Sunday, October 10, 2010

Membakar al Quran di Cisalada


Kitab suci Al Quran yang dibakar dalam masjid Ahmadiyah di Cisalada.

PADA 1 Oktober 2010, saat peringatan apa yang disebut sebagai "Hari Kesaktian Pancasila," segerombolan orang menyerang kampung Cisalada, sekitar tiga jam naik mobil dari Jakarta, dan membakar sebuah masjid Ahmadiyah, belasan rumah, sebuah sekolah dan mobil.

Ia adalah puncak dari agitasi terhadap Ahmadiyah dari sekelompok orang, yang menyebut diri mereka "Team 10" terhadap keberadaan kaum Ahmadiyah di Cisalada. Sejak Juli, Team 10 memasang spanduk dimana mereka mengatakan Ahmadiyah "menodai Islam" ... argumentasi yang mula-mula dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada Juli 2005.

Saya tak hendak membahas kasus Cisalada secara khusus. Saya sudah pernah menulis panjang soal bantahan Ahmadiyah terhadap tuduhan mereka menciptakan nabi baru. Namun pembakaran itu, secara tak sengaja, juga membakar beberapa buah al Quran miliki masjid dan warga Ahmadiyah. Firdaus Mubarik, seorang aktivis Ahmadiyah yang mertua tinggal di Cisalada, mengambil gambar-gambar pembakaran.

Kejadian pembakaran Quran di Cisalada terjadi hanya tiga minggu sesudah seorang pendeta Florida, Rev. Terry Jones, membatalkan rencana membakar Quran di Gainesville. Jones sedianya hendak membakar Quran pada peringatan tragedi 11 September 2001. Dia tak setuju dengan rencana pendirian sebuah masjid dekat Ground Zero di Manhattan, New York, lokasi dimana dulu World Trade Center dihancurkan oleh al Qaeda. Jones berpendapat Ground Zero adalah "tempat suci" buat kenangan banyak warga Amerika, yang mayoritas Kristen. Pembangunan masjid di tempat itu dianggap tak peka perasaan mayoritas. Saya pribadi tidak setuju dengan pembakaran kitab apapun.

Di Indonesia, rencana Jones dapat pemberitaan luas. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan minta Presiden Barack Obama mencegah Jones. Yudhoyono berpendapat al Quran adalah kitab suci. Pembakaran Quran akan meningkatkan kesalahpahaman antara Kristen dan Islam.

Obama sendiri tak setuju dengan Jones. Namun dia juga tahu di Amerika Serikat, selama seseorang tak melakukan kekerasan maupun melukai orang lain, pemerintah tak berhak melarang atau menghukum Jones. Walikota New York Michael Bloomberg juga mendorong masjid dekat Ground Zero didirikan karena semua izin sudah lengkap. Bloomberg mengatakan ide pendirian Amerika adalah kebebasan. Orang bebas beragama, orang bebas berpendapat. Agama Islam, sebagai agama kaum minoritas, tentu saja, juga boleh dipraktekkan dengan bebas di Amerika Serikat. Negara tak boleh ikut campur urusan iman.

Obama mengimbau Jones membatalkan rencana itu. Pada 9 September 2010, sesudah Jones bertemu dengan Feisal Abdul Rauf, imam masjid di Ground Zero, Jones mengumumkan pembatalan rencana membakar Quran.

Masjid Cisalada dijaga polisi sesudah dibakar.

Lalu terjadilah penyerangan Cisalada. Masjid Ahmadiyah dibakar. Al Quran dibakar. Saya kira kasus pembakaran Quran di Gainesville berbeda dengan Cisalada. Sengaja dan tidak sengaja. Namun esensi dari dua kasus ini sama: pelanggaran terhadap kebebasan beragama kaum minoritas. Ironisnya, Yudhoyono tak bicara sepatah kata pun soal isu kekerasan terhadap kaum beragama minoritas di Indonesia.

