Oleh Lahyanto Nadie
Mikrowa Kirana, yang terakhir berkarir sebagai bankir dan pernah menjadi direktur PT Bank Bukopin, harus mengecek ulang halaman 1 edisi perdana Bisnis Indonesia.
Abdullah Alamudi berkata kepadanya, “Ini hari bersejarah. Anda akan dikenang sepanjang masa karena piket menangani edisi pertama koran ini.”
Begitu pernyataan Alamudi kepada Nana, panggilan akrab Mikrowa.
Nana berkeringat dingin. Ia takut salah. Saya pun tak kalah takut. Sebagai korektor, jika ada typo atau ejaan tak sesuai kaidah Bahasa Indonesia, sayalah yang akan “digantung”.
Alamudi beberapa kali menekankan bahwa fungsi korektor sebagai final product controller sangat vital. Itu membuat saya takut.
20 Orang di Kramat V
Nana adalah satu dari 20 wartawan Bisnis Indonesia yang bekerja sejak 1 Agustus 1985 untuk mempersiapkan penerbitan koran ini. Wartawan lainnya adalah Adolf Hutabarat, Andi F. Noya, Andrianus Pao, Bambang Adipurwa, Bambang Istijab, Des Alwi, Duhita Hayuningtyas, Herry Suhendra, Hilda Sabri, Jacobus Blikololong, Moh. Imam Bahtera, Nano Sungkono, Nono Budiono, Rahmayulis Saleh, Retno Indarti Dharmojo, Rosadi Ruslan, Sri Rejeki Handayani alias Menuk Soewondo, dan Suhardiyoto.
Di bawah komando Amir Daud sebagai pemimpin redaksi, ada redaktur senior Abdullah Alamudi dan dua orang redaktur: Ery Soedewo dan Mansur Amin.
Desk foto digawangi oleh Syahrir Wahab dengan fotografer Mochtar Zakaria, Wahyoe Hendrodjanoe, dan Bambang Hasri Irawan. Tak satu pun di antara mereka yang kini masih di Bisnis Indonesia. Ada yang keluar pada tahun-tahun awal karena pindah ke perusahaan lain, ada yang pensiun dini, namun ada juga yang bertahan sampai lulus di usia 55 tahun.
Lahir di Temprint,Pukul 4 Pagi
Setelah 4 bulan 13 hari mempersiapkan kelahiran koran ini, akhirnya terbit juga surat kabar yang dinanti-nanti, paling tidak oleh awak redaksi. Dari Kramat V, saya bersama Sarmili, staf produksi, langsung naik motor ke Palmerah, tempat Bisnis Indonesia dicetak di percetakan PT Temprint.
Sukamdani Sahid Gitosardjono dan isteri, selaku pemegang saham, datang ke percetakan pukul empat pagi. Dari manajemen hadir Lukman Setiawan, salah satu direktur Bisnis Indonesia. Petinggi redaksi yang hadir adalah Abdullah Alamudi.
“Pernah melihat koran lahir?” tanya Pak AA kepada saya.
“Pernah, Pak. Harian Terbit,” jawab saya.
Sebelum di Bisnis Indonesia, saya memang bekerja di PT Metro Pos, yang mencetak koran Pos Kota dan Harian Terbit.
Menjelang terbit, sejumlah wartawan berpengalaman bergabung ke jajaran redaksi, antara lain Banjar Chaeruddin, Nur Hidayat, Eddy Prabowo, Arsyad Yahya Ritonga, dan Ida Bagus Oka Harimurti sebagai redaktur.
Banjar Chaeruddin menangani halaman Nusantara. Nur Hidayat pegang halaman Opini dan Santai. Eddy Prabowo menangani lioputan olahraga, dan Arsyad Ritonga halaman Kota.
Beberapa wartawan lain menyusul sebagai reporter seperti Emron Pangkapi, Yan Triasmoro, dan Tridoso Marto Kuntobharoto. Ada juga stringer yang ikut mempersiapkan edisi perdana, yaitu Turman Panggabean, Adi Sutadi, Nuhasyim N. Soleh, dan Tanda Brahmana.
Duka di Tahun-Tahun Awal
Banyak dukanya daripada sukanya di kantor Kramat V. Dua tahun pertama hidup penuh kesulitan dan koran belum diterima pasar. Sebagai koran ekonomi, terbit 12 halaman, namun didominasi konten umum yang terdiri dari 3 halaman olahraga, 2 halaman internasional, Nusantara, Santai, dan Opini.
“Koran kita nggak laku. Gue bawa balik lagi ke kantor,” kata Abdul Jamalsyah, staf bagian sirkulasi, sambil membanting koran.
