Friday, May 20, 2005

Wartawan Mahasiswa


Selama dua atau tiga tahun terakhir ini, sejak pulang dari Nieman Fellowship di Harvard, terutama sejak aku ikut dengan majalah Pantau, rasanya aku sering diajak diskusi oleh para wartawan mahasiswa.

Aku kira ini penting sekali karena anak-anak muda inilah yang kelak akan mengisi ruang-ruang redaksi media di kawasan ini. Aku suka diskusi dengan mereka. Aku kira aku juga orang yang berutang pada guru-guruku, dari Arief Budiman hingga George Aditjondro, dari Liek Wilardjo hingga Goenawan Mohamad, dari Seth Mydans hingga Bill Kovach. Aku harus meneruskan tradisi mentor yang penuh kesabaran ini kepada wartawan-wartawan mahasiswa.

Mulanya, aku malu karena tak terbiasa diajak diskusi. Ketika bekerja untuk The Nation, aku praktis jarang berhubungan dengan wartawan disini, selain teman-teman dekat. Kini aku berusaha untuk selalu membuka pintu untuk wartawan mahasiswa. Terkadang untuk bimbingan skripsi mereka. Terkadang diskusi masalah yang aneh-aneh. Terkadang mencari tumpangan menginap di Jakarta. Ada juga yang datang untuk curhat soal kehidupannya. Soal orang tua cerai. Soal putus dengan pacar. Soal kehabisan duit. Macam-macam deh.

Mereka umumnya menyenangkan. Sesekali tapi aku juga jengkel karena kehabisan waktu untuk menulis. Padahal urusan buku benar-benar mendesak. Deadline! Deadline! Deadline! Tapi memang inilah tarik ulur kehidupan. Prinsip, pintu harus senantiasa terbuka.

Aku sering berpikir kelak mereka jadi apa ya? Sebagian dari mereka aku kira akan jadi wartawan. Sebagian mungkin tak mau jadi wartawan. Mudah-mudahan semuanya jadi orang yang bahagia. Tapi menyenangkan sekali bisa berbagi waktu dan pikiran dengan orang-orang muda ini.



Andriyani, Leny Nuzuliyanti dan Muhamad Sulhanudin (dari kiri ke kanan) dari majalah Hayamwuruk, Universitas Diponegoro, Semarang. Mereka lagi bikin liputan "sastra Islami" di Jakarta sekalian mampir di tempatku. Mereka juga ke Bandung dan mampir di rumah Agus Sopian, rekan dari Yayasan Pantau.

Aku sering meledek Udin, Leny dan Andri, agar meliput isu yang lebih mendesak macam pelanggaran hak asasi manusia Acheh atau gerakan kemerdekaan di Papua, ketimbang mencari bahan-bahan diskusi tentang sastra. Udin adalah organizer sebuah kursus jurnalisme sastrawi untuk mahasiswa beberapa bulan lalu (lagi-lagi soal sastra!). Ia organizer yang hebat. Billy Antoro dari IKIP Jakarta tak terlihat dalam foto.

Leny kebetulan menyebutkan umur ayahnya. Ayahnya bekerja di Jakarta dan sempat mengantar Leny ke tempatku. Aku tiba-tiba merasa tua. Umur ayah Leny hanya terpaut empat tahun dengan umurku!

Leny menimbulkan revolusi kecil dalam pikiran. Aku mulai merasa aneh dipanggil, "Mas Andreas" atau "Bang Andreas" atau "Kak Andreas." Umur ayah mereka bisa jadi sebaya dengan umurku? Bukan keberatan --aku lebih suka dipanggil nama saja-- tapi merasa aneh. I am getting older. These kids could be my sons or daughters.

Oh ya, kenapa tak ada yang menyapaku "Ko' Andreas"?

Dalam politik etnik yang pekat ala Orde Baru, bukankah aku bisa dikategorikan sebagai orang "Tionghoa" atau "Cina" atau "non pribumi" dimana sapaan umumnya adalah "koko"?

Tapi lebih tepat lagi, kalau mengingat umur, walau aku bakal merasa lebih aneh, adalah sapaan "giugiu" atau "encek"? Keduanya berarti paman atau oom, masing-masing dalam bahasa Hakka dan Hokkian. "Cek Andreas" atau "Giu Andreas" atau setidaknya "Oom Andreas."

Aneh banget! Tapi politik sapa-menyapa di Jakarta memang aneh banget. Lebih ringan di Amerika sono. Semua sapa nama saja.



Eva Danayanti, Heni Fuji Astuti, Aulia Marti, Yudi Nopriansyah dan Ahdika Fitrarianto (dari kiri ke kanan) lagi diskusi soal persiapan kursus pers mahasiswa di Lampung dan Pontianak. Eva, Heni dan Yudi dari majalah Teknokra, Universitas Lampung, sedang Lia dan Dika dari Mimbar Untan, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Kami mengobrol di apartemenku.

Yudi dan Heni punya ide menarik tentang bikin suatu workshop buat 15 wartawan mahasiswa dari sebagian kampus Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Mereka diminta masing-masing menulis esai atau narasi tentang penerbitan mereka, suka duka, sumber keuangan, hambatan dan sebagainya. Ini didiskusikan bersama di Bandar Lampung.

Hasilnya, dijadikan buku tentang pers mahasiswa. Ini ide brilian! Yudi dan Heni suka dengan diskusi di apartemen ini. Apalagi ada Agus Sopian, yang juga menginap di tempatku, "menteror" mereka dengan ide-ide soal jurnalisme dan kemahasiswaan. Temanku, Sven Hansen, redaktur urusan Asia dari Die Tageszeitung, harian Berlin, bersedia membantu secara finansial proyek Lampung dan Pontianak ini dari kantong organisasi Umverteilen!

Ada juga rombongan besar. Pada 20 Mei 2005, aku kedatangan rombongan mahasiswa 20 orang ke apartemenku. Ini tamu terbesar yang pernah aku terima di apartemen kecil dua kamar tidur ini. Para satpam apartemen mengatakan tak pernah ada tamu sebanyak ini di satu unit. Kami sih senang-senang saja. Sayang, aku lagi tak punya banyak penganan.

Kami diskusi singkat saja. Kebetulan Jumat itu aku juga harus mengajar di harian Bisnis Indonesia. Eva Danayanti dan Indarwati Aminuddin, dua kolega Yayasan Pantau, mengajak mereka ikut ke kantor Bisnis. Maka jadilah 20 orang mahasiswa itu ikut mendengarkan cerita di sana. Mereka berkenalan dengan para wartawan Bisnis.

Sesudahnya, kami sempat mejeng bareng. Angkat kaki ramai-ramai. Satu ... dua ... tiga! Cret ... lalu ambruk bareng-bareng.



Gambar ini diusahakan tiga kali karena tak mudah serentak mengangkat kaki. (Dari kiri ke kanan) Anggara Pernando (tabloid Bahana Mahasiswa, Universitas Riau), Wiwit Putri W (majalah Canopy, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang), Subkhan Rama Dani (majalah Dianns, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya), Avanty Nurdiana ("Kavling 10" Universitas Brawijaya), Yanuar Kurniawan (majalah Indikator, Universitas Brawijaya), Nograhany Widhi Koesumawardhani (Canopy), Ahmad Ainur Rohman (Dianns), Hifhzil Aqidi (Republica, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung), Aulia Marti (Mimbar Untan, Universitas Tanjungpura, Pontianak), Tegar Yusuf Putuhena (Manifest, Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya), Yusrianti Y.Pontodjaf (Yayasan Pantau), Yoso Mulyawanz (Republica), Ahdika Fitrarianto (Mimbar Untan), Eva Danayanti (Teknokra, Universitas Lampung, magang Yayasan Pantau) dan I Putu Agus Andrian (majalah Indikator).

Sebagian dari mahasiswa ini juga sempat diminta menunggu di ruang direksi Bisnis Indonesia. Geli juga melihat kecanggungan mereka. Coba tebak siapa nama mereka dan dari lembaga mana saja? Oh ya, siapa ya yang paling manis?

