Thursday, April 10, 2008

Bikin Buku-bukuan?


KEMARIN ketika melihat Linda Christanty bikin draft kumpulan karangan Dari Jawa Menuju Acheh, saya makin ingin mengikuti kegiatan ini. Buku Linda akan ditawarkan ke Gramedia. Dia minta saya menyusun antologi tersebut. Juga memberi judul.

Ini mendorong saya untuk ikut bikin antologi. Ini bukan ide baru. Dulu Hamid Basyaib mendorong saya bikin kumpulan karangan soal jurnalisme, terutama tanya-jawabnya. Mungkin Anda tahu sejak pulang dari Cambridge pada pertengahan tahun 2000, saya sering mengirim email kepada wartawan atau mahasiswa, yang tanya macam-macam soal jurnalisme.

Belakangan isteri saya, Sapariah Saturi-Harsono, juga mendorong saya mengumpulkan macam-macam naskah soal jurnalisme buat dijadikan buku. Mungkin ini berguna buat pegangan mahasiswa atau wartawan muda. Saya senantiasa ragu-ragu. Saya selalu berpikir paling baik adalah bikin buku utuh. Bukan apa yang disebut Ulil Abshar-Abdalla, salah seorang pendiri majalah Pantau: non-book book. Buku-bukuan bikin orang malas menulis buku beneran.

Apalagi saya pikir toh semua naskah ini juga ada dalam blog. Bukankah orang bisa baca di blog? Bertahun-tahun saya menolak buku-bukuan. Tapi sudahlah. Keraguan ini akhirnya saya tebas juga. Banyak sekali orang bikin kumpulan karangan. Tak ada yang salah. Semua karya Ulil buku-bukuan. Noam Chomsky juga bikin kumpulan karangan.

Saya coba kumpulkan naskah-naskah. Lumayan bingung. Ada yang hanya email sepanjang 500 kata. Tapi ada juga yang panjang lebih dari 7,000 kata. Ada yang cukup populer, misalnya, "Sembilan Elemen Jurnalisme" atau "Bagaimana Menulis Bahasa Inggris?" Ukurannya saya lihat dari Google serta hit di blog saya. Namun ada banyak sekali yang tak dikenal orang, termasuk yang bahasa Inggris, yang saya tulis di luar Indonesia.

Ada yang ditulis dengan rekan saya, Esti Wahyuni. Ada yang saya tulis dari reportase banyak wartawan Pantau. Ada pula yang berupa wawancara. Judul buku-bukuan ini, saya justru ingin pakai dari wawancara Kajian Islam Utan Kayu bertajuk Agama Saya Adalah Jurnalisme. Saya suka dengan identitas sebagai wartawan!

Melihat semua naskah ini, saya sekali lagi disadarkan bahwa pemikiran saya soal jurnalisme sangat dipengaruhi oleh Bill Kovach. Mulai dari resensi buku hingga berbagai macam argumentasi soal independensi wartawan, semuanya bermuara pada ide-ide Kovach, atau kalau mau ditelusuri lebih ke belakang, ya Walter Lippman, yang menulis buku Public Opinion (1922).

Eva Danayanti, rekan kerja di Yayasan Pantau, usul dicari saja semua naskah ini dan dikerjakan dulu daftarnya. Nanti disusun bareng-bareng. Saya urutkan sesuai tahun pembuatan, dari 1999 hingga 2008. Atau disusun sesuai tema? Ada soal etika, ada studi kasus dan sebagainya.

Menurut Anda urutan yang baik gimana? Sesuai urutan waktu atau pembagian tema? Atau tidak usah?


Daftar Calon Isi

Apa Itu Investigative Reporting? (1999)
Beasiswa untuk Wartawan
Byline dan Tagline
Kecepatan, Ketepatan, Perdebatan
Pagar Api

Sembilan Elemen Jurnalisme
Nasionalisme dan Jurnalisme
Tempo Versus Tomy Winata
Diskusi Pendidikan Jurnalisme di Pulau Jawa
Wartawan, Wawancara dan Ratu Kecantikan

Wartawan atau Politikus?
Independensi Bill Kovach
Bagaimana Cara Rekrut Wartawan?
Analisis Perubahan Bisnis Indonesia
Media Palmerah

Tujuh Kriteria Sumber Anonim
“Asing” di Tanah Acheh
Belajar Menulis Bahasa Inggris
Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita
Kapan Wartawan Mencuri?

