Saturday, October 16, 2021

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya menyukai jurnalisme sejak di kampus Salatiga. Saya bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000-2008, saya menyunting Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) dan Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard lewat Nieman Fellowship. Saya salah satu wartawan awal dari International Consortium of Investigative Journalists.  


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Saya menulis tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Ini cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak. Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota media paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Friday, October 15, 2021

Liburan di Pantai Selatan Pulau Jawa

SAYA baru selesai menjalani cuti sebulan termasuk sembilan hari berlibur di Pangandaran, Pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Kebumen, dan Cirebon. Kami naik mobil sekeluarga. Ada hotel yang yang menyenangkan dengan disain kayu tua di Cirebon. Ada juga penginapan kecil dengan enam kamar terletak dekat laguna di Pangandaran. 

Kami lewat makam penyanyi rock Nike Ardila (1975-1995) di Ciamis. Maka kami pun mampir. Ini perjalanan santai, tak diburu waktu, jadi setiap kali Google Map memberitahu tempat menarik, kami akan diskusi.

Nike Ardila terkenal dengan laku "Bintang Kehidupan." Dia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Bandung, mobilnya menabrak tembok. Umurnya tak sampai 21 tahun. Ini pemakaman keluarga. Makam Nike Ardila paling menonjol dalam area ini.

Saya senang lihat makam seorang perempuan diletakkan di tempat paling penting di kalangan keluarganya. Makam Nike Ardila mengingatkan saya pada makam RA Kartini Djojo Adhiningrat (1879-1904) di Mantingan, dekat Rembang.
 
Di Pangandaran, kami tinggal di sebuah hotel kecil dengan hanya enam kamar. Namanya Java Lagoon. Ini hotel yang menyenangkan. Kamar bersih dan rapi.

Bahan makanannya segar. Sederhana tapi enak. Nasi gorengnya enak. Steak tuna mereka yummy. Cumi goreng tepung juga enak. Bagian yang terbaik dari hotel ini adalah pemandangannya. Itu terletak sebelah laguna. Suasana tenang, hanya mendengarkan ombak. 

Kami juga menginap di Hotel Menara Laut daerah downtown. Internet lelet. Sinyal telepon juga hanya satu strip dalam kamar kami. Isteri dan anak saya, yang memerlukan sambungan internet buat bekerja, terpaksa mencari-cari kedai kopi buat dapat sambungan stabil. Ini habiskan waktu serta menambah biaya.   

Daya tarik Java Lagoon adalah laguna. Ia mengikuti air pasang. Nelayan disini banyak memasang bagan bambu dan taruh jaring besar. Saya suka jalan pagi dan melihat nelayan menarik jaring. Mereka juga banyak pelihara anjing buat bantu jaga. 

Ada seekor anjing muda yang sering mengikuti keluarga saya. Ia suka berlarian di laguna ketika air surut pada pagi hari. Suasana enak buat bermain air. 
Kami juga menelusuri sungai Cijulang di Pangandaran. Arus deras. Pakai jaket penyelamat. Anak-anak paling suka dengan acara ini. Ada dua jam kami menelusuri sungai dalam jarak hanya 4 km.

Ini campuran antara jalan kaki, berenang, merambat, mendaki, maupun pakai perahu pada bagian terakhir. Saya sempat hanyut dan menabrak batu. Ada luka goresan di tangan kanan, dengkul kanan biru-biru.

Norman dan Diana paling lincah. Sapariah Saturi juga kuatir. Saya hanyut karena kuatir Sapariah tak bisa menjangkau sebuah batu besar.

Pantai timur Pangandaran adalah daerah nelayan. Ini tempat enak buat memilih makanan seafood. Ada banyak rumah makan dengan pilihan menu dari udang sampai ikan, dari cumi sampai kepiting. 

Kami naik mobil lihat pasar pelelangan ikan, serta ratusan kapal, di daerah Cikidang. Namun kecewa melihat pusat pendidikan soal hutan mangrove --tertera di Google Maps-- sudah habis, jadi jalan menuju Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran. 

Cilacap dan Nusa Kambangan

Dari Pangandaran kami pindah ke Cilacap, langsung ke kampung nelayan, naik perahu ke sebelah timur Pulau Nusa Kambangan. Anggun Purnawati, seorang tour guide dari Kebumen, menemani kami di Cilacap dan Kebumen. 

Sejak 1905, Pulau Nusa Kambangan jadi pulau penjara, namun orang jarang tahu bahwa ada beberapa benteng buatan Belanda buatan abad 19. Kami pergi melihat dua benteng. Mereka sudah tinggal reruntahan. Pohon-pohon raksasa tumbuh dari bangunan benteng. Saya jadi kembali lagi kelak dan lebih lama memotret dan melihat benteng-benteng ini.

Benteng-benteng Nusa Kambangan tampaknya dibuat untuk mempertahankan Pulau Jawa dari kemungkinan serangan lewat pantai selatan. Ada belasan benteng di pantai selatan Jawa.

Bila ingat pelajaran sejarah, pada 1942, Jepang hanya perlu sembilan hari buat menyerang Pulau Jawa dan mengambil kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda. 

Benteng-benteng ini tak cukup buat pertahanan memadai terhadap Pulau Jawa. Militer Jepang sendiri banyak bikin bunker guna pertahanan Jawa dari pantai selatan. 

Ini merupakan bukti bahwa Pulau Jawa adalah pulau terpenting di kepulauan Nusantara. Militer Jepang bersiap tempur lawan Sekutu yang diperkirakan akan menyerbu dari pantai selatan. 

Namun pertahanan ala Jepang tak pernah bisa jadi bukti bila cara mereka lebih kuat dari Belanda. Di Tokyo, Kaisar Hirohito menyerah tanpa syarat kepada Sekutu sesudah Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklir pada kota Hiroshima dan Nagasaki 7-9 Agustus 1945. 

Pulau Nusa Kambangan sebelah timur adalah kawasan cagar alam. Masih ada macan tutul dan macan kumbang di kawasan ini. Sayangnya, Kementerian Hukum dan HAM memberikan izin penambangan kartz di pulau ini. Ada cerita orang disergap macan tutul karena daerah mereka dijadikan tambang. 

Saya datang ke Petapaan Cemara Putih --biasa disebut Jambe Lima karena ada lima pohon jambe, dahulu kala. Pertapaan ini terletak di daerah Cilacap, di kawasan hutan Gunung Selok. Jalanan curam, banyak tempat belum ada listrik.

Mbah Kalio, seorang Kejawen, mengantar saya untuk masuk ke petapaan. Dia membakar kemenyan serta berdoa. Presiden Soeharto dulu pernah ziarah ke pertapaan kuno ini. Saya baca buku David Jenkins berjudul Young Soeharto: The Making of a Soldier, 1921-1945 guna tahu perjalanan spiritual Soeharto dari desa Kemusuk di Yogyakarta (kelahiran 1921) hingga jadi presiden di Jakarta.

Petapaan ini terletak sebelah vihara Buddha, yang kosong tanpa penjaga (mungkin sedang pergi) kecuali beberapa anjing. Di Jambe Lima, kami dapat kunci untuk masuk ke kamar dalam dimana ada lukisan Ratu Roro Kidul serta Petruk, Gareng dan Bagong. 

Mbah Kalio juga mengajak saya pergi ke Gunung Srandil dekat Jambe Lima. Dia berdoa di sana dalam bahasa Jawa. Dia sebut nama saya dalam doanya. Sesudah berdoa, dia tanya apa yang hendak saya mintakan.

Saya ingin prinsip kebebasan beragama dan kepercayaan dihormati di  Indonesia. Saya harap pasal penodaan agama dihapus. Saya harap peraturan rumah ibadah ditinjau ulang dan dibuat tanpa veto mayoritas terhadap minoritas.  

Dia terdiam ... lantas bakar kemenyan. 

Acara terakhir, minum teh dengan daun tanaman sendiri.



Thursday, September 30, 2021

Susanna Harsono terkena stroke di Jember

PADA 6 September, Metri Harsono, mama saya, pertama kali menengok anaknya, Susanna, adik saya, yang masuk rumah sakit di Jember sejak 21 Agustus. 

Mulanya, Susanna diduga terkena coronavirus dan dibawa ke rumah sakit Bina Sehat, Jember. Namun hasil tes tiga hari kemudian negatif. Di Jember, tes coronavirus memang tak secepat di Jakarta. 

Maka dilakukan berbagai usaha kedokteran lain untuk tahu mengapa Susanna tiba-tiba tak bisa jalan bahkan berdiri. Dia terlihat lemas terus, perlahan-lahan sejak Mei. 

Rebeka, saudara kembar Susanna, menemani terus di rumah sakit Bina Sehat. Rebeka terpaksa juga ikut tinggal dalam kamar sakit karena pandemi. Dia tak bisa keluar masuk. Saya salut lihat kesabaran dan ketelatenan Rebeka merawat saudaranya, dari kasih makan sampai kebersihan. 

Pada 1 September, Susanna dipindah dari Bina Sakit ke rumah sakit daerah Soebandi, Patrang, Jember, dimana ada dokter Evy Tyaswati, seorang psikiater, yang sudah merawat Susanna hampir dua dekade karena schizoprenia. Tyaswati dengan sigap menerima kehadiran pasien langganan. 

Diagnosanya, Susanna mengalami penyempitan pembuluh darah otak. Ini bikin dia lumpuh dari leher ke bawah, badan sebelah kiri. Ada lima dokter, termasuk Tyaswati, yang memeriksa dgn macam-macam spesialisasi. Lantas ada tulang pinggul retak, mungkin akibat jatuh di toilet. Juga kekurangan nutrisi.

Mama tak bezoek selama ini karena pandemi. Dia sudah berumur 78 tahun serta belum vaksin. Pada 6 September, pertama kali dia melihat anaknya di rumah sakit. Saya tak bisa bayangkan bila saya harus melihat anak saya sendiri lumpuh. Perasaannya pasti berkecamuk.

Para perawat mengatakan agar kami bersiap dengan Susanna kembali ke rumah dengan kursi roda. Dia tampaknya perlu perawatan 24 jam sehari karena dia tak bisa makan dan minum sendiri, tak bisa duduk, berdiri apalagi berjalan. 

Pada 10 September, Susanna diizinkan pulang ke rumah di Jember dengan check up setiap minggu. Dia akan berobat jalan dengan fisioterapi agar ada perbaikan dari otaknya supaya bisa memerintahkan otot-otot bergerak. Organ-organ lain normal. 

Ini masa yang sulit buat saya pribadi. Ada puluhan kawan serta beberapa kerabat saya meninggal selama pandemi. Saya mengantar Rebeka berobat di Jakarta awal Mei selama dua minggu. Mama sendiri masuk ke rumah sakit karena malnutrisi pada 23-25 Mei. Dia ditemukan pingsan dalam rumah. Susanna menemani mamanya di rumah sakit. Rebeka lantas pulang ke Jember pada 8 Juni. 

Bulan Juli, saya sekeluarga terkena coronavirus di Jakarta, harus isolasi mandiri. Di Pontianak, Kamal, adik ipar isteri saya, meninggal karena penyakit hati pada 2 September. Hampir setiap hari saya bikin video call dengan Susanna, lewat bantuan Rebeka, dan mengajaknya bicara. 

Update

Pada 30 September 2021 Susanna bisa jalan dengan memakai tongkat dari ranjang ke kamar mandi. Ini perkembangan baik tentu. Namun buat bergerak jauh dia masih harus pakai kursi roda. 

Thursday, September 02, 2021

Kamal bin Yatem meninggal dunia di Pontianak, usia 45 tahun

Kamal bin Yatem, saudara ipar saya, meninggal dunia di rumah sakit Sudarso, Pontianak, dengan penyakit hepatitis B dan livernya mengeras. Dia meninggal siang ini dalam usia 45 tahun. 

Kamal seorang sopir, etnik Madura, kelahiran Pontianak, bekerja lama di klinik bersalin Amanda di Pontianak hingga tahun 2019 ketika membeli sebuah toko makanan burung dan burung berkicau. Kamal memang suka dengan burung dan tanaman. Tangannya dingin dengan tanaman, banyak pohon dibesarkannya. 

Dia seorang pendiam dengan kepribadian menyenangkan. Kamal beberapa kali menemani saya ketika wawancara "orang-orang berbahaya" di Pontianak. Dia juga biasa menemani saya bila wawancara ke rumah-rumah warga minoritas termasuk orang Madura, Ahmadiyah, Millah Abraham dan lainnya. 

Hari Minggu, 29 Juli 2021, Kamal dibawa ke rumah sakit daerah Pontianak, sesudah jatuh dan muntah darah di kamar tidur. Sakit hepatitis "sangat serius," kata salah seorang keponakannya. 

Isterinya, Tursih Satoeri (baju pink), adalah adik dari isteri saya, Sapariah Saturi. Tursih seorang guru di sebuah sekolah negeri di Kubu Raya. Kamal meninggalkan tiga anak Kayla (12), Binar (4) dan Rumeksa (2). 

Ini kehilangan besar buat keluarga besar di Pontianak. Dia disukai oleh keluarga dan kawan, termasuk keponakan-keponakan, yang biasa memanggilnya "Aak." Dia orang yang suka mengulurkan tangan dan bantu sesama. Saya berduka dengan kepergiannya, kepikiran dengan ketiga anak kecil, yang ditinggalkan ayah mereka. 

Thursday, August 12, 2021

Selalu taruh tanda petik bila menulis "tes keperawanan"

SAYA usul setiap kali Anda menulis istilah "tes keperawanan," selalu ketik di antara tanda petik. Ini mendasar karena kegiatan memegang vagina serta memeriksa hymen, yang merendahkan perempuan tsb, sebenarnya hanya ilusi.

Praktek tsb tidak ada dasar keilmuannya. Menurut World Health Organisation, tak ada metode yang bisa membuktikan seorang perempuan, maupun lelaki, pernah berhubungan seks atau tidak. Ia menerangkan, "... the appearance of a hymen is not a reliable indication of intercourse and there is no known examination that can prove a history of vaginal intercourse."

Istilah hymen sebaiknya juga ditulis himen dalam Bahasa Indonesia --bukan "selaput dara."

Kenapa?

Kata "dara" (perawan) bisa dikonotasikan dengan "darah" yang keluar dari vagina bila perempuan berhubungan seks pertama kali. Ini juga ilusi. Saya dulu juga percaya ini sampai saya belajar dan membaca, sejak 2014 ditugaskan Human Rights Watch, untuk meneliti praktek ini di Indonesia. 

Namun ilusi tsb dipercaya banyak orang di Indonesia --termasuk para lelaki (senior) yang mengambil keputusan soal praktek ini-- dan dijalankan oleh berbagai dokter, suka atau tidak suka, dengan berbagai traumanya pada perempuan korban. Saya seringkali mendengar berbagai pembelaan para lelaki yang membela praktek ini, dari yang bisa diterima akal (jujur bilang ini keputusan organisasi) sampai yang muter-muter, banyak bohong, bikin perut mules. 

Praktek ini merendahkan perempuan, bikin trauma, dan diskriminatif. Ia harus dihentikan. Human Rights Watch, berkat riset dan masukan dari dua peneliti, Aruna Kashyap dan Nisha Varia, mewajibkan pengetikan "virginity test" dengan tanda petik. 

Laporan Human Rights Watch

Pada tahun 2014, Human Rights Watch menerbitkan laporan tentang praktik tersebut di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia dengan wawancara korban di beberapa provinsi termasuk polwan yang mengalaminya pada 1965. 

Pada Januari 2015, Human Rights Watch bersama Nihayatul Wafiroh (jilbab kuning), politikus Partai Kebangkitan Bangsa asal Banyuwangi, bertemu dengan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia guna membicarakan praktek tersebut. Wafiroh mengangkat persoalan ini dalam rapat di Dewan Perwakilan Rakyat. 

Pada tahun 2015, Human Rights Watch menerbitkan laporan tentang praktik di lingkungan militer Indonesia – angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara – di mana ia minta perhatian 16 angkatan bersenjata dari 16 negara sahabat untuk angkat bicara. Mereka hadir dalam sebuah pertemuan International Committee of Military Medicine di Bali. Ada 23 korban yang buka suara dalam wawancara dengan Human Rights Watch dari ketiga angkatan. 

Pada tahun 2018, Human Rights Watch menerbitkan laporan tentang bagaimana Ikatan Dokter Indonesia serta Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia tetap diam, tak mengeluarkan sikap soal praktek yang merendahkan perempuan dan tanpa dasar keilmuan tersebut.  

Pada Mei 2018, Human Rights Watch beserta Brigadir Jenderal Sri Rumiati (batik merah putih), seorang pensiunan polwan yang tanpa lelah protes soal praktek ini sejak 2006, bertemu dengan pengurus Ikatan Dokter Indonesia di Jakarta. Individu dokter sering beri informasi kepada kami namun organisasi-organisasi mereka bungkam. 

Pada 18 Juli 2018, ada diskusi soal "tes keperawanan" di Jakarta dimana beberapa dokter, termasuk Mayor Jenderal TNI-AD Daniel Tjen (baju putih), pensiunan dokter militer dan mantan kepala Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia, ikutan bicara. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan juga datang. 

Daniel Tjen bilang organisasi militer adalah organisasi top down. Para dokter militer, yang sadar bahwa praktek ini tak ada dasar keilmuannya, tak bisa memutuskan praktek ini dihentikan. Dia berharap semua pihak bekerja sama untuk advokasi persoalan ini. 

Komnas Perempuan memainkan peran sangat penting dalam advokasi terhadap dihentikannya praktek ini. Beberapa tokoh perempuan juga datang termasuk Julia Suryakusuma, kolumnis Jakarta Post, yang besoknya berulang tahun.

Saturday, August 07, 2021

Biodata Andreas Harsono


Dia pendukung kebebasan pers, ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen pada 1994 ketika pemerintahan Presiden Soeharto hanya memperbolehkan organisasi tunggal buat wartawan. Pada 1995, dia ikut mendirikan Institut Studi Arus Informasi di Jakarta.

Dia anggota awal dari International Consortium of Investigative Journalists pada 1997 di Washington DC. Pada 2003, dia ikut mendirikan Yayasan Pantau, yang bergerak di bidang pelatihan menulis jurnalistik, di Jakarta. Pada 2011, dia ikut mendirikan website berita Suara Papua di Jayapura.

Dia mulai karir jurnalistik dengan harian The Jakarta Post lantas The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). 

Pada 1995, dia ikut program School of International Training, Vermont, Amerika Serikat. Pada 1999, dia belajar jurnalisme sebagai Nieman Fellow di Universitas Harvard dan kembali ke Jakarta menyunting majalah Pantau khusus media dan jurnalisme.

Dalam Bahasa Indonesia, bukunya termasuk
Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (bersama Budi Setiyono) dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme serta dalam Bahasa Inggris Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia.

Tuesday, August 03, 2021

Indonesia Army Chief to Terminate Unscientific ‘Virginity Test’

Female Recruits Subjected to Abusive, Discriminatory Practice for Decades

Female national army officers and police officers escort hundreds of women who packed the area in front of the State Palace in Jakarta, Indonesia on March 8, 2020, in commemoration of International Women's Day. ©2020 Kuncoro Widyo Rumpoko/Pacific Press/Sipa USA/AP Images


Andreas Harsono

Indonesian Army Chief Gen. Andika Perkasa told army commanders in July that the required medical check-up in the recruitment process for female officers should be similar to the male medical test, signaling the end of the so-called “virginity test.”

He said applicants should only be assessed on their ability to take part in physical training, adding that the application for male army personnel to get married should now cover only “administrative matters” without requiring a medical check of officers’ fiancées.  

This is a reference to an apparent decision to stop the abusive, unscientific, and discriminatory “virginity test” that all branches of the Indonesian military have used for decades for female recruits. The requirement had been extended in some cases to female fiancées of military officers.

“Virginity testing” is a form of gender-based violence and is a widely discredited practice. The testing includes the invasive practice of inserting two fingers into the vagina to supposedly assess whether the woman has previously had sex. In November 2014, the World Health Organization issued guidelines that stated, “There is no place for virginity (or ‘two-finger’) testing; it has no scientific validity.”

Human Rights Watch first exposed the use of “virginity tests” by Indonesian security forces in 2014, but while police have ceased the examinations, the government  has failed to stop the practice by the military. The Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology and the Indonesian Medical Association remained silent and never demanded that the military cease inflicting the procedure on female applicants.

Individual doctors, including those in the military, have regularly provided information to Human Rights Watch about the continuing practice. Dozens of women subjected to the “virginity test” when they married into military families in Indonesia also quietly spoke against the practice.

General Perkasa said that the army’s medical officers and hospital directors will inform the commanders about the new procedures.

The army command is doing the right thing. It is now the responsibility of territorial and battalion commanders to follow orders, and recognize the unscientific, rights-abusing nature of this practice. Increased pressure also needs to be focused on the top commanders of the navy and the air force to follow the army’s lead, and end this practice.

Thursday, July 22, 2021

Carmel Budiardjo: A Lifetime Campaigning for Everyone in Indonesia

Andreas Harsono

Multatuli Project

In August 2005, I visited Carmel Budiardjo, then an 80-year-old human rights campaigner, in her London townhouse. We talked on the second floor, which was also the office for Tapol, the human rights organization that she helped set up in 1973 (in Indonesian, the word “tapol” stands for tahanan politik – political prisoner).

In the 1970s, Tapol led a global campaign to release the approximately 30,000 political prisoners held by the then-dictator, Soeharto. It prompted US President Jimmy Carter in 1978 to call for the prisoners’ release. Soeharto released almost all of them, keeping several dozen jailed in Jakarta. Tapol later became a leading voice on rights issues in Indonesia, particularly in the troubled areas of Aceh, East Timor and West Papua.

Carmel, who passed away in London on July 10 at 96, is among the very few people whose work in the region has been recognized in both conservative Muslim areas, like Aceh, and predominantly Christian areas, like East Timor and West Papua. Her efforts to release and then help political prisoners were immeasurable. In 1995, she received the Right Livelihood Award in Sweden. In August 2009, East Timorese President José Ramos-Horta, who had helped campaign for East Timor’s independence from Indonesia, presented her with the Order of Timor Leste. She also received awards from independent groups in Aceh and West Papua. She is probably the only person to receive such wide recognition from so many diverse groups in this archipelago.

In 2005, she and I talked about why many people living in Java, Indonesia’s most populous island and home to the capital, were oblivious to the disparities between Java, as Indonesia’s “core”, and the “outer islands” (which the Dutch colonists called the Buitengewesten, or Outer Territories). 

“It also applied to me when I lived in Jakarta in the 1950s,” she told me. 

“Only when I left Indonesia in 1971, I began to understand the problem. I was caught up by the concept of the liberation of West Papua in the 1960s. I had to be outside Indonesia to begin to think about the reality of Indonesia. West Papua is not necessarily a legitimate part of Indonesia.”

Carmel also spoke about the underlying causes of human rights abuses in Indonesia. The notions of a nation-state and a sense of equal citizenship are very thin in Indonesia. Many dominant identities, whether as Muslims or ethnic Javanese, are often used to discriminate against and repress minorities, which frequently led to violence. 

“I am not an advocate of breaking apart Indonesia,” she told me. 

“But in West Papua and Aceh, there are strong feelings of injustice and their own nationalisms. West Papua was an international issue. The Act of Free Choice in 1969 was an absolute fraud.”

Carmel was born in London in 1925, between the two world wars, into a Jewish family, whose anti-fascist views influenced her left-wing politics. In 1947, she met Suwondo Budiardjo, a young Indonesian official, in Prague. They married and moved to Jakarta in 1952. She worked as a translator and later wrote economic analyses and speeches for both President Sukarno and the Indonesian Communist Party. When General Soeharto toppled Sukarno in 1965, her husband was jailed for “political offenses” and spent 12 years in prison without trial. Carmel herself spent three years in detention, also without trial, before her deportation in 1971. She wrote about these years in her heartbreaking memoir, Surviving Indonesia’s Gulag.

When she returned to London, her townhouse became a gathering place for activists from all backgrounds. Over Chinese food, she told me about the need for raising awareness about nation building and the stories of political prisoners, as well as about her hopes for Timor Leste, a new nation that ended Indonesia’s occupation and had no political prisoners.

Though much time passed since we last spoke, all of our conversations are still relevant to the challenges Indonesians and others face today. Carmel was a towering figure. As James Ross, a longtime Human Rights Watch colleague, wrote after hearing of her passing, “If there were a human rights movement Hall of Fame, Carmel would have been one of the first inductees.”


Andreas Harsono works for Human Rights Watch. He is the author of Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia (2019), in which excerpts of his interview with Carmel Budiardjo were first published.


Friday, July 16, 2021

Covid Diary - Senayan, Jakarta

Saya menulis catatan harian ketika keluarga kami terkena virus corona. Kebanyakan berupa catatan medis, termasuk obat dan indikator. Kami beruntung sudah divaksin. Gejalanya tidak berat. Belakangan saya share sebagian di Facebook buat kerabat dan teman-teman yang ingin tahu. Ternyata ia dianggap berguna buat sesama penyintas Covid19 maupun keluarga mereka. Saya taruh saja di blog ini buat kepentingan publik. 


Minggu, 4 Juli 2021 - Sapariah Positif dan Isolasi Mandiri

Siang ini, Sapariah Saturi, partner saya, tes Antigen dan hasilnya positif. Dia langsung ambil tes PCR, yang lebih akurat, dan menunggu hasilnya besok. Putri kami Diana dan saya negatif. Putra kami, Norman, tinggal di apartemen berbeda, tak terpengaruh tentu.

Kami tak tahu dari mana Sapariah bisa terpapar virus corona. Terakhir kami berempat tes pada 21 Juni --dua minggu lalu-- tak ada satu pun yang positif. Sapariah sehari-hari hanya berkebun. Awal minggu dia sempat ke pasar Palmerah. Dia praktis kerja di rumah sepenuhnya buat Mongabay.

Untungnya, Sapariah sudah vaksinasi. Gejalanya, hanya pilek dan suhu 36 sampai 37.4 Celsius. Normal. Dia juga sakit kepala. 

Rumah kami kecil, hanya dua kamar tidur, satu kamar mandi. Sapariah memutuskan isolasi mandiri di sebuah hotel dekat apartemen. Diana dan saya harus tes lagi hari Rabu. Saya bantu Sapariah untuk check in, bawa barang-barang yang diperlukan. 

Apartemen kami dibersihkan dengan desinfektan. Malamnya, kami mengungsi, tidur di hotel lain, persis depan apartemen. Diana senang sekali dengan kamar yang kami tempati. Kasur empuk, kamar mandi dengan bathtub, AC kencang. 

Senin, 5 Juli 2021 - Hasil PCR buat Sapariah

Hasil tes PCR (polymerase chain reaction) dari Oikos Drive Through sudah sampai. Sapariah Saturi positif terkena virus corona dengan  nilai CT 20.03. Artinya, dia menular sekali. Dia juga kehilangan indra penciuman. 

Kami dapat masukan dari beberapa orang, termasuk dua dokter, serta kawan yang sudah mengalami Covid19, agar isolasi mandiri serta kemungkinan konsumsi beberapa obat. Penting minum air banyak, olah raga, dan kena sinar matahari (Vitamin D). Mencari rumah sakit belum perlu, dan kalau pun perlu, juga sulit sekali. Namun Sapariah daftar teleconsultation di sebuah rumah sakit. Tak ada jawaban kecuali otomatis bahwa mereka akan hubungi kembali. 

Banyak pesanan yang saya kirim sore ini ke hotel Sapariah, dari thermometer sampai air mineral lima liter. Sapariah juga minta makanan kesukaan --banyak sayur, banyak buah-buahan. 

Kami juga minta Sri Maryani, karyawan rumah tangga kami, untuk tes Antigen dekat rumahnya. Saya minta Maryani tidak masuk kerja agar tak tertular. Hasilnya, negatif. Maryani tentu orang yang juga sering berdekatan dengan Sapariah. Ini melegakan. Kami yang di rumah banyak makan vitamin guna menaikkan stamina tubuh. 

Selasa, 6 Juli 2021 - Bagaimana Sapariah bisa terpapar virus corona? 

Kami sekeluarga terakhir tes pada 21 Juni sepulang dari Lasem, Jawa Tengah. Hasilnya negatif. Saya mengingat semua kegiatan Sapariah antara 21 Juni sampai 2 Juli ketika saya perhatikan dia pilek. 

Sabtu malam, 3 Juli, dia minta dibawa tes di Oikos Drive Through, Lapangan Tembak. Ini tempat tes praktis bawa mobil, diambil sample dari dalam mobil. Hasilnya dikirim lewat WhatsApp. Ia terletak persis depan apartemen kami. Praktis tentu. Biayanya Rp 990,000 per orang. 

Saya tahu ada ratusan juta orang di Indonesia, bila harus ambil tes PCR, harus menunggu hasil tes selama beberapa hari karena sample dikirim ke ibukota kabupaten atau provinsi. Kebanyakan memakai laboratorium Dinas Kesehatan. Di dekat apartemen kami ada tiga tempat buat lakukan PCR. 

Sapariah adalah orang cerewet soal kesehatan. Dia selalu sedia masker, bisa sampai beberapa box di rumah, dari model kain sampai N95 untuk tenaga kesehatan. Dia juga sering kirim masker ke kerabat dan kawan kami, dari Pontianak sampai Jember. Dia juga beli vitamin dari berbagai jenis. Dia rutin masak empon-empon (minuman jahe dan sejenisnya). Di rumah dan mobil selalu ada sanitizer. Dia memasukkan sanitizer kecil ke tas saya dan anak-anak. Setiap orang dimintanya cuci tangan.

Kantornya, Mongabay Indonesia, praktis sudah work from home. Mereka bahkan tak pernah bertemu tatap muka sejak Maret 2020. Kadang kami berdua jalan kaki di stadion Senayan. Pakai elevator tentu untuk naik turun di apartemen. Jarak tentu aman. Stadion Senayan relatif sepi.  

Unit kami hanya ada satu pekerja rumah tangga, Sri Maryani, yang datang empat hari seminggu. Maryani juga tes negatif. 

Sapariah juga segera ikut vaksinasi dari Dewan Pers ketika dibuka. Kami berdua sudah lengkap dapat vaksin Sinovac pada 6-7 Mei. Sri Maryani vaksin AstraZeneca. Namun kami belum menguji tingkat antibodi dari vaksin tersebut. 

Lima hari sebelum tes, Sapariah sempat belanja sekali di Pasar Palmerah dan sekali ke Bank BNI, Ratu Plaza (cabang Palmerah tutup). Dia bukan saja pakai masker tapi face shield

Selama di hotel, setiap hari saya antar makanan, obat, vitamin dan segala pesanannya –termasuk kompor listrik buat penguapan. Sapariah, belajar dari pengalaman ketika Norman masih kecil, merebus air. Ini membantu mengencerkan dahak dan bikin nafas lega. Kali ini Sapariah menambah jahe, serai, sirih, mint atau minyak kayu putih.  

Kami sudah terdaftar di Puskesmas Gelora Senayan untuk dapat layanan konsultasi dokter Yunike Simanjuntak secara online. Istilahnya, telemedicine. Mereka hendak lakukan tes PCR terhadap semua orang yang ada kontak erat dengan Sapariah selama dua minggu terakhir. Kami beli alat-alat pengukur yang relatif tidak mahal: thermometer, pulse oximeter, electronic blood pressure monitor bahkan tangki oksigen dengan regulator. 

Jadi bagaimana Sapariah tertular? Saya sementara menyimpulkan virus ini airborne (mengawang) dan menulari orang dengan cepat. Mungkin tak sengaja memegang sesuatu yang ada virus? Kemungkinan varian Delta seperti dijelaskan pemerintah.

Kamis, 8 Juli 2021 - Diana dan Saya Terima Hasil PCR Positif

Saya baru menerima hasil PCR dari Oikos Drive Through, Senayan. Ia menyebutkan bahwa Diana dan saya positif terkena coronavirus. Nilai CT (Cycle Threshold) masing-masing 17 dan 24. Artinya, Diana punya lebih banyak virus (CT 12-20) dan saya dalam fase penyembuhan (CT 21-30). Ini hanya bacaan amatir saya. 

Sri Maryani, pekerja rumah tangga, hasilnya negatif. Maryani sudah dapat vaksin AstraZeneca. Sapariah Saturi, isteri saya, dan saya vaksin Sinovac. Saya kuatir dengan Diana yang belum vaksin. Gejala saya batuk kering dan badan pegal. Diana mengeluh tenggorokan gatal. 

Sapariah sudah lapor ke Puskesmas Gelora. Mereka juga sudah dapat hasilnya. Mereka minta kami isolasi mandiri. Tingkat oksigen di atas 95, tak ada kesulitan buat nafas. Diana dan saya isolasi di rumah. Sapariah masih di hotel. Puskesmas bilang kami bertiga bisa isolasi bersama. 

Saya lega karena sekarang tahu hasil tes. Manajemen gedung juga sudah saya beritahu. Ini penting karena kami tinggal di bawah satu atap dengan tiga elevator. Para tetangga perlu tahu soal keluarga kami terkena Covid19. 

Kami ada persediaan vitamin, masker, obat-obatan, air panas (kompor dengan gas penuh), maupun makanan sehat (sayur-sayuran dan buah-buahan). Bahkan ada tabung oksigen. Terima kasih buat kiriman banyak kawan. 

Malam pertama isolasi mandiri, suhu badan Diana dan saya, masing-masing, 36.2 dan 35.8 Celsius. Level oxygen sama 97. Detak jantung juga normal. Takut namun harus tenang. Cerita buat pengantar tidur: Bagaimana papa dan mamanya bertemu di Pontianak 🙂

Kami akan tinggal dalam rumah selama 2 minggu. Sesudah dua minggu, saya harap, nilai CT kami sudah di atas 35 sehingga sudah tidak menular lagi.

Jumat, 9 Juli 2021 - Isolasi Mandiri Sekeluarga

Sapariah balik ke rumah siang hari saat saya masih bicara online dalam acara Asia Democracy Network bersama Haris Azhar, Sandra Moniaga, Soe Tjen Marching, dan Taufik Basari. Seorang panitia bilang saya terlihat “lemas.” 

Dokter Yunike Simanjuntak dari Puskesmas Gelora Senayan memberikan satu paket obat: azithromycin; vitamin B complex, hustab. Kawan saya dari Papua, Ruth Ogetay, bantu jemput paket tersebut dan dikirim ke rumah. Kami sekeluarga tidak keluar dari unit kami sejak positif Covid19. 

Sapariah Saturi terlihat lebih segar daripada hari Minggu, 4 Juli,  ketika mulai isolasi di hotel. Dia bilang indra penciuman sudah pulih berkat penguapan. Rasanya lebih tenang hadapi krisis Covid19 bersama isteri 😷 

Saya tak menjenguknya di hotel sejak ketika saya sendiri dan Diana dinyatakan positif. Dokter dan manajemen apartemen memperbolehkan kami isolasi bersama. Ini memudahkan koordinasi, minum obat, periksa oxygen, detak jantung dan seterusnya. 

Diana langsung merangkul mamanya ketika tiba. Dia senang sekali lihat mamanya pulang. Dia "mengeluh" ke mama bahwa masakan papanya tak nyaman ... kecuali kalau order online. Diana tentu rindu masakan mamanya. Saya kira di layar webinar Asia Democracy Network terlihat anak dan isteri saya mondar-mandir. 

Saya sendiri masih batuk dan pilek. Mudah-mudahan dengan obat pemberian Puskesmas, ia akan segera berkurang. Nilai oxygen kami berkisar 96 dan 97. Detak jantung antara 80 sampai 110. Ini masuk kategori orang normal. Saya duga vaksin Sinovac membantu pertahanan tubuh kami. Diana masih kecil sehingga tubuhnya lebih sehat. 

Diana rekam data medis tiap enam jam. Diana bertugas sebagai "dokter rumah" dan mencatat setiap pagi, siang dan malam. Diana juga jadi pelatih kami buat olahraga ringan. Mulai dari angkat kaki dan kembungkan dada, sampai loncat kecil.  

Ada banyak sekali kawan mengirim pesan, mengirim makanan dan minuman. Ada tetangga juga mencantolkan kantong kertas ("wedang sereh") ke pintu rumah. Pesan berdatangan bukan saja dari Indonesia tapi luar negeri: Amerika Serikat, Australia, India, Korea Selatan dan lainnya. 

Wartawan Kanada Jeff Hutton kirim jamu Jawa: jahe, temulawak, kunyit asem, temu kunci. Pilihan yang unik. Orang bule ngasih jamu. Novita Sari Simamora, wartawan Bisnis Indonesia, kirim satu paket masakan Batak. Saya mohon maaf tak bisa sebut semuanya. Kami sangat berterimakasih dengan perhatian kawan-kawan. 

Aliansi Jurnalis Independen tanya apa yang bisa mereka bantu. Saya mohon bila bisa, dibantu dengan tabung oxygen kecil, buat jaga-jaga. Saya kuatir bila level oxygen turun dari 95.

Brad Adams, atasan saya dari Human Rights Watch, minta saya berhenti kerja total tapi permintaan interview dan bicara, yang sudah saya sepakati, sulit dibatalkan. Setidaknya, ini jauh lebih ringan daripada lakukan riset, wawancara, berpikir dan menulis. 

Ini hari-hari awal pertempuran tubuh saya dengan virus corona. Saya tentu ada rasa takut. Susah tidur. Kematian bukan sesuatu yang tidak dekat dengan wabah ini. Saya berusaha taati nasehat dokter, minum obat teratur, olah raga, dan istirahat.

Senin, 12 Juli 2021 - Obat apa buat selamat dari Covid19?

Sapariah sudah hari ke-8. Keadaannya membaik, tampaknya sudah lewat puncaknya. Diana dan saya sudah hari ke-5. Diana tanpa gejala. Dia sepanjang hari main depan komputer: Minecraft, Roblox. Permainan online bersama kawan-kawannya: Kyra, Gaby, Tiffany. 

Saya masih batuk dan pilek. Obat dari Puskesmas Senayan diganti dari tablet huztab menjadi fluimucil 200mg. Saya harus membeli sendiri fluimucil. Namun tak dapat. Saya dapat dengan obat generik, namanya acetyulcysteine. Ini obat pengencer dahak. 

Saya tanya pada dokter Yunike Simanjuntak apakah saya bisa minum obat Cina bernama Lian Hua? Ini juga obat batuk. Dia keberatan. Dia minta saya tak makan obat lain di luar apa yang disarankan Kementerian Kesehatan. 

Ini pertanyaan klasik. Mau sembuh pakai obat modern atau obat tradisional? 

Kami menerima saran dan kiriman macam-macam obat tradisional dari banyak kawan. Dari minuman jahe sampai kelapa muda hijau. Ada immunomodulator “untuk kalangan terbatas.” Ada juga obat semprot ke hidung dan mulut. Seorang petani organik dari Garut mengirim madu lengkap dengan sarang lebahnya. 

Di Indonesia, banyak sekali orang mengatasi virus corona ini dengan jahe, bawang putih, minyak kayu putih dan seterusnya. Banyak yang berhasil. Ada puluhan kenalan saya, yang tinggal di desa-desa, kasih saran jahe, serai dan lainnya. Saya makan saja sarang lebah yang super manis dan kenyal macam permen karet. 

Mungkin agak berantakan. Semua saya coba kecuali dokter melarang. Boleh jadi gejala kami ringan, kata Puskesmas. Sapariah, Norman (anak sulung) dan saya sudah vaksin Sinovac. Norman Harsono tinggal di apartemen lain sehingga tak kena virus ini. 

Intinya, dari Kementerian Kesehatan mengatakan pasien Covid19 harus memasukkan vitamin B, C, D plus zinc serta obat anti-virus. Lainnya, anti-batuk, anti-pilek atau anti-pusing, tergantung keadaan masing-masing.

Selasa, 13 Juli 2021 - Rontgen Thorax

Sapariah Saturi dan saya lakukan tes darah dan rontgen thorax. Ini penting buat alat analisis dokter Yunike Simanjuntak. Kami lakukan tes di Bio Medika, Gandaria, dekat rumah. 

Rontgen untuk mengetahui bila virus corona berhasil masuk ke paru-paru atau saluran pernafasan. Darah buat macam-macam tentu. 

Bila virus berhasil masuk ke paru-paru, kita perlu memperhitungkan dampaknya kelak sesudah sembuh.

Ada penjelasan para peneliti kesehatan di New York Times soal bagaimana virus corona menyerang paru-paru. Persoalan pandemi ini adalah pertempuran di paru-paru. Makin dalam virus menyerang, makin berkurang daya kerja paru-paru pasien. 

Jumat, 16 Juli 2021 - Bronchopneumonia

Hari kedelapan sesudah tes Covid19 pada 8 Juli. Hasil laboratorium Bio Medika mengesankan ada bronchopneumonia. Gejalanya, saya sering batuk. Ia terjadi karena pipa pernafasan, sesudah leher, yang menuju ke dua paru-paru, mengandung cairan kental. Ini terjadi karena virus corona masuk ke sistem pernafasan saya. Hasil rontgen menunjukkan hanya bronchus sebelah kanan yang terkena. Bronchus kiri aman. 

Virus apapun tentu tak diharapkan masuk ke paru-paru. Ia akan menghalangi paru-paru dapat oksigen, thus menurunkan saturasi oksigen. Saya catat saturasi oksigen pagi, siang dan malam. Selalu aman. Kalau virus sudah sampai paru-paru, saya harus masuk rumah sakit. Sulit sekali bukan? Apalagi dalam krisis kesehatan macam sekarang. 

Saya sulit tidur nyenyak. Ini entah sudah berapa malam sulit tidur. Saya baru tertidur pukul 5 pagi. Semalaman banyak berpikir tapi juga nonton Secrets of Great British Castles. Selama isolasi mandiri, saya sudah tonton episode yang penting tentang Carrickfergus Castle (Irlandia Utara), Tower of London, Caernarfon Castle (Wales), Edinburgh Castle (Skotlandia). Setengahnya saya belajar soal nasionalisme dan kerajaan Britania. 

Dokter Yunike Simanjuntak dari Puskesmas Gelora Senayan minta saya tetap minum tablet  acetyulcysteine. Ini obat pengencer dahak. Dia minta saya minum Vitamin D (5000 IU) serta olah pernafasan. Olahraganya macam meniup balon. Tahan nafas, lepas nafas. Hasilnya mulai terasa. Batuk jauh berkurang. Tadi malam saya tidur dengan nyaman. Saya harap hari ke-10 batuk sudah reda.

Sabtu, 17 Juli 2021 - Mulai Bisa Tidur Tenang

Saya tidur dari pukul 23 sampai pukul 7, termasuk lama sekali buat saya. Hanya sempat bangun sekali buat buang air kecil --kebanyakan minum air putih, selalu terbangun dari tidur. 

Batuk masih ada namun dahak jauh berkurang. Saya masih minum tablet  acetyulcysteine (buat mencairkan dahak) maupun vitamin C dan D (pagi hari), vitamin E dan zinc (malam hari). 

Sedih sekali saya mengetahui Zed Abidien, wartawan Surabaya dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen, meninggal dunia dengan Covid19. Kami kenal sejak pembredelan 1994, sering kerja sama, dan 2019 sebetulnya janjian mau bertemu tapi tertunda karena wabah. Zed meninggal di sebuah rumah sakit di Mojokerto. Semoga isteri Yudiarini Swastiwulan dan ketiga anaknya tabah.

Albertus Amboro Putranosa dari Salatiga mengabarkan bahwa bapaknya, Ari Purwanto, meninggal dunia di rumah sakit Salatiga dengan Covid19. Mereka sekeluarga dulu tetangga saya ketika tinggal di Jalan Ki Penjawi, Salatiga, pada 1990an. Amboro dan kedua adiknya, Anastasia Arimbi dan Agatha Aritami, dulu belajar bahasa Inggris di terminal dokar. 

Pada 28 Juni, Ari sudah mendaftar untuk vaksinasi di Salatiga namun ditolak petugas vaksinasi karena dia sedang flu dan batuk. Bulan Juli, isterinya, Cecillia Ambar Rustami, terpapar Covid19 terlebih dahulu dan masuk rumah sakit 11 Juli. Ari merawat isterinya, juga terpapar, namun ketika mulai sakit, dia kesulitan dapat ranjang rumah sakit selama lima hari. Agatha merawat bapaknya dan mengatakan, "Bapak masuk rumah sakit tanggal 15 juli, Bapak meninggal tanggal 16 juli pukul 21.45." Ambar keluar dari rumah sakit pada 17 Juli. Saya sedih dengar telepon dari Agatha, Arimbi dan Amboro. 

Minggu, 18 Juli 2021 - Batuk Reda, Pilek Reda

Sapariah hari ke-14, saya hari ke-10. Kami masih belum tes tapi dokter senang dengan perkembangan kami. Batuk sudah mereda. Pilek juga reda. Sapariah seharusnya sudah selesai isolasi mandiri tapi dia sekalian menunggu anak dan suaminya. 

Saya menawarkan diri untuk tes rontgen atau lainnya. Dokter bilang tidak usah karena gejala sudah membaik. Dia tak mau saya terpapar coronavirus lagi dengan pergi keluar dari isolasi rumah termasuk pergi ke laboratorium. 

Semua obat-obatan sudah selesai. Kami masih konsumsi vitamin, madu, wedang jahe dan berbagai makanan yang enak-enak serta olahraga, terutama pernafasan 😉

Senin, 19 Juli 2021 - Kuncinya Vaksinasi

Pagi ini bangun, cuci piring, dan cek detak jantung (77) serta saturasi oksigen (95). Semalaman ada belasan kawan kirim pesan lewat Whatsapp dan Facebook, cerita soal bagaimana mereka juga terkena virus corona. Menariknya, beberapa dari mereka menolak vaksinasi. 

Lumayan lama saya menerangkan apa yang saya dengar dari Pandu Riono dari Universitas Indonesia serta Irma Hidayana dari Lapor Covid soal bagaimana vaksinasi, apapun jenisnya, membantu tubuh agar siap bila terkena virus. Ia tak membuat orang kebal tapi kalau terpapar, gejalanya ringan sampai sedang --tergantung stamina masing-masing. 

Saya sudah main gitar, lagi belajar lagu Sara Bareilles "She Used to be Mine." 

Saya mau memakai kesempatan ini buat mendorong semua kawan saya untuk segera lakukan vaksinasi. Ia bukan saja melindungi diri kita sendiri tapi juga lingkungan. Ia juga membuat kita tak bisa jadi inang buat virus tersebut.

Sudah ada banyak argumentasi ilmiah untuk membantah semua keraguan kita. Silahkan baca website Centers for Disease Control and Prevention. Vaksinasi terutama penting buat tokoh masyarakat, termasuk wartawan, agar warga mendapat teladan.

Segeralah vaksinasi bila belum. Dorong kerabat dan kawan Anda untuk vaksinasi. Tak perlu pilih-pilih vaksin. Bila kuatir dengan ada penyakit bawaan, konsultasi dokter. Saya menemukan banyak jawaban dari website CDC

Selasa, 20 Juli 2021

Sapariah hari ke-16, saya hari ke-12. Hari ini hari raya Idul Adha. Ini sudah tahun kedua umat Muslim merayakan Idul Adha dengan pandemi. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas minta tak ada pelaksanaan shalat Idul Adha di masjid atau lapangan. Saya lihat di timeline Facebook, masih banyak masjid yang bikin shalat. Tak mudah memang mengatasi pandemi di Indonesia. 

Kesehatan kami makin stabil. Saya tidur dari pukul 23.30 sampai pukul 6.30. Tujuh jam lebih dari cukup bukan? Saya biasa hanya tidur enam jam. 

Kamis, 22 Juli 2021 - Surat Selesai Pemantauan Covid19


Puskesmas Gelora Senayan menyatakan pemantauan terhadap keluarga kami sudah selesai. Sudah lewat 15 hari apalagi Sapariah Saturi, sudah 19 hari, sejak positif. Kami dianggap sudah sembuh, tak perlu dipantau. 

Namun ada surat-surat yang harus diurus. Mulai dari bikin "surat minta izin isolasi mandiri" sampai surat pernyataan dari RT dan RW agar kami dipantau. Saya mencari tujuh tandatangan, dalam dua hari ini, sudah tiga kali ke Puskesmas, dua kali ke tempat Satgas Covid19 tingkat lingkungan. Kami sekeluarga --Diana, Sapariah dan saya-- juga ambil tes PCR di Oikos Drive Through. 

Walau sudah sembuh, kami tentu masih dalam pemulihan. Kami takkan keluar rumah, setidaknya seminggu lagi, apalagi dalam suasana Jakarta dimana virus corona ada di mana-mana. Setidaknya saya lega karena kami sudah tak menularkan virus ini ke orang lain. 

Selasa, 27 Juli 2021 - Surat Selesai Pemantauan Puskesmas

Siang ini saya menjemput surat dari Puskesmas Gelora Senayan yang menyatakan bahwa Diana, Sapariah dan saya sudah selesai dari proses pemantauan mereka. Kami sudah dinilai bisa keluar rumah, sudah tak menular. Sebenarnya softcopy surat sudah saya terima akhir pekan namun hardcopy baru saja ambil hari ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Gelora, termasuk dokter Yunike Simanjuntak, yang menjadi "petugas karantina" keluarga saya. 

Tuesday, June 01, 2021

Seruan Indonesia: Hentikan Perundungan dan Intimidasi lewat Aturan Busana


Kami
menyambut baik keputusan tiga menteri soal seragam sekolah negeri pada 3 Februari 2021. Ia memberi kesempatan kepada siswi dan guru perempuan untuk memilih busana mereka. Mau pakai atribut keagamaan boleh, tanpa atribut juga boleh. 

Namun kami prihatin dengan Mahkamah Agung membatalkan aturan tersebut tiga bulan sesudahnya. Susahnya, pertimbangan Mahkamah Agung belum terbit. Masyarakat tidak bisa membaca apa dasarnya. Kesannya, keputusan dibuat terburu, hanya dua bulan sejak dimohonkan oleh M. Sayuti dari Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau, Padang. Ia terkesan tidak dilakukan verifikasi terhadap pelanggaran di berbagai daerah. Ketiga hakim juga tidak minta masukan dari Komnas Perempuan serta unsur masyarakat yang dirugikan oleh kewajiban berjilbab. 

Kami prihatin karena kami melihat korban sudah berjatuhan akibat diskriminasi, perundungan dan pemaksaan pakai jilbab bagi anak dan perempuan. Para psikolog kini menangani pasien gangguan jiwa, termasuk percobaan bunuh diri, akibat trauma perundungan. 

Menurut Komnas Perempuan, ada minimal 62 aturan wajib jilbab di seluruh Indonesia. Human Rights Watch mengatakan aturan wajib jilbab efektif pada minimal 24 dari 34 provinsi. 

Aturan ini muncul tahun 2001 di Sumatera Barat, tahun 2002 di Aceh, lantas makin meluas, diberlakukan pada anak perempuan, sejak kelas satu sampai kelas 12, juga pegawai negeri perempuan –guru, dosen, dokter dan lainnya. Aturan ini dijadikan pembenaran buat diskriminasi dan menekan anak dan perempuan memakai jilbab dengan hukuman masing-masing. 

Di sekolah negeri, jilbab ada pada kurikulum kompetensi pelajaran agama Islam. Kalimat “berpakaian sesuai dengan syariat Islam” dimaknakan sempit dengan jilbab, baju panjang, dan rok panjang. Kata “himbauan” bisa berubah jadi intimidasi, ancaman, atau dikeluarkan sekolah. 

Di Sumatera Barat, murid perempuan, termasuk yang Protestan, Katolik, dan Hindu, dipaksa berjilbab. Di SMAN 2 Cibinong ada siswi coba bunuh diri. Di SMPN 3 Genteng, Banyuwangi, sekolah menekan siswi Kristen mundur karena menolak pakai jilbab. Banyak guru sekolah negeri menggunting rambut siswi. Banyak guru mencoret pakaian siswi dengan spidol. Banyak guru kaitkan jilbab dengan prestasi akademik. Pada Februari 2020, 10 anggota Pramuka tewas saat susur sungai di Sleman. Tim Search And Rescue mengatakan rok panjang membatasi gerakan dan kemampuan korban untuk menyelamatkan diri. 

Kami tidak ada masalah bila perempuan memilih pakaian jilbab. Persoalannya, kami menolak paksaan dalam berpakaian. Protes kami juga berlaku pada sekolah negeri di Bali, Flores, dan Papua dimana ada siswi Muslim dilarang berjilbab. Kami tidak mempersoalkan sektor swasta: sekolah, bisnis, sosial, dan seterusnya. Orang bisa memilih mau masuk ke sekolah swasta atau tidak. Namun kami menolak sektor negara, yang dibiayai dana publik, dipakai buat atribut agama tertentu. 

Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan agama, keyakinan, berekspresi, hak pekerjaan, serta pendidikan tanpa diskriminasi. Perempuan memiliki hak setara dengan laki-laki. Pembatasan terhadap hak ini hanya bisa dilakukan demi tujuan yang sah, tidak sewenang-wenang dan nondiskriminatif. 

Presiden Joko Widodo, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, serta Menteri Pendidikan Nadiem Makarim seyogyanya mengeluarkan peraturan baru untuk melindungi anak dan perempuan dari pelanggaran busana. Kami juga menuntut semua kepala daerah, kepala kantor pemerintahan dan perusahaan negara, kepala sekolah negeri, dan semua guru negeri mencabut paksaan busana di tempat mereka. Komisi Yudisial seharusnya memeriksa Irfan Fachruddin, Is Sudaryono dan Yulius terkait Kode Etik Hakim. 

Pelanggaran jilbab bukan semata masalah pakaian. Ini masalah keadilan buat perempuan untuk memilih identitas dirinya. Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi. Masa depan ke-indonesia-an kita ditentukan oleh seberapa banyak generasi muda mampu menghargai konstitusi, keberagaman dan kemanusiaan.

Jakarta, 1 Juni 2021


Tuesday, May 18, 2021

Elegi Yang Sempurna

Jakarta, 2 Mei 2021

08.24 WIB

Selamat pagi Yudh, kamu gimana kabarnya? Baik sepertinya. 

Yudh, pagi ini aku bangun dari tidur nangis lagi, cemas lagi, dan dadaku sesak lagi. Aku nangis sambil meluk diriku di dalam selimut sambil bilang “Yudh aku kangeeen banget sama kamu, aku kangen manja-manja sama kamu, aku kangen nangis dipelukan kamu”. 

Hari ini hari kesembilan aku tanpa kabar dan cerita dari kamu. Ini hari kesembilan aku gaada temen berkirim pesan, hari kesembilan aku menangis sendirian. 

Sembilan hari ini aku cukup kuat kok Yudh, aku berusaha agar ikhlas dengan perpisahan kita. Ini berat  buat aku. Sangat berat. Hari pertama setelah kamu mengakhiri hubungan, aku masih marah-marah kirim pesan, aku gak terima, aku marah, aku kecewa, aku benci kamu. Semalaman aku gak tidur Yudh, gak bisa tidur sama sekali.

Hari keduanya, masih sama, aku tetap nangis. Sorenya aku buka puasa sama temen-temen kuliah. Pulang dari sana aku cukup baikan, karena bertemu teman-teman. Walaupun pagi subuh tangisku pecah lagi Yudh. 

Hari ketiga, Ayu ke kossan buat nemenin aku. Ayu tiga hari di kossan aku. Cukup mendistraksi aku, tapi tetep aja. Aku tetep aja nangis. 

Minggu malam aku mutusin buat hubungi kamu lagi. Aku hubungi karena memang belum lega, belum terjawab pertanyaanku. Kenapa? Padahal aku sayang banget sama kamu. Selama telponan kamu menangis terus. Aku belum paham, kenapa kamu yang menyelesaikan tetapi kamu yang begitu bersedih? 

Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa sangat insecure Yudh. Ketika kamu bilang menyukai perempuan itu. Bergejolak rasanya. Aku langsung mempertanyakan diriku. Aku seburuk itukah? Aku sejelek itu?  Aku tidak pintar ya? Aku tidak seru lagi ya? Aku buka instagramnya berulang kali. Aku lihat. Semakin aku lihat semakin aku sakit. Aku mengasihani diriku. Menyedihkan sekali. 

Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Rasa kamu yang hilang tentu aku tak bisa mengembalikannya, mau sekeras apapun usahaku, tetap ga akan ada gunanya. Apalagi ketika kamu sudah tertarik dengan perempuan lain. Aku berusaha menerima keadaan bahwa memang Tuhan bisa membolak-balikkan perasaan. Tuhan bisa saja menghilangkan rasa selama dua tahun tujuh bulan itu.

Aku gak terima Yudh, masih belum bisa menerima. Aku kurang apa? Aku salah apa? Aku merasa sudah melakukan versi terbaik dari diri aku dalam menjalin hubungan . Aku merasa sudah memberikan penuh kasih sayang, perhatian dan waktu yang ada. Tapi usahaku tidak sesuai harapan. Memang manusia bukan tempat pengharapan. 

Waktu itu aku masih belum bisa memahami keadaan Yudh. 

Senin pertama setelah itu aku gak masuk kantor Yudh, aku izin, aku butuh istirahat dan mengganti tidurku sebelumnya. Senin itu aku hanya tidur, di atas kasur  dan tidak melakukan apapun. Tapi tentu saja menangis.  

Selasa aku masuk kantor. Di kantor berasa begitu berbeda, biasanya sampai kantor aku akan kirim pesan kepadamu dan bilang “Sayang aku sudah di kantor ya” sembari mengirimkan selfie-ku. Pagi itu nggak lagi. Aku hanya selfie dengan mata sembab dan menyimpannya. 

