Friday, August 05, 2005

Bagaimana Cara Rekrut Wartawan?

Selama tiga atau empat tahun ini, saya sering bicara dengan redaktur media, yang mengeluh karena wartawan mereka banyak yang tak bisa menulis. Jakob Oetama, orang nomor satu Kelompok Kompas Gramedia, bilang bahwa wartawan Kompas banyak yang belum bisa menulis. Goenawan Mohamad dari Grafiti Pers, yang menguasai kelompok Tempo dan Jawa Pos, mengatakan ia tak pernah punya "lebih dari 10 orang penulis" di majalah Tempo.

Bagaimana sih mencari dan merekrut wartawan baru yang kelak terbukti bisa bikin reportase dan penulisan bagus?

Saya kebetulan bertemu Wendel "Sonny" Rawls Jr., mantan wartawan dan redaktur The Philadelphia Inquirer, The New York Times serta The Atlanta Journal, tentang bagaimana cara mencari reporter. Sonny terkenal bertangan dingin dalam mencari dan mendidik wartawan muda.

Kami bertemu di Hotel Renaissanche Chancery Court di London, mengobrol panjang-lebar, lalu saya minta izin mengutip omongannya Rabu lalu.

Sonny misalnya, merekrut James Newton sebagai reporter The Atlanta Constitution. Sekarang Newton redaktur The Los Angeles Times. James Newton diperkirakan bakal jadi "James Reston" --kolumnis legendaris di Washington DC pada zaman Perang Dunia II.

Sonny juga menulis buku Cold Storage (1980) tentang orang gila dan rumah sakit jiwa. Ia mengerti psikologi. Ia juga mengerti banyak soal kriminalitas. Sonny menulis naskah film seri Law & Order.

Sonny juga partner Bill Kovach di The New York Times dan The Atlanta Constitution. Kalau Kovach adalah panglima, maka Sonny adalah orang yang mengurus keperluan rumah tangga dan operasi suratkabar.

Bagaimana cara merekrut wartawan?

Menurut Sonny, ia biasa minta wartawan yang melamar ke tempatnya untuk mengirim 10 contoh laporan. Ia minta news stories, bukan feature, baik dengan struktur piramida terbalik atau piramida (Sonny paling suka dengan struktur piramida).

"Saya baca lead dulu dan tiga alinea pertama. Apakah beres atau tidak? Kalau beres, mudah dicerna, jelas, jernih, saya akan baca the end of the stories."

Ini penting untuk mengetahui apakah si pelamar bisa menghubungkan lead dengan ending laporannya. Sonny bisa menilai kemampuan logika si pelamar dari hubungan awal-akhir ini.

"I want to know whether they have really have strong understanding," katanya.

Bila tidak sambung, bila tak jernih, ia memutuskan menolak si pelamar. Bila sambung, maka Sonny akan membaca semua naskah, dari alinea awal hingga akhir, semua 10 laporan itu. Bila laporannya baik atau menjanjikan, maka Sonny akan mewawancarai si pelamar.

Sonny menyebut nama-nama wartawan yang pernah diwawancarainya, bagaimana mereka membangun karir, mula-mula di tempat Sonny namun pindah ke media lain. Ia juga tahu bagaimana orang macam James Newton tak menarik buat redaktur lain --bahkan mulanya ditolak The Los Angeles Times-- tapi tidak bagi Sonny.

"James is not a selling person. Dia tidak bisa menawarkan dirinya dengan baik," kata Sonny.

Charles Lewis, mantan wartawan CBS dan pendiri Center for Public Integrity di Washington DC, mengatakan, "Sonny Rawls is a legend."

Sonny mampu memotivasi reporter. Sonny sendiri pernah mendapat Pulitzer Prize pada 1977. Ketika memegang ruang redaksi Atlanta, ia juga menugaskan wartawan-wartawan meliput macam-macam isu dimana empat di antaranya dapat Pulitzer.

Bila sudah baca, ia akan mewawancarai si pelamar. Mulai dari karir mereka serta kehidupan mereka.

"What kind of books they read?"

"What they do when they're not working?"

Saya tanya kenapa kegemaran orang pun ditanyanya.

Apa makna seorang wartawan yang suka memancing misalnya?

Menurut Sonny, pemancing artinya orang yang "kontemplatif." Ia orang yang suka berpikir dengan dalam.

Tapi Sonny tak suka dengan wartawan yang merokok dengan pipa. "Too slow thinking," katanya, menirukan gaya orang mengisap pipa.

Contohnya?

Sonny menunjuk Max Frankel, mantan redaktur eksekutif The New York Times, yang mengepalai biro Washington harian The New York Times pada awal 1970-an. Frankel memang perokok pipa.

Frankel terkenal gara-gara ia kalah dalam liputan skandal Watergate dari harian The Washington Post dengan duet Bob Woodward dan Carl Bernstein. Presiden Richard Nixon akhirnya mundur gara-gara Watergate.

"Ben Bradlee tidak merokok pipa," kata Sonny, merujuk pada redaktur eksekutif The Washington Post. Bradlee memimpin Woodward dan Bernstein untuk mendalami Watergate.

"Frankel bekerja pelan sekali. Kami dihajar habis-habisan oleh Bradlee," kata Sonny.

Saya ingat bahwa di Jakarta maupun kota-kota lain, kebanyakan media besar melakukan seleksi wartawan lewat tes psikologi dan melibatkan orang-orang personalia (lebih dulu) sebelum segelintir yang lolos diwawancarai para redaktur. Menariknya, proses lamaran sering kali tanpa melibatkan tulisan si pelamar. Lebih sering malah tes psikologi.

Sonny tak peduli dengan tes psikologi. Ia bilang media bermutu macam The New York Times atau The New Yorker belum pernah pakai tes psikologi. Wartawan harus dites lewat tulisannya. Beberapa media lain, misalnya The Philadephia Inquirer, memakai tes psikologi. Sonny tak keberatan dengan tes ini namun ia juga tak peduli.

Menurut Sonny, mencari wartawan adalah seni. Ia harus dilakukan sendiri oleh redaktur-redaktur puncak media bersangkutan. Mereka harus tajam mencari wartawan muda yang berbakat. Tulisan adalah utama.

Ketika bekerja dengan Kovach, entah Kovach atau Sonny sendiri yang melakukan rekrutmen. Kalau ada lowongan, mereka tak memasang pengumuman, tapi melakukan talent scouting di media kecil.

Saya senang bicara dengan Sonny. Saya kira cara-cara ini bisa dipakai sebagai bahan perbandingan di Jakarta. Di kalangan media Jakarta, jarang sekali ada lowongan pekerjaan yang minta si pelamar mengirim contoh tulisan. Kebanyakan yang diminta Indek Prestasi 2.75 bahkan 3 (padahal semua universitas kita jelek) atau bisa bahasa Inggris (saya setuju).

Nurman Jalinus dari Bisnis Indonesia pernah bilang bahwa sekali kita salah rekrut, maka seumur hidup kita harus membayari gaji seseorang yang tak bisa menulis dan tak banyak berguna untuk ruang redaksi kita.

Bagaimana bisa mendapat wartawan yang bisa menulis ketika rekrutmennya tanpa tulisan?

Saya kira mungkin sudah saatnya cara rekrutmen diganti.

17 comments:

Arif Widianto said...

Mas Andre,

Cerita ini sangat menarik bagi saya. Saya setuju metode rekrutmen wartawan harus diubah. Saya tidak heran kalau jurnalisme di Indonesia seperti sekarang bila metode rekrutmen dan kualitas wartawan seperti yang diungkap teman-teman pemimpin media tadi. Saya menulis sedikit berkomentar tentang hal ini di Catatan Singkat.

aergot said...

sangat menarik tulisan koh harsono apalagi jika melihat catatan singkat arif widianto.

Benar sekali bahwa media pun sangat silau dengan IPK dan tes psikologi yg lebih mengedepankan aspek kognitif.

Benar pula kata-kata mas arif perihal wartawan pemalas yg lebih suka kloning daripada bersusah-susah menunggu acara dan mewancarai narasumber.

Yang kurang tepat adalah wartawan yg baik adalah harus kuliah di jurusan komunikasi.

Untuk jadi wartawan tak hanya butuh pendidikan komunikasi. Justru latar belakang yg beragam menjadikan media yg bersangkutan lebih mudah dalam membuat peliputan yang lebih beragam. artinya lebih bernas, lebih komprehensif...

contohnya koh harsono adalah tukang insinyur...tetapi dia mampu menulis dengan baik.

bobby gunawan said...

Kalau jurnalisme TV gimana mas?

Andreas Harsono said...

Aergot,

Saya kira wartawan memang perlu tahu banyak, seorang generalis, tapi ia juga perlu tahu jurnalisme. Ada sejarah 250 tahun jurnalisme. Ada banyak inovasi baru. Dari weblog hingga narasi, dari wacana "citizen journalism" hingga "peace journalism," yang perlu dipelajari. Pendidikan jurnalisme sangat perlu untuk wartawan, terlepas ia formal, informal maupun non formal. Saya memang tukang insinyur di Salatiga tapi melanjutkan belajar jurnalisme di Cambridge bukan?

wardhani said...

Menarik sekali tulisan ini

Saya teringat pada seorang relasi, yang juga redaktur senior di sebuah media.
Suatu ketika kami bertemu. Ia mengatakan satu kalimat singkat. "Wartawan sekarang jarang yang bisa menulis."

Satu kalimat sederhana tetapi bagi saya cukup menohok.

Kalau dipikir-pikir penyebabnya adalah keengganan yang bersangkutan untuk mengembangkan dirinya.

Atau justru yang bersangkutan sudah terjebak dalam pernyataan bahwa Wartawan adalah pekerjaan bukan Profesi.

Daripada tidak kerja.. Bagi saya, ini persoalan pilihan. Dan itu adalah wilayah privat seseorang...

Itu hanya pandangan sepihak dari saya..

Aji Setiawan said...

Wartawan yang baik adalah wartawan yang sadar dirinya bekerja untuk publik.
Dasar-dasar menulis saja, tidak cukup. Tapi, syarat bisa menulis agar diterima itu menjadi salah satu yang penting, sebab itu bukti telah menjadi wartawan. IP, saya sepakat tidak terlalu tinggi-tinggi, sebab Perguruan Tinggi kita masih jelek.
Mahasiswa yang cerdas, tidak diukur oleh IP. Tapi, kesungguhan untuk mengabdi pada publik adalah segala-segalanya.

http://www.ajisetiawan.blogspot.com

Anonymous said...

ndre, lama kita nggak ketemu. kamu masih seperti dulu, teliti dan cerdas.
sebagai seorang redaktur (sekarang asisten redpel sebuah harian di jakarta), saya juga merasakan susahnya mencari wartawan yang ssungguhnya. banyak kawan yang bilang, wartawan sekarang telah kehilangan ruh kewartawanannya. tidak seperti wartawan 1980-an, misalnya.
wartawan sekarang cenderung enggan menulis berita atau reportase dengan sungguh-sungguh. mungkin benar, mereka sekadar cari kerja. Tapi, menurut saya, mereka kurang paham tugas seorang wartawan, apalagi tanggung jawabnya. di sisi lain, gaji mereka rata-rata sangat kecil.
lihat fenomena yang terjadi. mereka bikin kelompok. satu orang dapat berita, yang lain tinggal copy atau malah dikirimi e-mail. ibi sudah jadi wabah. lalu, bagaimana pertanggungjawaban mereka? padahal, mereka tidak bertemu dengan sumber.
belum lagi kemampuan menulisnya. wah, payah!
maaf, ini penilaian pribadi saya.
selamat, ndre
suhartono sanjoto, Berita Kota (ssanjoto@hotmail.com)

Anonymous said...

fcerita yang menarik sekali bagi saya. apapun cara yang digunakan untuk rekrutmen wartawan, saya tetap ingin sekali menjadi wartawan. mengingat saat ini saya masih kuliah, dan saya ingin sekali merasakan tekanan dan sensasi dunia jurnalistik secara nyata, maka saya merencanakan magang di harian lokal. bisakah bung andreas harsono memberi tips. kebetulan saya tinggal di Yogyakarta dan hanya ada beberapa koran lokal seperti bernas, kedaulatan rakyat, kompas jogja, dan jawa pos biro jogja. saya mohon bantuan tips dan saran untuk magang di sebuah media. atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih...
email : cybergarong@yahoo.com

Andreas Harsono said...

Untuk Cyber Garong,

Terima kasih untuk komentarnya. Saya kira penting mencari tahu redaktur yang menangani magang di masing-masing media. Tak perlu hanya Bernas, KR atau Radar Jogja, tapi juga di luar itu, media alternatif, banyak sekali disana.

Kalau sudah ketemu, ya tunjukkan contoh-contoh karya Anda. Bilang kalau mau magang. Saya kira itu pendekatan yang lazim ya. Harus sopan, jujur dan bisa bekerja keras. Terima kasih.

Anonymous said...

mas Andrea Harsono,
tulisan ini, benar" dlam buat saya, bukan saja karena saya mahasiswi komunikasi, tapi lebih jauh lagi, saya bekerja sebagai script writer untuk berita radio dengan isu pembangunan yang akan disebar di KTI(kawasan timur indonesia) melalui kerjasama jaringan radio komunitas.

Mas, pengetahuan saya yang sedikit memaksa saya bertanya untuk banyak hal.Mudah" mas bersedia menjawab.
- bagaimana sebaiknya menulis sebuah narasi berita yang informatif , dimana sebagaian sumbernya berasal dari studi referensi dan studi kasus
-apakah ada batasan khusus untuk itu,
kalau ada link ke website yang mas tahu fokus ke penulisan naskah berita radio yang baik,tolong informasikan.

Thanks mas,
sukses terus

Anonymous said...

mas.. saya mahasiswa jurusan jurnalistik. sedang membuat skripsi tentang eksistensi pers berbahasa daerah (khususnya Sunda)

Nah.. salahsatu persoalan yang dihadapi mereka adalah rekruitmen wartawan. pers berbahasa sunda lebih banyak merekrut tenaga berlatar belakang penulis sebagai wartawan daripada tenaga berlatar belakang pendidikan jurnalis. yang ingin saya tanyakan apakah hal ini berpengaruh terhadap isi media tersebut? misalnya media ini menjadi lebih ke sastra daripada politik atau berita aktual lainnya. sebenarnya hal ini merugikan media tersebut tidak? bagaimana menurut mas?
hal ini saya tanyakan karena beberapa pengamat pers sunda menyatakan jika latar belakang wartawan adalah penulis sastra maka pers sunda ini tidak akan berkembang (terutama dalam penambahan oplah)

oh iya mas.. tanggapan mas andreas sendiri terhadap eksistensi pers berbahasa daerah (khususnya sunda) ditengah ancaman pers berbahasa nasional bagaimana?

punten (maaf) jika berkenan tolong jawaban mas dikirim ke email saya di caramel_manis@yahoo.om

terima kasih banyak lho atas jawabannya..

selamat menikmati hidup baru..

-asri-

Anonymous said...

mas, maukah anda jadi 'Sonny' buat saya?

Sebagai informasi, saya bekerja sebagai reporter media online sejak 2000, dan sebelumnya di media cetak sejak 1996. Hanya empat bulan pertama saya dibimbing redaktur. Setelah itu 10 bulan selalu ribut dengan redaktur baru. krismon kena PHK dan 1999 - 2000 bekerja lagi di tabloid dengan redaktur yang selalu mengatakan tulisan saya pressklar, tanpa arahan apa-apa hingga media itu tutup karena ngak laku. Sejak masuk di media online saya tidak pernah punya pembimbing. Berjalan sendiri hanya berpatokan pada jumlah/traffic pengunjung situs yang sejauh ini naik terus. Tapi sesungguhnya saya belum puas, masih bertanya-tanya tulisan saya sudah baik atau belum. Anda mau membantu?

Praboe said...

Mas, saya mahasiswa jurusan komunikasi yang tertarik dengan jurnalisme, terutama jurnalisme Islam. Mohon bantuannya jika punya tulisan konsepsi jurnalisme Islam versi Hamid Mowlana, Majid Tehranian, atau versi Mas sendiri. Saya pernah mengetahui konsep tersebut hanya dari pakar nasional saja, sebagai wawasan dan perbandingan, saya tertarik dengan pakar komunikasi internasional di atas. Semoga Mas berkenan mengirimkannya ke mail saya di untukrap@yahoo.com
Terima kasih sebelumnya.

I-Think said...

Saya ingat waktu melamar jadi wartawan, saya tidak menjalani tes menulis berita, tapi tes psikologi dan sedikit pengetahuan bahasa. Malah konon, ada teman saya yang digadang-gadang bukan karena tulisannya yang bagus, tapi karena kepatuhan dan hasil tes psikologinya yang terbaik. Saya pikir, jurnalisme naratif masih susah diterapkan di sini, lha wong nulis berita pendek saja masih banyak wartawan yang nulisnya nggak runut dan logika berpikirnya loncat-loncat. Sampai saat ini, buat saya belajar jurnalisme naratif dan memang itu tidak mudah. Makanya, meski saya belum berkesempatan belajar jurnalisme naratif langsung yang digelar pantau, sementara belajar dulu lewat blognya Mas. Terima kasih transfer ilmunya.

her said...

Baca tulisan Bung Andre jadi ingat waktu ngelamar dulu. DAlam lamaran aku sertakan 3-4 contoh tulisanku yang pernah kemuat di tabloid tempatku bekerja sebelumnya.

Niatnya sih itu untuk nyiasati salah satu syarat umum yang ditetapkan media bersangkutan, yakni lulusan S-1. Meski aku sudah diwisuda tapi ijzah itu belum terambil sampai sekarang. DAn itu aku sebutkan dalam lamaran, "lulusan S-1 ijazah belum terambil.

Eh, ndilalah, waktu itu dua media yang kukirimi sama-sama memanggil untuk interview.

Masalahnya, aku gak ngerti apakah waktu itu perusahaan akhirnya mutuskan ngrekrut karena tulisan itu atau karena kasihan? he he he..

risuka said...

dari 2005 sampai 2009(sekarang) apakah ada perkembangan tentang sistem rekruitmen wartawan? mohon infonya..

apa dampak yang signifikan ditimbulkan dengan adanya fenomena "wartawan yang tidak bisa menulis" ini? misalnya dengan jumlah penjualan..

terimakasih atas jawaban dari pertanyaan saya pak!

zulkarnain said...

Terima kasih mas andreas, mungkin 10 tahun kedepan kita sudah bisa memulai tahapan yang benar dalam menyaring calon wartawan kita. Dari kejauhan, tempat saya berdiam, mamuju sulawesi barat, kurang lebih 500 kilometer dari kota makassar, media dan pemiliknya belum cukup kuat untuk menerapkan resep yang mas tawarkan.