Thursday, December 14, 1989

Duapuluh Tahun Kematian Soe Hok Gie

Andreas Harsono
Eksponen, 14-16 Desember 1989 

Banyak alasan untuk menyimpulkan bahwa Soe Hok Gie benar-benar lain dari yang lain, untuk tidak berlebihan menyebutkannya istimewa ataupun luar biasa, dari kalangan generasi muda. Bukan saja dikarenakan dia mati muda, ketika umurnya baru 27 tahun lewat dua hari. Tapi seperti halnya Chairil Anwar, sang penyair Indonesia, meski ia mati semuda itu namun merasa hidupnya relatif banyak yang telah diperbuat, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang banyak.

Dari nama saja jelas ia keturunan Cina, Tapi berbeda dengan rata-rata atau umumnya orang sejenis dia, Hok Gie tidak terjun ke arena bisnis ataupun olahraga, melainkan ke arena perjuangan yang jauh lebih luhur, melawan yang batil, menegakkan yang hak, demi kepentingan bangsa Indonesia, yang amat dicintainya. Bahkan demi kemanusiaan.

Yang membuat Hok Gie lain dari yang lain pula, ia tidak cuma tenggelam dalam renungan demi renungan di antara tumpukan buku-buku di kamar studinya. Ia tidak cuma mengunyah teori-teori dan pendapat-pendapat para pakar, ia tidak cuma ngomong melulu thok, akan tetapi juga terjun ‘in action’ ke front perjuangan. Sebaliknya, ia tidak pula hanya ‘in action’, tapi juga berpikir dan menggunakan otak. 

Dan yang lebih membuat Hok Gie terbilang ‘langka’, ia berpikir dan bereaksi, boleh dikatakan tanpa pamrih. Meski tampil sebagai pemenang, ia tidak mabuk kemenangan, tidak memanfaatkan kemenangan itu untuk memperkaya diri atau untuk sebuah kursi kekuasaan. Bahkan dalam kemenangan itu, Hok Gie masih juga memikirkan dan berbuat untuk kepentingan bekas musuh-musuhnya yang berhasil dikalahkan.

Mengenang 20 tahun tewasnya Soe Hok Gie, sang pejuang kemanusiaan itu, Andreas Harsono dari Universitas Satya Wacana, Salatiga, menulis untuk Eksponen. Foto Hok Gie terakhir dimasa hidupnya, yang melengkapi tulisan Andreas Harsono ini, dipinjam dari Leila Ch. Budiman, istri Dr. Arief Budiman (d/h Soe Hok Djin), yang tak lain tak buka kakak ipar Soe Hok Gie.


Berani, Jujur dan Berperikemanusiaan 

KALAU
 kehidupan manusia bisa dibagi oleh tiga buah titik, yakni titik kelahiran, titik perkawinan dan titik kematian, maka Soe Hok Gie adalah manusia yang belum melewati titik perkawinan ketika titik kematian telah datang. Memang Soe Hok Gie, yang kelahiran 14 Desember 1942 itu, masih muda karena menghirup uap beracun di puncak gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969. Umurnya baru 27 tahun lewat dua hari ketika kematian itu datang padanya. 

Soe Hok Gie adalah anak muda yang lahir di zaman perang. Masa remajanya adalah masa di mana Indonesia sedang pada puncak pola kehidupan politik yang liberal. Ini memungkinkan Hok Gie seperti pola pertumbuhan pemudi-pemuda Indonesia generasi enam puluhan, menjadi anti kekuasaan asing, merasa kurang senang dengan pola pemerintahan Presiden Sukarno yang penuh slogan-slogan.

Buat Hok Gie, generasi Sukarno adalah generasi yang hidupnya diwarnai dengan sikap anti kolonialisme, berkehendak untuk merdeka secara politik dari penjajahan Belanda dan gandrung akan persatuan Indonesia. Tapi belum siap untuk mengisi kemerdekaan. Ini berbeda dengan generasi Soe Hok Gie, generasi yang mulanya berharap untuk memetik buah kemajuan kemerdekaan Indonesia. Tapi yang ada hanyalah kekecewaan. Ternyata kemerdekaan politis saja belum cukup. Cita-cita dan idealisme generasi Soe Hok Gie akhirnya harus berbenturan dengan keadaan negara yang nyata. Mereka dipaksa untuk membunuh idealismenya. Korupsi merajalela, mencari pekerjaan perlu koneksi, para pejabat gila kekuasaan, hukum diputar-balik, pendek kata, jalannya negara belum teratur. Kebobrokan-kebobrokan macam itulah yang dihadapi generasi Hok Gie.

Ketika lulus dari sekolah menengah (salah satu yang terbaik di Jakarta), Hok Gie masuk menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia. Sebuah universitas yang belakangan menjadi pusat dan simbol perlawanan kaum intelektual terhadap rezim Sukarno dimana Soe Hok Gie ikut berperan aktif. Tapi perlu diingat bahwa keikut-sertaan Hok Gie dalam perjuangan tersebut bukan berdasar minat terhadap kekuasaan, tapi berdasarkan pertimbangan moral. Perumpamaan yang sering dipakainya dan juga sering dipakai oleh Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie --kekuatan mahasiswa hanya kekuatan moral.


PERAN moral macam itulah yang dilakukan Soe Hok Gie dalam penentangan terhadap pemerintahan Presiden Sukarno. Pada pengantar buku harian Soe Hok Gie: Catatan Harian Seorang Demonstran, Daniel Dhakidea membenarkan keterlibatan Hok Gie dalam apa yang disebut sebagai “Gerakan Pembaruan Indonesia” yang dipimpin oleh Profesor Sumitro Djojohadikusumo dari Singapura. Sebagai case officer, Hok Gie bertugas melakukan penetrasi dan infiltrasi ke dalam kalangan kaum cendekiawan. Tentunya gerakan yang bermaksud “memperbaharui” pemerintahan Indonesia tersebut harus berhadapan dengan kekuatan negara yang dipimpin oleh Sukarno.

