Wednesday, September 30, 2009

Kami percaya selama orang belum bisa belajar dari masa lalu, orang-orang yang dulu melakukan pembunuhan, juga takkan takut untuk bikin pengerahan lewat etnik, budaya atau agama, dan melakukan kekerasan lagi. Selama kebenaran dan keadilan tidak ditegakkan, selama itu pula kita tidak mengerti bagaimana hidup damai dalam persaudaraan yang tulus."

-- Seruan Pontianak, sebuah petisi lebih dari 70 warga Pontianak, soal akar kekerasan di Kalimantan Barat


Puluhan warga Pontianak dan Singkawang menyerukan warga Kalimantan Barat untuk kritis melihat pertengkaran pribadi ketika ia hendak dibawa ke masalah etnik atau agama. Mereka prihatin melihat pembunuhan besar-besaran yang terjadi di wilayah ini sejak 1967.
-- Kartun oleh Koesnan Hoesie

Dari Sabang Sampai Merauke
Berkelana dari Sabang ke Merauke, wawancara dan riset buku. Ia termasuk tujuh pulau besar, dari Sumatera hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana.

Kekerasan Berakar di Kalimantan Barat
Lebih dari 70 warga Pontianak dan Singkawang mengeluarkan Seruan Pontianak, minta agar warga berhati-hati dengan tradisi kekerasan di Kalimantan Barat.

Training Ganto di Padang
Lembaga media mahasiswa Ganto dari Universitas Negeri Padang bikin pengenalan investigative reporting. Ada 46 mahasiswa dari dari berbagai kota Sumatera plus Jawa dan Makassar.

Homer, The Economist and Indonesia
Homer Simpsons read the dry Economist magazine in a First Class flight. Homer talked about "Indonesia" ... and later The Economist used the Simpsons joke to describe ... Indonesia.

Bagaimana Meliput Agama?
Dari Istanbul dilakukan satu seminar soal media dan agama. Dulunya Constantinople, ibukota kerajaan Romawi Timur, hingga direbut kesultanan Ottoman pada 1453.

Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
Di Protestant Cemetery, Penang, terdapat sebuah makam untuk James Richardson Logan, seorang juris-cum-wartawan, yang menciptakan kata Indonesia pada 1850.

Makalah Criminal Collaborations
S. Eben Kirksey dan saya menerbitkan makalah "Criminal Collaborations?" di jurnal South East Asia Research (London). Ia mempertanyakan pengadilan terhadap Antonius Wamang soal pembunuhan di Timika.

Panasnya Pontianak, Panasnya Politik
Borneo Barat adalah salah satu wilayah perang di Indonesia. Jamie Davidson menyebutnya sebagai "the unknown war" atau perang yang tak disadari. Bagaimana memahami perang yang sudah makan ratusan ribu korban ini?

Moedjallat Indopahit
Satu majalah didisain sebagai undangan pernikahan. Isinya, rupa-rupa cerita. Dari alasan pernikahan hingga kepahitan sistem kenegaraan Indonesia keturunan Majapahit.

Kolam renang Apartemen Permata Senayan. Juli 2009, 10 orang pengurus apartemen mengundurkan diri semua. Mereka bertengkar sendiri. Satu menuduh lainnya korupsi. Kepengurusan baru dipilih dengan pimpinan Edward Limbong, seorang kapten Lion Air. Ternyata semua pengurus lama tak bayar service charge dan sinking fund. Malah ada yang tak bayar tagihan listrik dan air dua tahun. Mudah-mudahan periode Limbong lebih baik. Target mereka apartemen ini bisa mulai bayar pajak. Anyway, siapa mau ikut berenang?

Media dan Jurnalisme
Saya suka masalah media dan jurnalisme. Pernah juga belajar pada Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah kembali ke Jakarta, menyunting majalah Pantau.

The Presidents and the Journalists
In 1997, President Suharto lectured editors to have "self-censorship." Now President Susilo Bambang Yudhoyono also lectured about "self-censorship." What's wrong?

Burrying Indonesia's Millions: The Legacy of Suharto
Suharto introduced a "business model" for soldiers and businessmen. He built ties to merchants Liem Sioe Liong and Bob Hasan, accummulating immense wealth while using violence to repress dissension.

Kronologi Pengasuhan Norman
Norman kekurangan waktu belajar, istirahat dan bermain sejak dipindahkan ibunya dari Pondok Indah ke Bintaro. Jarak tempuh ke sekolah 120 km pergi-pulang. Ini ibu celaka. Child abuse adalah isu publik.

Polemik Sejarah, Pers dan Indonesia
Kapan "pers Indonesia" lahir? Apa 1744 dengan Bataviasche Nouvelles? Apa 1864 dengan Bintang Timoer di Padang? Soerat Chabar Betawie pada 1858? Medan Prijaji pada 1907? Atau sesuai proklamasi Agustus 1945? Atau kedaulatan Desember 1949?

Murder at Mile 63
A Jakarta court sentenced several Papuans for the killing of three Freeport teachers in August 2002. Why many irregularities took place in the military investigation and the trial? What did Antonius Wamang say? How many weapons did he have? How many bullets were found in the crime site?

Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta. Politikus Marrissa Haque pernah tanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?”

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Tuesday, September 29, 2009

Ancaman Pembunuhan dari Pontianak


Selasa pagi seorang lelaki, yang mengaku bernama Hermanto Djuleng dengan nomor Pontianak 0813-52610888, menelepon aku. Isinya maki-maki. Dia marah terhadap Seruan Pontianak. Dia memaki aku sebagai PKI, babi, anjing, bangsat dsb. Aku coba engage dia dengan bicara namun tak lama. Aku lagi setir mobil dan berjanji meneleponnya balik. Ketika aku telepon balik, makian kembali terlontar. Dia juga mengancam hendak membunuh aku. Aku bilang kalau mau bicara serius, aku akan tanggapi tapi kalau sekedar maki-maki, lebih baik dia yang telepon aku. Aku tak mau membayar pulsa untuk orang yang mengancam aku.

Hari ini total aku menerima delapan telepon makian dan ancaman. Dua orang kenalan, yang kebetulan lagi berada di rumah, juga ikut mendengar ancaman-ancaman ini. Aku serahkan handphone aku kepada mereka. Ada juga seorang penelepon yang mengaku bernama "Petrus" serta "Martinus Sudarno." Tamu aku, yang baru datang dari sebuah program pelatihan di Davao City, bilang dia "gemetaran" dengar ancaman-ancaman itu.

Juga ada SMS dengan isi sebagai berikut:

"2 hari lagi diperkirakan massa dayak akan turunkan hasan karman, walikota singkawang, gara-gara anda" - 0852-14016511 29/9 00:13 AM

"Mohon buat permohonan maaf kepada publik dan menarik seruan anda. Lalu silahkan buat seruan yang sejuk dan bijak. Apakah Anda tahu secara mendalam persoalan konflik di Kalbar? Data mana yang Anda jadikan referensi? Ingat Kalbar sudah tenang, aman, damai. Seruan Anda justru membuat keruh suasana. Kalau muncul konflik, Andalah pertama-tama kami cari. Besok kami buat konferensi pers. Atas nama semua lembaga. Kalau kau benar, besok kami tunggu di Rumah Betang jam 12 siang" - 0813-52610888 28/9 23:58 PM

"Identitas Anda, Andreas Harsono, sudah saya kantongi. Saya TOKOH MUDA DAYAK. Anda adalah salah satu penggagas Seruan Pontianak = Provokator. Anda harus bertanggungjawab. Kalau Anda manusia, tampilkan jati diri Anda di hadapan Dayak. Semoga para setan dan iblis mengampuni Anda" - 0852-52134949 29/9 00:26 AM

"Kalian minta tambah ya? Kurang ya yang 3000, tenang saja, kami akan tambah. Satu pun tidak kami sisakan. Toh Cina pendatang kok." 0852-14016511 29/9 6:21 AM

Seingat aku, ini ancaman pembunuhan yang kesekian kali untukku. Sejak 1996, ketika sebagai wartawan harian The Nation, aku meliput rekayasa Presiden Soeharto menggulingkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua terpilih Partai Demokrasi Indonesia, hingga liputan aku di Aceh, Timor Leste serta Papua, aku diancam dengan macam-macam tuduhan. Peristiwa 1996 itu berakhir dengan penyerbuan markas PDI oleh tentara dan preman bayaran Soeharto. Kali ini, aku duga, para pengancam datang dari Pontianak.

