Oleh Falahi Mubarok
Ada banyak perjumpaan yang datang tanpa direncanakan. Namun, ada pula perjumpaan yang terasa seperti hadiah dari semesta. Bagi saya, bertemu langsung dengan Goenawan Mohamad adalah salah satunya.
Kesempatan itu terasa begitu berharga. Tidak banyak jurnalis, apalagi yang bekerja di daerah, memiliki kesempatan untuk duduk dalam satu ruangan, berdiskusi, dan mendengar langsung pengalaman salah satu tokoh yang membentuk wajah jurnalisme Indonesia.
Saya yang dulu hanya mengenal namanya melalui tulisan dan sepak terjangnya di dunia pers tidak pernah membayangkan bisa bertemu langsung dengannya. Saat mulai bekerja di sebuah media lokal di Malang, salah satu buku yang "wajib" saya baca adalah Seandainya Saya Wartawan Tempo. Dari buku itulah saya mengenal sosok Goenawan Mohamad sebagai jurnalis, penulis, sekaligus pemikir yang kerap menghadirkan perspektif berbeda.
Perjumpaan ini tentu tidak terjadi begitu saja.
Jauh hari sebelumnya, Andreas Harsono mengirimkan undangan melalui email dan WhatsApp. Andreas saya kenal lewat bukunya “Agama” Saya Adalah Jurnalisme. Meski saya lebih banyak berkecimpung di dunia foto jurnalistik, saya sangat menikmati membaca buku yang lazimnya menjadi bacaan para jurnalis tulis tersebut.
Isi undangannya sederhana, namun membuat saya bersemangat: Goenawan Mohamad akan menyerahkan penghargaan Oktovianus Pogau kepada Christ Belseran di Teater Salihara.
Saya langsung berpikir, ini kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.
Selain mengenal Christ dengan cukup baik, saya juga ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar dan memperluas jejaring. Karena itu saya mengajak Bagus Hartarto, seorang kawan yang bergerak di dunia musik sekaligus usaha.
Ia mengangguk setuju.
Begitu tiba di halaman, seorang petugas keamanan menghampiri.
"Ada acara apa, Mas?" tanyanya.
"Kami mau menghadiri penyerahan penghargaan yang akan diserahkan Pak GM," jawab saya.
Kami dipersilahkan masuk. Ruangan luas dengan banyak kaca, buku dan lukisan
Dari balik jendela ruangan, saya melihat diskusi kecil yang tampak hangat. Kami bersalaman satu per satu, lalu duduk di antara para tamu yang hadir. Suasananya jauh dari kesan formal. Tidak ada jarak yang kaku. Semua orang tampak nyaman berbincang dan bertukar cerita.
Dalam kesempatan itu, Andreas Harsono menjelaskan alasan Yayasan Pantau memberikan Penghargaan Pogau kepada Christ Belseran.
Christ dinilai berani memperjuangkan hak-hak masyarakat adat di kepulauan Maluku. Ia tidak hanya menulis dari kejauhan, tetapi juga ikut hidup bersama mereka. Masuk hutan, tidur bersama masyarakat adat, mendengar langsung cerita mereka, dan mengikuti aktivitas sehari-hari mereka.
Bagi seorang jurnalis, keberanian seperti itu bukan perkara sederhana.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan.
Setelah itu, Goenawan Mohamad dipersilakan menyampaikan beberapa patah kata.
Dan di situlah saya benar-benar merasakan mengapa begitu banyak orang menaruh hormat kepadanya. Dan dia juga terima banyak penghargaan. SEA Write Award, A Teeuw Award. Louis M. Lyons Award dari Universitas Harvard, Committee to Protect Journalists, “Editor of the Year” dari World Press Review. Chevalier dans L'ordre des Arts et des Lettres Award dari pemerintah Perancis. The Japan Foundation Award. Cross of the Order of "Isabel la Católica" dari Raja Spanyol Felipe VI.
Di usia yang tidak lagi muda, beliau bercerita dengan runut. Ingatannya tajam. Pendengarannya baik. Cara bertuturnya tenang, meski sesekali terdengar lirih.
Ia bercerita tentang masa kecilnya, keluarganya, perjalanan mendirikan Tempo, hingga berbagai pengalaman yang membentuk pandangannya tentang kehidupan dan jurnalisme.
Namun dari sekian banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya.
"Keberanian memang penting. Tapi jangan lupa integritas."
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa menghantam.
Di tengah zaman ketika keberanian sering dipamerkan di media sosial, ketika banyak orang berlomba-lomba tampil paling vokal, integritas justru menjadi sesuatu yang semakin langka.
Padahal tanpa integritas, keberanian hanya akan menjadi pertunjukan.
Setelah sesi berbicara selesai, Andreas yang bertindak sebagai moderator mempersilahkan peserta untuk berdiskusi.
Satu per satu peserta mulai mengangkat tangan.
Ada Anisa Inayatullah orang Buton kelahiran Ambon, Bagus Hartanto asal Batu, Dela Srilestari asal Rantepao, Devana Aura asal Pontianak, Meidella Syahni asal Solok, RTS Masli asal Palembang, Syahar Banu asal Surakarta. Pertanyaan datang dari berbagai sudut pandang; mulai dari jurnalisme, kebudayaan, politik, hingga masa depan demokrasi Indonesia.
Bagus Hartanto bertanya bagaimana GM menjalani kehidupan sebagai anak yatim?
Ayahnya, Zaid Mohamad, pernah dibuang Belanda di Boven Digoel tahun 1926, selama empat tahun. Sesudah bebas, Zaid dan keluarga kembali ke Batang, buka usaha pembuatan kapal. Pada 1947, Zaid ditangkap Belanda, saat Agresi Militer, dan ditembak mati di Batang. Umur GM baru enam tahun. Namun GM maupun saudara-saudaranya tumbuh menjadi orang-orang yang berhasil. Abangnya, Kartono Mohamad, menjadi dokter, pernah mengepalai Ikatan Dokter Indonesia.
GM bilang memang kurang mengenal ayahnya. Dia menjawab kemungkinan dia menjadi haus pengetahuan karena dibiasakan membaca dan mencintai buku.
Membaca buku jadi bekal hidup. Dia selalu ingat kesalahan masa muda: menghilangkan kamus Webster milik ayahnya.
Ada yang bertanya bagaimana GM melihat pemerintahan Prabowo Subianto dan kemunduran demokrasi Indonesia.
Orang semakin tua cenderung makin pesimis, makin merasa sudah melihat banyak. Anak muda, sebaliknya, selalu ingin ada perubahan, selalu optimis. Dia sering bergaul dengan anak muda sehingga dia selalu optimis.
Suasana menjadi semakin hidup.
Tidak ada jawaban yang tergesa-gesa. Tidak ada pertanyaan yang dianggap remeh. Semua didengarkan dengan sungguh-sungguh.
Di tengah percakapan itu saya menyadari satu hal.
Yang membuat seseorang besar bukan hanya karya atau reputasinya.
Melainkan kesediaannya untuk terus belajar, terus mendengar, dan tetap rendah hati meski telah mencapai banyak hal.
Pertemuan itu hanya berlangsung satu jam, 15 menit. “Maaf saya baru selesai operasi,” kata GM.
Dia berjalan dengan tongkat, jalannya pelan, tiga langkah berhenti. GM berjalan menuju elevator yang membawanya kembali ke kantor.
Bahwa menjadi jurnalis bukan hanya soal keberanian mengungkap fakta.
Tetapi juga soal menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh oleh opini, kemampuan untuk mendengar dengan sungguh-sungguh adalah bentuk kebijaksanaan yang mulai langka.
Terima kasih, Pak GM.
Untuk cerita, pelajaran, dan pengingat bahwa integritas perlu diperjuangkan.
Salihara, 4 Juni 2026
Falahi Mubarok adalah wartawan Mongabay Indonesia, dulu kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, kini tinggal di Maja, Lebak.








No comments:
Post a Comment