Dalam kerangka tugas inilah, Hok Gie kemudian mempunyai hubungan dengan kalangan Angkatan Darat, yang tidak puas dengan gaya pemerintahan presiden Sukarno. Dari peran ini bisa ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya mahasiswa tidak mempunyai kekuatan-kekuatan seperti yang selama ini diromantiskan. Yang terjadi sebenarnya adalah aliansi mahasiswa dengan kekuatan-kekuatan politik nyata yang ada. Dan ini sangat tergantung pada seberapa jauh kualitasnya. Pada tahun duapuluhan, mahasiswa Sukarno, Moh. Hatta, Abdulmadjid, Sjahrir dan lainnya, juga banyak berhubungan dengan berbagai kekuatan politik yang ada. 

Sukarno dengan PN-nya, Hatta dengan Perhimpunan Indonesia-nya. Dan ini terulang lagi dengan pemuda Sukarni, Adam Malik, Wikana pada tahun empatpuluhan.

Demikian halnya Hok Gie yang kemudian banyak berperan sebagai penghubung antara para demonstran dan pihak Angkatan Darat dalam demonstrasi-demonstrasi anti Sukarno. Semua tetap dalam kerangka kerja sama (baca: perlindungan) dari Angkatan Darat mulai dari pencetusan Tri Tuntutan Hati Nurani Rakyat (Tritura), protes kenaikan harga bahan bakar, penghambatan terhadap jalannya sidang kabinet, berusaha menemui menteri-menteri dan lainnya. Ini berlanjut sampai keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret kepada Mayor Jendral AD Suharto, menjadi makin kokoh dan perlahan-lahan peran presiden Sukarno susut ke belakang digantikan Suharto. 

Tapi sebagai pihak yang “menang”, Soe Hok Gie tidak lantas ikut “memperkokoh” kepuasan materi pribadinya. Begitu demonstrasi usai, Hok Gie kembali masuk kampus. Merampungkan skripsinya, menjadi dosen serta menulis di berbagai terbitan di negeri ini. Dan kekuatan moral itu muncul kembali ketika ketidakberesan ternyata muncul juga dengan pemerintah baru. Sekali lagi Hok Soe Gie tergerak rasa kemanusiaannya. Tetapi kali ini berhadapan dengan penguasa yang berbeda. Sekali lagi Hok Gie melancarkan kritiknya. Tapi kali ini lain.

Dua artikel bersambung di harian Mahasiswa Indonesia (Bandung), akhir bulan Desember 1967, tentang pembunuhan besar-besaran yang terjadi di pulau Bali, saya duga adalah tulisan Hok Gie dengan nama samaran "Dewa." Di situ dibeberkan bagaimana tuduhan sebagai PKI bisa disalah-digunakan untuk membunuh orang lain, perempuan-perempuan muda diperkosa dengan tuduhan Gerwani dan sebagainya. Pembunuhan 80,000 orang di Bali tanpa alasan jelas. Bahkan banyak di antaranya yang dulu mengaku paling Nasakom, balik membunuh orang lain sebagai komunis.

Pada kesempatan lain Hok Gie adalah satu-satunya orang Indonesia, pada 1967, yang berani menulis secara terbuka tentang penderitaan dan ketidakadilan yang diterima oleh ribuan tawanan politik, yang dipenjara tanpa pengadilan dan ditaruh dalam kamp-kamp konsentrasi, serta penderitaan dari anak istri dari tahanan politik itu, sebagai buntut dari dihancurkannya kekuatan-kekuatan politik Orde Lama.

Menurut Benedit Anderson dari Cornell University, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Pada zaman di mana setiap orang yang “berbau” PKI atau Sukarnois akan diperlakukan dengan jelek sekali, Soe Hok Gie dengan berani dan jujur membela ketidakberdayaan mereka. 

Memang ketika PKI masih jaya. Soe Hok Gie termasuk salah satu pemuda yang tidak bisa menyembunyikan ketidak-senangannya terhadap organisasi raksasa tersebut. Lalu PKI dihancurkan. Hok Gie merasa tidak tega dan memandang tidak benar. Rasa ibanya muncul melihat mereka ditindas. Lalu Hok Gie menyerang kebobrokan dan kebengisan golongan yang baru muncul sebagai pihak yang menang. Pertimbangannya tidak lain hanya: kemanusiaan.

Hok Gie juga menulis tentang pemerintah yang dinilainya tidak menarik. Lalu secara terang-terangan Hok Gie pernah mempertanyakan keberadaan agama dengan konteks zaman saat ini. Kebebasan pers, kekecewaan masyarakat, pelacuran intelektual, Surat Bebas G30S, kehancuran PKI dan sebagainya. 

Bagaikan lakon koboi dalam film-film Holywood, yang datang menolong penduduk sebuah kota mengusir bandit-bandit dari kota tersebut. Tapi ketika bandit-bandit telah pergi dan sang koboi akan ditawari jabatan sebagai sheriff, sang koboi justru telah menghilang. Menerima ucapan terima kasih pun tidak dikehendakinya. Itulah kekuatan mahasiswa. Dan bagi mahasiswa enampuluhan macam Soe Hok Gie, mahasiswa seharusnya berani menolak jabatan sebagai anggota Parlemen seperti koboi menolak jabatan sheriff.

Bukan hanya menulis, Hok Gie juga mencurahkan pemikiran – pemikiran lewat berbagai macam aksi. Dia membela Yap Thiam Hien, salah satu mantan tokoh Baperki (sebuah organisasi yang dekat dengan kekuatan Orde Lama), ketika Yap ditangkap dalam aksi penganyangan PKI. Hanya karena Yap dinilainya benar. 

Pekerjaan terakhir yang dilakukan sebelum naik ke Gunung Semeru adalah mengirim bedak dan pupus buat wakil-wakil mahasiswa di Parlemen. Dengan ucapan, supaya mereka mampu "berdandan lebih cantik di hadapan penguasa." Tentu ini sebuah simbol belaka bahwa wakil-wakil mahasiswa tersebut tidak berbuat lain selain memperkaya diri sendiri (antara lain dengan ikut cicilan mobil). Sebuah tindakan yang berani, tapi membuat Hok Gie makin terpencil dari teman-temannya.

Hok Gie tidak puas dengan hanya membantu menegakkan suatu kekuasaan baru, dengan harapan kekuasan baru lebih bersih dari yang lama, tapi terus-menerus melontarkan pandangan-pandangannya terhadap jalannya kekuasaan tersebut. Di sinilah nilai lebih dari seorang Soe Hok Gie. Dia pernah bermain begitu dekat dengan kekuasaan. Dianggap berjasa, keluar sebagai pihak yang menang, punya banyak kesempatan untuk mendapat kemakmuran. Tapi dia lebih memilih menjaga jarak dengan kekuasaan dan berpaling pada perannya sebagai intelektual yang bebas dan mengabdi pada cita-citanya sendiri: yakni kemanusiaan. 


Kemungkinan Mempublikasikan Karya-karyanya

SOE HOK GIE bukanlah cendekiawan yang lahir dari sekedar sebuah kamar studi. Pengalamannya luas, kemampuan berkomunikasi hebat, tulisan-tulisannya muda dimengerti, kalimatnya pendek-pendek, argumentasinya mendasar dan informasi yang dikuasainya seperti tidak habis-habisnya. Pembacanya bukan orang-orang sekolahan. Tulisan Hok Gie tersalurkan pada berbagai macam koran mulai dari Mahasiswa Indonesia (Bandung), Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kompas, majalah Komunikasi, jurnal Indonesia (Cornell University) dan lainnya.

Harsja Bachtiar mengatakan Hok Gie sebagai cendekiawan yang ulung yang terpikat ide, pemikiran dan terus menerus menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya. Meskipun demikian. Soe Hok Gie tidak dapat dikatakan sebagai seorang sarjana dalam arti sempit karena Hok Gie kurang sabar dalam mempelajari persoalan-persoalan sejarah secara teratur dan teliti.

Tapi dari ini semua, ada satu gambaran yang jelas dari manusia Soe Hok Gie. Dia mau mengenali ilmu, masuk sebuah universitas, belajar sesuai kurikulum tapi ini tidak membuat Hok Gie untuk berhenti belajar dari kondisi masyarakat yang sebenarnya. Dinamika Hok Gie mencerminkan antusiasismenya untuk selalu “bersatu” dengan kenyataan sehari-hari, tidak mengasingkan dirinya di antara buku-buku saja.  


KALAU pada tahun enam puluhan Hok Gie kemudian terlihat dalam gerakan politik Profesor Sumitro, bisa jadi semua itu dijalankannya ketika studi yang dilakukannya menuntut terjunnya Hok Gie dalam kancah perebutan kekuasaan. Studi terus-menerus sementara di luaran tidak terjadi perubahan apa-apa, tentu saja, bukan pilihan yang dikehendaki manusia semacam Soe Hok Gie. Dia jelas tidak menyukai keadaan sosial politik di tahun enampuluhan.

Bahkan sejak kecil Hok Gie sudah tidak puas dengan keadaan sekitarnya. Kontras yang tajam antara seorang rakyat jelata (bukan pengemis), yang makan kulit mangga, sementara dua kilometer dari satu “sang paduka” asyik makan-makan dengan istri-istrinya, membuat Hok Gie mengeraskan hati, "Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau”. 

Entah apakah ini sikap yang tepat buat seorang intelektual, yang jelas Hok Gie memilih hasil pemikiran-pemikirannya untuk modal “turun ke jalan” memberantas kejahatan. Dan itu dilakukan sampai akhir hayat.

Sikap cendekia Hok Gie juga ditunjang dari hubungannya yang luas dengan berbagai kalangan keilmuan. Mulai cendekiawan di Universitas Indonesia, kalangan pers, kelompok cendekiawan, perwira militer sampai ilmuwan di luar negeri. Hok Gie punya teman banyak di kalangan ini. Benedict Anderson misalnya, doktor ahli Indonesia dari Universitas Cornell, mengutip kata-kata Hok Gie pada tempat yang terhormat dalam thesisnya Revolusi Pemoeda yang baru-baru ini diterbitkan oleh Sinar Harapan:

Simpatiku adalah untuk mereka
yang telah mengorbankan 
segala-galanya 
untuk kemerdekaan 
bangsa, negara dan rakyat 
Indonesia, mereka yang 
berada di sisi kiri dan kanan ....


TULISAN-TULISAN Hok Gie kebanyakan bersumber dari isu kehidupan sehari-hari, dan dari sana dikembangkan secara menarik sebelum sampai pada titik akhir berupa pemecahan, kesampulan atau sekedar pertanyaan. Cara penulisannya memikat, pembaca biasanya terpengaruh oleh apa yang ditulisnya. Reaksinya biasa dua macam. Makin mengiyakan ide-ide dan pemikiran Hok Gie atau makin membenci radikalismenya.

Di harian Kompas tahun 1969 misalnya, Hoe Gie pernah menulis tentang pemerintah awal berdirinya Orde Baru yang kerjanya cuma mencari utang, sebuah isu sehari-hari pada waktu itu guna pulihnya ekonomi Indonesia, dan berangkat dari kepulihan ekonomi itulah dilaksanakan pembangunan, "Cita-cita yang tak kalah besarnya … agar masyarakat desa Indonesia (yang merupakan sebagian besar rakyat Indonesia) dapat menikmati hidup yang lebih layak”. 

Tapi pekerjaan raksasa tersebut dilaksanakan secara kurang menarik (dibandingkan zaman Sukarno yang begitu kharismatik itu). Artinya, banyak rakyat indonesia yang acuh tak acuh terhadap rencana besar tersebut (baca: Pembangunan).  Hampir tidak ada komunikasi yang dimengerti rakyat. Pragmatisme pemerintah akhirnya gagal menimbulkan gairah dan sokongan kerja rakyat.

Di sinilah kritik Soe Hok Gie terhadap Pemerintahan Orde Baru waktu itu. Dan buktinya jelas, kritik itu bisa diterima dan propaganda pembangunan jadi menggebu-gebu.

Pembaca tulisan Hok Soe Gie juga bisa membaca kisah perjalanan Hok Soe Gie di Amerika Serikat. Cerita perjalanannya (11 Oktober 1968 sampai 14 Desember 1968) yang dimuat dalam harian Indonesia Raya dan Sinar Harapan, mungkin salah satu penulisan kisah perjalanan ke Amerika Serikat yang terbaik yang pernah ditulis oleh orang Indonesia. Dia menulis tentang tipe mahasiswa Asia di Amerika Serikat, tentang masalah kaum kulit hitam, kekuatan hitam dan “bahaya kuning”, agama dalam kehidupan masyarakat Amerika, konservatisme pada beberapa kalangan masyarakat Amerika, Perang Vietnam dan sebagainya.

Misalnya mengenai kehidupan keagamaan. Hok Gie mendapatkan hal-hal baru di Amerika. Di kota Salem, dia melihat poster yang menganggap Yesus Kristus, tokoh sentral dalam agama Kristen, sebagai kriminal. Di Texas, pastor-pastor membuat resolusi (seperti layaknya partai politik) agar Uskup Agung mengundurkan diri. Pernyataan-pernyataan "God is Dead" (Tuhan Mati) muncul dimana-mana. 

Saat itu Amerika dilanda oleh hippieism, Flower Generation sedang hebat-hebatnya. Kebebasan berekspresi, mulai dari keyakinan agama, kehidupan seksual, sikap politik dan sebagainya, dipompa kuat. Di bidang ideologi, aliran New Left (Kiri Baru) baru muncul. Tokoh macam Hok Gie Minh, Fidel Castro, Che Guevara, Nehru masih terlihat sebagai tokoh-tokoh baru yang menyegarkan. Menarik sekali untuk melihat cara pandang seorang pemuda Indonesia terhadap gerakan 1968 yang melanda Amerika itu. 

Skripsinya Simpang Kiri dari Sebuah Djalan tentang kegagalan Partai Komunis Indonesia di tahun 1948, juga merupakan studi yang mendalam terhadap persoalan-persoalan sejarah. Meskipun ini agak aneh, kenapa Hok Gie, yang anti Sukarno, anti Partai Komunis Indonesia, yang dekat dengan militer kanan, tapi skripsinya justru mengenai gerakan golongan kiri di Indonesia? 

Demikian pula dengan skripsi sarjana mudanya, Di Bawah Lentena Merah, membeberkan studi yang intensif terhadap Serikat Islam Semarang sebagai awal “merah-nya” Serikat Islam, bibit pergerakan komunisme di Indonesia. Kenyataan ini tentu menarik. Apakah Hok Gie terpengaruh pola pengembangan New Left yang saat itu tengah melanda dunia terutama di kalangan mahasiswa? Atau mungkin ada alasan lain?
                               

TERLEPAS dari pertimbangan itu, alangkah baiknya kalau kedua skripsi Soe Hok Gie bisa di terbitkan secara umum. Karena di balik nama Soe Hok Gie, bobot keilmuan kedua karya tersebut tak kalah gamblang dan menarik dengan penulisnya sendiri. Ada banyak informasi yang bisa digali dari kedua buku tersebut. Antara lain dari hasil ketekunan Hok Gie dalam mempelajari koran-koran awal tahun tigapuluhan, seperti Soeara Ra’jat (Surabaya), Sinar Hindia, Sinar Djawa dan sebagainya, menghasilkan cerita yang dramatis tentang pergolakan dan pemogokan buru di zaman kolonial Belanda.

Simpang Kiri dari Sebuah Djalan menggambarkan episode-episode pergolakan Indonesia sesudah kemerdekaan tahun 1945. Secara umum, sejarah itu tentu akan banyak gunanya bagi pertumbuhan dan perkembangan kesadaran politik bangsa dan negara Indonesia. 

Kalau salah satu penerbit besar macam LP2ES bekerja sama dengan Yayasan Mandalawangi bersedia menerbitkan buku harian Hok Gie, kenapa tidak dengan menerbitkan karya-karyanya yang lain? 

Kumpulan artikel Soe Hok Gie juga menarik untuk dipublikasikan, paling tidak untuk melengkapi buku Catatan Seorang Demonstran. Konteks cerita di buku harian Hok Gie itu akan lebih lengkap bila ada buku-buku lain, yang bisa menjelaskan siapa Hok Gie itu dan apa pikirannya. Apalagi dalam buku hariannya, Hok Gie sering menceritakan proses terciptanya sebuah artikel.

Dengan membaca karangan Hok Gie, sekaligus bisa melihat fenomena dunia pers di awal pertumbuhan Orde Baru. Kebebasan pers waktu itu relatif masih baik. Pertumbuhan ekonomi dipacu dengan gariah. Dunia internasional baru melewati fase perkembangan kemerdekaan negara-negara Dunia Ketiga dipimpin tokoh-tokoh kharismatik macam Sukarno, Gamal Nasser, Mao Zedong dan lainnya. Tulisan-tulisan Hok Gie mencerminkan keadaan negara, saat transisi kepemimpinan, sebuah negara sedang berkembang. Kemerdekaan politik ternyata tidak menjawab kebutuhan masyarakat akan negara yang adil dan makmur. Lantas rakyat menentukan kehendak lain yakni rencana pembangunan ekonomi secara cermat.

Pendek kata, berbicara mengenai Hok Gie maupun tulisan-tulisannya, tidak akan pernah habis-habisnya. Idenya kaya sekali. Di balik ide itupun masih ada ide-ide yang lain. Kini duapuluh tahun setelah kematian pendekar muda itu, kenapa tidak mencoba menularkan keistimewaannya melalui penerbitan buku-bukunya?
***


Menghadap Bung Karno dengan jas pinjaman, “Aku tidak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena begitu immoral

Cuplikan Catatan Harian Soe Hok Gie

Menghadap Bung Karno dengan Jas Pinjaman
Aku tidak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena begitu immoral

Minggu, 24 Februari 1963 

Kemarin dulu aku menghadap Presiden Sukarno, sebagai anggota delegasi pemuda-pemuda yang setuju dengan asimilasi, dan minta restu dari beliau. Aku segan karena aku tak punya pakaian, tetapi kemudian dengan jas pinjaman akhirnya aku pergi juga. Dan dengan guyon-guyon big boss bertanya tentang jas yang kepanjangan itu. 

Niat pertama adalah mengirim delegasi yang tua: Sindhunata, Suharto, Safiuddin; Soe Hok Gie dan Tan Hong Gie. Tokoh-tokoh Anis Ibrahim, Jahja dan sebagainya karena taktis tidak diundang. Anis sebenarnya aneh bagi saya. Ayahnya adalah ulama yang melantik Presiden/Menteri-menteri RPI. Ia karena untuk mendapat tunjangan Rp 1.500 menandatangani surat anti PRRI, pro Manipol-USDEK dan sebagainya sehingga kawan-kawannya mengejek bahwa ia menjual ayahnya untuk Rp 1.500. Sekarang ia anggota Front Nasional daerah, ketua Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Tetapi dalam pembicaran-pembicaran di Yogya kelihatan tendens-tendens tidak puas akan situasi sekarang. Menurut Ong (Onghokham) suatu ketika ia pernah dibuat mabuk dan dalam mabuk itu ia berkata, “I hate him, and I’ll kill him!

Sungguh tragis. Ong sebenarnya disusul oleh Tan untuk ikut dalam delegasi itu tetapi oleh Jahja ditolak karena ia dianggap sebagai orang Star Weekly. Kami akhirnya terdiri dari delegasi Anis, Sindhu, Suharto, Hardja, Safiuddin, Jahja dan Ong.

Sindhu setelah memberikan uraian-uraian tentang usaha-usaha kami (yang diberikan kata pengantar oleh Kol. Sutjipto SH) meminta pendapat Bung Karno, kalau menyeleweng dimarahi. Bung Karno berkata bahwa ia bisa setuju dengan ide-ide itu; lebih-lebih dalam soal kawin campur, ia sangat setuju. Bung Karno tidak setuju dengan rasialisme dan bercita-cita supaya suatu ketika ras Indonesia hanya didukung oleh suatu bangsa yang bulat. 

Bagi Bung Karno, nation building tidak bisa tercapai dengan minoritas. Ia berkata bahwa ia lebih revolusioner dalam tindakan-tindakannya dari pada negara-negara sosialis karena negara-negara itu (di Uni Soviet-Vietnam Utara) masih mempertahankan minoritas. 

Oleh Anis dalam tema relasi dapat dipaksakan bahwa dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, bhineka adalah das Sein dan Tunggal Ika adalah das Sollen. Bung Karno menyatakan bahwa tak ada bangsa yang asli. Dari pembicaraan yang politisi lalu dialihkan ke pembicaraan yang tidak formal.

Bicara tentang kawin campur, lalu Bung Karno bercerita bahwa di Tasykent, dari 10 wanita pasti 9 cantik. Karena di daerah itu kelompok Semit bertemu dengan kelompok Slavia. Dan Safiuddin nyeletuk bahwa kita bisa membuat wanita Indonesia lebih cantik dengan kawin suku ini. Bung Karno setuju dengan pengertian bahwa unsur-unsur ‘asing’ (maksudnya dari keturunan Tionghoa, Arab, Eropa) juga diikut-sertakan. Dan Bung Karno bertanya, bahwa ia mendengar kabar-kabar bahwa CD (artis Citra Dewi? Red.) itu peranakan Tionghoa’ dan itu dibenarkan oleh Chairul Saleh dan Hardjo (hadir antara lain Chairul Saleh dan Dasaad dengan perut gendut kapitalisnya).

Lalu ia tanya dan sedikit menyinggung tentang CD Affair (half prostitute) dengan Subandrio. Juga ia tanya tentang affairnya dengan NB, apakah sudah reda. Dasaad dengan pipi kapitalisnya membenarkan bahwa itu sudah reda.

Pembicaraan ini juga diselingi dengan pembicaraan politis. Menurut dia (Bung Karno? -Red.) BAPERKI merupakan salah satu perkumpulan yang disenangi. Disana, katanya 2 aliran: yang satu ingin bertahan dengan minoritas dan yang lain ingin meleburnya. Dan ia berjanji bahwa ia akan berbicara ‘menghantam ’BAPERKI dalam kongres nya tanggal 13, hal ini akan dikemukakan. 

Chairul Saleh juga mengatakan bahwa salah seorang dari nenek-nenek Djuanda (Perdana Menteri Red.) itu dari keturunan Tionghoa. Menurut Bung Karno oleh penjajah bangsa Tionghoa dipergunakan sebagai orang perantara yang sengaja dilebihkan untuk memisah bangsa Indonesia. Sehingga tak usah heran bila terjadi Peristiwa Tangerang dan Kebumen.   

Hardjo minta fasilitas-fasilitas karena merasa lemah dan Bung Karno agak keras berkata bahwa dalam perjuangan tidak boleh merasa lemah, tetapi berjanji akan memberikan sokongan pemerintah yang sepenuhnya, di samping tetap berjuang di pihak kita. 

Dari pembicaraan-pembicaraan ini mereka beralih dan berdebat tentang homoseks dengan Dr. Arifin. 