Menurut Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, sejak Yudhoyono jadi presiden pada 2004, ada lebih dari 140 gereja ditutup, sebagian dibakar. Ahmadiyah praktis tak ada masalah zaman Soekarno dan Soeharto lalu muncul sekali atau dua pada zaman B.J. Habibie, Gus Dur maupun Megawati Soekarnoputri. Namun kelima presiden tak mengeluarkan aturan melarang Ahmadiyah. Kok zaman Yudhoyono banjir sentimen anti-Ahmadiyah? Kok zaman Yudhoyono keluar larangan dakwah Ahmadiyah?

Cisalada hanya satu dari deretan panjang kekerasan terhadap kaum Ahmadiyah: Pulau Lombok, Manis Lor, Tasikmalaya, Parung, Garut, Ciaruteun, Sadasari dan lain-lain tempat.

Halo, halo "kesaktian Pancasila"?

Masih ingat kau punya propaganda?


Ahmadiyah, Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia

6 comments:

Aunul Fauzi said...

Nah ini dia versi lengkapnya. Link udah aku share ke temen-temen kuliah di Semarang, temen-temen yang aku ceritakan tentang hal ini ... Trims.

ADITYA PANJI RAHMANTO said...

Setuju, mas. Kita sibuk pada masalah global. Hingga lupa lokal.
Jika sudah begini, apa yang seharusnya dilakukan kaum minoritas?

ADITYA PANJI RAHMANTO said...

Setuju, mas AH. Kita sibuk dengan masalah global. Hingga lupa lokal.
Jika sudah begini, apa yang harus dilakukan kaum mnoritas?

Dildaar Ahmad said...

Tragis...

Cisalada, Bogor, 18/10/2010

Ketika warga Kampung Cisalada Desa Ciampea Udik Kec. Ciampea Kab. Bogor menyatakan diri bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1935, semenjak saat itu suara permusuhan dari warga sekitar yang tidak tahu Ahmadiyah mulai disuarakan.

Kondisi ini terus mengalir turun menurun, seolah dipelihara tanpa ada upaya penyelidikan dan pendalaman terhadap ajaran Ahmadiyah yang diikuti warga Cisalada. Maka tak heran setiap generasi dari kampung Cisalada mengaku pernah mengalami intimidasi, teror dan tindak kekerasan dari warga luar Cisalada.

Suara permusuhan ini semakin menjadi manakala tidak ada upaya dialog atau diskusi yang membincang ajaran Ahmadiyah, secara jujur dan netral yang diprakarsai oleh aparat pemerintahan setempat. Akibatnya warga non Cisalada secara akut mempercayai ajaran Ahmadiyah sesuai dengan daya khayal mereka sendiri.

Warga non Cisalada kerap menyebut agama orang Cisalada sebagai Agama Haqoq. Mereka mengarang aneka cerita fiktif seputar agama orang Cisalada tersebut.

Cerita fiktif yang cukup populer di kalangan warga non Cisalada prihal agama orang Cisalada itu adalah cerita yang menyebut bahwa orang-orang Cisalada melakukan tukar istri ketika melakukan ibadah di mesjid.

Sebelum penyerangan Kampus Mubarak di bulan Juli 2005 oleh massa buram yang menamakan diri dari Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) pimpinan Abdurrahman Assegaf alias Abdul Haris Umarella, yang kemudian melahirkan Surat Pernyataan Bersama (SPB) dari Muspida Kabupaten Bogor, intimidasi, teror dan tindak kekerasan belum begitu mengkhawatirkan. Akan tetapi setelah aksi massa yang kemudian mendikte pemerintah Kabupaten Bogor itu terjadi, keamanan kampung Cisalada mulai terganggu.