Beberapa kenalan di Pontianak, orang-orang Dayak yang aku hormati, minta aku tenang saja. Agustinus, ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat, kirim SMS ketika tahu aku diancam. Dia bilang ini "biasa" untuk politik Kalimantan Barat. Dia bilang tak perlu ditanggapi serius.

Pernyataan Sikap terhadap Seruan Pontianak

Pernyataan Sikap Bersama Lembaga dan Organisasi Masyarakat Dayak Kalimantan Barat terhadap Seruan Pontianak

Terhadap Seruan Pontianak, yang dimuat dalam 3 (tiga) surat kabar, yakni Pontianak Post, Tribun Pontianak dan Borneo Tribune, pada edisi hari Senin, 28 September 2009 maka kami dari berbagai Lembaga dan Ormas Masyarakat Dayak se-Kalimantan Barat dengan ini menyampaikan Pernyataan Sikap sebagai berikut:

1. Kami menghargai gerakan penegakan hukum dan HAM yang dilakukan sekelompok orang di dalam seruan Pontianak tersebut.

2. Kejadian-kejadian yang diungkapkan dalam seruan Pontianak tersebut merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak diinginkan oleh siapa pun dan tidak dapat ditimpalkan kesalahannya kepada salah satu kelompok atau kaum, karena semua pihak merasa dirugikan dan menjadi korban.

3. Kami sangat keberatan pada beberapa bagian dari Seruan Pontianak tersebut sebagai berikut:

3.1 Tentang pernyataan bahwa “akar kekerasan di Kalimantan Barat adalah pembataian orang Tionghoa tahun 1967” adalah tidak logis, tidak argumentative, tendensius dan mendiskriditkan kelompok tertentu.

3.2 Terhadap pengungkapkan angka-angka korban kerusuhan yang pernah terjadi di Kalbar. Karena pengungkapan angka-angka tersebut akan membangkitkan kenangan yang amat pahit kepada semua pihak. Selain itu angka-angka yang dicantumkan dalam Seruan Pontianak tersebut belum tentu valid, tidak objektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

3.3 Terhadap gambar yang terdapat dalam Seruan Pontianak, karena dapat memunculkan citra negative terhadap symbol yang menjadi kebanggaan Kalimantan Barat dan etnis tertentu.

3.4 Usulan untuk menciptakan suasana damai dan penegakkan hukum seakan-akan tidak mengakui keberadaan hukum adat dan karifan lokal yang selama ini justru sangat berperan dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan menciptakan suasana damai.

4. Meminta kepada penggagas dan semua yang tercantum namanya dalam Seruan Pontianak untuk membuat pernyataan menarik seruan tersebut dan mengklarifikasinnya serta memuat pernyataan permohonan maaf di 3 (tiga) media/surat kabar yang membuat seruan tersebut.

5. Mengimbau kepada semua pihak agar mengedepankan etika, moral dan intelektualitas dalam menyampaikan pernyataan, aspirasi dan seruan sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan kepada pihak-pihak tertentu dan tidak keluar dari koridor hukum dan tujuan yang diinginkan.

6. Meminta kepada Kapolda Kalimantan Barat untuk memanggil otak dan penggas pembuat Seruan Pontianak tersebut, dalam rangka meminta penjelasan tentang maksud dan motivasi dibalik seruan tersebut yang cenderung mengadu domba dan menimbulkan keresahan di Kalimantan Barat.

7. Meminta kepada semua pihak untuk tidak membuat statemen atau seruan yang bersifat provokatif dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dimana situasi Kalimantan Barat saat ini sudah cukup harmonis, aman, damai dan kondusif.

Tertanda

1. Dewan Adat Dayak Kalbar (Ketua Umum: Thadeus Yus, SH M. Pa – Sekretaris Umum Makarius S, SH, MH)

2. Forum Solidaritas Masyarakat Dayak (Ketua Umum: Hermanto Djuleng)

3. Front Pembeda Dayak (Presiden: Petrus, SA- Sekretaris Jendral: Irenius Kadem, SH)

4. Persatuan Dayak (PD) (Presidium Ketua: Rajemi, S. Sos)

5. Pemuda Dayak Betang Raya Kalbar (Sekretaris Umum: Martinus Sudarno, SH)

6. Forum Mahasiswa Dayak Kabupaten Sekadau (Ketua Badan Pengawas Organisasi: Bambang Setiawan)

7. Forum Komunikasi Kamuda’ Moreng (FKKM) Kalbar (Ketua umum Sadimen)

8. Ikatan Mahasiswa Kabupaten Bengkayang (Ketua Umum: Andri Froniko)

9. Dewan Adat Dayak Kota Pontianak ( Ketua Didi, AMaPd – Sekretaris Umum: Fery Waning)

10. Forum Solidaritas Masyarakat Untuk Keadilan dan Perdamaian (Ketua Umum: Drs Yakobus Kumis)

11. Majelis Adat Dayak Nasional Wilayah Kalbar (Ketua BL Atan Palil)

Monday, September 28, 2009

Warga Pontianak Bicara soal Kekerasan di Kalimantan Barat



PONTIANAK Lebih dari 60 aktivis, sarjana, wartawan serta tokoh agama Pontianak menerbitkan sebuah iklan satu halaman di harian Pontianak Post, Tribune Pontianak dan Borneo Tribune Senin pagi ini. Mereka menyerukan kepada warga Kalimantan Barat agar berhati-hati melihat pertengkaran antar perseorangan. Warga sebaiknya tak membawa pertengkaran menjadi persoalan etnik, adat atau agama. Mereka memberi nama petisi ini sebagai "Seruan Pontianak."

Kristianus Atok, seorang penyeru juga penulis buku Membangun Relasi Antar Etnik: Pelajaran dari beberapa kampung di Kalimantan Barat, mengatakan seruan ini adalah upaya pendidikan politik untuk warga Kalimantan Barat. Kalau ada pertengkaran bawalah ke jalur hukum. Jangan dijadikan masalah suku atau agama. "Sesuatu dengan niat baik akan selalu dapat dukungan," kata Kris Atok.

Dalam iklan tersebut, mereka menerangkan bahwa "akar kekerasan" di Kalimantan Barat adalah pembantaian kurang lebih 3,000 orang Tionghoa pada 1967. Pada 1997, sekitar 600 warga Indonesia etnik Madura dibunuh di Sanggau Ledo. Pada 1999, setidaknya 3,000 khususnya orang Madura dibantai dan 120,000 melarikan diri dari Sambas. "Kami punya kesan negara Indonesia membiarkan akar kekerasan merasuk semakin dalam," kata mereka.

"Kelemahan penegakan hukum, policy pemerintahan yang kurang bermutu serta ketiadaan upaya mencari kebenaran dan keadilan, membuat kekerasan berakar makin dalam di kawasan ini. Akibatnya, banyak warga Kalimantan Barat menekankan simbol-simbol etnik, adat dan budaya secara tidak proporsional: Dayak, Jawa, Madura, Melayu, Tionghoa dan sebagainya. Bila ada persoalan kriminal biasa, orang menggesernya jadi persoalan kelompok etnik atau agama."

Para peserta seruan meliputi sarjana, termasuk Haitami Salim, ketua STAIN Pontianak. Dr. Gerry van Klinken, seorang peneliti dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies di Leiden, Belanda. Andreas Harsono, praktisi media, juga ikut mendukung seruan. Politikus Frans Tshai dari Partai Demokrat juga ikut. Dr. Aswandi, tokoh pendidikan, dan W. Suwito, seorang advokat di Pontianak, juga turut di dalamnya. Dari wartawan, termasuk Nur Iskandar, pemimpin redaksi harian Borneo Tribune maupun beberapa wartawan dari Pontianak Post maupun Tribune Pontianak.

Namun barisan ini paling banyak melibatkan aktivis Pontianak. Ada aktivis Dayak Kris Atok. Maupun Hermayani Putera, Pahrian Siregar, Faisal Riza, Yohanes Supriyadi, Deman Huri Gustira, Ahmad Shiddiq, Pay Jarot Sujarwo, Rizal Adriyanshah dan sebagainya. Tampak pula para aktivis perempuan, Padmi Tjandramidi, Laili Khairnur, Indah Lie, Sapariah Saturi Harsono, Siti Lutfiyah, Dwi Syafriyanti, Rizawati, dan lainnya.

"Seruan ini melibatkan individu namun mereka datang dari ragam-ragam background. Ada orang Dayak, ada Melayu, juga banyak Madura, Tionghoa, Batak, Flores dan sebagainya. Semuanya warga yang punya commitment terhadap masa depan Kalimantan Barat, yang damai serta berlandaskan hukum," kata Nur Iskandar.

Menurut Asriyadi Alexander Mering, salah seorang penyeru dari Tribune Institute, ide membuat seruan bermula dari keprihatinan mereka ketika terjadi perkelahian antara orang Tionghoa dan Melayu di Tanjung Raya saat bulan puasa. Masalah perseorangan memancing kerumunan besar. Diskusi lewat Facebook mendorong mereka merumuskan seruan.

"Rapat-rapatnya seru. Saya bikin analogi. Kalimantan Barat ini ibarat orang sakit. Kekerasan adalah penyakitnya. Sekarang mau dioperasi, diobati, atau dibiarkan sakit terus?" kata Mering. “Waktu melakukan operasi memang sakit, pasti sakit dan mengerikan, tapi setelah itu akan sembuh.”

“Prosesnya menarik, karena orang Dayak merekomendasikan orang madura, orang Madura merekomendasikan orang Dayak atau Melayu dan sebaliknya,” kata Mering.

Mereka juga minta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Cornelis membentuk komisi independen guna menyelidiki pembunuhan besar-besaran pada tahun 1967, 1997 dan 1999.

“Hingga hari ini masih banyak orang-orang Madura belum bisa mendapatkan tanah-tanah mereka di Sambas. Para keluarga korban juga masih menunggu keadilan dan kebenaran,” kata Subro, direktur Mitra Sekolah Masyarakat, sebuah organisasi pendidikan dan dialog lintas budaya.

"Kami percaya selama orang belum bisa belajar dari masa lalu, orang-orang yang dulu melakukan pembunuhan, juga takkan takut untuk bikin pengerahan lewat etnik, budaya atau agama, dan melakukan kekerasan lagi. Selama kebenaran dan keadilan tidak ditegakkan, selama itu pula kita tidak mengerti bagaimana hidup damai dalam persaudaraan yang tulus."

Beberapa peneliti internasional menilai Kalimantan Barat sebenarnya adalah wilayah perang. Perang di Kalimantan Barat, sejak zaman konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada 1960an, sering disebut sebagai "hidden war" atau "perang tersembunyi." Ini beda dengan perang Aceh sebagai "perang gerilya" atau Papua sebagai "secret war" atau "perang rahasia." Perang di Kalimantan Barat lebih kurang diperhatikan daripada peperangan di Aceh, Papua maupun Timor Timur. Hubungan antar etnik di Kalimantan juga termasuk peka sekali. Pembunuhan ribuan orang Tionghoa dan Madura, antara 1967 hingga 2000, masih menyisakan banyak masalah.

-- Kartun-kartun oleh Koesnan Hoesie

Link soal Seruan Pontianak
Kliping Berita
Background

Seruan Pontianak



Kami prihatin dengan ketegangan belakangan ini, antara beberapa warga Kalimantan Barat. Sengketa kecil antar perseorangan, dari soal mobil tergores, parkir motor, sekaleng cat hingga pembelaan perempuan, berujung perkelahian besar.

Kami sadar Kalimantan Barat adalah kawasan rawan kekerasan. Perubahan sosial besar-besaran, sejak penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia, lantas pengalaman 1950an serta masa Orde Baru, menciptakan banyak perubahan di Borneo. Kesultanan-kesultanan dipinggirkan. Batas-batas berubah. Hutan gundul. Lingkungan hidup rusak. Komposisi populasi berubah. Pemilihan umum sekarang dilakukan langsung.

Akar kekerasan di Kalimantan Barat adalah pembantaian kurang lebih 3,000 orang Tionghoa pada 1967. Kekerasan berbuah kekerasan. Pada 1997, sekitar 600 warga Indonesia etnik Madura dibunuh di Sanggau Ledo. Pada 1999, setidaknya 3,000 khususnya orang Madura dibantai dan 120,000 melarikan diri dari Sambas. Penderitaan mereka tentu jadi ingatan pahit kita semua. Kekerasan ini membuat masyarakat luas dirugikan. Kami punya kesan negara Indonesia membiarkan akar kekerasan merasuk semakin dalam.

Kelemahan penegakan hukum, policy pemerintahan yang kurang bermutu serta ketiadaan upaya mencari kebenaran dan keadilan, membuat kekerasan berakar makin dalam di kawasan ini. Akibatnya, banyak warga Kalimantan Barat menekankan simbol-simbol etnik, adat dan budaya secara tidak proporsional: Dayak, Jawa, Madura, Melayu, Tionghoa dan sebagainya. Bila ada persoalan kriminal biasa, orang menggesernya jadi persoalan kelompok etnik atau agama.

Namun kami ingat bahwa fitrah manusia adalah berbeda-beda dan beragam-ragam. Perbedaan bukan alasan melakukan kekerasan. Keragaman bukan alasan saling bermusuhan. Sejarah Kalimantan Barat juga mencerminkan kebersamaan, misalnya, kawin campur dan toleransi antar-agama. Manusia bagaimana pun berkembang sesuai fitrahnya. Memiliki organisasi etnik dan agama, juga bukan kejahatan, namun ia perlu dijalani dalam suatu masyarakat hukum.

Oleh karena itu, kami menyerukan warga Kalimantan Barat untuk belajar menyelesaikan perbedaan pendapat lewat cara-cara damai. Gunakan jalur hukum. Manfaatkan lembaga kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.

Kami juga menyerukan kepada para polisi, jaksa dan hakim untuk bekerja keras, tidak berat sebelah dan bertindak sejujur-jujurnya dalam menegakkan hukum. Kami sadar hukum bukan panglima di negara Indonesia. Kami sadar korupsi mengakar bersama dengan kekerasan. Namun kita perlu memanfaatkan ruang-ruang hukum yang ada, sesempit apapun, untuk memperkuat prinsip negara hukum.

Kami minta Presiden Republik Indonesia dan Gubernur Kalimantan Barat melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran hak asasi manusia dalam pembunuhan dan pengusiran orang Tionghoa tahun 1967 maupun orang Madura pada 1997 dan 1999. Kami minta pemerintah membentuk komisi independen untuk mencari para korban, merekam kesaksian mereka serta menyelidiki orang-orang, yang dianggap bertanggungjawab terhadap kekerasan-kekerasan tersebut, serta menyelesaikannya lewat pengadilan.

Kami percaya selama orang belum bisa belajar dari masa lalu, orang-orang yang dulu melakukan pembunuhan, juga takkan takut untuk bikin pengerahan lewat etnik, budaya atau agama, dan melakukan kekerasan lagi. Selama kebenaran dan keadilan tidak ditegakkan, selama itu pula kita tidak mengerti bagaimana hidup damai dalam persaudaraan yang tulus.