Menulis Butuh Tahu dan Berani
Model Pelatihan Wartawan Mahasiswa
Jungkir Balik di El Tari
Sengkarut Harian Equator
Lampung, Lampung, Lampung

"Agama Saya adalah Jurnalisme"
Elemen Kesepuluh
Pers, Sejarah dan Rasialisme
Quo Vadis Jurnalisme Islami?
Sexism, Racism dan Sectarianism

Bagaimana Meliput Pontianak?
Apa itu Kriminalisasi Pers?
Apakah Wartawan Perlu Dipidanakan?
(2008)

24 comments:

Fahri Salam said...

Mas, paling baik ya sesuai tema, karena mudah mengikat pembaca untuk tahu isi buku. Kalau sesuai urutan tahun kan itu mah kayak daftar belanjaan, hehehe... :)

Andreas Harsono said...

Fahri, terima kasih untuk masukannya. Aku akan pikir deh pembagian tema buku-bukuan ini. Agak amburadul. Wong nulisnya juga berdasarkan email masuk. Lha piye meneh?

Yati said...

semua tulisan itu hanya diterbitkan untuk satu buku, mas? ga terlalu tebel?
ya, setuju ma mas Fahri, mungkin sesuai tema aja. Misalnya, bagaimana menjadi wartawan yang baik dan dasar2 jurnalistik menjadi satu kelompok, lalu cara2 meliput kasus, konflik, dll di kelompok yang lain.
oke, ditunggu bukunya! soalnya kalo bentar2 buka blog buat baca, masih harus nyari2 dulu karena ga ada pengelompokan kategori. agak repot. dan saya ga selalu terhubung dengan internet :d
kapan mo diterbitin mas?

Andreas Harsono said...

Yati, aku hitung-hitung semua yang terkumpul di posting ini ada sekitar 50,000 kata. Ini sekitar 150 halaman. Tidak tebal kok. Ada cukup banyak yang nggak aku masukkan. Banyak duplikasi. Pemilihan temanya juga oke juga tuh.

mellyana said...

barangkali dibagi seperti kursus bahasa: beginner, intermediate, advance. Soalnya, ada beberapa tulisan mas Andreas yang sederhana dan dasar untuk semua yang mau menulis, tetapi ada yang sangat spesifik untuk wartawan.

atau, apakah buku bisa memakai "tag"?

Andreas Harsono said...

Mel, terima kasih untuk masukannya. Aku mengalami kesulitan untuk menentukan mana yang beginner, intermediate dan advance? Mungkin sama sulitnya dengan orang tua kalau ditanya, "Mana anak yang paling pintar?" Swear!

Ada juga usul dimasukkan judul-judul lain, yang tak aku pertimbangkan. Misalnya, "Pak Harto atau Soeharto?" Atau liputan aku soal sengketa Tempo dan harian Straits Times, Singapura? Ada juga usul bikin dua atau tiga naskah baru.

Gimana kalau kita ketemu, ngopi, dan kamu bantu aku memilih? Sekalian reuni kecil? Mungkin mengajak Mae, Nenden, Hagi, Fiqoh, Buset dan sebagainya? Intinya, ya aku minta tolong dikasih masukan. Aku traktir deh yang datang lima pertama?

Taufik Al Mubarak said...

mas, kalau menurut saya, dibuat per tema aja. lebih mudah orang membacanya. trus, kan banyak artikel lepas, dibuat juga semacam coretan lepas, apalagi kalo tulisan itu tak saling berkait.
kalau mau dibuat per tahun juga bisa, artinya semacam kronik pikiran mas. tapi, jangan lupa dikasih narasi, misal, tulisan ini dibuat ketika sedang ini...itu...dsb.
pendahuluan/ atau pengantar harus panjang dikit ya mas, krn orang mo tahu juga bagaimana proses kreatif mas.
Terakhir, terima kasih mas ya dah ceritain aku sama anak-2 pantau (siti). Saya sekarang jadi redaktur polkam di Harian Aceh

Andreas Harsono said...

Untuk Taufik di Banda Aceh,

Terima kasih untuk masukannya. Saya pasti akan membuatnya berdasarkan tema. Tadi malam sempat terpikir membaginya dalam tiga tema: (1) Meliput; (2) Menulis; (3) Etika dan Pemikiran. Ini pembagian yang lazim dalam pendidikan jurnalisme.

