Thursday, January 08, 2009

Boen Bio di Kapasan Surabaya


Klenteng Boen Bio didirikan pada 1907 di daerah Kapasan, Surabaya. Ia satu-satunya klenteng khusus agama Khong Hu Chu di Asia Tenggara. Kapasan adalah kota lama Surabaya. Ia salah satu kawasan perdagangan tertua di kota ini. Awalnya, klenteng ini selesai dibangun pada 1883 di Kapasan Dalam. Pada 1907, ia dipindahkan ke Jl. Kapasan agar lebih mudah dijangkau umatnya. Boen Bio dianggap "benteng terakhir" umat Khong Hu Cu.


Shinta Devi Isr membuat saya tertarik pada klenteng Boen Bio di daerah Kapasan. Shinta menulis buku Boen Bio: Benteng Terakhir Umat Khonghuchu terbitan Jawa Pos Books tahun 2005. Buku ini dikerjakan serius. Kini Shinta dosen sejarah Universitas Airlangga.

Saya suka riset Shinta. Ia dibuat dengan baik, metodenya jelas, bahan bacaannya lengkap. Jarang menemukan buku ditulis serius di Jakarta. Ini buku terbitan Surabaya namun isinya bermutu. Kritik saya lebih pada JP Books. Mereka tidak mengerjakan disain dan pengaturan buku ini dengan baik. Ada saja salah disain.

Pada 31 Desember 2008, bersama keluarga, saya mengunjungi Boen Bio di Kapasan. Papa saya, Ong Seng Kiat, menganjurkan saya datang ke klenteng ini. Dia tahu saya suka sejarah. Dia bilang saya pasti suka lihat bangunan ini. Klenteng ini beda dengan kebanyakan klenteng karena tidak ada patung Buddha maupun dewi Kwan Im. Ia juga tak memiliki patung dewa-dewi lain, yang lazim ditemui dalam klenteng Buddha maupun Taoisme.

Banyak orang besar dalam masyarakat Tionghoa pernah berkutat dengan Boen Bio, termasuk Liem Koen Hian dari Partai Tionghoa Indonesia. Pada awal 1930an, Liem menganjurkan orang-orang Tionghoa untuk mendukung nasionalisme Indonesia. Liem terkadang memakai Boen Bio untuk pertemuan-pertemuannya.

Lim Seng Tee, pendiri konglomerat Sampoerna, juga pernah berkutat di Boen Bio dan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan, yang terletak dekat Boen Bio. Pada awal abad XX, Boen Bio bukan hanya rumah ibadah. Ia juga menjadi tempat kegiatan sosial orang-orang Tionghoa di Kapasan.

Boen Bio ternyata juga "benteng terakhir" umat Khong Hu Chu dalam menghadapi Kristenisasi di kalangan orang Tionghoa. Upaya Kristenisasi ini dilakukan pada zaman Hindia Belanda. Sejak 1907, pemerintah Hindia Belanda membuka Holland Chineesche School, sekolah-sekolah berbahasa Belanda untuk orang Tionghoa, maupun mendorong organisasi-organisasi Kristen Protestan dan Katholik, bikin sekolah-sekolah swasta. Boen Bio kuatir orang-orang Tionghoa akan meninggalkan agama leluhur mereka.

Saya kira, sekarang mayoritas orang Tionghoa di Surabaya atau Pulau Jawa pada umumnya, beragama Kristen, Protestan maupun Katholik. Shinta cukup jeli melihat Boen Bio sebagai titik masuk tentang agama-agama orang Tionghoa. Boen Bio adalah "benteng terakhir" agama Khong Hu Chu.

"Guru Khong" lahir di Qufu, sekarang masuk provinsi Shandong, pada 551 SM. Dia dikenal sebagai seorang pemikir filsafat. Dia menekankan pentingnya moralitas, pribadi maupun publik, termasuk kejujuran, keadilan dan ketulusan. Kritisi mengatakan ajarannya bukan agama karena tak ada unsur kehidupan sesudah kematian. Pokoknya, ia dianggap tak sama dengan agama-agama kebanyakan. Khong meninggal pada 479 SM. Makamnya hingga kini masih terjaga rapi. Keturunan langsung Khong Hu Chu masih teratur pohon keluarganya. Setiap tahun mereka bikin pertemuan di Taiwan.

Saya merekomendasikan buku Boen Bio: Benteng Terakhir Umat Khonghuchu ini sebagai bacaan bermutu. Kata pengantarnya ditulis oleh Dahlan Iskan dari Jawa Pos Group serta Bingky Irawan dari Majelis Agama Khong Hu Chu Indonesia. Dahlan Iskan pernah berkunjung ke makam Qufu. Kalau cetakan pertama habis, saya usul, ia diterbitkan dengan lebih rapi. Jangan acak-acakan macam kerjaan JP Books.

2 comments:

merlin said...

Setuju. Konfusianisme memang bukan agama. Semasa hidupnya Kong Fuzi (ejaan nama sekarang), tidak pernah menyuruh murid-muridnya menyembah atau mengikuti sekte agama tertentu. Ngomong-ngomong, ada satu ungkapan Nabi Kong yang saya sukai. "Orang rendah membunuh dengan batu. Orang biasa membunuh dengan lidahnya. Orang hebat membunuh dengan penanya."

tionghoa.muda said...

Tak di sangka boen bio pernah menjadi tempat berkumpulnya orang orang tionghoa yg hebat hebat. mungkin mereka pernah membicarakan apakah mungkin menjadi 100%konghucu dan juga menjadi 100% indonesia pada saat bersaman.