Saturday, January 22, 2005

"Asing" di Tanah Acheh



Andreas Harsono
Kompas, Sabtu, 22 Januari 2005

SIAPA sih yang asing di tanah Aceh itu? Pertama, Anda mungkin termasuk orang yang menganggap Aceh bagian dari diri Anda, bagian dari identitas keindonesiaan Anda.

NAMUN, coba tanya kepada orang-orang Gerakan Acheh Merdeka, Sentral Informasi Referendum Acheh dan beberapa organisasi lain. Mereka menganggap orang-orang dari Pulau Jawa inilah yang orang asing. Apakah GAM dan SIRA mewakili rakyat Aceh? Ini bisa diperdebatkan, tapi suka atau tak suka Anda harus mengakui mereka sebagai "major political groups" di sana. Buat mereka, kita sama asingnya dengan orang Amerika.

Ironisnya, mereka justru menyambut kehadiran pasukan Amerika, Australia, Singapura, Jepang dan lainnya di Aceh karena pasukan-pasukan itu membantu usaha-usaha kemanusiaan di sana. Coba Anda baca pernyataan Mucksalmina, juru bicara GAM, kepada Ian Fisher dari The New York Times. Mucksalmina justru tak suka dengan kehadiran tentara Indonesia di Aceh. Hasan Tiro, walinegara Acheh, mengatakan bahwa kata Indonesia itu hanyalah "nama samaran" dari kolonialisme "bangsa Jawa" -musuh bebuyutan "bangsa Acheh" sejak abad 13. Mereka menganggap kehadiran tentara Indonesia sebagai "pasukan asing" justru tak dikehendaki karena "pasukan asing" ini melakukan penangkapan, penjajahan, pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya terhadap "bangsa Acheh" sejak 1945.

Kedua, apa yang Anda sebut "pasukan asing" itu datang bukan untuk melakukan kegiatan militer. Mereka datang ke sana membawa helikopter, landing craft, mendistribusikan makanan, bikin rumah sakit, memberikan obat, bersama-sama dengan orang-orang lain, asing maupun tidak, Jawa maupun Bugis, Sunda maupun Melayu, Madura, Tionghoa, Minahasa maupun China, Jepang, Irlandia, Australia, Spanyol dan sebagainya. Tujuannya, membantu korban tsunami, lagi-lagi korbannya, juga bukan hanya orang Aceh, tapi sesama manusia. Berapa sih helikopter dan pesawat Hercules yang dimiliki oleh Indonesia? Jumlahnya tak cukup sehingga bantuan dari "asing" itu sangat berguna menyelamatkan nyawa manusia.

Saya menerima beberapa surat elektronik dari sahabat-sahabat saya di Amerika Serikat maupun Sri Lanka, India dan sebagainya, antara lain dari wartawan kenamaan Bill Kovach, yang merasa tersentuh dengan penderitaan korban tsunami. Emosi Kovach tulus. Ia menonton televisi. Ia ikut sedih. Ia senang pemerintahnya mengirim helikopter, kapal, tentara ke Aceh untuk bantu-bantu. Minimal, uang pajaknya dipakai untuk kepentingan yang baik-bukan untuk membunuh orang di Irak misalnya. Kok ketulusan ini dianggap asing?

Kritik saya, isu kemanusiaan ini diubah dengan cepat, terutama oleh beberapa politikus, militer dan media Indonesia, menjadi isu nasionalisme yang sempit. Manajemen bantuan kemanusiaan ini jadi terdistorsi ketika isu kebangsaan dimasukkan. Juga isu sektarian, Islam dan Kristen, dan ia dengan cepat menyentuh urat saraf banyak orang.

Apakah bantuan dari Amerika tidak politis? Jelas sekali politis! Apakah bantuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa tak akan dikorupsi? Jelas sekali bakal ada korupsi-kalau ingat pelajaran PBB di Kamboja 1992-1993. Namun, bantuan dari "pemerintah asing" bernama Republik Indonesia ini juga sama politis. Bantuan dari "Indonesia" juga akan dikorupsi-kalau ingat pelajaran di Sambas, Maluku, Sanggauledo, atau bencana mana pun. Jangan karena Anda merasa sebangsa dengan Aceh, lalu Anda tidak menjadi kritis.

Apa sih yang belum politis saat ini di Aceh? Bahkan ejaan nama Aceh atau Acheh juga sudah sangat politis. Orang Indonesia, termasuk saya, memakai Aceh sedang aktivis sana memakai Acheh. Anda perhatikan pernyataan-pernyataan yang keluar dari organisasi Acheh. Mereka bukan harus satu kubu. Namun, mereka sepakat menggunakan Acheh ketimbang Aceh.

