Wednesday, August 01, 2001

Joyo@aol.com


"APA kabar?” seru Gordon Bishop. Dia mendekat, membuka tangan, dan merangkul dengan hangat. Bahasa Indonesianya agak kaku. “Tapi saya bisa membaca, lancar sekali, bagus, bagus,” ujar Bishop.

Praktek berbahasa Indonesia pun dipamerkannya. Kalimat-kalimat diucapkan dengan logat New York. Bunyi “ch” sangat tajam, bunyi “r” agak tumpul, dan frase “you know what I mean?” diucapkannya berkali-kali.

Bishop berusaha menyenangkan tamunya, yang datang dari Jakarta, mengunjungi tempat Bishop di sebuah apartemen dalam kondominium Pac Vendrome, di Jalan 56, daerah Manhattan, New York.

Ukuran apartemen Bishop lumayan, terletak di lantai tujuh, ada satu kamar tidur, dan satu ruang keluarga yang luas. Isinya penuh barang antik. Semuanya berbau oriental. Ada wayang kulit, topeng Cirebon, gebyok Jawa, ranjang Jawa, buku Jawa kuno, dan bertumpuk majalah.

Dekat jendela ada satu perangkat komputer, yang tak terlalu tua, tapi juga tak bisa dibilang mutakhir. “Dari komputer ini saya bekerja, menelusuri internet, melayani pelanggan, menjawab email,” kata Gordon Bishop.

Sehari-hari pekerjaan utama Bishop adalah menghadapi komputer itu.

“Ketika orang tidur, Gordon bekerja. Ketika orang bekerja, dia tidur,” kata Yudhis Tjoe, tertawa geli. Tjoe warga Indonesia yang sering bertandang ke tempat Bishop dan memperkenalkan diri sebagai “temannya Gordon.”

Bishop bersungut-sungut, “Kantor berita macam ini menuntut kecepatan. Joyo menyesuaikan diri dengan jam Indonesia,” kata Bishop.

Dia mengambil contoh berita kematian jaksa agung Baharuddin Lopa pada 3 Juli 2001 di Saudi Arabia. “Setengah jam sebelumnya Associated Press melaporkan dia sakit. Joyo masukkan segera. Setengah jam kemudian dia meninggal. Joyo juga langsung kirim berita itu,” kata Bishop.

Dia menggeser kursi, “Lopa orang baik. Mengapa Indonesia selalu kehilangan orang baik?”

Joyo adalah singkatan nama Joyoboyo, seorang pujangga Jawa abad 19, yang dikenal karena ramalan-ramalannya. Gordon Bishop memakai nama Joyo untuk kantor berita miliknya Joyo Indonesia News atau dikenal Joyo@aol.com.

Sejak Juli 1996, Joyo mendistribusikan lebih dari 80 ribu artikel, transkrip, kolom opini, laporan, dan sebagainya, semua dalam bahasa Inggris, kepada sekitar 150 pelanggannya dengan gratis. Sejak 1998 Joyo tak henti satu hari pun mengirim berita demi berita.

Kiriman-kiriman lewat email ini memiliki multiplier effect karena juga dipakai oleh berbagai mailing list lain. Dua organisasi di Jakarta juga minta izin Bishop untuk menaruh semua posting Joyo Indonesia News di situs web mereka.

Isi kiriman sebenarnya bermacam-macam berita dari The Jakarta Post hingga Reuters, dari Associated Press hingga Bloomberg, dari The New York Times hingga South China Morning Post. Juga The Asian Wall Street Journal, Financial Times, Fortune, Time, Newsweek, Foreign Affairs, The Australian, Green Left Weekly, Business Times, dan sebagainya.

Siapa yang mendapatkan mailing list Joyo? “Lihat ini, ini orang baik dari State Department. You know Edmund McWilliams?” katanya, seraya membuka-buka daftar alamat mailing list di layar komputer.

Mc Williams adalah seorang pejabat departemen luar negeri Amerika Serikat yang pernah jadi atase politik di Indonesia. Pada pertengahan 1998 McWilliams ribut dengan beberapa rekannya di kedutaan Amerika Serikat karena Mc Williams kurang suka dengan kebijakan resmi Amerika Serikat yang terlalu dekat dengan militer Indonesia.

Bishop dengan bangga menunjukkan nama hampir semua wartawan asing di Jakarta, profesor dari berbagai universitas yang menaruh minat pada Indonesia, juga orang Indonesia macam Laksamana Sukardi, M. Sadli, Dewi Fortuna Anwar, yang berlangganan Joyo.

“CIA pasti juga memanfaatkan Joyo,” kata Bishop.

Tapi wajah Bishop berubah murung ketika diingatkan soal kesulitan yang dihadapinya.

Pada 2 Juli 2001, para pelanggan Joyo mungkin terkejut ketika Joyo mengumumkan layanan gratis ini mungkin tak bisa bertahan lama tanpa bantuan dari pelanggan maupun kontribusi. Bishop bekerja dibantu satu atau dua orang Indonesia macam Yudhis Tjoe.

Dia tak punya pendapatan selain memanfaatkan tabungan yang dulu pernah didapatnya ketika bekerja di Indonesia pada 1970-an dan 1980-an. Beberapa organisasi dana, termasuk beberapa kedutaan asing di Jakarta, pernah membantu Joyo Indonesia News, dengan memberinya uang.

Sumbangan biasanya dilewatkan sebuah yayasan berbasis Jakarta, Indonesia Media Development Foundation, yang didirikan Bishop, Tjoe dan seorang temannya lagi. Tapi bantuan ini tak cukup bahkan untuk memenuhi keperluan pribadi Bishop.

Di apartemen Pac Vendrome ini, Bishop tinggal bersama putrinya, Naomi, seorang remaja hasil perkawinan Bishop dengan Nanis, istrinya, seorang putri Yogyakarta, yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Banyumas lebih dari 10 tahun lalu.

Jeffrey Winters, profesor Indonesia dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat, khawatir dengan keadaan Joyo dan hari itu juga mengirim bantuan US$ 2.000 buat Joyo. Winters juga menantang para pelanggan lain untuk membantu Joyo agar pengiriman berita mereka tak berhenti.

Bishop terharu ketika menceritakan satu persatu pelanggannya. “You know saya hanya punya satu mata?” Dia menunjuk mata kanannya yang palsu, beberapa tahun lalu, mata kanannya rusak karena kanker.

Kakinya juga rusak, dipasang pena, gara-gara kecelakaan yang merengut nyawa istrinya. “Butuh waktu dua tahun buat saya untuk tak terikat di kursi roda,” kata Bishop.

“Istri saya cantik sekali bukan?” kata Bishop. Dia menatap foto Nanis.

“Itu rumah yang saya beli di Yogyakarta. Ayah mertua saya seorang guru pencak silat. Ini foto ibu mertua saya. Aduh, dia orangnya anggun sekali.”

Di ruang tamu terdapat foto Nanis dalam pakaian penari Jawa. Di dekat ranjang Bishop juga terpampang foto-foto mereka berdua.

Ketika Bishop, Tjoe dan tamunya hendak keluar, Naomi mengingatkan ayahnya agar jangan pulang terlalu malam.

“Dad, bisa beri saya beberapa dollar?” kata Naomi.

Bishop mesra mencium kening Naomi seraya menyodorkan beberapa lembar dollar ke tangan putrinya.

-- Andreas Harsono



Majalah Pantau No. 16 Agustus 2001

No comments: