Friday, November 19, 2021

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya menyukai jurnalisme sejak di kampus Salatiga. Saya bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000-2008, saya menyunting Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) dan Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard lewat Nieman Fellowship. Saya salah satu wartawan awal dari International Consortium of Investigative Journalists.  


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Saya menulis tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Ini cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak. Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota media paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Pelatihan Menulis buat Universitas Ciputra

Andreas Harsono dalam wawancara Al Jazeera di Jakarta.

PELATIHAN ini dirancang buat mahasiswa dan dosen Universitas Ciputra, Surabaya, yang ingin belajar menulis fakta agar enak dibaca –biasa disebut “jurnalisme” serta melakukan wawancara, riset dan verifikasi. Tujuannya, agar peserta bisa menulis buat media sosial atau media biasa, berupa feature atau komentar. 

Hasil sampingannya, peserta diharapkan mengerti berbagai pasal karet di Indonesia agar peserta tak terjebak dengan kelenturan pasal-pasal ini dalam memakai WhatsApp, Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya. 

Peserta diharapkan transparan, memakai nama lengkap dalam media sosial. Total empat sesi, setiap Rabu pukul 19.00-20.30 WIB dengan Zoom. 

Pelatihan online ini diadakan School of Entrepreneurship and Humaniora bekerja sama dengan Biro Mahasiswa dan Alumni dari Universitas Ciputra. 

INSTRUKTUR

Andreas Harsono, bekerja buat Human Rights Watch, anggota International Consortium of Investigative Journalists, ikut Nieman Fellowship di Universitas Harvard, menerbitkan buku "Agama" Saya Adalah Jurnalisme serta Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia.

Sesi 24 November – Sesi ini membahas “Sepuluh Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Ini adalah dasar dalam orang menulis buat keperluan publik termasuk media sosial. 


Sesi 1 Desember -- Tak ada hukum dalam menulis namun menulis punya perkakas, tepatnya 50 buah, terbagi dalam empat bagian besar. Sesi ini juga dilengkapi dengan teknik wawancara. 

Bacaan: Perkakas menulis dari Roy Peter Clark. Bila Anda biasa, atau sedang belajar menulis dalam bahasa Inggris, tidak rugi untuk membeli buku Writing Tools karya Clark. Khusus wawancara, bacalah ”Ten Tips for Better Interview.” 

Sesi 8 Desember -- Feature adalah salah satu struktur penting dalam penulisan, mulai muncul pada 1920an. Setiap orang yang ingin menulis perlu belajar soal struktur ini. Di Indonesia, ia secara sistematis diperkenalkan oleh Goenawan Mohamad dari Tempo. Ia terdiri dari fokus, angle dan outline. 

Bacaan: “Feature: Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi” karya Andreas Harsono. 

Pekerjaan rumah: Wawancarailah seseorang lalu buatlah satu tulisan pendek, 200-500 kata. Bacalah “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah guna mengetahui cara menggambarkan sesuatu dan menciptakan suasana.

Sesi 15 Desember -- Para peserta akan membacakan tugas feature. Peserta lain menanggapi. Pekerjaan rumah mohon dibagikan kepada sesama peserta agar setiap peserta bisa membaca. 

***