Tuesday, October 25, 2022

Mari Ulurkan Tangan buat LBH Jakarta

Pada Juni 2014
, saya diundang ke Amsterdam buat ikut acara Human Rights Watch soal penggalangan dana untuk kegiatan hak asasi manusia. Ini pertama kali saya diperkenalkan dengan World Giving Index. 

Charities Aid Foundation, sebuah organisasi London, membuat riset tahunan soal angka-angka amal tersebut. Saya dijelaskan berbagai indikator dan metodologi mereka. Intinya, mereka menghitung berapa banyak hibah yang diberikan berbagai organisasi maupun individu buat kegiatan amal. Sudah lebih dari satu dekade mereka bikin temuan tahunan.

Di Amsterdam, saya tak kaget ketika mengetahui Amerika Serikat adalah negara-bangsa yang paling banyak sumbangkan uang dan kerja buat amal, dari soal kelaparan sampai banjir, dari pendidikan sampai krisis iklim. Negara-negara Eropa –kecuali Inggris, Irlandia dan Belanda-- jauh di bawah Amerika. Namun saya diingatkan bahwa ada satu bangsa, yang angka-angkanya naik, dan akan cepat menyalip Amerika Serikat. 

Namanya Indonesia! 

Tak lama kemudian, Indonesia terbukti mendahului Amerika Serikat. Pada 2020, index Indonesia berada pada 69%, praktis sama dengan 68% pada 2021. Di seluruh dunia, Indonesia memiliki tingkat tertinggi soal sumbangan uang (84%) dan kerja (63%) pada 2021. Saya bangga sekali dengan kemurahan hati bangsa Indonesia. 

Persoalannya, penyebaran sumbangan ini kurang merata, terutama pada sektor hak asasi manusia. Ia lebih banyak pada sektor keagamaan serta bencana alam. 

Saya ingin sumbangan juga diarahkan buat para pekerja hak asasi manusia, dari bantuan hukum sampai lingkungan hidup. 

Salah satunya adalah Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. Ini salah satu organisasi hak asasi manusia tertua di Indonesia. Ia didirikan pada 1971 oleh Adnan Buyung Nasution dan kawan-kawan. Gubernur Jakarta Ali Sadikit bukan saja mengesahkan tapi juga secara rutin beri bantuan keuangan dari anggaran pemerintah. 

Sejak 1970an, LBH Jakarta membela orang yang hak dirampas, terutama dari kalangan kurang mampu, termasuk menggugat Gubernur Sadikin karena perampasan lahan. Bang Ali ngomel tapi tetap dukung. Sebagai wartawan muda, saya sering meliput Bang Ali, kadang geli juga, lihat Bang Ali mengomel tapi uang tetap mengalir. Saya salut dengan Bang Ali. 


Kini sudah lima dekade LBH Jakarta berjalan, kerja mereka luar biasa, dari gugat privatisasi air bersih sampai perampasan lahan. LBH Jakarta juga gigih memperjuangkan kebebasan beragama dan kepercayaan. Dari diskriminasi terhadap minoritas Ahmadiyah sampai kesulitan gereja Kristen dapat izin. LBH Jakarta juga tak pandang bulu dalam bela warga, terlepas dari agama atau kepercayaan, orientasi seksual, gender, umur, suku dan sebagainya. 

Namun keuangan masih pas-pasan. Saya sering kepikiran kalau ingat gaji yang diterima para pengacara mereka. Mungkin sedikit tertolong karena mereka masih muda, tanggungan belum sebesar mereka yang sudah berkeluarga, yang lebih berumur. 

LBH Jakarta juga lebih banyak dapat bantuan dari organisasi donor, terutama luar Indonesia. Ini cukup memalukan bukan? Dimana kedermawanan warga Jakarta soal hak asasi manusia? 

Saya pribadi sumbang rutin, dengan memotong kartu kredit. Tak banyak jumlahnya, hanya Rp 500 ribu tiap bulan. Tapi alangkah baiknya bila ada setidaknya 1,000 orang yang mau sumbang Rp 500 ribu sebulan. Ia berarti dapat Rp 500 juta setiap bulan –cukup buat bayar ongkos dasar di LBH Jakarta: gaji, listrik, air serta transit. Lebih baik lagi bila ada 2,000 orang, 5,000 dan seterusnya. Lebih baik juga bila angkanya lebih dari Rp 500 ribu bukan?

Mari bersama ulurkan tangan buat LBH Jakarta. Mari arahkan kedermawanan bangsa Indonesia ke sektor hak asasi manusia juga. 

Andreas Harsono


Keterangan dari LBH Jakarta

Sumbangan rutin bisa email simpul@bantuanhukum.or.id, telepon 021-3145518, selular 0878-87217774. Bisa juga dikirim ke rekening LBH Jakarta: 
  • Bank BCA 3053005167
  • Bank BNI 0010740908
  • Bank BRI 033501001770306
  • Bank Mandiri 1230003006741

Wednesday, October 19, 2022

Wartawan Ronald P. Siahaan di Depok dan M. Husnie di Jakarta

JAKARTA (11 Oktober 2022) -- Guru SMAN2 Depok Mayesti Sitorus bersama Ronald P. Siahaan, wartawan LiraNews dan VanusNews.com, yang juga alumnus sekolah tersebut, bertemu di Depok hari Senin. Saya ikutan, makan siang bersama, serta merekam. 

