Tuesday, August 02, 2005

Orang Kidal, Rumah Marx dan Bom

Hari kedua jalan-jalan selama delapan jam, dari Hyde Park, Picadily Circus hingga Soho dan Oxford Street. Awak juga makan siang di Gerrard Street, ini Chinatown di London.

Awak berjuang keras untuk cari Chinatown, karena sudah tidak tahan, lama sekali, tidak makan nasi: satu hari, satu malam!

Mungkin makin tua makin tak bisa berubah kebiasaan ya?

Adriana Sri Adhiati, aktivis dari Down to Earth, tertawa ketika tahu awak harus cari nasi. "Sudah lama banget tuh," kata Adriana. Kami sempat makan malam bersama. Adriana sejak 1998 tinggal di London, mulanya sekolah, lalu menikah dengan satu pria Jerman.

Orangnya enak diajak bicara. Ia sempat curhat karena bantuan dari kampanye tsunami untuk mahasiswa Aceh di Inggris, yang kiriman terhenti karena tsunami, ternyata belum cair juga dari kedutaan Indonesia di Inggris.



Di daerah Soho, tempat paling hip di London, awak sempat melihat toko yang khusus menjual barang-barang untuk orang kidal. Dari gunting, ballpoint bahkan jam dinding pun juga kidal. Artinya, jarum jam berputar arah balik dari jam biasa!

Mereka juga jual buku-buku soal perkidalan. Awak sempat intip, kira-kira siapa saja, orang kidal bernama besar. Ternyata banyak sekali ya. Awak jadi ingat nasib teman-teman awak yang alamiah kidal tapi dipaksa pakai tangan kanan. Menderita sekali.

Oh ya, siapa tokoh kidal paling beken? Menurut Anything Left Handed, ia adalah George Michael, penyanyi pop, yang beken itu.



Di Soho, awak juga menemui satu restoran bernama Quo Vadis, yang menunya bikin awak kembang kempis!

Menariknya, rumah batubata merah ini dulu pernah ditinggali oleh Karl Marx (1818-1883), pemikir serius yang menulis karya klasik Das Capital. Marx dan keluarganya tinggal di rumah ini, di lantai dua, pada 1851 hingga 1856. Rumah ini terletak pada 28, Dean Street.

Menurut buku Lonely Planet, seorang agen real estate pernah mengunjungi Marx disana. Ia melaporkan bahwa debu disana bisa dipakai buat menulis. Namun berbicara dengan Marx serta isterinya, Jenny, sangatlah memikat.



Suasana London juga masih dicekam bom 7 Juli 2005. Awak memotret headline yang ditawarkan Evening Standard, harian sore terbitan London. Ia terbit, kalau awak tak salah, lebih dari dua kali dalam sesore. Isinya, berat dengan berita soal London.

Hari ini, awak lihat "Police Raid London Homes" pada siang hari, headline Evening Standard, tapi sorenya, awak sudah baca headline lain lagi, tentang ditutupnya satu poros jalan karena ada bus double-decker yang mengeluarkan asap.

Harga satu eksemplar Evening Standard adalah 40 Pence sekitar Rp 5,000. Koran tipis, ukuran kecil, berita pendek-pendek, jarang ada berita nasional atau internasional.

No comments: