Sunday, March 07, 2010

Workshop Sei Rokan


Selama seminggu, 1-6 Maret 2010, Chik Rini dan aku mengampu sebuah kelas penulisan di Sei Rokan, sebuah perkebunan kelapa sawit PT Ivo Mas Tunggal, sekitar tiga jam dari Pekanbaru. Peserta datang dari Riau, Minangkabau, Jawa dan Madura. Kami berlatih interview serta bikin bikin deskripsi, dialog dan monolog di sebuah desa transmigrasi, Bringin Lestari, dekat perkebunan.

Chik Rini seorang wartawan Aceh, tinggal di Banda Aceh, pernah menulis beberapa narasi, "Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft" atau "Surat dari Geudong." Kami sama-sama pernah bekerja untuk majalah Pantau.

Menurut Chik Rini dalam Facebook, "Mas Andreas kehilangan lemak 5 ons karena membonceng Kak Chik hehehe .... Ternyata kami guru yang kompak. Membayangkan kalau tiap hari naik sepeda ontel ini ke sekolahan di SP 3? Kami mirip guru daerah terpencil ya?"

Susahnya, selama seminggu ini pula kami terputus dari dunia luar. Sei Rokan tak ada internet, tak ada sinyal cell phone. Bila hendak cari internet, kami harus pergi ke kota terdekat, Kandis, sekitar setengah jam naik mobil. Ini sudah kami lakukan karena selama jam kerja, kami harus mengajar para mahasiswa.

Aku biasa memakai cell phone Matrix. PT Indosat, perusahaan yang mengelola Matrix, tampaknya belum bisa membuat sinyal Matrix tertangkap di Sei Rokan. Namun Telkomsel, rival Matrix, juga belum sepenuhnya bisa ditangkap di Sei Rokan. Bedanya, Telkomsel ada dua strip, Matrix nol strip. Praktis selama seminggu aku tak tahu apa-apa soal dunia luar selain nonton televisi Jakarta.

Setiap hari, bila bepergian, kami memakai sepeda kumbang. Ini sebuah kebiasaan dari zaman perkebunan Hindia Belanda dimana petugas kebun memakai sepeda guna memeriksa pekerjaan buruh kebun. Sekarang sudah jarang dipakai sepeda. Orang pakai four wheel drive atau sepeda motor. Namun sepeda masih disediakan. Aku membonceng Meiriza Paramita, seorang peserta dari Padang, kini magang di kantor berita Antara.

Aku tak tahu apakah bacaan dalam workshop ini terlalu banyak sehingga Andika Khagen, peserta dari Minangkabau, membaca buku Jurnalisme Sastrawi bahkan di tempat parkir sepeda? Secara umum workshop ini memberi kesempatan kepada peserta untuk banyak membaca, serta merenung, dan mengerjakan pekerjaan individu. Aku rasa waktu lima hari relatif pendek. Aku ingin bisa merancang workshop dengan waktu lebih lama.

Kami juga mengunjungi pabrik kelapa sawit PT Ivo Mas Tunggal. Ada 12 station dalam pabrik ini. Mulai dari tempat penimbangan truk sawit hingga penyimpanan crude palm oil. Made Ali dari Bahana Mahasiswa termasuk peserta yang banyak bergurau. Dia orang Bugis asal Bone, kuliah hukum di Universitas Riau.

4 comments:

STR said...

Kalo lima hari kurang lama, idealnya berapa hari, mas?

Andreas Harsono said...

Waktu ideal untuk kelompok Sei Rokan, aku kira, dua minggu lamanya. Mungkin bahkan tiga minggu bila tugas-tugas mau diulang dua kali. Artinya, mereka bisa mengerjakan tugas hingga final --ada editing tuntas. Kemarin mereka hanya mendapatkan editing awal. Belum tuntas. Bila hendak diulang, dari liputan, ya perlu ditambah satu minggu lagi.

NanLimo Bertuah said...

waaah... seru bangat acaranya bg... sayang sya tidak bisa mengikutinya..... wah... Foto dgn Bg Made lucu tug... luarnya aja lucu dalamnya sangar... wakkaka....

Fajar said...

Sepertinya selalu menyenangkan melihat Mas Andre. Saya selalu ingin turut serta kalau ada diklat-diklat semacam itu. Sayang belum ada kesempatan di Malang.