Rabu Ayu pulang, aku bekerja seperti biasa, aku merasa hari Rabu itu aku sudah cukup baikan, walaupun akhirnya subuh pagi di hari Kamis tangisku pecah lagi. 

Oh iya, sebelumnya aku sudah membuat jadwal untuk konseling. Walaupun aku sudah cerita kesemua orang yang kupercaya, tapi tetap saja aku membutuhkan pertolongan. Konselingku berjalan dengan sangat baik Yudh, aku menceritakan semua kesedihan, tanda tanya, sakit hati yang kurasakan, sembari sesekali menangis juga tertawa. Mungkin aku sudah gila. 

Tapi tidak Yudh, setiap orang pasti patah hati, tentu ini bukan patah hatiku yang pertama. Aku sudah terbiasa patah hati dari kecil Yudh, kamu tentu tahu kenapa. 

Saat konseling aku menyadari semuanya, aku mengerti. Aku  paham dengan kondisi hubungan kita. Sesaat itu juga aku menyadari kita memang tidak bisa bersama, hubungan kita memang sakit dan terlalu pahit untuk dilanjutkan. Aku menyadarinya Yudh. 

Ada perbedaan besar dari diri kita dalam menghadapi hubungan ini, tentu saja Yudh, salahnya bukan padaku, tapi di kamu. Kamu pun menyadarinya. 

Kesimpulan konseling membuatku lega Yudh, aku mulai menerima keadaan bahwa kita memang gak bisa bersama. Ada dinding besar yang tinggi berdiri tegap di antara kita. Selama ini dinding itu selalu aku pukuli untuk  hancur agar aku bisa menyentuh dan menggenggam kamu, tapi tentu saja dengan tanganku yang penuh luka. Kamu menyadari luka di tanganku, kamu tidak mau luka itu semakin besar, karena kamu tidak bisa memukul dinding itu juga,kamu tidak mau untuk sama-sama meruntuhkannya dan menggenggam aku, karena kamu tidak mau Yudh, kamu tidak mau tanganmu ikut terluka. 

Selama ini aku tidak merasakan luka itu Yudh, aku selalu mengobati tanganku dengan berbagai cara. Sehingga sampai saat ini aku melihat tanganku tak ada bekas luka sedikitpun. Aku selalu mengingat hal-hal yang bahagia dan baik yang kamu lakukan buatku, sampai aku lupa bahwa tanganku penuh luka. 

Aku  mengerti sekarang. Kamu egois, kamu individualis, termasuk ke dalam hubungan kita. Aku sebenarnya menyadari itu dari lama, tapi aku bertahan dan berpikir kamu akan berproses, menjalani hubungan yang dewasa dan penuh tanggung jawab denganku, tapi aku salah. Saat itu juga logika dan perasaanku seirama Yudh. Saat itu juga aku menyadari bahwa berpisah adalah jalan terbaik buat kita. 

Memoriku kembali berputar, tiga tahun lalu, dua bulan lalu, satu tahun lalu, lima hari lalu, semuanya berputar tidak beraturan. Kenangan baik dan buruk berputar dan berbenturan. Bahagia, sedih, kecewa dan marahku bertabrakan Yudh, tapi akhirnya aku menemukan garis penghubungnya.  Seketika aku semakin sadar dan paham. Memang jalan terbaik kita saat ini adalah berpisah.  

Pertanyaanku sudah terjawab Yudh. Insecureku hilang perlahan. Aku kembali kepada diriku, aku meminta maaf kepada tubuh dan diriku karena sempat meragukan dan membuatnya tersiksa.

Aku kembali menyayangi tubuh dan diriku Yudh. Aku sudah kembali bersahabat dengannya. Aku berterima kasih pada diriku yang masih sehat walaupun  sempat meragukannya dan tidak memperdulikannya. Aku bersyukur ia tak marah padaku. Ia tetap sehat meski aku kemarin tidak makan, tidak tidur dan menangis terus-menerus. Aku kembali sadar bahwa aku adalah perempuan hebat Yudh. Betapa hebatnya aku dengan perjalanan hidupku sejauh ini yang begitu sangat mendewasakan. 

Aku teringat  kepada sekelilingku, mereka  mendengarkan tangisanku, ceritaku, amarahku, kecewaku. Mereka  mendukung, menguatkan dan membantuku melewati hari-hari berat ini. Bersedia 24 jam untuk dihubungi, bersedia aku ajak jumpa kapan saja, bersedia kapan saja aku repotkan, berikan  motivasi dan ada yang menertawakan aku juga.  Itu semua untuk buat aku bertahan dan kuat melewati proses patah hati ini Yudh. 

Aku sekarang lega Yudh, logikaku sudah seirama dengan perasaanku. Walaupun tak aku pungkiri, sampai hari ini aku masih menangis karena merindukanmu. Aku masih menangis ketika teringat kamu. Aku hanya butuh waktu Yudh, buat mengikis perlahan-lahan perasaan sayang aku kekamu hingga hilang. Aku butuh waktu saja untuk pelan-pelan berhenti merindukan kamu, aku butuh waktu untuk pelan-pelan tidak menangis lagi. 

Aku begitu menikmati patah hati ini Yudh, ini adalah patah hati yang sempurna yang pernah aku miliki, mungkin juga patah hati yang sempurna di antara patah hati yang ada. Patah hati yang menemukan jawaban dan jalan. Sempurna, karena semuanya menemukan garis penghubungnya. Dari kamu, aku, dan sekelilingku. 

Yudh, aku masih ingin menyampaikan ini. Menyampaikan pesan yang sama seperti kita terakhir berbicara. Yudh, ketika kamu akan menjalin hubungan baru setelah ini, kuatkan hatimu untuk dapat berbagi kepada pasanganmu ya, jangan sampai ada aku yang lainnya setelah ini. Jangan lepaskan ia ketika rasamu hilang, jangan lepaskan ia ketika perempuan lain lebih menarik, tak akan ada habisnya Yudh. Carilah dan dapatkan jawabanmu sebelum memulai hubungan lagi ya, agar hubunganmu sempurna Yudh. Sempurna seperti patah hatiku. 

Salam dari aku.

Yanose Syahni





Thursday, May 06, 2021

Sarung Virus Corona dari Badui

KETIKA Hartoyo, Christine Siahaan dan kawan-kawan dari Suara Kita --sebuah organisasi yang banyak bantu korban kekerasan seksual-- bikin lelang kain dari sebuah perkampungan Badui, saya dibelikan sarung corona oleh isteri saya. 

Warnanya biru. Gambarnya ternyata memang virus corona.

Saya suka sekali. Bahan lembut. Enak dipakai sehari-hari di rumah. 

Saya tak sangka bahwa suku Badui sudah bikin sarung dengan gambar corona. Ini memang bukan buatan baru. Mereka sudah membuat sarung ini selama beberapa waktu. 

Dalam bahasa Latin, "corona" artinya "mahkota." Virus ini disebut coronavirus karena bentuknya memang mirip mahkota. Pada 1968, peneliti June Almeida dan David Tyrrell menggabung kata "corona" dan "virus" ketika mempelajari bagaimana virus yang biasa ada dalam burung dan mamalia bisa menclok ke tubuh manusia. Pandemi ini disebabkan oleh "coronavirus 2019" --Covid19-- karena virus ini ditemukan pada Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok. 

Pandemi ini membuat kehidupan delapan milyar manusia pada 2020-2021 terpengaruh. Entah berapa juta orang meninggal. Entah berapa perusahaan tutup terutama mereka yang bergerak di bidang dengan banyak orang berkumpul, termasuk transportasi, hiburan, pabrik besar.

Hebatnya, orang Badui sudah tahu bahaya virus. Mereka langsung lakukan lockdown ketika ada kabar virus baru mengganas. Menurut Kompas, setahun pandemi berjalan, tak ada satu pun warga Badui yang tertular virus. 

Mereka yang berada di Tangerang, Jakarta, dan Bandung, langsung diperintahkan pulang. Mereka yang ada dalam wilayah Badui, dilarang keluar. Mereka juga membatasi wisatawan datang ke daerah Badui. 

Ini reaksi yang terbentuk dari pengalaman lama dan terekam bahkan dalam sarung corona. Coba Anda Google dan lihat sarung Badui. Ada gambar corona. 

Sarung corona ini bukti bahwa masyarakat adat bukan tak tahu akan mekanisme hadapi pandemi. Mereka lebih tahu protokol kesehatan. Mereka batasi perjalanan mereka agar selamat dari pandemi.