9 comments:

Anonymous said...

Mas Andre,

Saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya dalam mengenal Anda.

Saya belum begitu lama mengenal Anda. Pertama kali kontak dengan Anda saat Hayamwuruk akan mengadakan workshop jurnalisme sastrawi, sekitar bulan Oktober 2004.

Saat itu saya mengenal Anda melalui tulisan-tulisan Anda di majalah Pantau. Diam-diam saya juga bergabung di milis Pantau Komunitas. Meski saya hanya jadi pendengar setia. Sekilas saya menarik kesimpulan bahwa anda adalah orang yang keras kepala. Terlihat dari pemikiran-pemikiran yang keras. Kok ada ya orang seperti ini?, pikir saya saat itu.

Saya mengenal majalah Pantau dari para senior di Hayamwuruk. Majalah itu sering kami jadikan bahan diskusi. Kami pun kemudian sepakat untuk "meniru" teknik penulisan Pantau. Oleh karenanya, mulai edisi terakhir, Hayamwuruk bermigrasi dari format ala Tempo menjadi ala Pantau.

Kami menerima kabar gembira saat salah seorang pengelola Hayamwuruk mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus jurnalisme sastrawi di Pantau. Itu merupakan keenam kalinya Pantau mengadakan kursus serupa.

Ia adalah Hendra Wibawa. Ia banyak bercerita tentang aktivitasnya selama mengikuti kursus. Dalam diskusi kecil muncul pertanyaan. Kenapa pelatihan seperti itu tidak diadakan khusus untuk mahasiswa, bukankah ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas produk pers mahasiswa?

Alasan tersebut yang melatarbelakangi keinginan kami untuk mengadakan kursus jurnalisme sastrawi bagi pers mahasiswa nasional.

BULAN Januari, awal tahun lalu, akhirnya saya bisa bertemu Anda. Tepatnya saat Pantau mengadakan kursus jurnalisme sastrawi yang ke tujuh.

Itu pertama kalinya saya bertemu Anda. Saya masih agak canggung meski Anda bersikap amat ramah sebagai orang yang baru kenal. Maklum orang Jawa, sok malu-malu padahal mau, hik hik, kasihan deh saya.

Saya terlibat perbincangan dengan Anda saat berkunjung ke apartemen. Wuah, seketika itu juga anggapan-anggapan saya sebelumnya runtuh. Masak sih Andreas orang yang sangat keras kepala atau angkuh. Justru sebaliknya, apa yang saya dapati dia sangat rendah hati.

Ya, kalau bukan karena rendah hati itu, mana mungkin ia mau ngobrol dengan orang awam seperti diriku. Bukankah dia adalah seorang wartawan yang hebat. Yang tak hanya di kenal dari Sabang sampai Merauke, tapi juga di berbagai belahan bangsa lain.

Kekagetan-kekagetan saya tak berhenti di situ. Dia ternyata mau mendengarkan pandangan dari orang lain. Bahkan untuk sekadar keluh kesah. Tak hanya itu, saya tak habis pikir, dia juga tak segan untuk minta komentar dari orang yang sangat awam sekalipun seperti saya.

Seperti peristiwa yang terjadi pertengahan bulan Mei belum lama ini, saat saya dan kedua teman saya menginap di tempat Anda. Saat itu Anda menyodorkan naskah berbahasa inggris dan meminta saya untuk mengomentarinya. Dalam benak saya, "lha, po wis edan (apa aku dah gila), aku ngasih komentar untuk tulisan Andreas".

Bulan Februari lalu, selama tanggal 7-12, pelatihan yang direnacakan dilaksanakan di Semarang. Dalam kesempatan itu, Agus Sopian dan Linda Christanty, menjadi instruktur. Ditambah lagi Juwendara, salah seorang alumni kursus jurnalisme sastrawi di Pantau.

