Wednesday, May 23, 2007

Menjawab Sapariah Saturi-Harsono


Untuk Sapariah,

Aku kira keputusan kamu untuk tak menurunkan profil usaha Puspo Wardoyo di halaman Jurnal Nasional punya dasar yang benar. Keputusan ini tak bisa dikategorikan self-censorship mengingat naskahnya tidak sempurna. Artinya, naskah itu sengaja tak mengungkap sisi buruk praktek poligami Puspo Wardoyo.

Keputusan reporternya untuk "hanya mengambil sisi positif dari sukses berbisnisnya" Puspo Wardoyo, justru menghasilkan laporan yang kebenarannya terdistorsi (distorted). Si reporter justru melakukan self-censorship terhadap satu sisi hidupnya Puspo Wardoyo.

Jurnalisme yang bermutu berhak menolak menerbitkan naskah yang sifatnya sexist, racist maupun sectarian. Logikanya, laporan jurnalistik harus usaha selalu tampil proporsional sekaligus komprehensif. Artinya, naskah yang tersurat atau tersirat sexist, racist atau sectarian adalah naskah yang tak tampil komprehensif dan proporsional. Naskah beginian bikin masalah.

Namun pertama-tama kita harus sepakat dulu bahwa sexism, racism, sectarianism adalah paham-paham yang keliru dan berbahaya untuk masyarakat kita. Paham-paham ini intinya memandang rendah orang-orang tertentu karena jenis kelaminnya (perempuan), orientasi seksual (gay atau lesbian), etniknya atau orientasi keagamaannya (Ahmadiah, Kejawen, Sunda Wiwitan, Komunitas Eden, Kaharingan dan lainnya).

Wartawan bisa menurunkan cerita tentang orang yang sexist, racist atau sectarian bila pandangan itu sendiri yang jadi focus dari laporan si wartawan. Namun kalau focusnya bukan pada pandangan mereka, seorang wartawan harus ekstra hati-hati agar laporannya bukan malah menyajikan informasi yang terdistorsi.

Puspo Wardoyo adalah seorang lelaki yang dikenal punya dua sisi. Pertama, dia seorang pengusaha sukses, pemilik restoran Wong Solo, yang cabangnya ada dimana-mana. Aku pernah makan di cabang mereka di Medan. Kedua, dia dikenal sering mempromosikan poligami. Artinya, dia juga tergolong sexist. Dia pernah mengeluarkan kalimat yang sensasional.

Misalnya

"Mindset istri pertama itu yang harus diubah. Harus ditanamkan kepadanya, istri yang baik dan saleh adalah tunduk terhadap suami, taat dan bisa menyenangkan suami. Ia harus rela dan malah bahagia suaminya beristri lagi."

"Kalau cuma satu istri, dia bisa seenaknya sendiri, karena tidak ada saingannya. Namun kalau beristri lebih dari satu, masing-masing istri akan bersaing untuk lebih mempercantik diri lebih dicintai suami."

Pilihan profil usaha Puspo Wardoyo potensial mengaburkan atau mendistorsi kebenaran dari cerita kehidupan Puspo Wardoyo. Seakan-akan dia ini hanya "sukses" tanpa melihat sisi lain poligami. Ini bisa paralel dengan memilih seorang pengusaha yang rasialis. Ini bisa paralel dengan memilih seorang pengusaha yang sektarian.

Misalnya, bagaimana sikap kita kalau media kita hendak menurunkan feature tentang satu pengusaha yang sentimen terhadap orang Tionghoa. Isinya melebar terhadap orang Tionghoa umumnya? Biasanya dibumbui dengan kata "pribumi" dan "non-pribumi."

Frasa Tionghoa ini bisa diubah dengan kata lain. Misalnya, "pengusaha Bugis" atau "tentara Jawa" atau "polisi Batak" dan seterusnya. Sedang kata "non-pribumi" bisa dengan mudah diganti jadi "pendatang" atau lawannya "putra daerah" maupun "penduduk asli." Semuanya berujung pada rasialisme. Bagaimana kalau tokoh yang kita tampilkan mempromosikan rasialisme? Apakah kamu melakukan self-censorship bila menolaknya?

Atau bagaimana sikap kita kalau kita hendak menurunkan feature tentang satu pengusaha Amerika WASP (White, Anglo Saxon, Protestant), yang terkenal karena ketidaksukaannya pada Islam? Aku banyak sekali punya contoh beginian. George W. Bush, sebelum presiden Amerika juga seorang pengusaha, beberapa kali mengeluarkan kata-kata yang nggak benar. Dia misalnya memakai kata "crusade" untuk "memerangi terorisme," seakan-akan membangkitkan makna Perang Salib soal Islam dan Kristen pada kasus World Trade Center. Bush memakai kata "articulate" untuk Barack Obama, seakan-akan Obama, yang lulus doktoral dari Harvard Law School, tak bisa bicara bahasa Inggris fasih. Ini hinaan yang terselubung terhadap orang kulit hitam.

Kalau pun kita terpaksa harus menurunkan laporan tentang pengusaha-pengusaha yang sexist, racist atau sectarian, maka prinsip yang harus kita perhatikan adalah proporsionalitas dan komprehensif. Artinya, kita harus menurunkan laporan yang detail tentang paham-paham mereka yang salah itu.

Misalnya, si reporter juga interview isteri-isteri dan anak-anak Puspo Wardoyo dan cerita soal sisi negatif dari praktek poligami Puspo. Kalau si reporter bisa memasukkan sisi-sisi destruktif dari poligami ini, aku kira, feature itu bolehlah untuk dilihat lebih jauh. Tapi tanpa interview sisi negatif Puspo Wardoyo, aku kuatir, kalian akan menurunkan laporan yang distorted.

Itupun si reporter harus memasukkan pendapat bahwa poligami adalah praktek perkawinan yang merugikan institusi keluarga. Ini setara dengan sikap kritis terhadap rasialisme dan sektarianisme dengan menyebutkan paham-paham itu merugikan prinsip hidup bersama dalam satu negara dan bangsa.

Kalau kita memilih Puspo Wardoyo untuk feature bisnis, tanpa mengkaitkannya dengan poligami, "hanya mengambil sisi positifnya," kita justru akan menciptakan informasi yang distorted. Paralel dengan kalau kita menurunkan feature yang rasialis atau sektarian padahal maksudnya (secara salah) adalah feature bisnis. Ini kelemahan kebanyakan wartawan di Indonesia, seolah-olah "hanya mengambil sisi positif" tanpa sadar bahwa pilihan itu justru menonjolkan sisi negatif.

Akhir kata, kita juga harus sadar bahwa Puspo Wardoyo maupun figur lain sejenisnya tahu benar bahwa mereka bisa mempromosikan kedua visi mereka --"poligami dan bisnis" atau "rasialisme dan bisnis" atau "sektarianisme dan bisnis"-- lewat media justru karena sikap politik yang kontroversial tersebut. Wartawan pasti tertarik pada kontroversi. Secara tidak langsung, wartawan yang bikin feature itu membantu promosi bisnisnya plus pandangan sempitnya itu. Ini iklan gratis untuk sexism, racism dan sectarianism.

Aku kira kalau kita mau membangun reputasi sebagai wartawan yang solid, yang tahu mana yang metodologis dan mana yang bakal mencoreng reputasi kita, naskah itu sebaiknya memang diperbaiki atau tak dimuat. Jurnalisme bermutu tak mau menciptakan distorsi yang begitu serius dalam masyarakat kita. Terima kasih untuk diskusi yang penting ini.

9 comments:

Okky Puspa Madasari said...

Mas Andreas, tulisan ini telah memberikan pencerahan bagi saya. Idiom "Wartawan tidak boleh berpihak namun boleh bersikap" selama ini hanya saya lihat dari idealisme dan prinsip-prinsip yang dipegang wartawan tersebut, sehingga subyektif sifatnya. Namun ternyata "Sikap seorang wartawan" bisa dijalankan dalam koridor prinsip jurnalisme terutama untuk tidak memberikan informasi yang sepotong saja.

Anonymous said...

Kalau saya sih menganggap orang yang mendiskriminasikan POLIGAMI adalah SEKSI dan SEKTARIAN.

Diakui atau tidak, diperdebatkan atau tidak, ayat Poligami ada dalam Islam.

Jadi, kalau ada pakar jurnalisme yang belum-belum sudah menyuruh dan berpendapat agar wartawan 'melihat poligami pasti negatif' ya harus dipertanyakan juga kadar jurnalismenya...

Gitu kok ngaku berguru ke BILL KOVACH...hehehehe...YANG BENER AJE...

Ini wartawan poenja blog. said...

Dari sisi mana orang anti berpoligami itu seksis dan sektarian?? Melihat dari literatur atau mashab mana nich?

Yang jelas, orang yang berpoligami itu yang seksis, bias gender. Itu sudah jelas-jelas perwujudan dominasi laki-laki, jelas-jelas perwujudan patriakhi??? Coba tanyakan pada perempuan-perempuan yang dipoligami, hitung dan persentasekan, berapa perempuan yang rela dan senang hati diduakan?? Istri A'a Gym aja sudah konsultasi lima tahun untuk menenangkan hatinya agar bisa melepaskan Aa Gym berpoligami belum bisa. Eh..Aa sudah keburu merit. maka marahlah dia sama wartawan yang sudah menulis dia menikah lagi padahal sosialisasi sama istri dan anak-anak belum sukses. Nah Lo??? masih banyak contoh lain.

Tidak akan selesai kalau selalu membawa-bawa ayat Alquran yang dipotong-potong pemahamannya. Mempelajari dan memahami Alquran itu harus sebagai satu kesatuan.

Satu ayat bilang boleh menikah, ayat selanjutnya bilang, asal bisa bersikap adil....di ayat-ayat lain lagi ada disebutkan bahwa manusia itu tak akan bisa bersikap adil. Artinya...???

JIka sikap adil dimaknai adil menurut manusia, wah ga ada kriterianya dunk. Manusia khan suka kepenae dewe, sesuai dengan kehendak hati dan kepentingan. BUkankah begitu???

Saya tentu tak bisa menjejali atau memaksakan pendapat ya....tapi yang jelas poligami bagi saya itu bias gender, dan banyak merugikan perempuan dan anak-anak.

Terusnya lagi..ga ada kaitannya lageee dengan Bill Kovach. Kalaupun mau ada kaitannya, Anda mau tahu bahwa Bill itu sangat sayang dan mencintai istri satu-satunya itu. Dia tak menghianati atau menduakan istrinya.

Sekelangkong

Anonymous said...

Waduhhh.... Ny. Harsono-nya marah...hehehehe...

Mpok, saya sih menghormati orang kalau anti poligami. Istri saya juga satu kok dan saya nggak ada niatan selingkuh.

Tapi saya cuma menguji konsistensinya situ aja. Katanya, wartawan nggak boleh 'menempatkan prasangka terhadap sesuatu'. Katanya 'fact is sacred'.

Lah, zaman sekarang kan kalao kita debat soal poligami (terutama yg anti nih ye) kan tidak didasari data dan fakta. Buktinya situ malah suruh saya nanya berapa persentase perempuan yang tidak suka diduakan dan rela diduakan. Ya kalau saya seehh...Tanyain aja ama ranjang yang bergoyang eh keliru... rumput yg bergoyang...

Benci ama poligami sih boleh. Tapi kemudian kali belum-belum sudah menjustifikasi (apalagi saat hendak meliput sudah ada bias) bahwa perempuan yang dipoligami pasti atau 99 persen menderita ya kan nggak konsisten juga ama prinsip-prinsip jurnalisme situ.

Yah, kalau situ yg jago jurnalistik aja bisa bias gitu, ya entar jangan salahin deh kalau ada orang yang nulis berita soal kontroversi (PKI/Orba/Orla/atau apaan aja deh) juga bias.

Nggak salah dong kalau saya anti PKI dan punya biasa PKI emang bangsat...hehehehehe.... Tapi ini cuman contoh loh pok, mas, entar dimarahin lagi gw....

Ini wartawan poenja blog. said...

Ayo kita diskusi. Pasti seru. Beda pendapat oke, ga ada yang larang. Kita bebas berpendapat dan berpandangan.

Saya mau menjawab panjang lebar tapi rasanya percuma. Ya...karena lucu aja jika berjawab-jawaban atau berdebat tanpa tahu kita lagi ngomong dengan siapa??

Apakah orang yang baik jika berbicara dengan bersembunyi dan tak transparan???

Kan capek mengomentari MR X. Iya kalo orangnya ada, kalo ga???

Anonymous said...

Kan capek mengomentari MR X. Iya kalo orangnya ada, kalo ga??? ===> Hi hi hi...Mpok ada ada aje...kalau nggak ada orangnya, mo komentar gimana...emang gw hantu....hi hi hi....

Pok, gw sih nggak pingin adu argumen...gw cuman pengin nguji konsistensi situ aja...gimana sih wartawan yg bolak-balek kampanye soal anti bias....

ternyata...

yaaah...pok, kalo masih pake standar ganda soal makna biasa, mo gimana lagi...

salam bwt mas andreas ya, pok... kalo emang nyaranin spy wartawan gk bias pas nulis soal poligami (krn gak setuju), yah berarti kudu konsisten neh...

NB: aku lagee baca tulisan mas andreas di majalah PANTAU soal Islam Liberal...di rubrik Utan Kayu...

Bener-bener nggak biass...wakakakakakakakakakakakakaka....

Andreas Harsono said...

Saya sedih ada orang yang mau ngomong di balik 'persembunyiannya'. Hiks.....takut, ga pede muncul...ga tau deh.....tapi takut dibilang hantu. Hiks.

Hiks nya lagi yang diusung ke-bias-an terhadap poligami. Padahal penjabaran di atas sudah begitu panjang lebar. Wartawan tidak boleh berpihak tapi bersikap. Saya bersikap: menentang rasialisme, diskriminasi, sektarian termasuk seksis.