Abdullah HS
Agustinus
Ahmad Shiddiq
Alexander Mering
Amrin Zuraidi Rawansyah
Andi Fachrizal
Andi Nuradi
Andika Lay
Andreas Harsono
Ansela Sarating
Aseanty Widaningsih Pahlevi
Aswandi
Aulia Marti
Bas Andreas
Basilius Triharyanto
Benny Susetyo Pr
Bong Su Mian
Budi Miank
Budi Rahman
Chairil Effendy
Charles Wiriawan
Deman Huri Gustira
Dewi Ari Purnamawati
Dian Lestari
Dwi Syafriyanti
Faisal Riza
Fitriani
Frans Tshai
Gerry van Klinken
Gusti Suryansyah
Gustiar
Hairul Mikrad
Haitami Salim
Hamka Siregar
Hendrikus Christianus
Heriyanto Sagiya
Hermayani Putera
Ilyas Bujang
Indah Lie
Johanes Robini Marianto OP
K. Husnan KH Nuralam
Koesnan Hoesie
Kristianus Atok
Laili Khairnur
Marselina Maryani Soeryamassoeka
Max Yusuf Alqadrie
Mohammad
Nur Iskandar
Nuralam
Pabali Musa
Padmi Tjandramidi
Pahrian Siregar
Paulus Florus
Pay Jarot Sujarwo
Ridwan
Rizal Adriyanshah
Rizawati
Rizky Wahyuni
Rohana
Sapariah Saturi Harsono
Sarumli Sanah
Severianus Endi
Siti Lutfiyah
Stefanus Akim
Subardi
Subro
Supriadi
Syamsudin
Tan Tjun Hwa
Tanto Yakobus
Viryan Azis
W. Suwito
Wendi Jayanto
Yohanes Supriyadi
Yulianus
Yusriadi
Zeng Wei Jian

-- Kartun oleh Koesnan Hoesie

Thursday, September 10, 2009


Journalists probably have more impact on shaping public opinion than any other group of professionals. Better informed journalists mean a better informed public and better informed policymakers."

-- Susan Kreifels, a media specialist at the East West Center in Honolulu, Hawai'i


Munir bin Thalib (kelahiran Batu, 8 Desember 1965, meninggal diracun dalam pesawat Garuda Indonesia route Jakarta–Amsterdam, 7 September 2004)
-- Kartun oleh Toni Malakian


Dari Sabang Sampai Merauke
Berkelana dari Sabang ke Merauke, wawancara dan riset buku. Ia termasuk tujuh pulau besar, dari Sumatera hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana.

Ketegangan Etnik di Singkawang
Zeng Wei Jian dan Danu Primanto melaporkan ketegangan Melayu versus Tionghoa sesudah Hasan Karman terpilih sebagai walikota Singkawang.

Training Ganto di Padang
Lembaga media mahasiswa Ganto dari Universitas Negeri Padang bikin pengenalan investigative reporting. Ada 46 mahasiswa dari dari berbagai kota Sumatera plus Jawa dan Makassar.

Homer, The Economist and Indonesia
Homer Simpsons read the dry Economist magazine in a First Class flight. Homer talked about "Indonesia" ... and later The Economist used the Simpsons joke to describe ... Indonesia.

Bagaimana Meliput Agama?
Dari Istanbul dilakukan satu seminar soal media dan agama. Dulunya Constantinople, ibukota kerajaan Romawi Timur, hingga direbut kesultanan Ottoman pada 1453.

Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
Di Protestant Cemetery, Penang, terdapat sebuah makam untuk James Richardson Logan, seorang juris-cum-wartawan, yang menciptakan kata Indonesia pada 1850.

Makalah Criminal Collaborations
S. Eben Kirksey dan saya menerbitkan makalah "Criminal Collaborations?" di jurnal South East Asia Research (London). Ia mempertanyakan pengadilan terhadap Antonius Wamang soal pembunuhan di Timika.

Panasnya Pontianak, Panasnya Politik
Borneo Barat adalah salah satu wilayah perang di Indonesia. Jamie Davidson menyebutnya sebagai "the unknown war" atau perang yang tak disadari. Bagaimana memahami perang yang sudah makan ratusan ribu korban ini?

Moedjallat Indopahit
Satu majalah didisain sebagai undangan pernikahan. Isinya, rupa-rupa cerita. Dari alasan pernikahan hingga kepahitan sistem kenegaraan Indonesia keturunan Majapahit.

Kolam renang Apartemen Permata Senayan. Juli 2009, 10 orang pengurus apartemen mengundurkan diri semua. Mereka bertengkar sendiri. Satu menuduh lainnya korupsi. Kepengurusan baru dipilih dengan pimpinan Edward Limbong, seorang kapten Lion Air. Ternyata semua pengurus lama tak bayar service charge dan sinking fund. Malah ada yang tak bayar tagihan listrik dan air dua tahun. Mudah-mudahan periode Limbong lebih baik. Target mereka apartemen ini bisa mulai bayar pajak. Anyway, siapa mau ikut berenang?

Media dan Jurnalisme
Saya suka masalah media dan jurnalisme. Pernah juga belajar pada Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah kembali ke Jakarta, menyunting majalah Pantau.

The Presidents and the Journalists
In 1997, President Suharto lectured editors to have "self-censorship." Now President Susilo Bambang Yudhoyono also lectured about "self-censorship." What's wrong?

Burrying Indonesia's Millions: The Legacy of Suharto
Suharto introduced a "business model" for soldiers and businessmen. He built ties to merchants Liem Sioe Liong and Bob Hasan, accummulating immense wealth while using violence to repress dissension.

Kronologi Pengasuhan Norman
Norman kekurangan waktu belajar, istirahat dan bermain sejak dipindahkan ibunya dari Pondok Indah ke Bintaro. Jarak tempuh ke sekolah 120 km pergi-pulang. Ini ibu celaka. Child abuse adalah isu publik.

Polemik Sejarah, Pers dan Indonesia
Kapan "pers Indonesia" lahir? Apa 1744 dengan Bataviasche Nouvelles? Apa 1864 dengan Bintang Timoer di Padang? Soerat Chabar Betawie pada 1858? Medan Prijaji pada 1907? Atau sesuai proklamasi Agustus 1945? Atau kedaulatan Desember 1949?

Murder at Mile 63
A Jakarta court sentenced several Papuans for the killing of three Freeport teachers in August 2002. Why many irregularities took place in the military investigation and the trial? What did Antonius Wamang say? How many weapons did he have? How many bullets were found in the crime site?

Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta. Politikus Marrissa Haque pernah tanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?”

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Kami Mengecam Aksi Pembakaran Buku!


PERNYATAAN SIKAP

Pekan lalu Front Anti Komunis di Surabaya membakar buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono. Guru Besar Ilmu Sejarah Prof. Dr. Aminuddin Kasdi ikut dalam pembakaran dan mengatakan bahwa sejarah adalah milik pemenang. Mereka membakar buku sebagai reaksi terhadap kolom serial wartawan Jawa Pos Dahlan Iskan berjudul "Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya."

Pembakaran buku kali ini bukan yang pertama. Pada Juli 2007 ribuan buku pelajaran sejarah dibakar Kejaksaan Negeri Depok. Pembakaran-pembakaran ini membuktikan adanya sekelompok orang yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat.

Kami prihatin dengan pembakaran buku itu kendati kami belum tentu sepenuhnya setuju dengan isi buku tersebut. Tapi kebebasan berpendapat, baik lisan maupun tulisan, dijamin oleh UUD 1945. Pembakaran buku Soemarsono mengulang kembali aksi fasisme Nazi yang juga membakar buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai cendekiawan lain. Nazi menganggap buku sebagai musuh mereka.

Kami prihatin aksi ini dilakukan oleh sekelompok orang, yang memakai nama Islam namun melakukan tindakan tercela pada bulan Ramadhan, bulan di mana Allah pertama kali menurunkan perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW. Buku semestinya dibaca, bukan untuk dibakar.