Agus Sopian adalah orang yang amat menyenangkan. Dia tak hanya pinter menulis, tapi juga mahir ngebanyol. Saya teringat saat salah seorang peserta perempuan dijebak pertanyaan berapa ukuran bra-nya.

Perempuan itu tersipu malu. mukanya merah tak karuan. Tapi toh akhirnya ia menjawab juga. Setelah mendapat jawaban itu, Kang Agus baru memberi tahu kalau apa yang dilakukanya itu adalah trik untuk mengorek informsi dari yang bersifat umum sampai yang sangat bersifat personal. Beberapa orang yang tahu kemudian pun tak mampu menahan tawa.

Linda Christanty juga mempunyai kepribadian yang tak kalah menyenangkan. Dia lincah dalam menyampaikan materi. Salah seorang peserta bilang kalau mbak Linda orangnya manis. Sampai-sampai dia bertanya tentang statusnya saat itu.

Hanya saja, pada acara itu dia kurang banyak bergaul dengan peserta. Ia banyak mengurung di kamar seusai menyampaikan materi di kelas. Katanya, ia sedang mempersiapkan 'kencannya' dengan Japan Foundation gara-gara cerpennya "Kuda Panggang Mario Pinto" itu. Pantas saja ia pulang satu hari lebih awal.

Dari situ saya banyak mengenal karakter orang-orang Pantau. Mas Andreas, Kang Agus, mbak Linda. Anda semua orang yang amat menyenagkan.

Dalam perbincangan dengan Ikram, awal bulan Mei lalu saat ketemu di Bandung, ia mengaku terkejut saat tulisannya dikomentari oleh Mas Andre.

"wuah, gue senang banget tulisan gue dikomentari sama Andreas Harsono", tuturnya.

Di atas dipan tempat tiduranya saya menemukan dua lembar kertas ditempel di dinding kamar kos-kosnya yang tak terlalu luas itu.

"itu adalah komentar dari kang Agus, saat aku nulis di Boul (boulevard, pers mahasiswa ITB)", sahutnya.

Saya coba menangkap raut ceria di wajah Ikram. Ada apa dengan komentar Andreas, ada apa juga dengan komentar Agus Sopian, sampai-sampai Ikram memajangnya di atas tempat tidurnya. Apakah itu berlebihan?

Saya mencoba menjawab dengan pengakuan sama seperti yang saya alami. Kenapa juga saya merasa begitu bangga bisa kenal orang-orang Pantau itu?

Dalam perbincangan kecil dengan Ikram, saya menemukan jawaban.
"karena mereka sangat memperhatikan kami". Ikram tak menolak. Orang-orang seperti Andreas, Kang Agus, ini lah yang masih mau meluangkan waktu untuk memperhatikan perkembangan para calon wartawan, pers mahasiswa ini dan media Indonesia pada umumnya.

Terima kasih. Oh ya, saya mbok minta foto-foto yang Anda ambil saat kami berada di apartemen Anda itu. Saat main kartu dengan Norman, putra Anda, juga Hendrik dari Papua, Billy dari Pers mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, dan Turyanto dari Pers Mahasiswa Universitas Lampung yang saat ini sedang magang di harian Bisnis Indonesia. Ya, semoga anda tidak keberatan untuk membaginya di milis jurnalisme-sastrawi. Terima kasih.

Salam,
Muhamad Sulhanudin
Pegiat LPM Hayamwuruk
Lembaga Pers Mahasiswa
Fakultas sastra Undip

Anonymous said...

Mas Andre, Kenapa Anda merasa tidak nyaman dengan embel-embel sapaan nama itu?

Dalam kultur Jawa, embel sapaan mas,lek,kang dan lain-lain sudah lazim digunakan. Orang Jawa amat menjunjung yang namanya tata krama, sopan santun, dll. Bagaimana seharusnya ketika orang muda berhubungan dengan orang yang berusia di atasnya. Ini adalah sebuah bentuk penghargaan.

Saya pun sudah terbiasa menggunakannya. Saya tak merasa tergganggu ketika menggunakannya karena begitulah seharusnya. Dan itu tidak berlebihan, kecuali misalnya saya memanggil anda dengan sapaan Raden Mas Kanjeng Ndoro Juragan .....

