Friday, February 23, 2024

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur) serta majalah Pantau (Jakarta) soal media dan jurnalisme.

Sejak umur 20 tahun, saya suka menulis soal jurnalisme, mulai dari sejarah sebuah majalah mahasiswa di Salatiga sampai kebebasan pers di Asia Tenggara. Bill Kovach, guru jurnalisme, mendidik saya buat menjadi wartawan yang lebih baik ketika belajar di Universitas Harvard. Ini membuat saya suka buat berbagi pengalaman dan ilmu, dari etika sampai liputan.

Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 80 lokasi, selama tiga tahun. Saya menulis tempat menarik. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Glodok, Jakarta 2019
Ini soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Kedua anak saya lahir di Jakarta. Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta kerja. Saya sering mengunjungi New York. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di New York. 

Forum Berbagi buat Penyintas Perundungan Busana Perempuan

Beberapa anggota Forum Berbagi dalam demonstrasi Jakarta 2023.

Forum Berbagi adalah group buat para penyintas perundungan busana. Ia bertemu online, minimal sebulan sekali, saling berbagi dan saling bantu, secara sosial, psikologis juga finansial. Ia rutin diadakan setidaknya setiap Jumat malam terakhir. 

Acara Forum Berbagi tak direkam, difoto atau dikutip kecuali ada izin dari pribadi bersangkutan. Ia dimulai pada Maret 2021 sesaat sesudah tiga menteri bikin surat keputusan bersama buat melarang pemaksaan jilbab di sekolah-sekolah negeri. Namun aturan tersebut dicabut Mahkamah Agung pada Mei 2021. 

Menurut Komnas Perempuan, setidaknya ada 73 aturan wajib jilbab di seluruh Indonesia per Agustus 2023. Mereka sudah minta Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama agar meninjau ulang berbagai aturan diskriminatif tersebut. 

Hingga kini sudah lebih dari, 1,500 orang berbagi dalam Forum Berbagi, mulai dari ibu dan ayah yang mengeluh dengan kelakuan para guru terhadap putri-putri mereka sampai perempuan muda yang mencoba bunuh diri.

Ada empat orang yang memberikan waktu buat merintis Forum Berbagi: Andreas Harsono (Jakarta, peneliti hak asasi manusia), Anis Hidayah (Depok, pembela hak buruh migran), Ifa H. Misbach (Bandung, psikolog) dan Suzanna Eddyono (Yogyakarta, sosiolog). 


Friday, February 09, 2024

Maklumat Komunitas Utan Kayu


Mendekati hari pemilihan umum, kami meminta Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo mampu memperlihatkan diri sebagai pemimpin yang jujur dan adil. Waktunya tidak banyak, Tuan Presiden. Kita hendak terus menjadi bagian dari warga dunia yang beradab dalam berpolitik dan berdemokrasi, atau terlempar menjadi bangsa yang membiarkan kesewenang-wenangan menang. 

Kami sependapat dengan guru-guru besar, pengajar filsafat, rohaniwan, dan lain-lain yang memaklumkan bahwa jujur dan adil adalah dasar etika politik kita. Sejak Reformasi 1998, kita mendasarkan pemilihan umum pada dua nilai itu. Hanya bila pemilu kita jujur dan adil, kita bisa beroleh pemerintahan yang legitimate.

Perbuatan Anda memanipulasi lembaga-lembaga tinggi negara dan lembaga negara, anggaran negara dan sumber daya pemerintahan, serta bersekongkol dengan oligarki demi kepentingan politik keturunan Anda, adalah praktik kekuasaan yang melukai bukan saja demokrasi, tapi rasa keadilan dan nurani kami. 

Waktunya tidak banyak, kami mendesak Anda meninggalkan Istana dengan terhormat. Sebab, kejujuran dan keadilan adalah dasar kita mengelola tujuan bernegara. Pemimpin yang tidak jujur dan tidak adil, akan dikenang sebagai penguasa lalim. Sejarah Reformasi belum terlalu lama untuk dapat Anda ingat.

Kami mendesak Anda berhenti terlibat dalam upaya lancung memenangkan calon presiden dan calon wakil presiden, serta partai politik yang diisi oleh putra-putra Anda. Sebagian pembantu Anda di kabinet, kami yakini sebagai orang-orang berintegritas tinggi. Mereka memegang kuat etika profesi. Anda tak bisa terus mencundangi mereka. 

Pada kesempatan ini, kami menyerukan pula kepada seluruh warga negara Indonesia, untuk menggagalkan upaya Anda menegakkan politik dinasti, Tuan Presiden. Kami berseru agar warga menggunakan hak pilih sebagai kewajiban sosial mempertahankan demokrasi kita agar tidak direbut oleh koalisi Anda.

Jakarta, 9 Februari 2024

Friday, January 19, 2024

10 Pertanyaan soal Sejarah Jurnalisme di Indonesia

SAYA susun semua pertanyaan ini buat diskusi bersama lembaga pers mahasiswa Didaktika di Jakarta pada 19 Januari 2024. Ini buat memantik diskusi soal sejarah jurnalisme di Indonesia. Ia mencakup periode Hindia Belanda. Semua jawaban, kecuali satu buah, dengan mudah bisa didapat dengan Google.  

-- Andreas Harsono

Diskusi di Didaktika, Universitas Negeri Jakarta.

 1.⁠ ⁠Pada 1744, suratkabar Bataviase Nouvelles terbit di Batavia. Ia dianggap sebagai suratkabar pertama yang terbit di Hindia Belanda. Kapan suratkabar ini dibredel?

 2.⁠ ⁠Tjahaja Sijang terbit sejak 1869 dari Manado. Ia dianggap sebagai suratkabar berbahasa Melayu pertama di Hindia Belanda. Kapan suratkabar ini tutup? 

 3.⁠ ⁠Pada 1933-1934, di kota Jember terbit suratkabar Pembrita Djember. Ia tutup sesudah editornya ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan menghina seorang Belanda. Siapa nama redaktur kepala suratkabar ini? Apa judul bukunya yang terkenal terbitan 1947? 

 4.⁠ ⁠Di Bandung pada 1966, sekelompok mahasiswa menerbitkan suratkabar Mahasiswa Indonesia guna meliput berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia. Ia dibredel pada 1974. Siapa pemimpin redaksi suratkabar mahasiswa ini? Berapa sirkulasi puncak suratkabar tersebut?

 5.⁠ ⁠Sejak 1967, ketika Indonesia sudah mulai menguasai Papua Barat, diberlakukan pembatasan terhadap wartawan asing. Ia berlaku sampai sekarang. Berapa jumlah anggota clearing house di Kementerian Luar Negeri yang ditugaskan seleksi permohonan wartawan asing? Kementerian dan lembaga mana saja yang diwakili mereka?

 6.⁠ ⁠Pada Oktober 1975, militer Indonesia menembak mati lima wartawan Australia di kota Balibo, ketika mereka meliput penyerbuan Indonesia ke Timor Timur. Siapa nama kelima wartawan tersebut? Dan siapakah nama wartawan keenam yang ditembak mati di Dili?

 7.⁠ ⁠Pada Juni 1994, pemerintahan Presiden Soeharto bredel tiga mingguan: Detik, Editor dan Tempo. Sebuah organisasi wartawan muncul sebagai alat perjuangan buat kemerdekaan pers. Beberapa anggotanya lantas ditangkap dan dihukum penjara. Apa nama organisasi tersebut? Kapan ia didirikan?

 8.⁠ ⁠Pada Juli 1998, detik.com mulai muncul dari Jakarta, namanya diambil dari mingguan Detik, yang dibredel 1994. Ia menjadi media digital pertama di Indonesia. Pada Agustus 2011, Detik dijual kepada perusahaan lain. Apa nama perusahaan pembeli ini? Berapa harga yang dibayar? 

 9.⁠ ⁠Pada Juli 1999, Jawa Pos News Network bikin suratkabar lagi di Ambon, guna mengimbangi Suara Maluku, suratkabar milik mereka, agar liputan suratkabar satunya bisa meliput komunitas Muslim. Suara Maluku dituduh hanya menyuarakan komunitas Kristen. Apa nama suratkabar baru tersebut?

10.⁠ ⁠Pada 28 September 1999, seorang wartawan dari lembaga pers mahasiswa Teknokra memotret sebuah demonstrasi di Universitas Bandar Lampung. Dia gugur dalam tugasnya. Siapakah nama wartawan ini? Bagaimana dia meninggal?