Monday, June 15, 2009

Ganto di Padang


Pada 9-13 Juni 2009, tabloid Ganto dari Universitas Negeri Padang, bikin pelatihan untuk wartawan mahasiswa. Total ada 46 mahasiswa ikutan. Mereka datang dari berbagai kota, termasuk Banda Aceh, Lhokseumawe, Medan, Pekanbaru, Jambi, Padang, Palembang, Bengkulu, Bandar Lampung, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Solo dan Makassar. Aku menjadi instruktur selama tiga hari.

Aku punya kesan mendalam terhadap pelatihan ini. Panitia bekerja keras. Para peserta ditempatkan dalam sebuah guest house dalam kampus Universitas Negeri Padang. Makan tiga kali, snack tiga kali. Khas Minangkabao, semua makanan mengandung santan. Seorang peserta "protes" karena Ganto membuat mereka kelebihan berat badan. Ganto adalah nama untuk bel lembu, bel kecil yang biasa dipasangkan pada leher lembu atau kerbau.

Rombongan dari Sumber Post, IAIN Ar Raniry, Banda Acheh, membawa warna tersendiri dalam acara Ganto ini. Cerita mereka hidup. Pengalaman kaya. Sumber Post baru diterbitkan pada 2006, sesudah tsunami. Aku kebetulan tahu proses pendirian Sumber Post saat aku mengajar di IAIN Ar Raniry.

Khiththati, Julka Maizar dan Ainul Fitri dari Sumber Post memutar documentary The Black Road karya William Nessen. Sangat mengesankan. Ia membuka pandangan banyak peserta. Semua peserta dari Acheh cerita pengalaman buruk mereka saat perang. Ada yang lihat seorang paman mereka, hidup-hidup diseret mobil tentara Indonesia, dibawa keliling kampung.

Husaini dari Lhokseumawe menarik perhatian peserta dengan kepiawaiannya bercerita. Husaini pendiam namun ketika bicara, dialek Acheh kental, keluarlah kekayaan dari pengalaman hidupnya. Awak baraja badendang lagu bahaso Acheh "Seulanga" jo syair nan diagiah Julka Maizar dari Sumber Post. Nyo tantang "bungong seulanga," bungo harum, ibaraik gadih nan rancak. Rafly nan mambuek tanamo lagu itu. It's so beautiful.

Na bungong Seulanga keumang saboh bak tangke
Mubee harom hai sayang didalam taman
Tatem beutatem sibu bungong ngak luhu
Oh kalayee tho krang seulanga nyan gadoh mangat bee

Wahe bungong ceudah hana ban
Tamse nyak dara nyang canden rupa
Diteuka bana dijak peuayang
uroe ngon malam bungong didoda

Sayang-sayang leupah that sayang
Oh troh bak watee bungong pih mala
Ka habeh duroh bak tangke leukang
Keubit that sayang naseb Seulanga

Diskusi di halaman guest house, beralaskan tikar, bicara soal jurnalisme. Resminya, pelatihan ini diberi tema investigative reporting. Pribadi aku tak percaya genre ini bisa dilakukan oleh reporter kurcaci. Tapi namanya juga mahasiswa. Suka belajar hal baru. Pelatihan ini juga mengundang instruktur dari militer (perkenalan SS-1 dan M-16), jaksa (hukum soal korupsi) serta akuntan negara (standard akuntansi). Kami tagalak-galak jo istilah "pers wacana" --indak ado dalam kasado buku nan bamutu tantang jurnalisme-- baitupun palatihan jurnalisme "tong kosong nyariang bunyinyo."

Kapten Septa Viandi dari Korem Wirabraja, Padang, membawa beberapa senjata SS-1, M-16 serta pistol buatan Bandung. Dia cerita soal amunisi, magasin, struktur tentara, kepangkatan dsb. Septa lulusan Akademi Militer di Magelang tahun 1998. Dia juga cerita dia pernah ditugaskan di Aceh dan membunuh orang Acheh dari jarak dekat. Tujuan training ini belajar investigasi. Amunisi termasuk salah satu yang dipelajari peserta. Sayang, Septa tak bisa membawa gambar2 ledakan maupun memperagakan penembakan.