Orang Amerika memanggil lawan bicaranya dengan langsung menyebut namanya. It's okey for them, but not for us as Indonesian people and for me as a javanese people. Toh, ketika menyebut presiden mereka akan menggunakan nama Mr. Presiden.

Saat kuliah dosen saya di jurusan Sastra Inggris yang dari Amerika menyebut rekan kerjanya dengan embel-embel Mister. Kadang dia malah menyebut mahasiswanya dengan embel-embel mas. Mas Udin, Mas Parto, dll. Dia saat ini tinggal di Salatiga dan mengaku sangat kagum dengan budaya Jawa dan Indonesia. Orang Indonesia katanya ramah-ramah dan sangat menghargai orang lain.

By the way, Anda ini orang mana? orang Cina, orang Jawa, orang Indonesia, atau orang Amerika?

Udin

Andreas Harsono said...

Udin yang baik,

Saya menunggu-nunggu pertanyaan ini sejak lama. Minggu ini kebetulan agak sibuk. Tapi minggu depan, saya akan menerangkan pertanyaan, "Who am I?"

Anonymous said...

Waduh, Mas Andre, saya jadi gak enak soal cerita ayah saya yang seumuran dengan Mas Andre. Feeling geeting older and older, sejauh yang saya tahu, jarang membuat seseorang merasa lebih baik. Harus ada middle-age crisis yang dilewati segala, he he he ...

Tentang kesadaran bahwa ternyata orang sebantaran Anda telah beranak seumur saya, saya jadi ingat ledekan seseorang. Saya dikata mengidap Electra Complex. Keterlaluan!

Salam,
Leny

ikram said...

Wah Udin.
Kok diceritain sih.
Jadi malu.

Untung kamar gua selalu rapih ya :)

Sapariah said...

Kagum. Kata itulah yang setidaknya menggambarkan pandangan saya pada Mas Andreas—Ya, panggil Mas Andreas juga karena lebih familiar. Banyak yang gunakan panggilan ini sih. Mau diubah panggil koko?
Saya bener2 salut banget sama beliau. Pernah saya dengar orang bilang Andreas itu terlalu sombong, angkuh. Waduh, kalau orang sombong seperti dia, bagaimana tidak sombongnya. Setuju kata Udin.
Kalau dibilang orangnya keras banget. Wah, saya setuju sekali. Kelihatannya saja lembut tapi sangat keras dan tegas sekali. (Galak juga sih sepertinya…)
Di Pontianak, selama ini, tempat saya hidup dan berkutat menjadi wartawan, semua orang yang pernah saya temui tidak pernah mempunyai pemikiran seperti dia. Makanya kala ketemu dan dengar pemikirannya sempat heran dan merasa aneh juga.
Misalnya kalau dia bicara tentang nasionalisme, konflik dari Aceh, Kalimantan, Ambon dan daerah lain di Indonesia. Yang muncul dalam pikiran saya “orang ini aneh banget. Pikirannya beda sama kebanyakan orang. Berani sekali dia!
Pernah Mas Andreas tanya bagaimana tanggapan saya terhadapnya. Saya bilang saja apa yang ada dalam pikiran “orang yang aneh!” Dia hanya tertawa saja. Dalam batin, siapa sih aku berani2nya bilang gitu sama AH.
Ini lagi tentang panggilan, perbincangan Tionghoa di Jakarta (Pulau Jawa) sejak lama saya memendam pertanyaan. “Mengapa ya, kok China di Pulau Jawa itu, Jawa banget. Dari ngomongnya, namanya, semua mau kejawa-jawaan.”
Jadi kalau ada warga Tionghoa dari Jakarta yang datang ke Pontianak dari dialeknya yang ‘Jawa banget’ itu sudah tahu. “Oh, itu China Jawa.” Trus kala saya jalan-jalan di Jakarta, betemu dua orang Tionghoa sedang bincang2, mereka ngomong pake bahasa Indonesia (tentu yang Jawa banget). Mengapa ya?
Apakah karena doeloenya mereka tertekan. Dipaksa tidak boleh menggunakan bahasa ibu harus bahasa Indonesia, supaya terkesan membaur, gitu lo. Apa benar? Mungkin Mas Andreas bisa menjawabnya.
Nah, kondisi di Pontianak (Kalbar) itu sangat berbeda. Panggilan-panggilan China kerap terdengar. Sama dengan lainnya. Cuma memang paling familiar panggilan abang, jika etnis lain yang memanggil. Kalau sesama Tionghoa juga ngomongnya pake bahasa China.
Teman Tionghoa saya, namanya Andreas Acui, saya panggil Bang Acui. Setiawan Lim, saya panggil Bang Lim. Kebanyakan lebih familiar dengan panggilan nama China daripada nama Indonesia. Kok di Jawa lain ya?

