sejarah dan tertarik pada media. Kesempatan ini terbuka untuk mahasiswa di Pulau Jawa maupun di pulau-pulau lain.

Kalau ada yang mau menulisnya, entah sebagai skripsi, makalah atau laporan pers mahasiswa, kami akan membukakan arsip Pantau: majalah, notulensi rapat maupun perdebatan dalam semua mailing list organisasi ini. Riset bisa dilakukan lewat internet. Ada ribuan dokumen bisa diakses online.

Penulisan ini, kami kira, perlu senyampang organisasi ini masih relatif muda dan orang-orangnya masih hidup semua. Saya sadar prestasinya masih sedikit tapi justru kependekan itulah yang membuat saya merasa ia relatif lebih mudah ditulis. Saya percaya, mudah-mudahan tidak salah, kelak organisasi akan dianggap berperan dalam jurnalisme berbahasa Melayu.

Awalnya, Pantau terbit sebagai newsletter pada 1999. Namanya diusulkan oleh kolumnis Ulil Abshar-Abdalla. Newsletter ini diterbitkan sebagai proyek kerja sama Article XIX dan Institut Studi Arus Informasi. Pada 2000, Article XIX selesai, maka ia hanya dikelola ISAI menjadi apa yang disebut sebagai jurnal "media watch" dengan pimpinan editorial Veven Sp. Wardhana.

Pada Maret 2001, ia terbit sebagai majalah bulanan media dan jurnalisme dengan saya sebagai redaktur pelaksana. Namun ia ditutup pada Februari 2003 karena masalah cash flow.

Ia terbit lagi selama tiga bulan pada Desember 2003-Februari 2004 dengan struktur baru: Yayasan Pantau. Namun majalahnya tutup lagi karena kesalahan manajemen dan janji palsu seorang pengusaha media besar. Ini periode krisis besar. Pelan-pelan, yayasan ini membenahi diri dan membayar utang-utangnya. Kini ia berubah jadi organisasi NGO media dengan tiga kantor: Jakarta, Banda Aceh dan Ende. Masing-masing kantor punya independensi. Mereka bergerak dengan minat berbeda.

Aceh dipimpin Linda Christanty. Ende dikelola Esti Wahyuni. Linda fokus pada sebuah sindikasi. Esty membantu harian Flores Pos. Jakarta mengadakan pelatihan menulis dan penerbitan buku.

Cakupan kerjanya meluas. Secara fisik, Pantau benar-benar bekerja dari Sabang sampai Merauke. Misinya, meningkatkan standard jurnalisme Melayu. Ia misalnya, membantu menterjemahkan buku The Elements of Journalism dari bahasa Inggris ke versi Indonesia, baik untuk orang melek maupun tuna netra (versi Braille). Bill Kovach, salah satu penulis buku itu, menyebut Pantau adalah organisasi yang berperan penting dalam memperkenalkan ide-ide buku ini di Indonesia. Buku ini sudah diterjemahkan ke 22 bahasa namun hanya di Indonesia ia cetak tiga kali dan punya versi Braille.

Pantau juga bikin kursus jurnalisme sastrawi secara rutin tiap semester dengan instruktur Janet Steele dari Washington. Gerakan dalam penulisan genre ini terasa getarannya di Indonesia, Malaysia dan Timor Leste.

Sejarahnya menarik. Ia melibatkan orang-orang yang punya pemikiran alternatif sekaligus perbedaan tajam sekali dengan para pemikir jurnalisme mainstream di Jakarta.

Karakter-karakternya berwarna. Kawin dan cerai mewarnai perjalanan individu-individu dalam organisasi ini. Ada kisah perselisihan kronis. Ada gasak-gasakan. Namun juga ada pengorbanan yang mengharukan.

Saya beberapa kali membaca cerita "sejarah-sejarahan" di Indonesia dan kecewa dengan banyaknya kesalahan dan ketidakakuratan disana. Saya duga ada bias kepentingan dan lemahnya ingatan.

Kini mumpung waktu baru berjalan delapan tahun, saya ingin membuka kesempatan kepada siapapun, untuk menulis masa-masa awal Pantau. Kami akan membuka arsipnya. Paling penting, kami akan berusaha menjaga jarak dari proses penulisannya sehingga siapa pun yang menulis tak harus merasa terikat dengan "sejarah resmi" kami.

3 comments:

eka said...

hi.. Mas..
menarik juga nih... semenjak kuliah Reporting di IAIN Ar-Raniry berakhir, saya sempat berfikir untuk menulis skripsi tentang pantau.
Awalnya saya ingin mengangkat usaha Pantau dalam membumikan genre baru dalam dunia pers Indonesia, serta efektifitasnya terhadap pembaca remaja di Banda Aceh.
Nanti kita diskusi di Email aja ya...

Agustiyanti said...

Pak Andreas, saya mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Dulu saya pernah mau wawancara Bapak soal investigasi reporting, tapi karena satu hal, maka teman saya ical yang akhirnya wawancara dengan Bapak. Saya saat ini sedang seminar dan mengambil topik mengenai perjalanan majalah Pantau yang insya Allah akan berlanjut ke topik skripsi saya.Untuk itu saya butuh bantuan Pak Andreas.Pertama, saya mau klarifikasi, majalah Pantau ini, majalah pertama di Indonesia dengan genre Jurnalisme sastrawi? Sebelumnya tidak ada satupun majalah yang menggunakan genre seperti Pantau?

Andreas Harsono said...

Agustiyanti,

Kalau kita mengacu pada kesadaran terhadap gerakan new journalism yang diluncurkan Tom Wolfe pada awal 1970an sebagai cikal bakal genre ini, saya kira Pantau memang yang pertama. Tentu ada saja argumentasi guna melawan kriteria Wolfe tapi saya kira Wolfe berhasil mempertahankan pikiran dia.