Friday, May 13, 2022

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur) serta majalah Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok), Yayasan Pantau dan Suara Papua (Jayapura). Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme di Universitas Harvard lewat Nieman Fellowship. Saya salah satu wartawan awal dari International Consortium of Investigative Journalists.  


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Saya menulis tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Ini cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak. Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota media paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Thursday, May 12, 2022

Pelatihan Menulis di Sibolangit

Kursus tiga hari ini dirancang buat karyawan Yayasan Ate Keleng, Sibolangit, yang ingin belajar jurnalisme –lakukan wawancara, riset dan verifikasi—agar bisa menulis berita, feature, maupun mengisi buat website dan media sosial. 

Ia diharapkan membuat peserta sadar akan berbagai tantangan hukum menulis dengan etis, seyogyanya, juga tak berujung dengan persoalan hukum, termasuk dalam memakai WhatsApp, Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya. 

Isinya enam sesi, dari pukul 9 sampai 14, serta satu sesi tanya jawab hari Rabu. Peserta diharapkan punya waktu buat mengendapkan materi belajar, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kursus ditekankan pada diskusi dalam kelas dan latihan.

INSTRUKTUR

Andreas Harsono, bekerja buat Human Rights Watch, ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, serta Yayasan Pantau di Jakarta, anggota International Consortium of Investigative Journalists, ikut Nieman Fellowship di Universitas Harvard, ikut menyunting Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat serta menulis buku "Agama" Saya Adalah Jurnalisme serta Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Soeharto Indonesia.

SESI PERTAMA - Sepuluh Elemen Jurnalisme

Perkenalan, pembicaraan silabus dan membahas “Sepuluh Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel serta membandingkannya dengan praktik jurnalisme di Indonesia.


SESI KEDUA - Teknik Wawancara

Melihat teknik-teknik yang dikembangkan oleh International Center for Journalists. Peserta melakukan praktik wawancara di depan kelas. 

Bacaan: ”Ten Tips For Better Interview” dan “Bagaimana wawancara dengan pikiran terbuka?” Bila tertarik tahu lebih banyak soal teknik wawancara, bisa baca Manual dari Human Rights Watch soal liputan trauma.

Pekerjaan Rumah: Pulanglah ke rumah dan mewawancarai orang tua Anda. Rekamlah wawancara dgn telepon (video atau audio). Bagaimana proses kelahiran Anda serta tumbuh besar? Tanyakan apa suka dan duka dalam kehidupannya? Rekaman ini akan kita dengar sama-sama di kelas keesokan hari. Setiap peserta perlu fokus pada 5 menit rekaman saja. 

SESI KETIGA - Struktur Piramida Terbalik dan Feature

Bacaan: “Feature: Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi” dan “Menulis Siaran Pers dengan Piramida Terbalik.” Goenawan Mohamad dari majalah Tempo menulis opini yang sering dikutip orang pada 1986 berjudul, "The Death of Sukardal."

Pekerjaan Rumah: Buatlah sebuah siaran pers soal kegiatan Yayasan Ate Keleng dengan format piramida terbalik. Bila Anda mau, juga bisa bikin sebuah opini dengan format feature. Tema opini bebas tapi harus disandarkan pada wawancara dan riset. Pekerjaan rumah ini akan didiskusikan bersama besok. Maksimal 600 kata buat siaran pers, 800 kata buat feature. Bayangkan bahwa naskah ini akan dimuat di website Yayasan Ate Keleng atau Facebook pribadi masing-masing. 

SESI KEEMPAT - Pekerjaan Rumah 

Kita akan diskusi soal pekerjaan rumah tentang wawancara. Bila ada video, mohon siapkan slide projector.

SESI KELIMA - Perkakas Menulis

Tak ada hukum dalam menulis. Namun menulis punya perkakas, tepatnya 50 buah, terbagi dalam empat bagian besar.

Bacaan: Baca nasehat menulis dari Roy Peter Clark. Bila Anda biasa, atau sedang belajar menulis dalam bahasa Inggris, tidak rugi untuk membeli buku Writing Tools karya Clark. Alfian Hamzah dari majalah Pantau banyak memakai perkakas denga baik dalam laporan 2003 dari Aceh Barat, "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan."

SESI KEENAM - Pekerjaan Rumah

Kita akan diskusi soal pekerjaan rumah tentang siaran pers dan feature. 

SESI KETUJUH - Tanya Jawab

Silahkan membaca blog Andreas Harsono untuk tahu berbagai persoalan hak asasi manusia di Indonesia, termasuk kebebasan pers. Blog ini punya banyak informasi soal berbagai persoalan hukum soal pencemaran nama