Kami menyayangkan pernyataan Aminuddin Kasdi. Pernyataan sejarah hanya milik pemenang tak sepantasnya dikatakan oleh seorang guru besar ilmu sejarah. Penulisan sejarah semestinya mengedepankan keberimbangan fakta dan keberagaman versi, bukan monopoli satu versi praktik rezim Orde Baru.

Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan kepercayaan pada demokrasi, kami menyatakan:

PERTAMA, mengecam para pelaku pembakaran buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono, dan menganggapnya sebagai tindakan fasistis, yang bertentangan dengan kemanusiaan dan upaya mencerdaskan masyarakat.

KEDUA, menuntut kepada Presiden Republik Indonesia untuk menjamin kebebasan berpendapat dan menindak tegas mereka yang menciderai kebebasan sipil di Surabaya.

KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang berbeda --bukan dengan larangan.

Semoga demokrasi di Indonesia, yang baru ditanam benihnya, bisa berkembang sehat.

Kami yang mendukung:

A.Supardi Adiwidjaya (wartawan)
A.K. Supriyanto
Aan Rusdianto (aktivis, PEC)
Aboeprijadi Santoso (wartawan)
Achmad Fauzi
Adi Mulyana
Adrian Mulya
Adyanto Aditomo (blogger, aktivis sosial)
Adytia Fajar
Adityo Lukito
Agung Cahyono Widi (wartawan)
Agung Dwi Hartanto (pengelola taman bacaan)
Agus Bejo Santoso (aktivis)
Agung van Joel Nugroho
Ajianto Dwi Nugroho
Akmal Nasery Basral (wartawan)
Alfian Syafril (mahasiswa, UGM)
Amalia Pulungan (aktivis)
Amir Al rahab
Andi K Yuwono (aktivis Praxis)
Andi S. Nugroho (wartawan)
Andre J.O Sumual (wartawan)
Andreas Harsono (wartawan)
Andreas Iswinarto (blogger, aktivis sosial)
Agung Arif W. Widodo (Mahasiswa Sejarah Unair)
Anissa S Febrina (wartawan Jakarta Post)
Anjas Asmara (wartawan Trans7)
Anton Septian (wartawan)
Anton Dwi (pembaca bebas)
Ambarum Sari (ibu rumah tangga)
Ari Trismana
Ari Zullutfi
Aria W. Yudhistira (wartawan Seputar Indonesia)
Arief Setiawan
Arif Gunawan Sulistyo (wartawan)
Arif Sam K(Bekasi)
Aryati
Aryo Yudanto (aktivis IKOHI Jawa Timur)
AS Manto
Asahan Alham (penulis, sastrawan, tinggal di Belanda)
Asep Sambodja (dosen FSUI, Jakarta)
Atta Sidharta (Perguruan Rakyat Merdeka, Jakarta)
Ayu Purwaningsih

Badrus Sholeh (dosen UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta)
Basil Triharyanto (wartawan)
Baskara T Wardaya, Dr. (guru sejarah)
Bedjo Untung (Ketua YPKP 65)
Beka Ulung Hapsara
Bengar Gurning
Beta Ramses Yahya (Kedubes R.I., Maroko)
Betty Purba
Bilven (Ultimus Bandung)
Binbin Firman Tresnadi
Bonnie Setiawan (Institute for Global Justice)
Bonnie Triyana (sejarawan-cum- wartawan)
Budi Setiyono (Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Budi Wirawan (alumnus jurusan Sastra Indonesia, Undip. Menetap di Banjarmasin, Kalsel)
Bustanul Arifin (aktivis Jaringan Videomaker Independen)

Chan Chung Tak (pemerhati Indonesia)
Chris Poerba (wartawan)
Christofel Nalenan (JPPR, Jakarta)
Cicilia Peggy Mariska
Cinde Laras Yulianto
Coen Husain Pontoh
Cony Harseno (RIVER, Yogyakarta)

Dandhy Dwi Laksono (wartawan)
Danial Indrakusuma (aktivis)
Darma Ismayanto (wartawan)
Das Albantani (pejuang EcoVillage)
Dasa Rudiyanto (aktivis)
David Leonardo Henry
Dedi Ahmad
Deddy Try Laksono (Kadalholict ArtWork)
Denny Ardiansyah (penulis resensi buku)
Derry Putera (wartawan)
Desantara Joesoef (Penerbit Hasta Mitra)
Devi Fitria (wartawan)
Devi Dwi Aribowo (Mahasiswa Sejarah Undip)
Dian Setyawati
Dian Fath Risalah (Undip)
Diana AV Sasa (Penulis, Redaktur Pelaksana portal berita buku Indonesiabuku.com)
Doreen Lee

E.S. Noorsabri (politisi, Jakarta)
Eddy Purwanto (warga biasa)
Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik, Dosen Fisip UI)
Edo Saman

Fahmi Faqih (penyair)
Fahri Salam (wartawan)
Faisol Riza (PKB)
Faiza Hidayati Mardzoeki (aktivis perempuan)
Fendry Panombang
Firdaus Cahyadi (Knowledge Sharing Officer-Yayasan SatuDunia)
Firdaus Mubarik
Firliana Purwanti (Hivos)
Frans Padak Demon (wartawan)
Frans Anggal (Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos)
Fransiska Ria Susanti (penulis-cum- jurnalis, Hong Kong)

Gatot Prihandoono
Gerry van Klinken, Dr. (sejarawan, KITLV, Leiden)
Ging Ginanjar
Gita Tomtom
Goenawan Mohamad (wartawan senior)
Gunawan Hartono (politisi, Jogjakarta)
Gustaf Dupe (Ketum Perhimpunan Pelayanan Penjara)

Halim HD. (Networker Kebudayaan, Forum Pinilih, Solo)
Hamzah Sahal (PP Lakpesdam NU)
Hardy R. Hermawan
Hendayana Musaleft (Aktivis Komite Aksi Mahasiswa Pelajar Pemuda Cilograng, Banten)
Hilmar Farid (sejarawan)
Hendri F Isnaeni (peneliti PSIK Univ. Paramadina)
Hepy Nurwidiamoko
Heri Latief (penyair)

I Wayan Gendo Suardana (aktivis HAM dan demokrasi)
Ibrahim Isa (Wertheim Stichting, Belanda)
Ika Wahyu Priyaryani
Ilang Tri Subekti (Mahasiswa Sejarah FIB UGM)
Imam Nasima (peneliti PSHK)
Imam Shofwan (wartawan)
Imam Wahyudi
Imas Nurhayati (Ecosisters)
Imron Rosyid tr (jurnalis, Solo)
Indah Nurmasari (wartawan)
Inge Mangala
Irham Ali Saifuddin (Pesantren Nurulhuda, Garut)
Irina Dayasih (aktivis perempuan)
Irma Dana (penulis)
Iswan kaputra (Social Worker & Freelance Journalist)
Iwan Samariansyah (wartawan)

Jeffrey Hadler (Departement of South and Southeast Asian Studies di Universitas California, Berkeley)
Jefri Saragih (aktivis sosial)
Johanes Lewi Nugroho (aktivis sosial)
John Pakage, aktivis Papua
Jopi Peranginangin

Kanadianto (Penulis - Politisi)
Krisno Winarno (mahasiswa Sejarah Undip, Semarang)

Laela Achmad
Laili Zailani (direktur Institute for Democracy and Political Justice (INDEPOLIS, Jakarta)
Lestari Wahyu Winarni
Lexy Rambadetta (produser film dokumenter)
Lia Kusumowardhani (jurnalis, London)
Lisa Febriyanti (produser film dokumenter)
Lolly Suhenty
Lukmono Suryo Nagoro

M. Abduh Aziz (Dewan Kesenian Jakarta)
M. Akbar Wijaya (mahasiswa sejarah Undip, Semarang)
M. Alwi Assagaf (Sulawesi Selatan)
M. Berkah Gamulya
M. Faishal Aminuddin (sejarawan, dosen Fisip Unbraw)
M. Yamin Panca Setia (wartawan)
M.F. Mukti (aktivis Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Maeda Yoppy
Maria Dian Nurani
Markus Kajoi (KIPRa Papua)
Marlo Sitompul
Maruly Hendra Utama S.Sos.,M.Si
Mawie Ananta Jonie (penyair eksil di negeri Belanda)
Mia Amalia
Mia Wastuti (mahasiswi)
Mimmy Kowel
Mugiyanto (IKOHI)
Mulyani Hasan
Mulyadi (aktifis SARI Solo)
Muslimin Abdila (Al Haraka, Jombang)

Nezar Patria (Ketua Umum AJI)
Ngurah Suryawan (sejarawan)
Nita Ayu (Freelance Translator)
Nong Darol Mahmada (aktivis)
Nor Hiqmah (aktivis Yappika)
Novaldi Azwardi
Nugroho Dewanto (wartawan)
Nurul Kodriati (Health Economist)
Nurul Khawari (Universitas Sebelas Maret Surakarta)
Nurachman Iriyanto (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya)

Odi Salahudin

Palupi Damardini
Parawansa Assoniwora
Patra M Zen (Direktur YLBHI)
Pratono (aktivis Kronik Filmedia Semarang)
Purwadi Djunaedi
Putri Yunifa

R. Nugroho Bayu Aji (alumnus Departemen Sejarah Unair, Surabaya)
Rahung Nasution (film maker)
Rahadi Al Paluri
Ramadhanesia
Randy Syahrizal(Gema Prodem)
Renta Morina Evita Nababan
Rina Kusuma (Kehati)
R.Miryanti (Lembaga Sastra Pembebasan)
Ririn Sefsani (Walhi)
Riyan Aji NUgroho(Ikatan Mahasiswa Sejarah Seluruh Idonesia)
Rivki Maulana Priatna (mahasiswa jurnalistik Fikom Unpad)
Rudy Hb. Daman (pengurus DPP.Gabungan Serikat Buruh Independen)
Rukardi Ahmadi (wartawan)

Saiful Haq
Saleh Abdullah (Insist, Jogjakarta)
Sapariah Saturi (wartawan)
Sari Safitri Mohan
Saurlin siagian (Bakumsu)
Sijo Sudarsono (ISAI)
Simon (IKOHI)
Sinnal Blegur (IKOHI)
Siswa Santoso (peneliti, alumnus Universiteit van Amsterdam)
Slamet Ortega
Steve Mustang
Suar Suroso (penyair eksil, China)
Sutini (Ketua Dewan Perwakilan Anggota HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan
Indonesia) Sumut)
Svetlana Dayani (karyawati, Jakarta)
Syamsuddin Radjab

Tata Septayuda Purnama (wartawan)
Taufik Andrie (wartawan)
Teddy Ardianto H
Tedjabayu Soedjojono
Teguh Santosa (wartawan)
Thanding Sari
Theresia Mike Verawati (Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi)
Tjiu Hwa Jioe
Tomas Freitas
Tri Agus Siswowiharjo (aktivis)
Triana Dyah (Librarian)
Tri Okta Sulfa Kimiawan (anak Madiun)
Tyson Tirta (mahasiswa sejarah UI)

Veralin Septyana (karyawan swasta - periklanan)

Victor Silaen (Dosen Fisipol UKI)

Wahyu Susilo (aktivis-cum-sejarawan)
Wening Adityasari (Alummi Sejarah UNDIP)
Willy R. Wirantaprawira, Dr. (Executive Director ASEAN Institute, Jerman)
Wilson (sejarawan)
Wininti Rubay (BSD)

Y.L. Franky (aktivis)
Y.T.Taher (pelaku sejarah, menetap di Australia)
Y.R. Sukardi (Stichting Perhimpunan Dokumentasi Indonesia)
Yanuar Nugroho (peneliti di Univ. Manchester, Inggris dan Business Watch Indonesia)
Yerry Wirawan (mahasiswa PhD EHESS, Sorbone, Paris)
Yudho Raharjo (wartawan)
Yuna Ariyanthi (karyawati, Jakarta)

Zen Rachmat Soegito (sejarawan)
Zely Ariane (KPRM-PRD)


NOTE: Bila masih ada yang ingin mendukung pernyataan sikap ini silahkan sebutkan nama dan institusi. Kirim ke email saya: boni_triyana atau ke ungnap@yahoo.com. Thanks. (Bonnie Triyana)

Monday, September 07, 2009

Mengenang Munir bin Thalib

Munir bin Thalib (kelahiran Batu, 8 Desember 1965, meninggal diracun dalam pesawat Garuda Indonesia route Jakarta–Amsterdam, 7 September 2004)
-- Kartun oleh Toni Malakian


Munir bin Thalib (kelahiran Batu, 8 Desember 1965, meninggal diracun dalam pesawat Garuda Indonesia route Jakarta–Amsterdam, 7 September 2004)

Saturday, September 05, 2009

Bagaimana Berbicara dalam Bahasa Padang?


Oleh Arleta Fenty
Mahasiswa STMIK Amikom Jogjakarta


Saya (sekarang) berpacaran dengan seorang lelaki asal Padang. Lahir di ranah Minang, tumbuh dalam dialek Padang, besar dalam pendar-pendar primordialisme khas remaja Padang. Praktis, saya cepat akrab dengan budaya Minang, sekalipun belum pernah menginjakkan kaki keluar dari jeruji-jeruji kesentrisan pulau Jawa. Lelaki saya yang berpuak Jambak ini, Alfian, membuat saya cukup fasih bercerita dan berbicara dalam budaya dan bahasanya.

SAPAAN

Orang Padang (untuk juga menyebut semua orang di Sumatera Barat) biasanya menyapa dengan kalimat “Ba a kaba?” atau “Apo kaba?”

Contoh:
Ba a kaba? Lai aman-aman se? (Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan?)

KATA GANTI SUBJEK

1. Aku

Untuk percakapan dengan teman, yang sering dipakai adalah kata “Awak”. Untuk sebutan yang lebih kasar (biasanya percakapan santai antar para pria), bisa pakai kata “Aden” (kata ini haram untuk diucapkan wanita). Dalam lagu-lagu Minang tentang percintaan yang mendayu-dayu, mereka menyebut diri sendiri dengan kata “Denai”. Kata “Denai” kalau dalam bahasa Jawa mungkin kira-kira sama dengan “Sliraku”. Lebih halus. Bisa juga pakai “Ambo”, tapi jarang sekali digunakan.

Perempuan lebih sering menyebut namanya daripada memakai kata “Awak”. Kesannya memang agak kekanak-kanakan. Mereka biasanya menggunakan bagian akhir dari namanya. Sebagai contoh, perempuan Minang bernama Dina akan memakai “Na” yang diambil dari suku terakhir nama panggilannya untuk menyebut diri sendiri. Ia akan bilang: “Na sadang sibuk.” (Dina sedang sibuk). Lain lagi dengan perempuan bernama Asri yang akan bilang: “Iko baju I.” (Ini baju Asri).

2. Kamu

Orang Padang menyebut lawan bicara langsung dengan nama mereka. Jadi mungkin (setahu saya) tidak ada kata “Kamu” dalam bahasa ini. Saya merasakan kesan akrab dalam cara berkomunikasi seperti ini. Karena mau tidak mau mereka harus selalu hafal nama orang kan? Agak sulit bagi saya yang sulit mengingat nama orang. Dalam bahasa Padang yang lebih kasar, mereka mengganti kata “Kamu” dengan “Ang”. Contoh: “Manga ang ka siko?” (Kenapa kamu kesini?)