Guru Bernama Titik Koma
Banjar Chaeruddin bercerita bahwa sejatinya "Pak AD" adalah guru yang tangguh dalam meletakkan dasar-dasar penulisan jurnalistik. Ia sangat menekankan pentingnya efisiensi kalimat, ekonomi kata, konsistensi, dan tentu saja logika bahasa. Soal “titik koma,” efisiensi kalimat, concise, ekonomi kata, logika berita, dan semacamnya, dalam hal ini Amir Daud sangat ketat dan tidak berkompromi.
Maka, bisik-bisik di antara beberapa kawan di kemudian hari menjuluki Amir Daud sebagai Mr. Titik Koma. Saya senyum saja.
Tembok Api
Sepanjang dua tahun kepemimpinannya di Bisnis Indonesia, Amir Daud sangat menjaga prinsip independensi redaksi. Ia menjaga dengan ketat prinsip firewall atau tembok api, yang menempatkan keputusan redaksi tidak bisa diganggu gugat. Pengalamannya di redaksi koran Pedoman dan majalah Tempo membuat Pak AD sangat disegani, bukan hanya oleh para wartawan, melainkan juga manajemen dan pemegang saham.
Prinsip tembok api pantang dilanggar. Para pengiklan dan penyandang dana media tidak boleh memengaruhi kebijakan redaksi atau wartawan untuk menulis atau tidak menulis sesuatu. Dalam pandangan ini, wartawan merupakan profesi yang merdeka. Mereka hanya boleh berpihak jika hal itu berkaitan dengan kebenaran dan kepentingan umum.
Penerapan prinsip “tembok api” itu sebenarnya tidak menjadi halangan bila penyandang dana, manajemen, dan redaksi secara bersama menetapkan kebijakan yang tepat dalam pengelolaan media. Bila telah disepakati sasaran pasar dan model produknya, maka redaksi tetap memiliki kebebasan untuk memuat atau tidak memuat berita.
Peluang pasar dunia usaha kecil, namun memiliki kemampuan beli yang besar, tidak terkelola dengan baik. Padahal ceruk pasar, niche market ini sangat potensial, yang seyogyanya menopang kehidupan koran, baik melalui langganan maupun iklan.
Kasus Iklan Kuping
Namun dalam 2 tahun pertama, posisi keuangan perusahaan pun berdarah-darah. Rugi besar. Tentu saja para pemegang saham harus terus subsidi.
Di tengah situasi itu, ada keinginan manajemen untuk memasang iklan kecil di samping kiri dan kanan masthead Bisnis Indonesia. Namun tampaknya Amir Daud tidak sependapat. Dalam pandangan manajemen, iklan kecil di “kuping” itu akan memberikan ciri khas Bisnis Indonesia sebagai koran ekonomi dan bisnis. Dengan demikian dunia usaha diharapkan lebih memberikan perhatian untuk mendukung kelangsungan hidup koran ini.
Ternyata kemudian, kasus “iklan kuping” tersebut menjadi titik balik kehidupan koran selanjutnya. Adalah Arsyad Yahya Ritonga, yang ketika itu menjabat Sekretaris Redaksi, berperan besar dalam memastikan “iklan kuping” tersebut akhirnya terpasang di halaman utama. Posisi iklan itu menggantikan boks yang semula berisi nama-nama pimpinan surat kabar.
Sekilas terdengar bahwa kasus “iklan kuping” itu menjadi pemicu ketidaksepahaman yang memuncak antara Amir Daud dan manajemen. Akhirnya dia mengundurkan diri.
Tokoh yang paling pas dan pantas menggantikannya adalah Lukman Setiawan. Selain dekat dengan “pasar”, Lukman juga wartawan senior yang lama bekerja sebagai pewarta foto di Kompas dan kemudian bergabung ke Tempo.
Namun kondisi waktu itu memang rumit. Pemilik media tidak bisa semaunya memilih pemimpin redaksi, melainkan sangat bergantung pada keputusan Menteri Penerangan terkait penerbitan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Akhirnya, bukan Lukman yang direstui untuk menjadi pemimpin redaksi, melainkan Sukamdani Sahid Gitosardjono. Beliau salah satu pemegang saham Bisnis Indonesia yang ketika itu juga menjadi ketua umum Kadin Indonesia.
Sebagai calon pemimpin redaksi, Sukamdani harus ikut ujian tertulis sebagai wartawan di Persatuan Wartawan Indonesia cabang Jakarta.
“PWI menjual kartu pers kepada pengusaha,” begitu tulis majalah Editor.
Tiga Langkah ke Depan
Dengan manajemen baru, Presiden Direktur PT Jurnalindo Aksara Grafika Eric Samola berpesan kepada Banjar dan teman-teman, “Cobalah berpikir tiga langkah ke depan. Kalau terus begini-begini saja, Bisnis akan bangkrut. Kalian kelaparan di lumbung padi. Pembaca Bisnis kan pengusaha dan para pejabat di bidang ekonomi. Coba berpikir ke arah itu.”