Andreas Harsono said...

Saya ingin menjawab komentar dari Muhamad Sulhanudin (Semarang) dan Sapariah (Pontianak) dengan mengajak kita belajar dari psikososiolog Erik Erikson.

Sapariah menyebut saya sebagai “orang Cina Jawa” karena logat saya bicara beda dengan Tionghoa di Pontianak. Namun Sulhanudin ragu identitas saya sebenarnya apa. Ia bertanya, “By the way, Anda ini orang mana? Orang Cina, orang Jawa, orang Indonesia, atau orang Amerika?”

Who am I? Siapakah saya?

Siapakah Sapariah? Siapakah Sulhanudin? Siapakah Andreas?

Saya akan menjawab pendek saja namun kalau Anda tertarik dengan jawaban panjang lebar, sabar barang setahun deh, karena tahun depan, buku saya akan terbit, “From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.” Disana saya akan menyinggung soal identitas (promosi nih yeh … )

Erikson seorang ilmuwan kelahiran Frankfurt pada 1902 namun pada awal 1930-an pindah, sekolah dan bekerja di Universitas Harvard, Amerika Serikat, hingga meninggal pada 1994.

Ayahnya seorang Danish (orang asal Denmark) namun si ayah meninggalkan ibunya ketika Erikson masih dalam kandungan. Ibunya Karla Abrahamsen seorang perempuan Yahudi.

Ketika Erikson umur tiga tahun, si ibu menikah dengan Dr. Theodor Homberger, seorang Yahudi yang sekaligus mengadopsi Erik muda, sehingga nama bocak kecil itu pun jadi Erik Homberger. Mereka pun pindah ke Karlsruhe di daerah lembah Sungai Ruhr.

Ketika kecil, sebagai seorang anak bertubuh tinggi, berambut pirang, ia mengalami krisis identitas di kalangan teman-teman sesama Yahudi. Ia diolok-olok sebagai anak Danish. Tapi di sekolah Jerman umum, ia diolok-olok sebagai anak Yahudi karena namanya Homberger.

Identitas tampaknya jadi masalah penting buat Erikson, baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam teori-teorinya tentang identitas orang. Ia mengarang banyak buku. Ia juga banyak mengajar. Kuliah-kuliahnya sangat terkenal. Orang sering membandingkan Erikson dengan Sigmund Freud.

Erikson terkenal karena menemukan postulat “Eight Stages of Psychosocial Development” maupun “Krisis Identitas”serta sering disebut sebagai "the father of psychosocial development" dan "the architect of identity."

Ia pernah mengatakan, "Human personality in principle develops according to steps predetermined in the growing person's readiness to be driven toward, to be aware of and to interact with a widening social radius."

Artinya, seseorang bisa punya lebih dari satu identitas dan identitas itu bisa berubah-ubah sesuai dengan perubahan lingkungan sosial maupun waktu. Multiple identities. Orang tidak pernah hanya punya single identity.