Dr. Arifin berkata bahwa itu gejala psikis sedangkan Bung Karno juga melihat adanya gejala fisik dan sebagainya. Lalu ia bercerita tentang anggota tamu negara yang homoseks, yang memukuli seorang banci (sadis) dan bagaimana di Arab, banyak orang-orang banci, menurut keterangan dokter Indonesia.

Dari sini mereka bicara dan (Bung Karno) membayangkan bagaimana rasanya bila memegang-megang buah dada seorang wanita yang diinjeksi dengan plastik. Kol. Sutjipto berkata tidak enak, dan lalu ia diganggu.

Selama pembicaraan-pembicaraan itu bagaimana kiranya yang cantik dipegang-pegang oleh Bung Karno, Chairul Saleh dan Dasaad (dan Hardjo juga katanya), secara amat bebas. Aku merasa agak aneh. Lalu Bung Karno juga mengganggu tentang jas pinjamanku yang kepanjangan dan seterusnya.

Sebagai manusia saya kira saya senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin tidak. Bagaimana ada pertanggungjawaban sosialisme melihat negara dipimpin oleh orang-orang seperti itu? Bung Karno sebagai Ariwijadi penuh humor-humor dengan mop-mop cabul ada punya interesse yang begitu immoral. Lebih-lebih melihat Dasaad yang gendut tapi masih senang gadis-gadis cantik. 

Dia nyatakan bahwa ia akan kawin dengan orang Jepang, jika sekiranya ia masih muda. Bung Karno berkata ia ingin menerima sesuatu (helikopter?) sebagai hadiah dan Dasaad berkata, tahu beres bila surat-suratnya beres.

Suasana begitu informal, bahkan mereka berani mengganggu Chairul Saleh (Waperdam - Red.) dengan barkata “Minang kaffer”, menurut Dasaad di Sumatra Timur, Padang itu jadi taoke, sedang Jawa jadi kuli, sebaliknya di Jakarta Padang dagang kamper sedang Tionghoa jadi tauke. Juga Bung Karno bicara tentang Dampo Awang, Gunung Kawi. 

Aku kira Safiuddin ahli dalam soal-soal Tionghoa, tapi ternyata tidak. Bung Karno pun sama bebalnya dalam sejarah (tapi aku bisa mengerti, karena dia adalah politikus dan tidak mengetahui sejarah secara detail). 

Kesanku hanya satu, aku tidak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena ia lebih immoral. Ia juga cerita bahwa ia jatuh cinta dengan gadis Indo di HBS ketika ia berumur 20 tahun. Ketika ia melamar, ia ditolak dengan dikatakan vuile Javanese. Tetapi 3 tahun kemudian ia bertemu dengan gadis itu sudah begitu rusaknya sehingga ia senang pada Tuhan karena ia ditolak.

Dengan gaya yang lucu ia bercerita (bahasa Belanda):

- “Kawanku Sukarno”
+ "Ya, tapi siapa kamu?”
- “Saya adalah X temanmu”

Sambil Sukarno meniru-niru suara wanita.

“Saya lebih senang memakai sekretaris wanita, karena bila saya tidak in the mood, saya tidak sampai memarah-marahinya.” 

Kol. Sabur, ajudannya, diperlakukan tidak dengan hormat, tetapi sebagai kacung/atau aku salah tafsir? Karena intim mungkin.

Kamis, 22 Agustus 1968

SETELAH rapat soal MPM saya pergi bersama Josi dengan persoalan penyerbuan Ceko oleh Rusia. Saya mencari Ny. Asman tapi tak bertemu. Lalu saya ke Lasykar dan bicara dengan Louis Wangge. Ia setuju demonstrasi dan janji untuk membicarakan soal ini. Saya pulang. Dari RAF Mully kemudian saya dengar bagaimana David menolak dengan menyatakan bahwa soal itu adalah soal intern negara-negara komunis. Pokoknya tak ada sambutan. 

Saya ragu-ragu apakah saya akan demonstrasi karena dituduh ambisius. Tetapi saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

Senin, 28 Oktober 1968 

“Saya mimpi tentang sebuah dunia, dimana ulama-buruh dan pemuda Bangkit dan berkata Stop, semua kemunafikan Stop semua pembunuhan atas nama apapun…”

“Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun Agama apapun, rasa apa pun dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik...”
“Tuhan – saya mimpi tentang dunia tadi yang tak pernah akan datang…”

Nobody knows the troubles I see; nobody knows my sorrow.

Kamis, 3 Juli 1969

Setelah mengantarkan Gul ke LEKNAS, saya bersama Nono (Nono Anwar Makarim-Red.) berceramah di Lembaga Indonesia Amerika di hadapan 18 guru-guru AS. Nono ceramah tentang birokrasi di Indonesia. Bahwa di Indonesia yang berkuasa bukan Suharto tapi birokrasi yang mencengkam seluruh lapisan kehidupan. Indonesia army is not army anymore. Dengan gaya yang meyakinkan Nono baik sekali ceramahnya.

Saya bicara tentang image yang salah tentang Indonesia dan AS. Di Indonesia pendapat bahwa AS adalah negara dekaden, CIA, seks, crime dan hippies. Ini karena salah informasi karena salah supply diterima dari film-film Holywood. Sebaliknya AS berpikir bahwa Indonesia adalah negara yang sentralistis AD. Indonesia baik dan punya chain of command. Saya bantah dan menunjukkan betapa luas dan kompleksnya Indonesia. Revolusi dinilai dari pengalaman frame of reference masing-masing. 
Dari sana saya ke Arief (Arief Budiman, kakak kandung Soe Hok Gie) dan makan. Saya lapar sekali. Jopie tak ada dan saya bicara dengan Bebas. Ayahnya diserang dalam barisan Berdikari, Bandung, sebagai seorang manipulator dan korup oleh Turner. Ia di ganti sebagai kuasa atas perkebunan Condong. 