Ketiga, sebagai wartawan, saya justru merasa isu politisasi inilah yang menarik perhatian untuk saya sajikan kepada pembaca saya. Seberapa jauh bantuan-bantuan yang sifatnya politis itu, dari Indonesia maupun apa yang biasa disebut sebagai "bangsa asing" itu, akan mengubah persepsi "rakyat Acheh" terhadap Indonesia? Seberapa jauh bantuan-bantuan ini, dari bangsa-bangsa lain di Republik Indonesia ini, meninggalkan kesan yang tulus dalam diri individu-individu Acheh?

Kalau wartawan ikut tenggelam dalam semarak nasionalisme, saya khawatir, kejadian Pembantaian Santa Cruz, Dili 1991, akan terulang lagi di media Jakarta ketika isu Santa Cruz berubah dari isu hak asasi manusia dan pembantaian menjadi isu nasionalisme. Titik balik itu terjadi ketika negara-negara Barat dan Jepang dalam payung International Governmental Group on Indonesia (IGGI) menekan rezim Presiden Soeharto agar menyelidiki Dili. Soeharto menolak intervensi dan membubarkan IGGI. Manuver politik yang hebat. Saat itu ada media yang terpesona dan rasa kebangsaan diaduk- aduk. Namun, penderitaan orang Timor dan keinginan mereka merdeka luput dari media. Itulah cara saya memandang isu tsunami ini.

Saya pertama-tama seorang wartawan. Identitas lain, termasuk kewarganegaraan, saya lepaskan saat bekerja. Kewarganegaraan hanya untuk keperluan praktis pribadi atau memperkaya pemahaman soal Aceh dan Acheh. Kewarganegaraan saya tak akan saya biarkan mendikte liputan saya. ***

ANDREAS HARSONO Wartawan Inter Press Service di Jakarta, kini mengerjakan buku soal nasionalisme, pertikaian etnis dan agama di Indonesia


Komentar dari pantau-komunitas@yahoogroups.com

From: wishnu8289
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, January 25, 2005 1:28 AM
Subject: [pantau-komunitas] Re: "Asing" di Tanah Acheh

Anda menyebut GAM adalah 'major political group'. Ini fakta atau opini? Tamil eelam(LTTE) pernah menguasai srilanka utara. di kota jaffna, LTTE sudah punya pemerintahan sendiri. jaksa, polisi, pengadilan. kalo GAM di kabupaten mana? atau di kampung apa? pernahkah anda mendatangi kampung ini untuk mendapatkan fakta dari tangan pertama?
salam,
wishnu


From: e-mgradzie
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, January 25, 2005 1:50 AM
Subject: Re: [pantau-komunitas] Re: "Asing" di Tanah Acheh

Menambah apa yang dikemukakan Mas Andreas. Di beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Utara, pada tahun 1999 hingga 2003 (awal), GAM merajai. Ada kadhi (KUA untuk nikahkan orang), kalau polisi GAM, juga banyak.

Saleum,
e-mgradzie


From: maimun beudoh
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, January 25, 2005 6:47 AM
Subject: Re: [pantau-komunitas] Re: "Asing" di Tanah Acheh

Mas Wisnu...bahkan GAM sudah pernah urusi orang nikah (sudah punya institusi semacam KUA)...


From: wishnu8289
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, January 26, 2005 2:52 AM
Subject: [pantau-komunitas] Re: "Asing" di Tanah Acheh

bisa disebutkan mereka menguasai berapa kampung atau berapa kabupaten? karena anda menyebut GAM "political group" yang "major". seperti anda cukup banyak tahu tentang GAM. saya beberapa pertanyaan lagi.

1. betulkah GAM mengintimidasi atau mengusir penduduk aceh keturunan jawa yang datang ke sana sebagai transmigran?

2. betulkah GAM akan mendirikan negara kesultanan otoriter semacam brunei, arab saudi, jordania, dan maroko dengan dasar syariat Islam?

3. betulkah GAM sudah mengutip uang dari penduduk aceh dengan alasan ini pajak "negara" aceh?

salam,
wishnu


From: Andreas Harsono
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, January 26, 2005 9:36 PM
Subject: Re: [pantau-komunitas] Re: "Asing" di Tanah Acheh

Bung Wishnu,

Saya kira sebaiknya diskusi soal Acheh dan Aceh ini kita akhiri disini saja. Saya akan menjawabnya secara pribadi kalau Anda masih ingin tahu. Tak semua orang butuh informasi yang Anda butuhkan. Kalau Anda teliti, data-data itu bisa Anda baca dalam berbagai macam posting yang muncul di mailing list ini selama seminggu terakhir, baik dari arsip majalah Pantau maupun majalah Inside Indonesia.

Tapi saya jawab saja untuk kali terakhir. Saya lagi mengejar deadline majalah Ordfront. Akhir pekan ini saya juga akan ke Meulaboh, Calang dan Sabang. Pekerjaan menumpuk.

