Friday, June 30, 2006

Kesulitan Dana dan Kesibukan Kerja


Kembali ke Jakarta sesudah mengunjungi lebih dari 100 kota dari Sabang sampai Merauke, aku kembali menghadapi kesulitan keuangan. Bagaimana harus tetap menulis buku ketika aku juga harus menulis freelance untuk membayar pengeluaran rutin?

Dulu ada Ford Foundation yang bersedia membantu keuangan. Mereka memberi Rp 175 juta buat membantu biaya. Jumlah itu tidak cukup buat bekerja selama tiga tahun. Tapi lumayan bisa bernafas. Kini aku kembali ke titik awal ketika harus bekerja, melakukan liputan, agar punya uang buat tetap membayar uang sekolah Norman, sewa apartemen, belanja mingguan, bayar telepon dan sebagainya.

Liputan buku ini aku mulai pada Juli 2003 ketika bekerja untuk harian The Star meliput darurat militer ala Megawati Soekarnoputri di tanah Aceh. Hasilnya, sebuah esai sepanjang 12,000 berjudul "Republik Indonesia Kilometer Nol" --mulanya dalam versi bahasa Inggris lalu dimelayukan.

Liputan itu dapat pujian. Ia mendorong aku melakukan liputan serupa terhadap daerah-daerah lain. Maka aku pun bertekad bikin riset. Aku mengurangi pekerjaan secara drastis. Aku memakai tabungan buat bikin riset awal selama hampir setahun. Lalu Ford Foundation bantu. Juga Yayasan Pantau. Juga ada bantuan dari beberapa kenalan.

Maka aku bisa jalan ke daerah Minahasa di Pulau Sulawesi; Sambas di Kalimantan; Pulau Timor dan Pulau Flores; kepulauan Maluku; dan Papua. Tentu saja tiap daerah bukan sekedar sekali kunjungan. Juga bukan sekedar satu tempat tapi sekaligus beberapa titik.

Aku juga bisa beli buku. Bikin fotokopi. Duduk lama di bermacam perpustakaan. Riset internet. Aku baca buku-buku klasik. Benedict Anderson. George McTurnan Kahin. Herbert Feith. Donald K. Emmerson. Gerry van Klinken. Barbara Harvey. Jamie Davidson. Anthony Reid. Aku mempelajari statistik, sejarah, populasi dan sebagainya. Intinya, aku belajar soal nasionalisme.

Kini aku aku sudah sampai pada tahap duduk dan menulis sendirian. Tapi bagaimana bisa duduk tanpa bekerja yang menghasilkan uang?

Aku kembali mengambil pekerjaan menulis untuk International Center for Investigative Journalism atau majalah internasional buat menambah uang. Aku juga bersedia jadi konsultan buat International Center for Journalism. Aku juga mau saja bicara di seminar soal bajak laut demi tambahan sedikit uang belanja.

Aku senantiasa cemas dengan nasib buku ini. Menulis buku ini macam mau melahirkan anak. Aku cemas apakah ia bisa lahir? Kelak bila sudah lahir, aku mungkin juga akan cemas apakah ia bisa bertumbuh besar?

3 comments:

Rony Zakaria said...

Pak Andreas,

Saya yakin tujuan yang baik pasti mendapat jalan yang baik pula. Orang yang paling berbahagia bukan orang yang kaya akan materi tapi orang yang mendapatkan materi ketika ia membutuhkannya. Saya yakin buku Pak Andreas bisa selesai, saya mendoakan dan menunggunya terbit.

Rony

Lambertus L. Hurek said...

Saya tunggu buku itu. Penasaran nih. Betul kata Prof Josef Glinka SVD di Surabaya, menulis buku yang benar-benar buku, hasil riset, studi pustaka yang mendalam, butuh biaya, waktu, pengorbanan tidak sedikit. Dan itu barang mewah di 'Indopahit'.
Karena itulah, buku-buku yang ada di toko buku kita sekarang hanya buku semu (buku-bukuan), kumpulan artikel pendek di koran/majalah.
Good luck!

rek

Anonymous said...

Pak Andreas,
saya percaya bapak bisa menyelesaikan buku ini..:) saya percaya itu..:)


astri