Turner yang kesal karena pengembalian kebun-kebunnya di Ciasem Laud belum kembali juga. Dengan kelihaiannya ia menempel sejumlah orang-orang dalam (antara lain Brigjen Sudarmono?) dan mendapatkan dokumen-dokumen yang sangat rahasia. Antara lain manipulasi, simpanan uang di bank dari Frans Seda, Prof. Thojib, Syamsuddin (BPU Dwikora), Adam Malik, dan Ali Sadikin. Ia ingin agar dengan dokumen-dokumen ini “memeras” pemerintah. Ayahnya Jopie menolak dan karena itulah Turner bertindak.

Dan saya tahu bahwa IR, dibiayai oleh PT Condong Lasut mensupply sehingga IR dapat tetap hidup. Jopie mulai menulis seri karangan-karangannya dan ini membuat semua orang panik.

Hari ini keluar keputusan Presiden untuk melarang perwira-perwira ABRI bercampur dengan orang asing. Katanya Adam Malik telah minta agar soal ini distop. Mochtar Lubis yang khawatir bahwa namanya (dan Indoconsult) terbawah-bawah memanggil Tides (maksudnya Aristides Katoppo, Redaksi harian Sinar Harapan – Red.) untuk mengstop artikelnya Jopie. Bebas dan kawan-kawan kelihatannya kesal sekali pada Mochtar. Saya ingat cerita Henk tentang penolakannya memuat kisah-kisah korupsi PT Berdikari, karena Suhardiman adalah klien Indoconsult. Benar-benar soal ini memusingkan. Jam 23.30 Jopie/Bebes/Henk masih datang ke rumah saya. Hampir-hampir saya ikut ke Bandung bersama mereka. 

Friday, October 13, 1989

Goyang Dangdut Estetika Siapa

Andreas Harsono
Suara Merdeka, 13 Oktober 1989

MENJAMURNYA lagu-lagu pop berirama dangdut di Indonesia belakangan ini sebenarnya bukan gejala yang terlalu luar biasa. Gejala meledaknya penjualan album “Duh Engkang” (Itje Trisnawati), "Dokter Cinta” (Evie Tamala), “Dimana Ada Kamu Disitu Ada Aku” (Heidy Diana) dan sebagainya, sebelumnya biasa-biasa saja kalau mengingat bahwa dangdut dengan segala penilaian terhadap musik tersebut memang mempunyai karisma yang luar biasa untuk selalu memukau sebagian besar rakyat di Indonesia.

Ledakan dangdut tahun 1989 ini juga tidak bisa dibilang istimewa, karena ledakan serupa juga pernah terjadi pada akhir tahun 70-an dan secara periodik juga terulang di sepanjang tahun 1980-an. 

Dangdut memang musik yang begitu meresap pada selera sebagian besar penduduk di Indonesia. Dangdut ada dimana saja. Dangdut juga akrab dengan beberapa lapisan masyarakat di Indonesia. Dengan kemampuan hidupnya, yang mengandalkan diri pada pemusik-pemusik kelas pasar malam sampai pemusik sekaliber Rhoma Irama, dangdut secara tradisional sudah merupakan jaminan akan merupakan hiburan yang terdistribusi dengan baik. Ledakan kali ini membuktikan (untuk kesekian kalinya), bahwa musik dangdut pun ternyata punya nilai keindahan yang bisa disetarakan dengan jenis musik lainnya.

Bayangkan saja, Rhoma Irama pernah berkeliling ke-50 kota di seluruh Indonesia hanya untuk berpesta pada lokasi-lokasi tertentu yang dinilai cukup kaya untuk menampung puluhan ribu penggemarnya. Sampai saat ini belum ada pemusik lain yang memecahkan rekor tersebut. Kalau Iwan Fals tidak dilarang melanjutkan pertunjukan kelilingnya, barang kali hanya dia yang bisa bersaing dengan Rhoma.

Memang mengukur dangdut tidak sama dengan mengukur Rhoma Irama. Tapi itu tetap tidak mengurangi prestasi sekian ratus kelompok-kelompok kecil yang tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan lainnya, yang selalu siap untuk menghibur penduduk setempat dengan pertunjukkan langsung (live show) musik dangdut.

Ribut-ribut soal menganasnya musik dangdut dalam jalur lagu pop belakangan ini, lebih tepat kalau dipersempit menjadi pembahasan mengenai bagaimana pribadi semacam Judhi Kristiantho atau Heidy Diana, yang tidak biasa memproduksi atau menyanyikan lagu dangdut, membawakan “Dimana Ada Kamu Disitu Ada Aku,” justru laris dan menimbulkan dangdut-mania. Karena begitu album Heidy Diana menembus angka penjualan yang menggiurkan, seperti biasanya gaya berdangdut-ria itu segera ditiru produser lain. Dengan kata lain ledakan dangdut kali ini, lebih enak kalau bukan musik dangdut itu sendiri yang dikutak-kutik. Tapi menukik lebih tajam, bagaimana ledakan itu bisa terjadi?

Peran Produser

Dalam pemikiran saya, gejala ini paling tepat kalau dilihat dari kepentingan produser. Seperti yang berlaku pada persaingan dalam pasar bebas, dalam bisnis musik juga ada naik-turunnya selera pasar lagu pop. Dan produser, sebagai pemilik modal, adalah pihak pertama yang akan meraba naik turunnya selera pasar.

Tahun 1988 lalu, ketika lagu era manis berkisah cinta, dengan menyanyi berwajah ayu, bermimik sendu dengan musik sederhana, mulai terasa mulai membosankan, sosok Arie Wibowo yang berceloteh tentang "Madu dan Racun," menjadi  titik balik yang secara mencengangkan membuat perubahan-perubahan besar selera pasar. Arus pun jadi penuh dengan lagu-lagu mirip “Madu dan Racun.”