3. Dia = Inyo

4. Sebutan untuk perempuan yang lebih tua atau dihormati = Uni

5. Sebutan untuk pria yang lebih tua atau dihormati = Uda

PERTANYAAN

1. Apa = Apo, disingat A
2. Bagaimana = Bagaimano, disingkat Ba a
3. Berapa = Barapo, disingkat Bara
4. Dimana = Dimano, disingkat Dima
5. Darimana = Dari mano, disingkat Dari ma
6. Mana = Mano, disingkat Ma
7. Siapa = Siapo, disingat Sia
8. Kapan = Bilo
9. Mengapa = Mangapo, disingkat Manga
10. Kenapa = Dek a

Jadi kalau mau tanya “Bagaimana caranya?” bisa pakai “Ba a caronyo?” atau “Bagaimano caronyo?” Kata tanya yang disingkat lebih sering dipakai, terlebih dalam percakapan sehari-hari.

KATA PENUNJUK

1. Ini = Iko
2. Itu = Itu
3. Sini = Siko
4. Sana = Sinan
5. Situ = Situ

Rumah gadang artinya rumah yang besar. Atapnya berbentuk tanduk kerbau dan dibuat dari ijuk. Minangkabau berarti kerbau yang menang. Rumah ini untuk perempuan. Pada lelaki yang sudah akil baliq harus tinggal di luar rumah, biasanya di surau.

RUMUS BAHASA

Sebenarnya belajar bahasa Padang sangat mudah, karena banyak kata yang sama dengan bahasa Melayu versi Indonesia. Hanya saja kata-kata itu mengalami semacam penggubahan sesuai dialek mereka.

1. Pemakaian huruf O

Kalau Anda sering melihat film dan ada karakter orang Padang disitu, yang Anda paling ingat mungkin pemakaian huruf O yang kerap muncul. Bahasa Padang mengubah kata dalam bahasa Indonesia yang berakhiran A menjadi berakhiran O.

Contoh:
Cara = Caro
Belanja = Balanjo
Suka = Suko
Ada = Ado
Iya = Iyo
Baca = Baco
Janda = Jando
Nama = Namo

2. Pengubahan –at menjadi –ek

Sebagian besar kata dalam bahasa Indonesia yang berakhiran –at berubah menjadi berakhiran –ek dalam bahasa Padang. Bunyikan –ek seperti mengucapkan “mbek” dalam kata “Lembek”.

Contoh:
1. Rapat = Rapek
2. Sarat = Sarek
3. Kawat = Kawek
4. Dapat = Dapek
5. Hambat = Hambek
6. Lambat = Lambek
7. Silat = Silek
8. Giat = Giek
9. Kuat = Kuek

Bedakan dengan contoh berikut:

1. Berat = Barek
2. Lebat = Labek
3. Tepat = Tapek
4. Penat = Panek
5. Merambat = Marambek
6. Keringat = Karingek

Perhatikan bahwa keenam contoh di atas tidak berubah menjadi “Berek”, “Lebek”, “Tepek”, “Penek” atau “Merembek”, melainkan “Barek”, “Labek”, “Dabek”, “Panek” dan “Marambek”. Suku kata pertama yang mengandung huruf E memang biasanya berubah menjadi A.

3. Pengubahan –as menjadi –eh

Contoh:
1. Panas = Paneh
2. Beras = Bareh
3. Gelas = Galeh

4. Pengubahan -ir menjadi –ia

Contoh:
1. Air = Aia
2. Alir = Alia
3. Cibir = Cibia
4. Pelintir = Palintia
5. Semir = Samia

5. Pengubahan –ur menjadi –ua.

Contoh:
1. Aur = Aua
2. Baur = Baua
3. Lebur = Labua
4. Tabur = Tabua

6. Pengubahan –ut menjadi –uik

Contoh:
1. Rambut = Rambuik
2. Laut = Lauik
3. Takut = Takuik
4. Kentut = Kantuik
5. Perut = Paruik
6. Ikut = Ikuik
7. Lembut = Lambuik
8. Rebut = Rabuik

7. Pengubahan –uk menjadi –uak

Contoh:
1. Keruk = Karuak
2. Beruk = Baruak
3. Buruk = Buruak

8. Pengubahan –uh menjadi –uah

Contoh:
1. Bunuh = Bunuah
2. Tujuh = Tujuah
3. Peluh = Paluah

9. Pengubahan –us menjadi –uih

Contoh:
1. Putus = Putuih
2. Halus = Haluih
3. Kurus = Kuruih

10. Pengubahan –ung menjadi –uang

Contoh:
1. Bingung = Binguang
2. Panggung = Pangguang
3. Hidung = Hiduang

11. Pengubahan –ih menjadi –iah

Contoh:
1. Lebih = Labiah
2. Pedih = Padiah
3. Letih = Latiah

12. Pengubahan –ing menjadi –iang.

Contoh:
1. Keling (hitam) = Kaliang
2. Pening = Paniang
3. Kucing = Kuciang

13. Pengubahan –il menjadi –ia

Contoh:
1. Ganjil = Ganjia
2. Bedil = Badia
3. Sambil = Sambia

14. Pengubahan –is menjadi –ih

Contoh:
1. Gadis = Gadih
2. Manis = Manih
3. Menangis = Manangih

15. Pengubahan -ap menjadi -ok

Contoh:
1. Gelap = Galok
2. Suap = Suok
3. Lelap = Lalok (tidur)

Tidak mutlak semua kata bisa diubah sesuai rumus diatas. Sejatinya, pengubahan akhiran pada kata-kata tersebut tidak perlu dihafalkan. Logat Padang bisa serta-merta Anda kuasai tanpa menghafal kalau Anda terbiasa berlatih dan berkomunikasi dengan bahasa ini.

KALIMAT NEGATIF

Kalimat negatif dalam bahasa Padang memiliki pola yang mirip dengan kalimat negatif dalam bahasa Perancis. Mungkin juga ada bahasa lain di dunia ini yang memiliki pola sama. Sejauh ini, karena kebetulan saya sedang mempelajari bahasa Perancis, so this is the one I clearly know.

Pola kalimat negatif dalam bahasa Perancis: Subjek + ne + Kata Kerja + pas + Objek / Pelengkap.

Contoh:
Kalimat positif => Je suis étudiante (Saya seorang mahasiswa)
Kalimat negatif => Je ne suis pas étudiante (Saya bukan mahasiswa)

Pola dalam bahasa Padang: Subjek + indak + Kata Kerja + Objek / Pelengkap + do.

“Pas” dalam bahasa Perancis sama fungsinya dengan “Do” dalam bahasa Padang. Bedanya “Do” selalu diletakkan di akhir kalimat dalam bahasa Padang.

Contoh:
1. Iko lamak (ini enak) => Iko indak lamak do (ini tidak enak)
2. Awak suko bagarah (Aku suka becanda) => Awak ndak suko bagarah do (Aku tidak suka becanda)
3. Ndak ba a do (Tidak apa-apa)
4. Ndak ado lai do (Tidak ada lagi)

HURUF E

Orang Padang, seperti juga orang Melayu lainnya, agak sulit membedakan huruf E. Seperti yang kita ketahui, kita memiliki tiga jenis huruf E. Kalau dalam bahasa Perancis, ada tiga aksen untuk huruf E, yaitu accent éigu (é), accent grave (è) dan accent circonflexe (ê).

Dalam bahasa Indonesia, tiga E itu adalah:

1. E seperti mengucapkan “Ekor”
2. E seperti mengucapkan “Emas”
3. E seperti mengucapkan “Elektronik”

Nah, orang Padang sulit membedakan ketiga E ini, sehingga maklumi saja apabila suatu saat Anda mendengar orang Padang yang agak ganjil cara mengucapkan sesuatu yang mengandung huruf E. Seringkali mereka mengucapkan “me” dalam kata “Nasionalisme” seperti mengucap E pada kata “Ekor” atau mungkin “Elektronik”, padahal seharusnya ia harus diucapkan seperti melafalkan kata “Emas”. Et cetera.

KATA KOTOR

Sebaiknya Anda harus tau daftar kata-kata kotor, bukan cuma dalam bahasa Padang tapi juga dalam bahasa lainnya.

