Thursday, November 11, 2010

Dummy Buku soal Jurnalisme



SESUDAH lewat proses editing, disain dan proof reading, selama setahun, akhirnya antologi Agama Saya Adalah Jurnalisme sudah siap naik cetak. Kini saatnya promosi buku. Saya sedang menyusun cara promosi bersama Kanisius, Jogjakarta.

Buku ini semacam buku panduan. Pembacanya diharapkan mahasiswa, terutama ilmu komunikasi, wartawan muda serta warga umumnya, yang ingin tahu bagaimana (seharusnya) jurnalisme bekerja. Ia punya konteks dengan persoalan-persoalan terkait jurnalisme di Indonesia. Artinya, antologi ini, ditulis antara 1999 dan 2010, bisa diperlukan di Aceh, Jawa, Kalimantan, Papua maupun Timor dan Flores.

Warga tentunya punya harapan terhadap media massa mereka, tapi juga belum tentu tahu standar baku dalam praktik jurnalisme. Buku ini memberi tahu apa-apa yang kurang dalam jurnalisme di Indonesia, sekaligus menuntun apa yang sebaiknya dilakukan. Esensinya, sistem demokrasi di Indonesia pasca-Soeharto, membutuhkan jurnalisme yang bermutu. Makin bermutu jurnalisme, makin maju masyarakat.

Buku ini bisa juga dibaca sebagai kritik. Bisa juga sikap mengingatkan. Bisa pula sikap mengamati tanpa perlu terlibat di dalamnya. Ia bentuk dari apa yang mesti diketahui orang ramai, yang merasa bagian audiens dari media massa, dan tergerak untuk bertanya soal kekurangan media.

Ada beberapa endorsement terhadap antologi ini. Ia datang dari beberapa wartawan terhormat: Atmakusumah Astraatmadja (Jakarta), Bill Kovach (Washington DC), Benny Giay (Port Numbay), Otto Syamsuddin Ishak dan (Banda Aceh) dan Lily Yulianti Farid (Makassar).


“Jurnalisme masa kini sudah berubah dari jurnalisme masa lampau. Buku ini mengindikasikan perubahan lebih jauh pada masa depan.”

Atmakusumah Astraatmadja Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta, penerima Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative Communication Arts

"This book can help journalists and citizens alike understand the importance of independent journalism to democracy."

Bill Kovach chairman Committee of Concerned Journalists, Washington DC

“Andreas … Dorang bahas dan persoalkan barang-barang yang disembunyikan.”

Benny Giay Sekolah Tinggi Theologia Walter Post, Sentani, Papua

"Seumpama kitab hadih maja yang mengandung petuah. Andai sudah selaiknya beragama, lampoh jerat digadaikan, begitu kukuh tekadnya berjurnalistik.”

Otto Syamsuddin Ishak Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

"Ancaman jurnalisme, setara dengan peluru atau sensor, adalah bisnis media yang memompa laba, memangkas biaya redaksi serta menutup kesempatan peningkatan mutu. Andreas Harsono mengajak kita bersiap hadapi ancaman."

Lily Yulianti Farid www.panyingkul.com Makassar


UPDATE 24 November 2010
Kanisius sudah menentukan harga buku Rp 50,000. Buku akan mulai distribusi bulan Desember. Kanisius memiliki kantor dan gudang di Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung dan Palembang. Mereka akan distribusikan buku lewat toko buku Gramedia dan Gunung Agung maupun toko-toko kecil yang sering dikunjungi mahasiswa. Mulai bulan Januari, kami juga hendak rancang serangkaian bedah buku di beberapa kota Sumatra, Jawa, Pontianak (Borneo), Manado dan Makassar (Sulawesi) serta Port Numbay (Papua).

19 comments:

Billy Koesoemadinata said...

ga sabar pengen punya bukunya..

a. said...

When is the release date?

Priambodo said...

siap... g sabar baca isinya..!! kapan prodi jogja???

Andreas Harsono said...

We expect the release in December 2010. We're still preparing the printing of 5,000 copies.

Taufik Al Mubarak said...

Selamat mas, saya menunggu buku itu bisa saya beli di Aceh...pingin membacanya, soalnya masih penasaran gimana isinya, meski sudah sering baca di blog ini.

Yusran Darmawan said...

saya siap menjadi pembaca dan peresensi buku ini

edelweiss said...

Wah... nggak sabar dr dulu nunggu buku ini terbit. Harus saya promosikan juga ke kawan2 persma nih... :)

edelweiss said...

Wah... saya dari dulu udh mendengar buku ini dan sudah menunggu lama. Sepertinya, harus turut dipromosikan juga ke kawan2 persma... :)

aguslenyot said...

di Bali paling tidak buku ini akan laku satu buah :))

Mering said...

Mas AH, seorang New Clandestine from Borneo, memesannya untuk dijadikan salah satu jimat kebijaksanaan.

STR said...

Like this.

ADITYA PANJI RAHMANTO said...

Mas AH, covernya cantik sekali. Simple dan elegan. Covernya saja menarik perhatian, terlebih isinya.
Tapi saya punya pertanyaan, kenapa huruf 'g' dalam kata Agama diganti dengan angka '9'?

Andreas Harsono said...

Hari ini rapat dgn penerbit Kanisius. Buku "Agama Saya Adalah Jurnalisme" sedang dicetak. Bulan Desember sudah siap. Harga eceran Rp 50,000. Pantau akan bantu distribusi dan promosi. Bedah buku juga akan disiapkan di beberapa kota mulai Januari a.l. Pekanbaru, Padang, Banda Aceh, Palembang di Sumatra. Lalu Pontianak di Borneo. Juga Port Numbay di Papua. Khusus Jawa, sesuai jumlah penduduk, akan lebih padat: Bandung, Jogja, Surabaya dsb.

Taufik Al Mubarak said...

Semoga buku ini cepat sampai ke Aceh...agar tak penasaran lagi.

Sjech Mount said...

Congratulations..., semoga Aceh masuk dalam salah satunya..., salam

Muhammad Jailani said...

Ditunggu bedah bukunya di Pekanbaru mas.....
kalauu bisa, hadirkan juga tshirt bukunya pas bedah buku..
chayo buat mas AH

Mering said...

Bedah buku di pontianak pasti seru Mas, karena para pendendam SP pasti mencari celah untuk menununjukan taringnya lagi. Seumur hidup Saya tak pernah lupa bagaimana dia menyebut Mas AH....(gak usah aku ketik disini)terutama kalimat yang menjadi judul buku yang sangat saya nantikan ini.

Fitri Mayani dan Pemikirannya said...

eits, ternyata Pekanbaru dapat kehormatan jadi yang pertama. kapan tepatnya mas? saya tunggu....

ary bangli said...

Mudah2an mampir Solo...