Demikian juga dengan era keroyokan semacam “Hening” (Chrisye, Rafika Duri dan Trio Libels), “Jangan Menambah Dosa” (7 Bintang), atau “Kemesraan” (Iwan Fals dan kawan-kawan). Pada awal tahun 1989, lagu-lagu ini naik daun, secara tidak terduga bisa dibalik oleh lagu dangdut. Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan selera pasar selalu naik turun dan sulit diramalkan dengan ketepatan yang baik, apa yang akan dibeli konsumen keesokan hari.

Boleh jadi, larangan pemerintah terhadap apa yang disebut “lagu cengeng” pada bulan Agustus 1989 membuat para produser mencari selamat dengan menampilkan lagu-lagu keroyokan, yang liriknya bukan saja tidak “cengeng” tapi bahkan tidak bertemakan cinta. Ini terjadi karena dengan melibatkan beberapa penyanyi, lirik pun akan menjadi lebih sulit kalau secara emosional harus mengekspresikan cinta. 

Masalah cinta antara sepasang anak manusia, biasanya bersifat individualistis, “dunia milik kita berdua” sehingga dalam lirik lagu pun akan lebih pas kalau dinyanyikan seseorang atau sepasang penyanyi. Tapi yang jelas bukan keroyokan.

Lagu keroyokan “Hening” misalnya, bercerita akan alam semesta. Lagu "Rock Kemanusiaan: Katakan Kita Rasakan” bercerita soal solidaritas sesama manusia. “Esok Penuh Harapan” (Billboard All Stars) bercerita soal semangat menempuh kehidupan. Tema-tema macam ini, tentu jauh berbeda-beda dengan tema percintaan, yang selama ini mendominasi hampir seluruh lirik lagu pop yang ada di Indonesia. Bersama seorang teman, saya pernah secara statistik menghitung lirik lagu pop di tahun 1989 yang bertemakan cinta, hasilnya 86 persen dari lagu pop yang ada di Indonesia berlirik cinta antara laki-laki dan perempuan.

Tapi era lagu keroyokan tidak akan pernah berkepanjangan. Konsumen cepat atau lambat akan merasa jenuh, melihat gaya-gaya itu juga. Padahal mau kembali kepada lagu-lagu sendu khawatir dilarang Kementerian Penerangan atau minimal harus dilakukan dengan ekstra hati-hati sedangkan mau menciptakan lagu-lagu baru, yang liriknya tidak “bercinta,” kebanyakan para pecinta lagu, produser, musikus Indonesia, tampaknya juga belum begitu terbiasa. 

Kalau di Eropa musik mengekspresikan persoalan sehari-hari. Sting yang bernyanyi tentang lingkungan hidup. U2 bisa berceloteh soal kebosanan seorang ibu muda terhadap ritme kehidupan kota besar, pembunuhan massal Irlandia Utara, penjatuhan bom atom di Hirosima, pembunuhan terhadap Martin Luther King dan tema-tema lainnya, yang bisa dilakukan di negara maju. Di Indonesia para pemusiknya memang tidak terbiasa untuk membuat lirik lagu yang mencoba mendekati persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi oleh orang kebanyakan. Di Indonesia, para pencipta lagu cuma terlatih menciptakan lirik bertemakan cinta. Padahal mencipta lirik cinta untuk saat-saat seperti ini, bisa dengan mudah dikategorikan “cengeng” dan serba susah memang.

Dalam situasi beginilah, economic animal macam Judhi Kristiantho, dengan naluri bisnis yang tinggi, mengadakan eksperimen dan memproduksi album Heidy Diana, saya duga, tanpa ada biaya produksi yang terlalu tinggi dan spekulasi seadanya, namun mengeruk uang besar. Memang tetap bernafaskan cinta tapi lebih aman dari jangkauan batasan “cengeng” yang sudah dikonotasikan dengan lagu pop lembut tersebut. Diproduksikan oleh keberhasilan “Evi Tamala dengan “Dokter Cinta” atau Itje Trisnawati dengan "Duh Engkang”. Maka meluncurkan dangdut secara lebih deras. Sukses, tentu saja.

Pelajaran

Peristiwa ini seyogyanya memberikan pelajaran, bahwa dangdut yang selama ini diremehkan dan diabaikan oleh kaum elit di negeri ini (terutama oleh para kritikus musiknya), ternyata memiliki keindahan yang pas untuk Indonesia. Apa yang indah, tidak selalu harus datang dari Eropa dan abad 18. Apa yang indah. Tidak selalu harus dimainkan dengan normal yang njelimet. Apa yang indah, tidak selalu harus dengan musik berkekuatan ribuan watt, gitar melengking, drum menggebu dan peralatan musik yang canggih.

Musiknya Beethoven tidak harus selalu enak di telinga seorang penduduk Gunung Kidul. Mick Jagger, boleh jadi kebanggaan anak-anak muda, tapi tidak semua anak muda menggemari musik rock. Jazz dari Amerika belum tentu bisa diterima di Irian Jaya. Pendek kata, nilai-nilai keindahan suatu karya musik sangat tergantung pada ruang dan waktu dimana musik itu berada.

Meledaknya dangdut kali ini membuktikan, nilai kehidupan musik dangdut, ternyata disukai oleh cukup banyak orang di Indonesia, yang dengan setia menjadi penggemarnya. Para konsumen ternyata bisa menikmati musik dangdut.

Nah, yang tetap jadi masalah, bagaimana dangdut juga bisa memecahkan “lingkaran setan lirik bercinta”? 

Mampukah para seniman dangdut, tanpa harus meniru gaya berdakwahnya Rhoma Irama, mencuatkan tanggung jawab sosialnya dengan berceloteh soal kemasyarakatan yang lain? Soal runyamnya urusan telepon, soal penggusuran tanah, sogok-menyogok, perusakan lingkungan hidup dan sebagainya? 

Musik pop yang sekarang ada di Indonesia, termasuk dangdut, akan menjadi lebih baik, kalau tidak sekedar berbisik-bisik soal cinta, patah hati, ciuman pertama, atau kesepian tinggal pacar.

Andreas Harsono, adalah mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga