Friday, March 18, 2005

Jalan ke Kupang dan Pulau Rote


Minggu 13 Maret beta pi Kupang. Beta naik Star Air dan sampai Kupang tengah hari. Kota panas. Bemo menderu dan bunyi klakson. Naik taxi Rp 40,000 ke Jalan Sumatra, cari hotel dengan bekal buku travel karangan Kal Muller serta email Adam B. Ellick yang sempat menginap di Kupang. Akhirnya check in ke Hotel Maya Rp 95,000 semalam. Lantai dua. Sea view. AC dingin. Kamar bersih.

Lalu ke rumah Ita Bouna, di daerah Oepura. Dong agak tak menyangka lihat penampilan beta. Seorang pemuda, adik ipar Fifi Rea, mengantar keliling Kupang. Lalu makan malam dengan keluarga Bouna, kakak ipar Ita, Herman dan Rin, serta putri mereka. Depot Tanjung. Makan daging sei, tumis kangkung bunga pepaya serta kakap rica. Daging sei adalah daging asap. Warna merah.

Senin dan Selasa keliling Kupang. Wawancara wartawan, aktivis dan pejabat Nusa Tenggara Timor. Juga sempat ketemu Piet A. Tallo, gubernur NTT, di kantornya dengan ukuran dua lapangan badminton. Tallo rambut putih. Macam pejabat. Bicara dengan hati-hati. Beta kejar soal wacana pendirian Negara Timor Raya.

Rabu pagi naik kapal cepat Bahari Express menuju Baa, ibukota Kabupaten Rote Ndao. Cari hotel. Dapat Hotel Ricky --ternyata banyak sekali nyamuk dan sarang laba-laba. Padahal tarif Rp 75,000 semalam. Lumayan mahal bukan? Bandingkan dengan kamar serupa di Singkawang hanya Rp 40,000.

Rote cantik. Rabu itu juga ketemu Jerzy Messakh, keturunan raja-raja Thie, yang menguasai Pulau Ndana. Kami naik mobil Toyota Kijang ke Oeseli, teluk di ujung selatan Rote. Cari perahu. Sekitar 70 menit menentang ombak, menuju Pulau Ndana. Kadang orang Jakarta bilang "Pulau Dana." Isinya, cuma kijang, kelelawar, burung dara, ketam dan keindahan yang bikin rindu mabuk kepalang.

Pulangnya, naik perahu, melihat sepasang penyu ("kea" kata orang Rote) sedang "koi" alias "making love." Nelayan disini bilang mereka bisa "koi" sampai tiga minggu. Bayangkan kalau manusia making love sampai tiga minggu? Para nelayan tangkap si penyu karena dagingnya ... nikmat. Tapi yang jantan bisa lolos. Rasanya tak tega. Si betina menggeliat dalam perahu kayu.

Kamis pagi pindah hotel ke Hotel Grace. Lebih bersih. Sea view. Rp 100,000 dan ada minuman dingin. Pemiliknya, orang Cina campur Rote.

Kamis siang. Seharian di dusan Oelaba, desa nelayan, yang tiap pertengahan tahun melakukan pencarian teripang di dekat Pulau Pasir milik Australia. Anwar Idris cerita panjang soal ritual pencarian teripang. Mereka ditunggu majikan.

Jumat siang kembali ke Kupang, menginap di rumah Ita Bouna. Masih juga berkejar-kejaran dengan bab Kalimantan. Aku sudah mulai beres dengan bagian dua. Di sini, cek email ternyata ada 376 email.

5 comments:

firman firdaus said...

nice trip you have there. btw, jika boleh, kapan-kapan aku ingin ngobrol-ngobrol soal Miangas. Kemarin beberapa hari ke Intata, Kakorotan, dan Miangas. ada beberapa bahan yang mungkin bisa kutulis. pasti bisa lebih kaya bila ada tambahan info dari sampeyan. thanks.

khuclukz said...

kupang, i'm comming. he.. aku habis ini mo kekupang, rancananya seh 3 mingguan

Julia said...

Senang juga baca kisah perjalanan mu ke kupang dan Rote, sayang wawancara dengan pak Pit ko tidak di muat tentang Negara Timor Raya..
Okey... Trims ya Andreas.

Julia

Andreas Harsono said...

Julia,
Catatan ini hanya cerita ringkas soal perjalanan. Saya belum menulis semua. Nanti hasil-hasil interview akan muncul di buku.

WILSON M.A. THERIK said...

Maaf, baru sempat memberi komentar, kapan2 na katong bakatumu lai di Salatiga sambil makan Ronde atau bakudapa ame di Kupang. Salam Wilson Therik