Wednesday, November 15, 2006

Majalah Indopahit

Saya memutuskan mencetak sebuah majalah bernama Indopahit sebagai "undangan perkawinan" Sapariah dan saya Januari depan. Ide awalnya adalah bikin Pantau edisi perkawinan namun saya mengubahnya jadi Indopahit. Pertimbangannya, lebih hemat biaya (ukuran lebih kecil) dan sekaligus mencoba konsep baru. Saya ingin mencoba sebuah ide baru, bikin majalah pemikiran ukuran 14.5 x 21 cm --seukuran Granta dari London. Slogannya, "Pemikiran baru, Nasionalisme baru."

Mengapa diberi Indopahit? Ini ada ceritanya. Kami mulai tertarik satu sama lain, ketika lagi membicarakan kekacauan dan kepahitan hidup di Indonesia. Sapariah orang Madura Borneo. Saya Hoakio kelahiran Jawa. Ini dua dari banyak kelompok minoritas yang mengalami kekejaman, setidaknya kepahitan, di Indonesia. Lebih dari 6500 orang Madura dibunuh di Borneo dalam 10 tahun terakhir ini. Orang Hoakio jangan tanya deh. Indonesia adalah negara yang paling rasialis terhadap orang Tionghoa. Maka muncullah olok-olok “Indonesia keturunan Majapahit yang pahit.” Dan nama pun dipilih Indopahit.

Siapa tahu, kelak ada orang yang tertarik, untuk benar-benar menjadikannya sebuah majalah pemikiran, yang isinya kritik terhadap Indonesia? Kalau ada, maka para pendukungnya sudah berjejer-jejer.

Buku ini dikerjakan oleh sebuah panitia kecil. Ia melibatkan Mohamad Iqbal dari Galeri Foto Jurnalistik Antara. Muhlis Suhaeri dan Haryo Damardono dari Pontianak. Hasan Aspahani dari Batam. Muhammad Ifoed dari Kelompok Kartunis Kaliwungu. Saya juga dibantu disainer Vera Rosana. Sahabat-sahabat dari almarhum majalah Pantau, antara lain Coen Husain Pontoh, Indarwati Aminuddin, Linda Christanty, meluangkan waktu buat menulis. Ini belum lagi mereka yang membantu di luar urusan editorial. Aduh banyak sekali deh bantuannya.

Nanti saya akan mencetaknya 1000 eksemplar dimana separuhnya dipakai untuk undangan perkawinan. Separuhnya, untuk dibagi-bagikan kepada mereka yang tertarik. Isinya, ciamik dan bikin kaget.

6 comments:

adriana said...

saya mau satu, baik diundang maupun tidak!

btw, saya akan mudik maret-april 2007, antara lain akan ke pontianak. pernikahan kalian nggak bisa diundur? hehehe

Zamira Loebis said...

seru amat, mas Andre... saya juga mau dong "undangan"nya.

Andreas Harsono said...

Adriana dan Zamira,

Kirim deh alamat lengkap ke email aku. Nanti aku kirim via pos ke alamat masing-masing. Aku kira aku bisa menulis sebuah buku tentang pengalaman menikah di usia tua :-)

sahrudin said...

buku "antologi pengalaman nikah" sudah pernah ada belum ya? tentu, isinya mesti mencakup pernikahan "wah" sampai syukuran "ecek-ecek".

Rizanul said...

Boss, kayanya aku rugi kalau gak kebagian satu eks.

Btw, selamat.

eka said...

Waduh...
jangan lupa mahasiswanya di Aceh dong..
aku juga mau satu...

lumayan untuk persiapan nikah, kayaknya bukan nikah di hari tua aja yang membahagiakan. tapi nikah sambil kuliah juga asik, ada saran gak. kalo boleh usul, dibahas juga dong tentang nikah sambil kuliah.