Tuesday, May 18, 2021

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya menyukai jurnalisme sejak di kampus Salatiga. Saya bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000-2008, saya menyunting Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) dan Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard lewat Nieman Fellowship. Saya salah satu wartawan awal dari International Consortium of Investigative Journalists.  


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Saya menulis tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Ini cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak. Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota media paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Elegi Yang Sempurna

Jakarta, 2 Mei 2021

08.24 WIB

Selamat pagi Yudh, kamu gimana kabarnya? Baik sepertinya. 

Yudh, pagi ini aku bangun dari tidur nangis lagi, cemas lagi, dan dadaku sesak lagi. Aku nangis sambil meluk diriku di dalam selimut sambil bilang “Yudh aku kangeeen banget sama kamu, aku kangen manja-manja sama kamu, aku kangen nangis dipelukan kamu”. 

Hari ini hari kesembilan aku tanpa kabar dan cerita dari kamu. Ini hari kesembilan aku gaada temen berkirim pesan, hari kesembilan aku menangis sendirian. 

Sembilan hari ini aku cukup kuat kok Yudh, aku berusaha agar ikhlas dengan perpisahan kita. Ini berat  buat aku. Sangat berat. Hari pertama setelah kamu mengakhiri hubungan, aku masih marah-marah kirim pesan, aku gak terima, aku marah, aku kecewa, aku benci kamu. Semalaman aku gak tidur Yudh, gak bisa tidur sama sekali.

Hari keduanya, masih sama, aku tetap nangis. Sorenya aku buka puasa sama temen-temen kuliah. Pulang dari sana aku cukup baikan, karena bertemu teman-teman. Walaupun pagi subuh tangisku pecah lagi Yudh. 

Hari ketiga, Ayu ke kossan buat nemenin aku. Ayu tiga hari di kossan aku. Cukup mendistraksi aku, tapi tetep aja. Aku tetep aja nangis. 

Minggu malam aku mutusin buat hubungi kamu lagi. Aku hubungi karena memang belum lega, belum terjawab pertanyaanku. Kenapa? Padahal aku sayang banget sama kamu. Selama telponan kamu menangis terus. Aku belum paham, kenapa kamu yang menyelesaikan tetapi kamu yang begitu bersedih? 

Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa sangat insecure Yudh. Ketika kamu bilang menyukai perempuan itu. Bergejolak rasanya. Aku langsung mempertanyakan diriku. Aku seburuk itukah? Aku sejelek itu?  Aku tidak pintar ya? Aku tidak seru lagi ya? Aku buka instagramnya berulang kali. Aku lihat. Semakin aku lihat semakin aku sakit. Aku mengasihani diriku. Menyedihkan sekali. 

Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Rasa kamu yang hilang tentu aku tak bisa mengembalikannya, mau sekeras apapun usahaku, tetap ga akan ada gunanya. Apalagi ketika kamu sudah tertarik dengan perempuan lain. Aku berusaha menerima keadaan bahwa memang Tuhan bisa membolak-balikkan perasaan. Tuhan bisa saja menghilangkan rasa selama dua tahun tujuh bulan itu.

Aku gak terima Yudh, masih belum bisa menerima. Aku kurang apa? Aku salah apa? Aku merasa sudah melakukan versi terbaik dari diri aku dalam menjalin hubungan . Aku merasa sudah memberikan penuh kasih sayang, perhatian dan waktu yang ada. Tapi usahaku tidak sesuai harapan. Memang manusia bukan tempat pengharapan. 

Waktu itu aku masih belum bisa memahami keadaan Yudh. 

Senin pertama setelah itu aku gak masuk kantor Yudh, aku izin, aku butuh istirahat dan mengganti tidurku sebelumnya. Senin itu aku hanya tidur, di atas kasur  dan tidak melakukan apapun. Tapi tentu saja menangis.  

Selasa aku masuk kantor. Di kantor berasa begitu berbeda, biasanya sampai kantor aku akan kirim pesan kepadamu dan bilang “Sayang aku sudah di kantor ya” sembari mengirimkan selfie-ku. Pagi itu nggak lagi. Aku hanya selfie dengan mata sembab dan menyimpannya. 

Rabu Ayu pulang, aku bekerja seperti biasa, aku merasa hari Rabu itu aku sudah cukup baikan, walaupun akhirnya subuh pagi di hari Kamis tangisku pecah lagi. 

Oh iya, sebelumnya aku sudah membuat jadwal untuk konseling. Walaupun aku sudah cerita kesemua orang yang kupercaya, tapi tetap saja aku membutuhkan pertolongan. Konselingku berjalan dengan sangat baik Yudh, aku menceritakan semua kesedihan, tanda tanya, sakit hati yang kurasakan, sembari sesekali menangis juga tertawa. Mungkin aku sudah gila. 

Tapi tidak Yudh, setiap orang pasti patah hati, tentu ini bukan patah hatiku yang pertama. Aku sudah terbiasa patah hati dari kecil Yudh, kamu tentu tahu kenapa. 

Saat konseling aku menyadari semuanya, aku mengerti. Aku  paham dengan kondisi hubungan kita. Sesaat itu juga aku menyadari kita memang tidak bisa bersama, hubungan kita memang sakit dan terlalu pahit untuk dilanjutkan. Aku menyadarinya Yudh. 

Ada perbedaan besar dari diri kita dalam menghadapi hubungan ini, tentu saja Yudh, salahnya bukan padaku, tapi di kamu. Kamu pun menyadarinya. 

Kesimpulan konseling membuatku lega Yudh, aku mulai menerima keadaan bahwa kita memang gak bisa bersama. Ada dinding besar yang tinggi berdiri tegap di antara kita. Selama ini dinding itu selalu aku pukuli untuk  hancur agar aku bisa menyentuh dan menggenggam kamu, tapi tentu saja dengan tanganku yang penuh luka. Kamu menyadari luka di tanganku, kamu tidak mau luka itu semakin besar, karena kamu tidak bisa memukul dinding itu juga,kamu tidak mau untuk sama-sama meruntuhkannya dan menggenggam aku, karena kamu tidak mau Yudh, kamu tidak mau tanganmu ikut terluka. 

Selama ini aku tidak merasakan luka itu Yudh, aku selalu mengobati tanganku dengan berbagai cara. Sehingga sampai saat ini aku melihat tanganku tak ada bekas luka sedikitpun. Aku selalu mengingat hal-hal yang bahagia dan baik yang kamu lakukan buatku, sampai aku lupa bahwa tanganku penuh luka. 

Aku  mengerti sekarang. Kamu egois, kamu individualis, termasuk ke dalam hubungan kita. Aku sebenarnya menyadari itu dari lama, tapi aku bertahan dan berpikir kamu akan berproses, menjalani hubungan yang dewasa dan penuh tanggung jawab denganku, tapi aku salah. Saat itu juga logika dan perasaanku seirama Yudh. Saat itu juga aku menyadari bahwa berpisah adalah jalan terbaik buat kita. 

Memoriku kembali berputar, tiga tahun lalu, dua bulan lalu, satu tahun lalu, lima hari lalu, semuanya berputar tidak beraturan. Kenangan baik dan buruk berputar dan berbenturan. Bahagia, sedih, kecewa dan marahku bertabrakan Yudh, tapi akhirnya aku menemukan garis penghubungnya.  Seketika aku semakin sadar dan paham. Memang jalan terbaik kita saat ini adalah berpisah.  

Pertanyaanku sudah terjawab Yudh. Insecureku hilang perlahan. Aku kembali kepada diriku, aku meminta maaf kepada tubuh dan diriku karena sempat meragukan dan membuatnya tersiksa.

Aku kembali menyayangi tubuh dan diriku Yudh. Aku sudah kembali bersahabat dengannya. Aku berterima kasih pada diriku yang masih sehat walaupun  sempat meragukannya dan tidak memperdulikannya. Aku bersyukur ia tak marah padaku. Ia tetap sehat meski aku kemarin tidak makan, tidak tidur dan menangis terus-menerus. Aku kembali sadar bahwa aku adalah perempuan hebat Yudh. Betapa hebatnya aku dengan perjalanan hidupku sejauh ini yang begitu sangat mendewasakan. 

Aku teringat  kepada sekelilingku, mereka  mendengarkan tangisanku, ceritaku, amarahku, kecewaku. Mereka  mendukung, menguatkan dan membantuku melewati hari-hari berat ini. Bersedia 24 jam untuk dihubungi, bersedia aku ajak jumpa kapan saja, bersedia kapan saja aku repotkan, berikan  motivasi dan ada yang menertawakan aku juga.  Itu semua untuk buat aku bertahan dan kuat melewati proses patah hati ini Yudh. 

Aku sekarang lega Yudh, logikaku sudah seirama dengan perasaanku. Walaupun tak aku pungkiri, sampai hari ini aku masih menangis karena merindukanmu. Aku masih menangis ketika teringat kamu. Aku hanya butuh waktu Yudh, buat mengikis perlahan-lahan perasaan sayang aku kekamu hingga hilang. Aku butuh waktu saja untuk pelan-pelan berhenti merindukan kamu, aku butuh waktu untuk pelan-pelan tidak menangis lagi. 

Aku begitu menikmati patah hati ini Yudh, ini adalah patah hati yang sempurna yang pernah aku miliki, mungkin juga patah hati yang sempurna di antara patah hati yang ada. Patah hati yang menemukan jawaban dan jalan. Sempurna, karena semuanya menemukan garis penghubungnya. Dari kamu, aku, dan sekelilingku. 

Yudh, aku masih ingin menyampaikan ini. Menyampaikan pesan yang sama seperti kita terakhir berbicara. Yudh, ketika kamu akan menjalin hubungan baru setelah ini, kuatkan hatimu untuk dapat berbagi kepada pasanganmu ya, jangan sampai ada aku yang lainnya setelah ini. Jangan lepaskan ia ketika rasamu hilang, jangan lepaskan ia ketika perempuan lain lebih menarik, tak akan ada habisnya Yudh. Carilah dan dapatkan jawabanmu sebelum memulai hubungan lagi ya, agar hubunganmu sempurna Yudh. Sempurna seperti patah hatiku. 

Salam dari aku.

Yanose Syahni





Thursday, May 06, 2021

Sarung Virus Corona dari Badui

KETIKA Hartoyo, Christine Siahaan dan kawan-kawan dari Suara Kita --sebuah organisasi yang banyak bantu korban kekerasan seksual-- bikin lelang kain dari sebuah perkampungan Badui, saya dibelikan sarung corona oleh isteri saya. 

Warnanya biru. Gambarnya ternyata memang virus corona.

Saya suka sekali. Bahan lembut. Enak dipakai sehari-hari di rumah. 

Saya tak sangka bahwa suku Badui sudah bikin sarung dengan gambar corona. Ini memang bukan buatan baru. Mereka sudah membuat sarung ini selama beberapa waktu. 

Dalam bahasa Latin, "corona" artinya "mahkota." Virus ini disebut coronavirus karena bentuknya memang mirip mahkota. Pada 1968, peneliti June Almeida dan David Tyrrell menggabung kata "corona" dan "virus" ketika mempelajari bagaimana virus yang biasa ada dalam burung dan mamalia bisa menclok ke tubuh manusia. Pandemi ini disebabkan oleh "coronavirus 2019" --Covid19-- karena virus ini ditemukan pada Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok. 

Pandemi ini membuat kehidupan delapan milyar manusia pada 2020-2021 terpengaruh. Entah berapa juta orang meninggal. Entah berapa perusahaan tutup terutama mereka yang bergerak di bidang dengan banyak orang berkumpul, termasuk transportasi, hiburan, pabrik besar.

Hebatnya, orang Badui sudah tahu bahaya virus. Mereka langsung lakukan lockdown ketika ada kabar virus baru mengganas. Menurut Kompas, setahun pandemi berjalan, tak ada satu pun warga Badui yang tertular virus. 

Mereka yang berada di Tangerang, Jakarta, dan Bandung, langsung diperintahkan pulang. Mereka yang ada dalam wilayah Badui, dilarang keluar. Mereka juga membatasi wisatawan datang ke daerah Badui. 

Ini reaksi yang terbentuk dari pengalaman lama dan terekam bahkan dalam sarung corona. Coba Anda Google dan lihat sarung Badui. Ada gambar corona. 

Sarung corona ini bukti bahwa masyarakat adat bukan tak tahu akan mekanisme hadapi pandemi. Mereka lebih tahu protokol kesehatan. Mereka batasi perjalanan mereka agar selamat dari pandemi.