Thursday, March 10, 2011

Obrolan Santai di Atma Jaya



Andreas Harsono dan Danarka Sasangka dalam diskusi antologi 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme pada 9 Februari 2011 di kampus Universitas Atma Jaya Yogjakarta. ©Danu Primanto

RABU ini saya bicara soal bunga rampai 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme di kampus Atma Jaya, Yogyakarta, dengan pembanding Danarka Sasangka, dosen Atma Jaya.

Ada sekitar 80 orang hadir dalam ruang seminar. Mayoritas mahasiswa Jogjakarta. Cukup senang lihat cukup banyak peserta dari luar Universitas Atma Jaya juga ikutan, termasuk dari IAIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Danarka Sasangka menyebut jurnalisme yang saya percaya sebagai "puritan." Ini pertama kali saya dengar terminologi "puritan" untuk menggambarkan "The Elements of Journalism" karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Menurut Harsantyo Dwi dari Penerbit Kanisius, sekitar 50 eksemplar buku terjual saat acara "Obrolan Santai Bersama Andreas Harsono." Jumlah ini termasuk biasa untuk ukuran buku serius. Namun ia kecil bila dibanding buku populer macam naskah-naskah pengembangan kepribadian. Satu kali diskusi bisa laku 500 eksemplar.

Saya membaca beberapa peserta menulis acara ini dalam blog mereka, termasuk Heru Lesmana Syafei dan Elga Ayudi. Ayudi memakai judul yang cukup menyentak: "Andreas Harsono Membakar Saya".

Heru Lesmana Syafei mencatat bahwa saya menyarankan peserta yang tertarik untuk punya karir dalam jurnalisme belajar bahasa html dan seluk-beluk internet. Dia menulis, "... dunia internet memang mematikan banyak media cetak, tapi justru muncul kebutuhan orang yang punya keahlian berbagai bidang jurnalisme di media internet."

Elga Ayudi mencatat jawaban saya soal judul bunga rampai. Mengapa judulnya, "agama saya adalah jurnalisme"?

Saya mengatakan bahwa ada tanda petik di antara kata "agama" dalam judul antologi. Saya bertanya kepada audience apa terjemahan "agama" dalam bahasa Jawa. 

Seorang mahasiswa menjawab "ageman." Lantas dia menerangkan "ageman" juga berarti "pakaian" (Krama Inggil) atau "klambi" (Jawa Ngoko). Krama Inggil adalah bahasa Jawa tinggi. Ngoko adalah bahasa Jawa rendah.

Jawaban yang akurat. Saya menerangkan bahwa kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta. Ia mulanya berarti “baju kebesaran.” Dalam bahasa Inggris, baju terbaik disebut "Sunday best" atau pakaian untuk pergi ke gereja pada hari Minggu.

Pakaian untuk pergi menjalankan ritual ini belakangan dipakai untuk menyebut doktrin yang jadi dasar keperluan berpakaian terbaik tersebut. Di India, "agama" berarti filsafat Hindustan atau doktrin Hinduisme. Terminologi ini dipakai dalam Bahasa Indonesia sebagai "keimanan."

“Nah baju kebesaran saya adalah jurnalisme,” Elga Ayudi merekam jawaban saya dalam blognya.

Menurut Ayudi, dia menangkap kesan ada kebanggaan yang dalam terhadap cita-cita dasar jurnalisme dalam pernyataan tersebut.

Danu Primanto, seorang fotografer, memakai kamera kecil guna memotret seminar ini. Dia memakai Asa 1600 dan "... sedikit touching di Lightroom 3.0 for Mac."

Dua Hari Empat Kampus

Dalam dua hari ini, Selasa dan Rabu, saya mendatangi aktivis pers mahasiswa di empat kampus Jogjakarta. Selasa untuk Universitas Islam Indonesia serta Universitas Gadjah Mada. Rabu untuk Universitas Atma Jaya dan Universias Negeri Yogyakarta. Plus interview terpisah dengan tiga media (dua radio, satu majalah) dan meeting tiga kali.

Di UII saya bicara dalam acara "Keadilan Week." Ia memang diadakan majalah Keadilan dari Fakultas Hukum UII. Balairung menyebut kedatangan saya sebagai "penculikan."

Rabu malam, saya mendatangi kantor majalah Ekspresi di Universitas Negeri Yogyakarta. Kantor mereka terletak dekat Hotel UNY dimana saya tinggal. Kami mengobrol dan saya anjurkan mereka berhitung soal kemungkinan mereka lebih cepat masuk ke era digital. Lumayan melelahkan.

Link Terkait
Heru Lesmana Syafei: Obrolan Bersama Andreas Harsono
Elga Ayudi: Andreas Harsono Membakar Saya

1 comment:

Udin Che Choirudin said...

sorry mas udah bikin lelah...janji deh bakal ngulangin lagi,hehe