Aneka ancaman dan teror sering diterima warga Ahmadi yang ada di Cisalada. Kuat dugaan ancaman ini begitu bebas dilontarkan karena massa anti Ahmadiyah merasa mendapat dukungan dan restu dari pemerintahan setempat yang telah menandatangai SPB untuk menghentikan aktivitas Ahmadiyah di wilayah Kabupaten Bogor. Ironisnya, SPB yang mereka pegang itu ternyata cacat hukum dan bertentangan dengan sistem perundang-undangan di Indonesia ini terlihat dari sikap PTUN Bandung yang menolak untuk menyidangkan kasus SPB itu.

Dildaar Ahmad said...

Terjadi lagi Pembakaran al-Quran

CIANJUR – Madrasah Al Mahmud milik warga Ahmadiyah di Kampung Rawa Ekek, Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jabar, Senin dini hari terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun dugaan warga madrasah tersebut sengaja dibakar untuk mengundang amarah warga Ahmadiyah yang selama ini, mengunakan tempat tersebut sebagai sarana pendidikan keagamaan.

Satu minggu sebelumnya, ungkap Zainudin, salah seorang warga Ahmadiyah di kampung tersebut, mushala yang biasa mereka gunakan dibakar sejumlah orang menjelang dini hari. Awalnya warga menduga mushala tersebut terbakar akibat arus pendek listrik. Namun warga menemukan tempat minyak tanah di lokasi kejadian. “Tempat minyak tersebut masih berisi sedikit minyak tanah. Warga kami menemukanya tidak jauh dari mushala yang dibakar,” katanya.

Sedangkan di madrasah yang dibakar menjelang dini hari itu, warga menemukan beberapa pasang jejak alas kaki di lantai. Jumlah jejak tersebut lebih dari dua pasang. Diduga jejak alas kaki tersebut berasal dari pelaku yang membakar madrasah tersebut. Namun hingga saat ini warga tidak tahu pasti siapa pelaku yang telah membakar mushala dan madrasah tersebut.

Sementara itu, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian setempat maupun Polres Cianjur. [Riman News]

http://kabarnet.wordpress.com/2010/12/28/madrasah-ahmadiyah-dibakar/

Petikan email dari kawan saya asal daerah tersebut (Cianjur):


fakta di lapangan api berasal dari dalam/pojok madrasah dengan bahan awal pembakaran podium yang didalamnya penuh dengan al-qur'an, buku-buku dan bangku-bangku kecil yang biasa digunakan oleh ade-ade atfal dan nasirat di madrasah.

mengenai kerusakan diantaranya bangku-bangku, speaker, buku dan al-quran serta langit-langit madrasah yang habis. mengenai aparat keamanan dari polsek setempat sejak malam sudah ada di lokasi sekitar jam 00.00. berkat kerjasama antara staf daerah (kang andri rahayu) yang lumayan dekat dengan intel dan kapolsek. pagi harinya polisi langsung memasang police line untul keperluan penyidikan selanjutnya.

Dildaar Ahmad said...

Terjadi lagi pembakaran al-Quran di Indonesia

silakan klik
http://kabarnet.wordpress.com/2010/12/28/madrasah-ahmadiyah-dibakar/

petikan email dari kawan sy asal cianjur

berkat kerja keras anggota alhamdulilah api dapat dipadamkan tidak sampai masuk/melalap bangunan mesjid(jarak madrasah dengan mesjid hanya terhalang oleh dinding). melihat dari fakta di lapangan api berasal dari dalam/pojok madrasah dengan bahan awal pembakaran podium yang didalamnya penuh dengan al-qur'an, buku-buku dan bangku-bangku kecil yang biasa digunakan oleh ade-ade atfal dan nasirat di madrasah.mengenai kerusakan diantaranya bangku-bangku, speaker, buku dan al-quran serta langit-langit madrasah yang habis. mengenai aparat keamanan dari polsek setempat sejak malam sudah ada di lokasi sekitar jam 00.00. berkat kerjasama antara staf daerah (kang andri rahayu) yang lumayan dekat dengan intel dan kapolsek. pagi harinya polisi langsung memasang police line untul keperluan penyidikan selanjutnya.