1. Soal kabupaten yang dikuasai GAM, karena saya menyebut GAM "political group" yang "major." Saya kira sederhana saja argumentasinya. Pemerintah Indonesia pun mengakui GAM sebagai lawan tanding mereka dalam negosiasi di Helsinski minggu depan. Kalau bukan kelompok penting yang besar, saya kira, pemerintah tak perlu berunding dengan GAM. Berapa kabupaten? Anda bisa tanya detail pada Acheh Sumatra National Liberation Front di Stockholm. Mereka punya struktur pemerintahan sipil dan militer di 12 wilayah Aceh. Tiap wilayah ada gubernur dan panglima. Mungkin Anda tahu, dari 12 panglima daerah itu, ditunjuk satu panglima tertinggi. Namanya, Muzakkir Manaf.

2. Betulkah GAM mengintimidasi atau mengusir penduduk Aceh keturunan Jawa yang datang ke sana sebagai transmigran?

Saya kira benar. Saya pribadi tidak setuju dengan kebijakan ini. Tapi menurut beberapa sumber, juga bisa Anda baca dalam arsip mailing list ini, ada sekitar 100,000 orang Aceh keturunan Jawa, bukan hanya transmigran tapi yang sudah tiga atau empat generasi tinggal di Aceh, diusir dari tanah itu. Kisahnya menyedihkan.

3. Betulkah GAM akan mendirikan negara kesultanan otoriter semacam Brunei, Arab Saudi, Jordania, dan Maroko dengan dasar syariat Islam?

Anda bisa baca dalam macam-macam situs web GAM. Intinya, Hasan Tiro ingin kesultanan Acheh diteruskan lagi. Ia akan jadi walinegara sambil menunggu masa transisi, mau terus sebagai kesultanan, atau jadi republik. Prioritas mereka sekarang adalah bebas dulu dari Republik Indonesia. Hasan Tiro berpendapat Kesultanan Acheh tidak pernah diserahkan ke Belanda sehingga penyerahan kedaulatan 1949 dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia Serikat juga tidak sah. Anda bisa baca dalam deklarasi Desember 1976 karya Hasan Tiro.

4. Betulkah GAM sudah mengutip uang dari penduduk Aceh dengan alasan ini pajak "negara" Aceh?

Benar. Ini mudah dibaca dalam banyak sekali berita. Jangan kan orang biasa, Abdullah Puteh pun membayar GAM sebagai "pajak." Saya wawancara ratusan orang Acheh dan pungutan ini memang diberlakukan.

Saya kira sekian dulu. Silahkan memakai Google untuk tahu lebih banyak. Anda juga baca deh laporan-laporan Pantau soal Aceh karya Chik Rini, Alfian Hamzah, AE Priyono maupun saya. Terima kasih.


From:
To:
Sent: Tuesday, February 22, 2005 7:23 AM
Subject: fokus kompas

rupayanya anda antek AS ya!

2 comments:

C'est Moi said...

Pertama-tama yang ingin saya katakan adalah sedikit banyak saya sepakat dengan Bung Andreas, dikarenakan saya adalah seorang mahasiswa fakultas hukum yang tengah mengerjakan skripsi di bidang hukum internasional mengenai MoU Helsinki. Dan dikarenakan itu, saya banyak bersentuhan dengan material-material mengenai Acheh. Oh iya pertama-tama saya bukan orang Acheh dan saya pun seperti kebanyakan orang indonesia melhat Acheh sebagai duri dalam daging yang selalu merepotkan bangsa "besar" ini, namun hal itu berubah ketika saya menulis skripsi ini. Membaca sejarah bangsa Acheh dan perjuangan mereka setidaknya membuat anda di luar sana memiliki pandangan yang seimbang atas isu Acheh.
Most of all, saya hanya ingin mengajak anda semua untuk mau sekedar membaca sejarah versi orang Acheh, oleh karena itu saya tinggalkan web address untuk anda.
Yang terpenting adalah saya membutuhkan bantuan dari Bung Andreas untuk mendapatkan struktur pemerintahan GAM, dimana struktur ini akan membuktikkan argumen yang saya bangun di skripsi tersebut. Thanks a lot before

NB : Berbeda pendapat tidak langsung membuat orang menjadi "kaki tangan" Amerika !

Andreas Harsono said...

C'est Moi,

Mohon maaf, saya baru membaca komentar Anda hari ini, tiga tahun terlambat. Saya duga skripsi Anda sudah selesai. Mudah-mudahan sudah mendapatkan struktur GAM. Ia cukup mudah didapat bukan?

Membaca esai hari ini, membuat saya senang karena argumentasi saya soal popularitas GAM sudah terbukti. GAM menang telak pemilihan gubernur, bupati dan walikota pada Desember 2007. GAM juga menang telak pemilihan legislatif April 2009.