1. Pantek

Teman saya pernah mengeluhkan kata ini. Ada orang Padang di samping kamar kostnya yang sering meneriakkan kata “Pantek” terhadap istrinya dengan tingkat desibel yang cukup tinggi untuk mengganggu waktu bersantainya.

Apa sih arti “Pantek”? Saya sering berdebat mengenai hal ini dengan Alfian. Kalau ditanya, dia pasti akan menjawab itu tidak ada artinya dan memang lazim dipakai untuk meneriakkan kemarahan atau kekecewaan. Ada juga yang bilang “Pantek” adalah alat kelamin perempuan yang dipakai untuk berkata kotor.

Menurut saya, sesuai rumus yang saya jabarkan di atas, “Pantek” dalam bahasa Indonesia adalah “Pantat”. Entah pantatnya perempuan atau laki-laki, sama saja (saya pikir, pantat bukan monopoli perempuan saja). Dalam rumus saya, kata yang berakhiran –at akan berubah berakhiran –ek dalam bahasa Padang. Pendeknya, “Pantat” mau tak mau harus bermanuver menjadi “Pantek”. Itu saja. Tidak ada yang mampu mengubah pendirian saya.

Ada yang bilang “Pantek” itu kasusnya sama seperti kata “Asu” dalam bahasa Jawa. “Asu” adalah anjing dalam bahasa Jawa. Orang Jawa berteriak “Asu” untuk mengekspresikan kemarahan, bukan karena ingin memanggil anjing.

Ya sama saja toh, dia menyamakan hal yang membuatnya marah itu dengan anjing (yang memang ditakdirkan untuk menjadi objek penderita). Orang Padang pun menyamakan hal yang membuatnya marah dengan pantat (yang ditakdirkan menjadi bagian tubuh pertama yang merasakan imbas ekskresi manusia). Secara filosofis, tidak ada masalah dengan itu.

2. Kanciang

“Kanciang” tidak mengacu pada kata “Kancing”, karena orang Padang lebih suka memakai kata “buah baju” untuk menyebut kancing baju. “Kanciang”, exactly berarti “Kencing”.

3. Kantuik
“Kantuik” berarti “Kentut”. Hmm, worth it ...

4. Galadak
I don’t have any idea...

5. Nama-nama hewan yang lazim didzikirkan ketika sedang kesal.

KOSA KATA LAIN

Tidak semua kata dalam bahasa Indonesia yang bisa diubah sesuai yang saya rumuskan untuk menjadi kata dalam bahasa Padang. Ada kata lain yang memang harus dihafalkan kalau Anda memang ingin mempelajarinya.

Contoh:
1. Uang = Pitih
2. Perempuan = Padusi
3. Jangan = Jan
4. Beri = Agiah
5. Celana = Sarawak
6. Belum = Alun
7. Sudah = Alah
8. Saja = Se
9. Besar = Gadang
10. Dan masih sangat sangat banyak lainnya..

Orang Padang juga punya cara Padang sendiri yang terbawa saat ia berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mungkin agak ganjil kalau Anda belum terbiasa. Contohnya, mereka sering menyebut kata “Bensin” dengan “Minyak”. Yang jelas prinsipnya sama saja ketika Anda ingin mempelajari sesuatu yang baru. Practice makes perfect!

Sumber gambar www.udaunisumbar.com

Batang Senang (maksud loe..??)


Salah satu kegemaran orang Indonesia --entah Indonesia mana tak perlu diperdebatkan-- adalah melakukan Malaysia-bashing alias menggebuk Malaysia. Ini semacam olah raga nasional di Jakarta. Pokoknya, ada saja isu untuk menyalahkan Malaysia.

Ritual ini diulang-ulang. Dari tahun ke tahun, mulai dari propaganda Presiden Soekarno untuk mengambil Sarawak dan Sabah pada 1960an hingga spekulasi bahwa Malaysia mencuri tari pendet dari Bali.

Di Facebook bahkan ada kelompok diskusi "Malingsia" atau "Malaysia Truly Maling Asia" --maksudnya "Malaysia maling" gitu.

Saya geli melihat olah raga ini. Pribadi saya tak merasa ada sesuatu yang serius dalam hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia. Mudah-mudahan dugaan ini tak salah. Terkadang jengkel juga kalau lihat acara olah raga ini jadi serius. Pakai mau mengerahkan perang segala macam. Ini hanya kegenitan kelas menengah, beberapa media Majapahit dan sekelompok politisi kurang kerjaan.

Minggu ini, isteri saya mengirim sebuah email dari Rara Ayu T.S. Isinya, apalagi kalau bukan mengolok-olok Malaysia. Memang lucu abis. Dia mengolok-olok logika Bahasa Malaysia dengan membandingkannya dengan Bahasa Indonesia. Dua bahasa dengan induk sama: Bahasa Melayu.

Ya dinikmati saja. Rara Ayu mungkin juga sadar orang Malaysia tak kalah geli kalau mempelajari logika Bahasa Indonesia (Halo, halo, Mustafa Anuar, Steven Gan dan teman-teman lain di Kuala Lumpur dan Penang jangan tersinggung ya).

Inilah olah raga menggebuk Malaysia

Indonesia: Kementerian Hukum dan HAM
Malaysia: Kementerian Tuduh Menuduh

Indonesia: Kementerian Agama
Malaysia: Kementerian Tak Berdosa (oh please...)

Indonesia: Angkatan Udara
Malaysia: Laskar Angin-Angin (Awas siapin tolak angin!)

Indonesia: 'Pasukaaan bubar jalan!!!'
Malaysia: 'Pasukaaan cerai berai!!!'

Indonesia: Merayap/merangkak
Malaysia: Bersetubuh dengan bumi (biji mana cuba?)

Indonesia: Korban kecelakaan
Malaysia: Mangsa kemalangan

Indonesia: Belok kiri, belok kanan
Malaysia: Pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan donk?)

Indonesia: Departemen Pertanian
Malaysia: Departemen Cucuk Tanam (yuu.. marie?)

Indonesia: 6.30 = jam setengah tujuh
Malaysia: 6.30 = jam enam setengah

Indonesia: Gratis bicara 30 menit
Malaysia: Percuma berbual 30 minit

Indonesia: Handuk
Malaysia: Tuala (dari bahasa Inggris towel?)

Indonesia: Satpam/sekuriti
Malaysia: Penunggu Maling (ngarep banget dimalingin yak mpe ditungguin)

Indonesia: Diaduk hingga merata
Malaysia: Kacaukan tuk datar

Indonesia: Imut-imut
Malaysia: Comel benar

Indonesia: Pejabat negara
Malaysia: Kaki tangan kerajaan

Indonesia: Pemerkosaan
Malaysia: Perogolan

Indonesia: Pencopet
Malaysia: Penyeluk saku

Indonesia: Joystick
Malaysia: Batang senang (maksud loe...??)

Indonesia: Tidur siang
Malaysia: Petang telentang (kalo tidur malem "gelap tengkurep" donk)

Indonesia: Pengacara
Malaysia: Penguam

Indonesia: Remote
Malaysia: Kawalan jauh

Indonesia: Kulkas
Malaysia: Peti sejuk

Indonesia: Chatting
Malaysia: Bilik berbual

Indonesia: Keliling kota
Malaysia: Pusing pusing ke bandar

Indonesia: Rumah Bersalin
MALAYSIA: Rumah Korban Laki–laki (???)

Indonesia: Tank
Malaysia: Kereta kebal (bo disuntik kale..???)

Indonesia: Kedatangan
Malaysia: Ketibaan (untung bukan ketibanan)

Indonesia: Bersenang-senang
Malaysia: Berseronok

Indonesia: Bioskop
Malaysia: Panggung wayang

Indonesia: Rumah sakit jiwa
Malaysia: Gubuk gila

Indonesia: Dokter ahli jiwa
Malaysia: Dokter gila

Indonesia: Pintu darurat
Malaysia: Pintu panik-panik


Indonesia: Hantu pocong
Malaysia: Hantu bungkus (pesen atu donk bang??!)