Saturday, September 11, 2021

Susanna Harsono terkena stroke di Jember

PADA 6 September, Metri Harsono, mama saya, pertama kali menengok anaknya, Susanna, adik saya, yang masuk rumah sakit di Jember sejak 21 Agustus. 

Mulanya, Susanna diduga terkena coronavirus dan dibawa ke rumah sakit Bina Sehat, Jember. Namun hasil tes tiga hari kemudian negatif. Di Jember, tes coronavirus memang tak secepat di Jakarta. 

Maka dilakukan berbagai usaha kedokteran lain untuk tahu mengapa Susanna tiba-tiba tak bisa jalan bahkan berdiri. Dia terlihat lemas terus, perlahan-lahan sejak Mei. 

Rebeka, saudara kembar Susanna, menemani terus di rumah sakit Bina Sehat. Rebeka terpaksa juga ikut tinggal dalam kamar sakit karena pandemi. Dia tak bisa keluar masuk. Saya salut lihat kesabaran dan ketelatenan Rebeka merawat saudaranya, dari kasih makan sampai kebersihan. 

Pada 1 September, Susanna dipindah dari Bina Sakit ke rumah sakit daerah Soebandi, Patrang, Jember, dimana ada dokter Evy Tyaswati, seorang psikiater, yang sudah merawat Susanna hampir dua dekade karena schizoprenia. Tyaswati dengan sigap menerima kehadiran pasien langganan. 

Diagnosanya, Susanna mengalami penyempitan pembuluh darah otak. Ini bikin dia lumpuh dari leher ke bawah, badan sebelah kiri. Ada lima dokter, termasuk Tyaswati, yang memeriksa dgn macam-macam spesialisasi. Lantas ada tulang pinggul retak, mungkin akibat jatuh di toilet. Juga kekurangan nutrisi.

Mama tak bezoek selama ini karena pandemi. Dia sudah berumur 78 tahun serta belum vaksin. Pada 6 September, pertama kali dia melihat anaknya di rumah sakit. Saya tak bisa bayangkan bila saya harus melihat anak saya sendiri lumpuh. Perasaannya pasti berkecamuk.

Para perawat mengatakan agar kami bersiap dengan Susanna kembali ke rumah dengan kursi roda. Dia tampaknya perlu perawatan 24 jam sehari karena dia tak bisa makan dan minum sendiri, tak bisa duduk, berdiri apalagi berjalan. 

Pada 10 September, Susanna diizinkan pulang ke rumah di Jember dengan check up setiap minggu. Dia akan berobat jalan dengan fisioterapi agar ada perbaikan dari otaknya supaya bisa memerintahkan otot-otot bergerak. Organ-organ lain normal. 

Ini masa yang sulit buat saya pribadi. Ada puluhan kawan serta beberapa kerabat saya meninggal selama pandemi. Saya mengantar Rebeka berobat di Jakarta awal Mei selama dua minggu. Mama sendiri masuk ke rumah sakit karena malnutrisi pada 23-25 Mei. Dia ditemukan pingsan dalam rumah. Susanna menemani mamanya di rumah sakit. Rebeka lantas pulang ke Jember pada 8 Juni. 

Bulan Juli, saya sekeluarga terkena coronavirus di Jakarta, harus isolasi mandiri. Di Pontianak, Kamal, adik ipar isteri saya, meninggal karena penyakit hati pada 2 September. Hampir setiap hari saya bikin video call dengan Susanna, lewat bantuan Rebeka, dan mengajaknya bicara. 

No comments: