Thursday, April 07, 2005

Hendra dan Mustakim di Sabang

Ini cerita lucu. Kamis ini aku pergi ke Sabang. Tujuannya, melakukan survei terhadap kemungkinan bikin pelatihan wartawan di Hotel Sabang Hill. Naik kapal Tanjung Pinang dari Ule Lheue, Banda Aceh, selama 45 menit. Aku bawa uang Rp 500,000.

Lama menunggu. Kapal cepat ternyata bukan berangkat pukul 12:00 --seperti diberitahu oleh Helena Rea, yang minggu sebelumnya ke Sabang-- tapi pukul 15:00. Aku juga ditarik ongkos becak mesin Rp 40,000 dari Neusu ke Ule Lheue --padahal ongkosnya Rp 12,000.

Jadinya, ya makan siang, minum es dan macam-macam di pinggir pangkalan kapal. Uang berkurang juga Rp 35,000 untuk ongkos kapal.

Singkat kata, uang tersisa Rp 340,000 ketika sampai Hotel Sabang Hill.

Liza Hastika, manajer pemasaran hotel, bilang hotel tak terima kartu kredit atau ATM. Aku pun bayar cash. Semalam Rp 300,000. Ini hotel bagus. Aku suka pemandangannya.

"Apakah ada ATM di Jalan Perdagangan?" tanyaku pada Liza. Jalan ini adalah satu-satunya jalan pertokoan di Sabang.

Liza bilang ada. Cuma ATM BRI dengan jaringan Western Union serta BPD. Aku pun turun ke Jalan Perdagangan. Ternyata kedua kartu ATM milikku, BCA dan HSBC, tak terhubungkan dengan BPD. Sedang ATM BRI belum operasi.

Alhasil. Panik. Aku punya ATM dengan dana cukup. Kartu kredit juga beres. Tapi di kota kecil ini tiba-tiba aku merasa lemas. Wartawan termiskin di Sabang. Aku menenangkan diri dengan masuk ke sebuah rumah makan, pesan mie ayam serta teh dingin. Aku tak berani pesan macam-macam. Tapi aku makan agar rasa lapar tak mengganggu. Habisnya Rp 7,000. Cukup murah.

Aku kirim SMS kepada beberapa kenalan di Banda Aceh, tanya apakah ada teman yang bisa meminjami Rp 100,000. Helena bilang tak punya tapi bersedia datang ke Sabang naik kapal besok pagi. Nani Afrida tak menjawab. Murizal Hamzah mengusulkan agar aku hubungi Hendra Handyan, reporter Serambi Indonesia (Banda Aceh) di Sabang.

Maka aku pun cari rumah Hendra. Ternyata mudah. Ia tinggal di Jalan Perdagangan. Menahan malu. Aku minta tolong dipinjami Rp 100,000 agar besok bisa pulang ke Banda Aceh. Hendra baik sekali. Ia memberiku Rp 100,000. Kami mengobrol sebentar di rumahnya.

Hendra bahkan mengajak Mustakim Munthe, wartawan harian Analisa (Medan) di Sabang, mendatangi hotel. Kami mengobrol sepanjang malam. Ternyata Nani juga langsung menelepon Hendra, minta agar Hendra memberiku uang untuk jalan. Mustakim dan Hendra cerita suka duka jadi wartawan di kota terpencil ini.

Aku terharu dengan solidaritas sesama wartawan. Aku berjanji bila punya kesempatan, akan membawa wartawan-wartawan lain datang ke Sabang, entah ikut pelatihan atau reportase.

3 comments:

kéré kêmplu said...

oot: bos, mbok sampeyan masang shoutbox gitu lho. nggak akan dianggap sok remaja kok kalo sampeyan masang kotak teriak itu. :)

Luigi said...

Kadang "uang plastik"itu nggak selalu sakti, apalagi didaerah2 konflik macam di Monrovia ;-), jadi kontan keras-lah yang menjadi raja, para hamba itupun dapat senyum sumringah ketika melihat lembaran hijak dimana benjamin atau franklin itu terpampang :-)

Salam kenal & Salam hangat dari samudra seberang..

Andreas Harsono said...

Om Kemplu,

Bukannya takut dibilang sok remaja. Tapi owe ini memang gagap teknologi. Owe tidak tahu cara bikin bilik teriak. Bagaimana cara mudahnya ya?