Guna mempermudah proses belajar, aku usahakan ada kelas-kelas kecil, antara 15-17 orang, guna mendiskusikan atau praktek apa yang dibicarakan dalam kelas besar. Ada tiga wartawan Ganto --Anggi Royata, Della Syahni, Tuti Handriani-- aku minta, masing-masing jadi moderator untuk kelas kecil. Walau latihan, interview ini direkam dengan kamera. Hasilnya, ditayangkan di layar lebar guna dievaluasi bersama. Ketua panitia, Meiriza Paramita, memasang semua gambar peserta dalam album Facebook miliknya. Terima kasih Ganto!

4 comments:

Nies said...

terima kasih...terima ksih... kepada MAs Andreas yang mau meluangkan waktunya melatih kami semua. kamikah wartawan kurcaci itu Mas? Lucu sebutannya... Sulit? ya! Tapi kami tak akan pernah letih belajar. sampai kapan pun. seperti harapan Mas ketika salah seorang peserta bertanya: "Apa Mas tidak takut kalau nanti mengalami nasib yang sama seperti (maaf) Munir?"
aku sangat suka mendengar jawaban Mas pada kalimat terakhir: "... dan satu hal lagi yang membuat aku tidak takut, karena aku berada di tengah-tengah kalian saat ini. aku melatih kalian. kalian yang akan jadi penerusku." (maaf kalau kutipannya kurang tepat.

terima kasih juga kepada seluruh awak Ganto. atas pelayanan sempurna yang diberikan kepada kami. terima kasih telah membuat berat badanku bertambah. kebersamaan yang amat singkat namun cukup indah, dan cukup memberi warna dalam hari-hariku setelah kegiatan itu. serupa warna-warni pelangi di kala hujan. ... mungkin akan jadi kenangan di hari tua kita masing-masing.

Sukses selalu buat Mas Andreas..

Andreas Harsono said...

Nies,

Sekarang masih berlatih, belajar jadi wartawan yang mau menjalankan prosedur kerja jurnalisme bermutu. Kelak bila landasan ini sudah kuat, tentu saja, kalian akan sanggup bikin investigasi. Kalian harus belajar dengan kuat agar kelak, dengan pengetahuan dan keberanian, bisa memantau kekuasaan. Berat badan kau juga naik?

dedees said...

^_^....sayang waktu itu saya tidak bisa maksimal dalam acara tersebut.tanggung jawab yang besar dihadiahkan pada saya selama acara berlangsung, ttg mahasiswa, lembaga-lembaganya serta tak ketinggalan orang-orang di belakangnya.walau demikian, saya tetap merasakan kebanggaan tersendiri dengan hadirnya teman-teman dari luar padang dan luar sumatra ke Ganto. terima kasih kawan, para kurcaci dengan baju reporternya.waktu itu sekilas, hilang hilang timbul, saya berada pada acara tersebut, liputan, kuliah, serta sebagai panitia mencoba setiap hari mencari wajah mas AH di LPMP UNP, walau kadang hanya dapat melempar senyum. tak apalah itu. teman-teman peserta tampak senang, antusias,walau juga sesekali mencurahkan air mata.maaf kalau Ganto membuat sebagian peserta sedih, kurang puas, dan melelahkan.kami hanya mencoba hal baru yang mungkin belum dilakukan orang. benar kata mas AH, mungkin pelatihan kami tong kosong nyaring bunyinya, tapi kami yakin mas AH pun pasti bangga pada kami dan kita dari persma waktu itu,hheheh,,,,mas AH, tong yang kosong saja sudah nyaring bunyinya apalagi kalau sudah berisi, tidak nyaring namun akan menghimpit siapa saja..terima kasih juga pada mas AH yang harus berhadapan dengan santan dan tetek bengeknya ala minang...satu yang saya ingat dari mas AH, anda tak bisa makan jeroan..begitu yah kalau tidak salah...
salam...
terima kasih pada semua...
semoga ini bermakna dan semakin memanis untuk kita...

NanLimo Bertuah said...

Teringaat Kenangan Bersama Kawan2 ganto--> Yasman (fotografer), dan yg lainnya.... kita nantikan kedatangan Kakanda di Pekanbaru Riau --> Bahana Mahasiswa