Tuesday, April 29, 2008

Kayapa Gerang Nulis Nang Bujur?


KIRI KE KANAN Andreas Harsono, Nurni Sulaiman (kontributor The Jakarta Post), Herry Trunajaya, Susy (baju merah, wartawan Antara), Ikram al Qodrie, Roshan Fauzi, Rita Abdullah, Danang Agung, Devi Alamsyah, Andy Ar Evrai, SAI Leequisach Panjaitan, Ferry Cahyanti, Nadia Yusticka Bintoro, Michael Mailangkay (baju merah, mengacungkan tangan), Nurliah (duduk di patung kura-kura), Sarida Mariani Asen, Linda Christanty, Ardines Pakpahan, Mauliana Noor.
Photo by Dayu Pratiwi

Minggu lalu, selama empat hari, aku jadi instruktur workshop penulisan untuk wartawan dan praktisi jurnalisme di Hotel Blue Sky, Balikpapan. Ada dua instruktur. Linda Christanty, kepala redaktur feature service Pantau Aceh, mengampu satu kelas dengan 15 orang. Aku mengampu kelas satunya, juga 15 orang.

Judulnya dalam bahasa Banjar, Kayapa Gerang Nulis Nang Bujur? Artinya, "Gimana sih nulis sing benar?"

Total Indonesie, sebuah perusahaan Perancis yang menambang gas di Kalimantan, menjadi sponsor acara ini. Beberapa karyawan Total juga ikutan. Acaranya ramai. Aku cukup senang jumlah peserta relatif stabil, 15 orang terus-menerus.

Kami banyak bikin praktek. Ada latihan wawancara di Kampung Atas Air. Aku juga sempat main ke kantor harian Tribun Kaltim. Sempat wawancara Charles Komaling, wartawan Tribun Kaltim, yang pernah kerja di harian Timika Pos, serta mengambil foto-foto pembunuhan di Mile 63, dekat tambang tembaga Freeport McMoran.

Aku cukup terkejut melihat harian ini, maupun saingan mereka, Kaltim Pos, mengizinkan orang beriklan dengan cara menulis berita. Tribun Kaltim memberi inisial (advertorial). Sedang Kaltim Pos pakai inisial (hms) alias "humas." Biasanya, "berita palsu" ini dibuat oleh kantor pemerintah atau tim kampanye politisi.

Prihatin juga melihat suratkabar Balikpapan melakukan self-censorship terhadap protes etnik Dayak. Mereka tidak suka tak ada calon gubernur atau wakil dari golongan Dayak pada pemilihan daerah Mei ini. Golongan Dayak merasa suara mereka tak diperhatikan. Mereka merasa mereka "penduduk asli" Kalimantan Timur. Semua kandidat dianggap golongan "pendatang." Self-censorship, terlepas dari setuju atau tak setuju terhadap pandangan Dayak, takkan membantu warga Balikpapan dan Samarinda memahami masalah yang sebenarnya.

Hari Kamis sore, sesudah workshop selesai, sebagian dari kami mejeng di pinggir kolam renang Blue Sky. Hendratno Eko Putro dari Total lantas traktir kami bernyanyi di karaoke. Rame euih!

4 comments:

abdul said...

kapan ya, ngadain workshop di Batam?. Hamid, Batam

Andreas Harsono said...

Dear Hamid,

Menarik juga ya Batam. Saya belum pernah bikin pelatihan di Batam. Pernah datang dua kali untuk liputan. Juga sering bertemu dengan Hasan Aspahani, seorang wartawan Batam. Mungkin perlu juga dipikirkan ya. Thanks.

lanewdj said...

I'm a mother of 2 children, 3 and 4.5 yrs old. I found that there aren't too many story books in english about character building for children. Could you tell me where can I learn about writing short story books for children, who should I contact for drawing the books, who should I contact for releasing the book? Thank you very much. BTW, my background is finance. Thanks

Andreas Harsono said...

This is a difficult question. I am not familiar with children books. I know Daoed Joesoef, a Sorbonne-educated economist, who is currently writing a children book. He also draws the illustration himself. Perhaps, you could call him and get advices.