Dalam rapat perencanaan redaksi di villa milik Lukman Setiawan di kawasan Puncak, dihasilkan sejumlah gagasan baru tentang rubrikasi, orientasi pemberitaan, dan mobilitas reporter. Rubrik-rubrik Ekonomi Makro, Keuangan dan Perbankan, Asuransi, Bursa Efek, Jasa, dan Perdagangan memperoleh kapling halaman lebih banyak. Citarasa sebagai koran ekonomi dan bisnis menjadi lebih kental.
Dalam pertemuan tersebut disepakati pula perubahan motto. Semula “Dari Swasta Oleh Swasta Untuk Pembangunan” kemudian diubah menjadi “Referensi Bisnis Terpercaya”. Perubahan motto tersebut dimaksudkan untuk mempertegas visi dan misi koran ini, yaitu mendorong peran, kontribusi, dan dinamika dunia usaha dalam pembangunan ekonomi nasional.
Ketika Foto Pengusaha Gantikan Presiden
Ada pijakan lain yang menarik. Redaksi memutuskan penempatan foto halaman utama tidak lagi mengutamakan kegiatan pemerintah, terutama acara-acara Presiden Soeharto, melainkan lebih pada kegiatan dunia usaha. Foto pejabat pemerintah tetap bisa menempati halaman utama asalkan berkaitan dengan kegiatan ekonomi dan bisnis.
Ketika itu, pernah dalam satu bulan tidak muncul foto Presiden Soeharto di halaman utama. Sebagai gantinya, foto-foto pengusaha yang sedang menandatangani kerja sama, lobi, dinner, dan semacamnya lebih diutamakan.
Apa dampaknya?
Ternyata kemudian redaksi menerima banyak sekali permintaan dari dunia usaha untuk mengabadikan kegiatan bisnis mereka. Hampir tiap hari. Ini perkembangan bagus. Dunia usaha berhasil dirangkul dan mereka menjadikan Bisnis Indonesia sebagai bacaan utama.
Hal lain untuk meneguhkan positioning koran ini adalah keputusan redaksi untuk mendukung pengembangan Bursa Efek Jakarta yang ketika itu sedang digencarkan pemerintah. Keputusan strategis ini sekaligus membedakan Bisnis Indonesia dengan sebuah koran ekonomi lain.
Ternyata arah yang ditempuh tidak keliru. Seiring dengan kebijakan pemerintah menggencarkan deregulasi dan debirokratisasi di berbagai sektor ekonomi, Bisnis menarik manfaat besar. Kebijakan paket deregulasi sejak awal 1988 hingga Paket Oktober dan Paket November membawa berkah yang tidak kecil. Koran ini mendukung kebijakan pemerintah dalam mempermudah perusahaan untuk go public, juga pengembangan perbankan dan asuransi.
Selain menjadi ladang pemberitaan yang tiada habisnya, dunia usaha mempercayai Bisnis Indonesia sebagai media yang tepat dan cocok untuk placement iklan dan promosi mereka. Alhamdulillah, setelah itu berkah melimpah.
Seiring kemajuan Bisnis Indonesia, karir saya pun meningkat. Setahun menjadi korektor, saya menjadi reporter. Sepeninggal Amir Daud, setelah menjadi editor, rapat pemegang saham mengangkat saya menjadi direktur.
Saya dipercaya menangani manajemen Percetakan Bisnis Indonesia Group, PT Aksara Grafika Pratama, sebagai Direktur Product Planning Inventory Control atau PPIC. Saat bertemu dengan Pak AD, dia kecewa karena saya tidak menjadi wartawan lagi sesuai keinginannya.
Mazda Biru Telur Asin Terakhir
Kenangan saya dengan Pak AD yang sulit terlupakan adalah ketika beliau harus meninggalkan Bisnis Indonesia. Naik Mazda biru telur asin tahun 1985, kami shalat Jumat di masjid Hotel Borobudur dari kantor di Kramat V No. 8.
Setelah terpaksa harus keluar dari Bisnis Indonesia, ia belum tahu mau kerja di mana.
“Pensiun saja, Pak,” kata saya spontan.
“Hah!” sergahnya. “Bisa gila saya kalau pensiun."
Sejak keluar, kami jarang bersua. Namun kami berbicara empat mata pada Januari 2005. Ia bermaksud untuk kembali menjadi konsultan di bidang keredaksian. Namun rencana itu tinggal rencana. Mengenakan kaos Jack Nicklaus dan bercelana jeans dengan sepatu kets, kami bicara dari hati ke hati.
Setelah itu saya tak pernah lagi jumpa dengannya. Pada 8 September 2006, Allah lebih mencintai Pak AD. Dia memanggil sang guru kita.
Oh ya, dalam perbincangan di lantai lima itu, acap kali terngiang kembali.
Ia berkata dengan nada rendah, “Mestinya ...”
Ah, saya tidak sanggup menuliskan kata-katanya.
Al-Fatihah untuk Sang Guru.
No comments:
Post a Comment