Monday, October 16, 2006

Peace and Conflict Reporting Workshop

Ini sekedar informasi awal untuk sesama wartawan yang concern dengan jurnalisme berbahasa Melayu. LP3ES Jakarta, Universitas Sains Malaysia dan Yayasan Pantau akan bikin sebuah workshop untuk wartawan pada awal Desember ini tentang bagaimana meliput konflik dan perdamaian.

Tujuannya, membuat sebuah forum dimana isu-isu hangat soal konflik di berbagai tempat di Indonesia bisa didiskusikan bersama. Hasilnya, kalau bisa, juga berupa esai dari masing-masing peserta. Esai yang dianggap representatif akan kami kumpulkan dan diterbitkan sebagai buku soal "conflict reporting."

Ambisinya, kalau bisa ini jadi semacam referensi gimana peliknya meliput konflik. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan wartawan bila menulis soal konflik. Bagaimana soal terima amplop atau duit tambahan lain? Bagaimana soal ikutan bela agamanya, etniknya, kebangsaannya atau golongannya? Bagaimana soal memakai istilah, misalnya, "rumah ibadah" atau "gereja atau masjid yang dibakar"?

Badrus Sholeh dari LP3ES dan Mustafa Anuar dari USM lagi mencari pembicara untuk workshop ini serta menyusun budget. Budget dari Ford Foundation tidak banyak sehingga akan diadakan di Jakarta (kalau bisa sih diadakan di Ambon, Dili atau Jayapura tapi khan mahal). Namun akan ada uang pesawat terbang serta hotel gratis.

Secara draft, mereka kini mencoba mencari orang-orang yang bisa mengisi sesi-sesi berikut:

- Aceh independent movement and peace agreement (Acehkita columnist Otto Syamsudin Ishak)
- Dayak revitalization, Malay struggle and Madurese ethnic cleansing (UI reseaher Iqbal Jayadi)
- Poso's ethnic and religious concern (writer George J. Aditjondro)
- Minahasa seeking identity and history (Gerakan Minahasa Merdeka politician Dolfie Maringka)
- Maluku sectarian problem (peace activist Ihsan Malik)
- Papua independence movement (Papua writer Frans Maniagasi)
- East Timor's independence and West Timor's worry
- Java's communist past (historian Asvi Marwan Adam or former communist prisoner Oei Hay Djun)
- Ethnic Chinese discrimination and economic power in Indonesia


Coba Anda bayangkan, kapan lagi bisa dapat workshop dimana dari Aceh hingga Papua, dari Jawa hingga Timor Leste, dibahas dalam satu paket?

Syaratnya, saya usulkan wartawan yang sudah punya pengalaman kerja cukup lama (sudah komitmen jadi wartawan), integritas utuh (bebas amplop dan bebas partai politik) serta mampu menulis sebuah esai tentang conflict reporting. Pantau biasanya juga bikin seleksi orang dari karyanya.

Ini sekedar --pinjam bahasa perwayangan Jawa-- "woro-woro" agar orang yang berminat dalam list ini bisa mulai mikir-mikir. Kami juga mendatangkan beberapa pengamat dari Bangkok, Manila, Davao dan Penang. Mereka profesor-profesor yang aktif dalam mempromosikan perdamaian di Asia Tenggara.

Saya kira, kalau disain ini bisa berjalan bagus, ia bakal jadi workshop yang ciamik!

1 comment:

Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Saya kok merasa waswas dengan pelaksanaan workshop ini. Anggarannya terbatas dan koordinasi antar panitia kurang bagus. Hingga hari ini belum didapatkan barisan pembicara. Dana $6000 cukup untuk acara dua hari saja.

Aduh, repot banget kalau pelaksananya jalan agak lambat sementara budget juga kecil. Secara resmi juga belum diumumkan.

Saya merasa ide-ide bagus soal acara ini bisa tak terlaksana karena budget kurang dan pelaksanaan lambat.