Seorang Andreas Harsono bisa menjadi orang Jawa ATAU juga orang Tionghoa. Ia juga sekaligus bisa jadi orang Jawa DAN orang Tionghoa. Ia juga sekaligus bisa jadi seorang Indonesia, Amerika (dari segi kebiasaan dan tingkah laku), Jawa, Tionghoa, Kristen, sekuler, sosialis, ayah, anak, mantan suami dan sebagainya.

Kebiasaan lingkungan kita senantiasa menyederhanakan identitas orang dengan status “Indonesia” atau “Cina.” Bahkan sering saya dengar orang beri komentar, “Oh dia itu sudah sangat Indonesia” seakan-akan suatu identitas itu adalah “zero sum game” –makin kurang kecinaannya berarti makin besar keindonesiaannya.

Anda bisa mengganti kata “Cina” dengan kata apapun. Pemikiran zero sum game itu tetap ada. Makin kurang Jawa dan makin kuat Indonesia. Makin kurang kedaerahannya, maka makin kuat keindonesiaannya.

Pepatah Melayu, “Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung” –sebuah pepatah yang benar namun disalahgunakan untuk menyudutkan orang Madura di Kalimantan—juga mengacu pada zero sum game tersebut. Ia seakan-akan hendak mengatakan, orang Madura harus mengurangi kemaduraannya untuk bisa menjadi bagian dari Kalimantan.

Saya membaca postulat Erik Erikson sama seriusnya dengan saya mempelajari pemikiran Bill Kovach.

Kalau Anda buka “Sembilan Elemen Jurnalisme,” Kovach mengatakan identitas-identitas kita itu seyogyanya kita pakai sebagai background untuk memperkaya liputan kita sebagai wartawan, bukan identitas itu untuk mendikte si wartawan.

Saya kira sekian dulu. Mudah-mudahan sementara ini memuaskan rasa ingin tahu Anda. Terima kasih.

Andreas Harsono said...

Biodata singkat Erik Erikson
(http://en.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson)

Erikson's heritage is somewhat mysterious. His biological father was an unnamed Danish man who abandoned Erik's mother before he was born. His mother, Karla Abrahamsen, was a young Jewish woman who raised him alone for the first three years of his life. She then married Dr. Theodor Homberger, who was Erik's pediatrician, and moved to Karlsruhe in southern Germany.
The development of identity seems to have been one of his greatest concerns in Erikson's own life as well as in his theory. During his childhood, and his early adulthood, he was Erik Homberger, and his parents kept the details of his birth a secret. So here he was, a tall, blond, blue-eyed boy who was also Jewish. At temple school, the kids teased him for being Nordic; at grammar school, they teased him for being Jewish.
Erikson's greatest innovation was to postulate not five stages of development, as Sigmund Freud had done, but eight. Erikson elaborated Freud's genital stage into adolescence plus three stages of adulthood.

Works
• Childhood and Society (1950)
• Young Man Luther. A study in Psychoanalysis and History (1958)
• Gandhi's Truth: On the Origin of Militant Nonviolence (1969)
• Adulthood (Edited book, 1978)
• Vital Involvement in Old Age (with J.M. Erikson and H. Kivnick, 1986)
• The Life Cycle Completed (with J.M. Erikson, 1997)

Collections
• Identity and the Life Cycle. Selected Papers (1959)
• A Way of Looking at Things: Selected Papers 1930-1980 (Editor: S.P. Schlien, 1995)
• The Erik Erikson Reader (Editor: Robert Coles, 2001)

Related works
• Identity's Architect: A Biography of Erik H. Erikson (Lawrence J. Freidman and Robert Coles, 1999)
• Erik Erikson, His Life, Work, and Significance (Kit Welchman, 2000)

Anonymous said...

was, mas andreas, jadi inget nih masih jadi mahasiswa. aku dulu di indikator, FE unibraw Malang ma kavling 10, sempat jalan ma mas andreas ke SMA Dempo. Waktu di Sby, ada Bill Kovach, eh pengen nyapa mas andreas, tapi malu mungkin udah lupa he he. Tapi, syukurlah, abang satu ini gak lupa untuk slalu bagi ilmu buat mahasiswa-mahasiswa.

purwanti, malang