Wednesday, July 20, 2005

Seminar Universitas Flores Ende

Rabu ini Yayasan Pantau bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Flores dan Swisscontact bikin seminar soal jurnalisme di Ende, Pulau Flores, bersama Frans Anggal dari harian Flores Pos dan saya, mewakili Yayasan Pantau.

Esti Wahyuni dari Pantau membantu persiapan seminar ini maupun memimpin penelitian media selama 45 hari ke depan.

Lumayan besar sambutan hari ini. Saya bicara pada sesi pertama, pukul 10:00 hingga 12:00, lalu makan siang, dan Anggal pada sesi kedua, pukul 13:00 hingga 15:00.

Kami senang karena peserta relatif bertambah. Bukannya berkurang. Mereka juga bertahan. Mungkin karena seminar beginian agak jarang diadakan di Ende. Ruangan sederhana. Ende bagaimana pun kota kecil untuk ukuran Pulau Jawa. Kampus Universitas Flores juga hanya berlantai semen. Kusen-kusen jendela dari kayu kasar.

Namun Universitas Flores merayakan Pesta Perak 25 tahun pada 19 Juli 2005 sehingga kegiatan ini tergabung dengan acara lain selama tiga minggu terakhir ini.

Kami mengirim undangan 30-an orang dan peserta yang datang ada 43 orang. Mereka beragam, dari mahasiswa hingga pengusaha koperasi, dari pegawai pemerintah hingga dosen dan wartawan. Tema diskusi ini, "Bagaimana Majukan Kita Orang Punya Jurnalisme?"

Saya lebih banyak bicara soal "Sembilan Elemen Jurnalisme" karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Materi ini sering saya bawakan. Terkadang agak bosan juga tapi rekan-rekan minta saya tetap membawakan materi ini.

Frans Anggal bicara soal sejarah Flores Pos. Bagaimana harian ini didirikan pada 1999. Bagaimana ia berhasil mengangkat beberapa isu penting. Misalnya, pemindahan Komando Militer dari Dili ke Flores (mereka menolak) maupun pembentukan Flores sebagai satu provinsi (mereka advokasi satu provinsi).

Anggal juga mengatakan perubahan badan hukum, dari yayasan ke perseroan terbatas, serta kepemilikan Flores Pos oleh Ordo Katholik SVD (Society of the Divine World). Acara bersifat interaktif. Orang boleh bertanya dan membantah saat diskusi berjalan.

Etih Suryanti dari Swisscontact juga sempat presentasi soal program mereka di Nusa Tenggara Timur.Ada banyak usul dan kritik soal mutu jurnalisme di Ende maupun Jakarta. Kami menyebarkan lembar evaluasi. Hasilnya, lumayan banyak yang memuji, kebanyakan minta diadakan lagi.

"Ingatlah kami! Bantulah kami! Bangunkan kami! Beranikah kami! Angkatlah kami!" kata Afra Nyago dari Universitas Flores.

Tapi ada kekurangan. Misalnya, jumlah bacaan yang tersedia tak sesuai denganjumlah peserta. Ada peserta berpendapat "basic dan background" yang saya pakai, misalnya tentang Jakarta dan Amerika, "terlalu jauh ... yang tentu sulit untuk dimengerti oleh peserta secara umum." Ada juga yang berpendapat jumlah makanan terlalu banyak (Saya mencicipi rumpu rampe semacam sayur campur oseng-oseng ala Flores).

Kami belum melakukan evaluasi. Saya kira Etin, Esti dan Mansyur Abdul Hamid, dekan Fakultas Ekonomi Universitas Flores, akan bikin evaluasi berdasarkan semua masukan itu.

Besok saya akan terbang ke Kupang menemui Hasrul Kokoh, rekan Pantau lain, yang menyiapkan acara serupa di Kupang. Kokoh bekerja sama dengan CIS Timor.

Lumayan capek juga karena baru tiba dari Jakarta hari Senin via Kupang. Selasa subuh ke airport untuk terbang ke Ende.

Saya kira sekian dulu. Sudah mulai siap makan malam nih. Besok subuh mau mendaki Gunung Meja.



Pelabuhan Ende di sore hari. Saya mengambil foto ini sesudah seminar selesai. Saya pakai sebagai screen saver. Kalau Anda mau, silahkan download, ukurannya 5 Mega Pixel.

3 comments:

Lambertus L. Hurek said...

Ende, di Fores, sudah tidak asing lagi dengan pers. Dan itu ada hubungannya dengan kegiatan misi Katolik yang dianggap paling sukses di Indonesia. Pastor-pastor SVD sejak dulu, sebelum kemerdekaan, sudah mengusahakan literatur atau bacaan-bacaan untuk umat. Maka, didirikanlah percetakan Arnoldus dan penerbit Nusa Indah. Masih ingat buku 'Tata Bahasa Indonesia' karangan Prof Gorys Keraf? Nah, itu salah satu terbitan Ende, Flores.
Pada 1973 kongregasi SVD mendirikan koran DIAN, terbit dua mingguan. Formatnya koran biasa (harian), berita keras, tapi dijilid sehingga mirip majalah. Lantas, format berubah menjadi tabloid, periode terbit menjadi mingguan. Waktu mahasiswa di Universitas Jember saya aktif mengisi kolom dan kirim berita untuk mingguan DIAN. Sampai sekarang DIAN ini masih hidup, berdampingan dengan FLORES POS, harian.
Bicara profesionalisme media, saya rasa standar di DIAN atau luar Jawa umumnya masih jauh sekali dari pengertian 'profesional' yang sejati. Kenapa?
Berdasar pengalaman saya, menulis di DIAN itu bisa dilakukan siapa saja, dengan gaya apa saja, tanpa ada pakem atau format tertentu. DIAN membuka kesempatan yang luas kepada siapa saja untuk mengirim berita, kolom, artikel ilmiah populer, foto, dan apa saja. Kalau dianggap baik, ya, dimuat.
Tulisan saya mungkin dianggap baik sehingga selalu dimuat. Waktu itu masih pakai mesin ketik manual, kirim per pos, karena email belum ada atau sangat jarang. Berita telat dua pekan pun dimuat. Jadi, unsur aktualitas sulit dipenuhi DIAN masa itu. (Saya tidak ikuti lagi sejak jadi wartawan di Surabaya, Jawa Pos Group pada 1997.)
Saya bersyukur mendapat kesempatan luas oleh redaksi DIAN. Dan, syukurlah, saya selalu dipercaya oleh sumber meskipun tidak pernah punya ID card dari redaksi DIAN. Saya hanya bilang, saya mau menulis untuk DIAN, lalu tanya ini-ini-ini. Sumber percaya saja karena saya sering nongol di DIAN, dan paling penting, saya tidak pernah minta amplop atau bingkisan, apalagi memeras. Sebagai mahasiswa, aktivis PMKRI, saya tergolong idealis hehehe...
Saya pernah tanya wartawan DIAN yang benar-benar karyawan, digaji layak, berapa orang. Tapi ternyata sulit dijawab. Lha, saya yang pengirim tetap (kontributor) pun dianggap wartawan DIAN, padahal gak dibayar. Kalau dimuat, ya, dapat sedikit honor untuk beli kertas dan pita mesin ketik.
Memang, DIAN banyak kelemahan, tapi saya harus angkat topi karena eksis terus, punya pembaca dan pelanggan setia, sejak 1973 sampai sekarang. Oplahnya tidak besar, tapi awet. Dus, beda sekali dengan banyak media di Jawa yang oplahnya sempat banyak, tapi tidak bisa bertahan lima tahun.
Salut untuk DIAN dan pers terbitan SVD di Flores. Salam untuk Pak Frans Anggal, Pak Thom Wignyanta, Pater Edu Dosi, Pak Chris Nau, dan 'guru-guru' pers saya di DIAN dan Flores Pos.

Lambertus L. Hurek
Radar Surabaya

Andreas Harsono said...

Hurek,

Terima kasih sekali untuk komentarnya. Kami masih punya banyak rencana lain di Flores dan Timor. Anda bantu beri ide ya.

-maynot- said...

Ende memang cantik sekali :) Baru sekali saya ke Ende, tapi rasanya selalu ingin balik lagi :)