Keduanya saling kenal sejak 2020. Mereka sama orang Batak, sama Kristen, sama tinggal di Depok. Sitorus sering curhat dan mengirim empat buah foto pada Siahaan pada 30 September soal keadaan yang kurang mengenakkan buat Sitorus di sekolah.

Siahaan mantan wartawan Jurnal Nasional di Jakarta, biasa liputan hukum dan politik. Dia juga pernah kerja politik, ikutan kampanye pemenangan pemilihan umum buat pasangan SBY-JK pada 2004 serta SBY-Boediono pada 2009. Jurnal Nasional memang punya kedekatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. 

Pada 2009-2014, ketika Presiden Yudhoyono menjalani masa jabatan kedua, Siahaan bekerja buat legislator Ramadhan Pohan dari Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat. Pohan, juga orang Batak, sebelumnya pemimpin redaksi Jurnal Nasional

Dia ikut mendirikan Lumbung Informasi Rakyat, perubahan dari Blora Center, organisasi yang dulu mendukung Yudhoyono. Lira lantas mendirikan LiraNews. 

Di Depok, sesudah curhat dari guru Sitorus, Ronald Siahaan lakukan liputan, cover both sides. Dia minta keterangan dari kepala sekolah Wawan Ridwan. Namun tak dijawab walau mereka sering komunikasi. Beritanya straight news muncul di kedua media online tersebut pada 5 Oktober serta jadi viral.

Varus News muncul duluan, judulnya, "Miris, Rohkris SMAN 2 Depok Alami Diskriminasi." Beberapa menit kemudian, Lira News, muncul, "Alami Diskriminasi, Siswa Rohkris SMAN 2 Depok Tak Boleh Pakai Ruang Kelas."

Berikutnya sangat rumit. Guru Sitorus membuat surat pernyataan bahwa semua pemberitaan media, tidak benar. Berita Lira News dan Varus News dibilang "hoax." Saya yang ikut tweet juga dibanjiri tuduhan sebarkan "hoax." Siahaan dan Sitorus cerita apa saja yang terjadi sehingga Sitorus berbalik. Siahaan membagikan semua WhatsApp, yang terkait berita tersebut, yang ada dalam telepon dia ke saya. 

Berita tersebut tentu saja bukan hoax. Ia dilakukan dengan liputan jurnalistik baku. Saya tanya pada Sitorus mengapa dia berubah posisi. Sitorus beberapa kali menyebut kata "main cantik." Ada kata Sitorus "dipindahkan" dari SMAN2 Depok. Rumit sekali. Dia ceritakan dengan panjang. 

Saya juga bertemu M. Husnie, wakil pemimpin redaksi LiraNews, yang menyunting berita dari Siahaan, serta memuatnya di LiraNews. Husnie adalah kawan lama Ronald P. Siahaan. Kami bertemu sambil makan siang di daerah Senayan, hari Selasa.

Husnie juga wartawan veteran. Karirnya dimulai dari Indonesian Press Photo Service (IPPOS) sebagai karyawan kamar gelap sejak 1987. Dia memang suka memotret. Dia lantas bekerja di harian Angkatan Bersenjata dan Berita Kota

Husnie cerita soal salah satu pengalaman paling menarik dalam karirnya: wawancara Hasan di Tiro dari Acheh/Sumatra National Liberation Front di Banda Aceh pada Oktober 2009, lima tahun sesudah perjanjian Helsinki. Dia diundang datang ke Banda Aceh, "buat makan dengan Wali Nanggroe Aceh." Dia berikan foto dia bersama Hasan di Tiro. 

Husnie punya pengalaman panjang soal tidak menghapus berita dari website. Dia terbiasa menerima tekanan. Dia berpendapat selama sebuah pemberitaan sudah dilakukan dengan prosedur benar, termasuk klarifikasi, sesudah terbit, dia takkan mau take down. LiraNews pernah diblokir oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi karena sebuah pemberitaan tentang kepala polisi Jakarta. 

Senang bisa berjumpa dengan Ronald Siahaan dan M. Husnie. Kami punya banyak kenalan bersama. Saya juga jadi lebih mengerti berbagai tantangan dan kesulitan wartawan yang bekerja setiap hari, hampir tanpa henti, straight news. Husnie sembari ngobrol selalu memeriksa telepon, kadang lakukan editing

"Kami ini tidak bisa dibeli Bang!" kata Siahaan. 

"Tapi hidup wartawan kan selalu miskin. Sudah jadi idealisme wartawan."

Saya rasa keadaan Sitorus sangat sulit, ibarat buah simalakama, imbasnya pada Siahaan, yang punya niat bantu menyalurkan curhat Sitorus. Saya belum sanggup menuliskannya. Ia memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang banyak. 

Saya hanya berharap keadaan membaik di SMAN2 Depok. #complicated


UPDATE

Pada 12 Oktober 2022, sehari sesudah pertemuan ini, Mayesti Sitorus bertemu dengan para pejabat Kementerian Pendidikan. Mereka bikin sebuah surat hasil pertemuan dimana pihak sekolah sepakat menyediakan ruang buat ibadah Kristen. Namun pertemuan tersebut juga, sekali lagi, menyebutkan tidak ada diskriminasi di SMAN2 Depok. Ada tandatangan Sitorus dalam surat tersebut.