Saya juga akan menulis dua atau tiga naskah baru, khusus untuk buku-bukuan ini. Saya akan menulis "elemen kesepuluh" dari pemikiran Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Saya juga akan menulis satu bab soal bagaimana mempersiapkan wawancara. Satu bab soal riset. Dan satu bab soal kesulitan yang dihadapi media cetak. Banyak orang memperkirakan suratkabar perlahan-lahan akan digantikan internet.

Siti sudah cerita soal kerja Anda di Harian Aceh. Senang dengar cerita itu. Saya akan membantu tabloid Modus menjelang Lebaran nanti. Saya akan ada disana sekitar 10 hari. Kita ketemuan ya. Terima kasih.

Taufik Al Mubarak said...

saya senang mendengarnya. mudah-mudahan kita bisa bertemu. oya, masih sering kontak-kontakan ama Nasruddin (Wakil Bupati Aceh Timur dari SIRA)?
Trus..saya sudah link blog-nya mas di blog saya, di link balik ya

Didiek P. said...

Mas, aku numpang nge-link ya..
Semoga bukunya bisa segera dinikmati banyak orang yang tak sempat membaca tulisan mas di blog.

Astri Kusuma said...

pak andreas,

saya setuju dengan pemilahan sesuai tema. biar memudahkan pembaca juga..apalagi untuk orang awam seperti saya ini...hehehe..:)

salam

Oryza Ardyansyah Wirawan said...

Boleh...boleh... Aku setuju saja sama buku yang katanya buku-bukuan. Karena pada dasarnya, meski ada iternit (bahasa Madura kampung Jember untuk Internet), orang toh masih butuh buku kertas. Capek eeuy baca tulisan di hadapan komputer. kalau nggak percaya, coba aja jadi wartawan media online. Dijamin centu cenut...

Tapi ada syaratnya:
Harganya nggak boleh lebih dari Rp 50 ribu per eks. Kalau kemahalan, mahasiswa belinya sulit...

Terus.... kalau aku boleh usul sih, jangan bikin bunga rampai bertema jurnalisme. Menurutku lebih asyik bunga rampai karya reportase Bung AH waktun jadi koresponden media asing, jadi anggota ICIJ, dan jadi wartawannya Pantau.

aku baca kan banyak yang bahasa Inggris... harus diterjamihn tuh...

Oke segitu aja...yang terpewnting...BUKUNYA UANG NASIONALISME SEGERA TERBITIN...EUUYYY.... MERDEKAAAA

I-Think-Oke said...

Urun rembug Mas. Saya sangat senang mendengar Mas Andreas bakal menerbitkan buku. Soalnya kalau baca di blog, capek sendiri Mas. Kalau jadi buku kan bisa dibaca sambil tiduran, atau di mana saja, lebih bebas. Sebaiknya memang per-tema. Temanya mungkin bisa dimulai dari yang paling mudah sampai tersulit. Misalnya, dari bagaimana bisa menulis, sampai bagaimana menulis berita yang mengandung SARA. Jadi bisa buat panduan tak hanya mahasiswa dan wartawan muda tapi juga wartawan setengah mateng hingga yang mateng (seperti telur saja). Ha..ha...ha....
Kemudian, jadi satu buku saja Mas. Kalau 150 halaman sih nggak tebal menurut saya. Lebih praktis karena saya bisa mencari banyak informasi dan teori sekaligus dari satu buku. Sekian, dan saya tunggu secepatnya bukunya. Sukses!

Insaf Albert Tarigan said...

Aku juga setuju berdasarkan tema, dan dipertimbangkan juga isinya apakah bisa dimengerti secara umum atau nggak. Maksudku, kalau memang kebanyakan jawaban atas E-mail, berarti kan bisa saja yang ditanyakan itu hal yang sangat spesifik sehingga perlu diberi penjelasan tambahan.

Andreas Harsono said...

Didiek, Astri, Oryza, Maharani dan Tarigan,

Terima kasih untuk usul-usulnya. Saya makin diyakinkan perlunya menerbitkan buku-bukuan ini. Internet memang tak bisa dibaca sambil tiduran atau dibawa dalam ransel. Mata juga capek.

Saya akan membaginya dalam tema-tema. Saya sempat hitung-hitung lagi, surat-surat yang saya buat sejak tahun 2000. Lumayan banyak. Jumlahnya belum ketahuan. Pusing juga. Saya memutuskan tak memuat surat-surat ini apa adanya. Akan disunting atau malah ditulis ulang. Ada soal "referensi kedua." Ada juga soal kritik soal label "pengamat, pakar atau pemerhati."

Semuanya masih bertema jurnalisme. Ada yang khusus soal "liputan" --termasuk riset, wawancara. Ada juga yang soal "penulisan." Ada juga dalam tema "pemikiran di bidang jurnalisme."

Usul Oryza agar liputan-liputan saya dibuku-buku-kan, juga menarik. Tapi ini biar belakangan saja. Naskah-naskah saya cukup banyak yang dalam bahasa Inggris. Masalah penterjemahan akan muncul. Kini masih bergulat dengan Debunking. Editor saya, Jim Simon, lagi ada di Jakarta. Kami banyak diskusi soal buku ini. Terima kasih.

Evan said...

sesuai tema aja,mas..biar enak bacanya..
kalau sudah terbit, saya pesen duluan.. :D

Ray Rizaldy said...

mas andreas,

meski itu cuma buku-bukuan, tapi tak apa lah. Daku tunggu, buat belajar jurnalisme. Urutannya sesuai tema saja.

salam kenal

Andreas Harsono said...

Evan dan Ray,

Terima kasih untuk komentarnya. Dua atau tiga hari terakhir ini saya menyusun sesuai tema. Saya kira lebih baik sekarang. Juga ada naskah-naskah baru yang saya rewrite dari beberapa posting gabungan.

STR said...

Mas, usul! Mungkin tema yang Etika dan Pemikiran bisa ditaruh di awal (sebelum Meliput dan Menulis). Jadi bisa untuk landasan berjurnalisme gitu. Terima kasih.

Steve Gaspersz said...

Mas, ketemu lagi nih sejak terakhir kita ngobrol bareng Gerry van Klinken di mabes Pantau. Senang dengar mas Andreas mau bikin buku. Tapi kok disebut "buku-bukuan" ya? Buku ya buku. Apakah itu sejenis dedemit atau "jadi-jadian"? Nggak kan?! Hampir semua pemikir besar pun membuat buku dengan merangkai fragmen-fragmen pemikiran mereka untuk kurun waktu tertentu.
Aku sih usul jangan jadi 1 buku (meskipun kalau digabung semuanya gak terlalu tebal). Mungkin bisa dibagi menjadi 2 buku dengan kerangka "panduan jurnalisme" dan "aplikasi jurnalisme profesional". Itu sih yang aku tangkap dari tulisan2 mas Andreas.
Mudah2an cepet terbit dan aku bisa ngikutin nerbitkan buku juga. Blogku tolong di-link di sini ya http://kabaressi.blogspot.com. Mungkin kita bisa berbagi cerita.

Salam pencerahan!

cupeng said...

Mas, Salam kenal....
Aku pengagum barumu nich,
Dapet info dari my freind aku Bang Sire.
Moga aku dapet trus nikmatin tulisan2mu & do'ain aku bisa kerja terus biar bisa buka internet gratis. Dukung dech buat buku2annya, dari Junior Ulil (Cupeng)
Salam....

Sjech Movn@ said...

Salam,
Kami menunggu 'buku-bukuan' itu. Maaf tak bisa beri kontribusi saran. Di 'agama jurnalisme' ini saya bagaikan sebutir pasir di pinggir samudra maha luas. Pun, begitu alangkah indahnya jika itu disesuaikan dengan kebutuhan jurnalis dan pembaca umumnya yang ingin mengerti tentang 'agama' kita.

savic said...

kumpulan tulisan. not so bad. tergantung kualitas masing-masing tulisan...

Andreas Harsono said...

Ini kabar paling terakhir. Penerbit Kanisius, Jogjakarta, hendak menerbitkan antologi ini. Ada 30an naskah hendak terbit dalam satu buku-bukuan. Sekarang ia sedang dibuatkan disain. Fahri Salam membantu saya dengan menyusun dan bicara dengan Kanisius. Mudah-mudahan Maret sudah naik cetak.