Apakah yang saya tentang itu pada hal yang salah??? tentu tidak. Rasialisme cs itulah yang memunculkan banyak kesengsaraan dan peperangan di muka bumi ini. orang sengsara, menderita dan bunuh-bunuhan karena masalah-masalah di atas itu.

Jika saya sudah mengetahui figur profil yang akan dibuat, kita sudah tahu sepak terjangnya, bahkan pernyataan-pernyataannya yang sangat merendahkan perempuan, sangat seksis, apakah saya tega membodohi dan menyodorkan pembaca saya dengan profil seperti itu? Maaf, saya tak tega dengan banyak pembodohan terhadap pembaca.

Dengan tulisan yang menyodorkan kesuksesan, kejayaannya, dan melupakan serta mengabaikan bagaimana dia memperlakukan perempuan??? Mungkin Anda pikir saya bias orang yang poligami karena anti poligami??? Pernahkah anda membuka dan riset tentang profil Puspo itu??? Bagaimana dia menganggap perempuan hanya barang, hiasan memperindah dia dan rumah??? Sangat seksis, bagaimana pula berbalik mengatakan saya bias hanya karena saya bersikap.

(Saya menentang itu). Jika anda termasuk aliran mendukung itu, silakan!!! yang jelas dan pasti kita berbeda. Saya mempunyai sikap tidak setuju dan menentang penyemena-menaan terhadap perempuan.

Niat profil itu dibuat setidaknya pembaca bisa melihat bagaimana perjalanan kesuksesan seseorang. Setidaknya bisa mencontoh. Tentu , tidak bisa mengangkat kesuksesan saja toh?? mesti satu kesatuan, kepribadian juga. Tidak bisa sepotong-sepotong.

Berhubung saya mengetahui siapa profil itu, dan bagiamana sikap serta pandangannya terhadap perempuan, yang begitu seksis, menjadikan perempuan kelas kedua, kelas produk, kelas barang dan perhiasan, jadi saya harus bersikap.

Beda, jika memang mau menulis tentang poligami. Dia tentu narasumber yang mumpuni untuk diwawancarai.


Mungkin jika ada orang yang berpoligami seperti Rasulullah, dengan nenek-nenek miskin. Dia mengumpulkan beberapa nenek-nenek miskin, janda yang susah makan lalu dinikahi karena dia orang berada dan ingin membantu, mungkin saya tak keberatan menuliskan profilnya. Tapi tentu saya akan lihat lagi lebih dalam.


Intinya: Saya setuju atau tidak dengan tulisan itu ada landasan. Puspo bagi saya dengan pernyataan-pernyataannya yang begitu bangga telah menguasai perempuan, itu sangat seksis.

Tentu anda bisa baca dua contoh pernyataannya di tulisan awal.

Ini ada lagi, dalam buku berjudul Mengapa Nabi Muhammad Berpoligami? Karangan Islah Gusmian, di situ Puspo berkomentar "Poligami jangan dilarang, karena poligami bagi saya kebutuhan paling primer." (Saya sedikit promosi, bisa baca buku ini karena banyak fakta yang sebenarnya Islam itu ingin menghilangkan budaya 'mengumpulkan perempuan' yang dianut masyarakat arab sebelumnya).

Namun fakta yang muncul sekarang seolah-olah Islam yang membuat produk poligami. Padahal Islam-lah yang ingin memperbaiki budaya bar bar koleksi perempuan masyarakat Arab dulu. Sebelum Islam masuk, seorang lalki-laki bisa kawin dengan sampai puluhan perempuan. Tapi itu coba diperbaiki oleh Rasul. Namun kenyataan umatnya berkata lain. malah Nabi MUhammad sering dijadikan kambing hitam untuk acuan dia berpoligami. Kasian sekali. Andai Rasul masih hidup, dia pasti protes dan sedih. HIks. ( Hups...ternyata aku udah banyak cerita poligami.....maaf, bukan menggurui....hiks).

Andreas Harsono said...

RALAT: Berhubung ngetik di laptop suami, masukkan komment lupa log out. Jadi yang muncul andreas harsono said. Padahal itu tulisan saya, Sapariah.

Berhubung si empunya lagi ga ada di rumah..jadi membenarkannya meski nunggu dia. Hiks...hiks...hiks....

STR said...

Mas, saya sedikit bingung.

Ini laporan apa? Profil usaha, ataukah profil Puspo Wardoyo secara personal?

Kalau profil usaha, bukankah mengungkap praktek-praktek poligami pemilik usaha justru akan bikin artikel jadi tak fokus? Apa kaitan poligami dengan kesuksesan bisnis makanan?

Tapi kalau profil personal, saya setuju bahwa baik kesuksesan bisnisnya dan kisah poligaminya harus ditulis.