Wednesday, February 04, 2015

Sesi Terakhir Kelas Narasi Yayasan Pantau


Andreas Harsono


SELALU menyenangkan menyaksikan sesi terakhir kelas dimana saya mengajar. Ada cerita, ada kesan, ada masukan. Kali ini sesi ke-19 dari kelas Narasi Yayasan Pantau angkatan ke-14, atau sesi bontot, dimana saya mengampu bersama Budi Setiyono, redaktur majalah Historia dan kawan lama dari Semarang, selama lima bulan.

Ada belasan peserta bersama belajar, setiap minggu, dengan berlatar wartawan sampai arsitek, dari bankir sampai tata kota. Minatnya juga macam-macam. Ada yang biasa menulis soal makanan. Ada yang soal film dan fashion.

Desi Dwi Jayanti, seorang ibu rumah tangga, menulis dalam Facebook, "Kami tertawa lepas dan membaur dengan baik. Makan-makan menu saweran dengan gembira, saling cela dan merencanakan project menulis bersama."

Empat peserta Komnas Perempuan.
Ardi Wilda Irawan dari Turun Tangan, mengatakan sesi soal social media adalah sesi yang menarik perhatiannya. Dia usul sesi tersebut dikembangkan. Dia usul contoh pembahasan bukan saja naskah klasik dari media cetak --"Hiroshima" karya John Hersey atau "In Cold Blood" karya Truman Capote-- tapi juga naskah bermutu dari dotcom.

Saya tertarik dengan masukan Ardi. Saya pikir pada kelas baru saya hendak menambah materi dari media baru a.l. Business Insider, The New York Times, Salon.

Viriya Paramita cerita menarik soal bagaimana dia belajar feature. Dia bilang satu semester dia kuliah soal penulisan feature di almamaternya. Isinya teori, dari soal lead sampai entah apa lagi. Namun feature diterangkan dengan mudah dan sederhana dalam satu sesi dalam kelas Narasi.

Ini bukan pertama saya dengar komentar macam Viriya. Sering dosen-dosen komunikasi dan jurnalisme di Indonesia membuat persoalan sederhana jadi ruwet. Mungkin mereka tak bisa mengembangkan silabus. Mungkin mereka tak mengerti subject yang diajarkannya.

Stuktur dan teori soal feature bisa diterangkan hanya 20 menit. Mungkin malah 15 menit.

Penting peserta diberi kesempatan praktek serta membaca feature yang baik. Saya pernah menulis soal feature hanya dengan sebuah esai tak sampai 1,000 kata. Judulnya, "Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi."

Viriya juga menikmati cerita dari berbagai instruktur tamu dalam kelas ini: Metta Dharmasaputra dari Katadata (menulis buku Saksi Kunci soal penggelapan pajak Asian Agri); Pallavi Aiyar dari New Delhi (menulis buku Smoke and Mirrors: An Experience of China serta Punjabi Parmesan: Dispatches from a Europe in Crisis); dan wartawan investigasi Allan Nairn dari New York.

Saya kira memang menarik. Saya bersyukur bahwa Pantau, sejak berdiri 1999, bisa dapat kepercayaan dari berbagai wartawan, mulai dari Jakarta sampai Jayapura, dari New Delhi sampai New York, agar mereka bicara bila kebetulan berada di Jakarta. Pantau tak memberi honor selain uang taxi ala kadarnya.

Para peserta kelas Narasi dari Yayasan Pantau. Mereka punya background beragam, dari arsitek sampai bankir, dari wartawan sampai Komnas Perempuan. Dari kiri atas: Adi Wibowo, Ayub Wahyudin, Sri Candra Wulaningsih, Asmaul Khusnaeny, Indah Sulatry, Anastasia Widyaningsih, Teddy Wijaya, Desi Dwi Jayanti, Feri Sahputra, Budi Setiyono, dan Ricky Dewi Lestari. Kiri bawah: Ahmad Hanafie, Bagus Baratha Handoko, Ardi Wilda Irawan, Beni Satryo, Viriya Paramita, Nadrah Shahab, Andreas Harsono, Rahmat Ali, serta Mirzadlya Devanastya. 

Desi Jayanti juga usul ada sesi soal manajemen kerja penulisan panjang. Dia menulis, "Selain outline yang matang, manajemen kerja menulis memang penting dalam naskah panjang. Apalagi bagi penulis baru. Misal ideal waktunya berapa lama gitu."

Desi didaulat rekan sekelasnya buat koordinasi bikin Antologi Jakarta. Ini juga salah satu kebiasaan dari kelas-kelas di Pantau dimana mereka ingin bikin proyek bersama.

No comments: