Tuesday, January 06, 2004

Independensi Bill Kovach



Pembaca suratkabar Indonesia sulit menilai integritas wartawan

Oleh Andreas Harsono

Ketika Bill Kovach meluncurkan bukunya di Medan, seorang mahasiswi Universitas Sumatera Utara menyatakan terkesan pada buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Kovach dan Tom Rosenstiel itu. Seraya memuji, Farida Hanim, si mahasiswa tersebut, juga bertanya, “Apa kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Bill Kovach?” Hanim merasa orang yang sudah mencapai kebijaksanaan macam Kovach, seyogyanya pernah bikin salah.

Orang-orang tergelak mendengarnya. Kovach tersenyum, “Ini tidak fair. Saya mendapat pertanyaan sulit ketika diskusi hampir berakhir. Padahal saya sudah capek.” Tapi Kovach menjawab bahwa tiap wartawan bisa salah, termasuk dirinya, dan salah satu kesalahan yang mengganggunya belakangan ini adalah sebuah eseinya tentang Charles Longstreet Weltner dalam buku Profiles in Courage for Our Time, suntingan Caroline Kennedy, putri almarhum Kennedy.

Welter anggota Konggres asal negara bagian Georgia, yang terkenal berani. Tahun 1991, ia menerima John F. Kennedy Profile in Courage Award pada 1991, sebuah hadiah yang diberikan tiap tahun oleh sebuah yayasan milik keluarga mantan presiden John F. Kennedy kepada pejabat pemerintah yang dinilai punya keberanian moral.

Dalam esei itu, Kovach menulis bagaimana Weltner memilih mundur dari Konggres pada 1966 karena Lester Maddox, dicalonkan partainya dalam kampanye pemilihan gubernur Georgia. Maddox seorang pendukung segregasi atau seorang rasialis. Weltner melawan partainya sendiri, mengambil risiko dikucilkan, karena Weltner percaya bahwa tiap warga punya hak sama. Kulit putih maupun hitam. Weltner pun kehilangan karir politiknya.

Repotnya, sesudah mundur, Weltner punya kehidupan yang kacau. Dia cerai dari istrinya, suka mabuk, naik sepeda motor besar, dan bergaya macam anak muda. Kovach juga menerangkan bahwa pada periode ini Weltner menikah dengan istri keduanya. Pernikahan hanya bertahan lima bulan. Kovach tak menyebut nama istri kedua itu tapi pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian juga. Belakangan Weltner menikah dengan istri ketiga. Weltner lantas jadi hakim agung dan meninggal pada 1992.

Sesudah buku terbit, Kovach menerima sebuah bungkusan besar, dari mantan istri kedua Weltner. Isinya, berupa fotokopi surat, dokumen, foto, dan sebuah surat panjang. Dalam surat ini, si istri mengatakan Kovach keliru dan telah menghancurkan hidupnya hanya dengan tiga kalimat tersebut. Memang Kovach tak menyebut nama tapi banyak orang tahu siapa mantan istri kedua Charles Weltner. Si mantan istri mengatakan dua tahun itu termasuk periode hidupnya yang paling bahagia. Mereka hidup bahagia. Bahkan sesudah cerai pun, mereka masih sering berkomunikasi.

Kovach mempelajari kiriman itu dan menyesal karena merasa tak cukup melakukan reportase untuk mengetahui periode dua tahun itu. Kovach menelepon si mantan istri dan berjanji akan menulis sebuah esei untuk memperbaiki apa yang sudah ditulisnya. ”Saya mau pergi ke Indonesia tapi saya bilang saya akan mewawancarainya sesudah pulang dari sini. To get things right,“ kata Kovach.

Artinya? Tiap wartawan bisa berbuat salah tapi mereka harus berusaha memperbaiki kesalahannya. Inilah salah satu pelajaran yang saya peroleh ketika jadi penterjemah Kovach pada 1-17 Desember lalu saat dia mengunjungi Medan, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali untuk berceramah dan meluncurkan bukunya. Buku Sembilan Elemen Jurnalisme itu diterjemahkan Yusi Pareanom dan saya menyuntingnya.

Kovach dan Rosenstiel menulis ada sembilan prinsip jurnalisme yang mereka simpulkan setelah melakukan diskusi dan mewawancarai lebih dari 3.000 wartawan selama tiga tahun. Tujuan jurnalisme, demikian kesimpulan mereka, adalah melayani warga agar mereka bisa mengambil sikap dalam menjaga kemerdekaan serta mengatur diri mereka sendiri.

Ini penting kalau melihat sejarah. Pada zaman dahulu kala, ketika manusia belum menemukan jurnalisme, informasi lebih banyak diatur dan dimiliki oleh organisasi-organisasi –baik organisasi militer, politik, agama, sosial dan sebagainya. Mereka memiliki cara dan saluran sendiri untuk mendapatkan dan menggunakan informasi. Orang banyak tak tahu tentang kejadian atau orang yang mempengaruhi jalan hidup mereka. Informasi publik baru muncul kalau ada orang datang dari kejauhan dan membawa kabar tentang bencana alam atau berita lain.

Opini publik juga baru muncul ketika informasi mulai jadi konsumsi umum. Ini makin berkembang sekitar 200 tahun lalu dengan munculnya suratkabar-suratkabar pertama. Opini publik mendorong keinginan orang untuk mengatur diri sendiri. ”Jurnalisme dan demokrasi lahir bersama-sama. Tapi jurnalisme dan demokrasi juga akan mati bersama-sama. Jurnalisme gosip, jurnalisme hiburan, jurnalisme propaganda, hanya akan meracuni demokrasi kita,“ kata Kovach. ”Tapi jurnalisme yang dilakukan lewat verifikasi, jurnalisme yang tepat waktu, jurnalisme yang bermutu, akan memperkuat demokrasi.“

Pada beberapa kesempatan, Kovach juga menceritakan perbedaan antara bagaimana politisi dan wartawan memandang informasi. Pada 1979, ketika baru menjadi kepala biro Washington harian New York Times, Kovach sempat diajak ngobrol Presiden Jimmy Carter di Gedung Putih.

Mereka bicara panjang lebar dan sepakat untuk tidak sepakat. Kovach mengutip Carter berkata, “Ketika Anda memiliki kekuasaan, Anda menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kepemimpinan Anda. Namun kalau Anda wartawan, Anda menggunakan informasi untuk membantu orang mengambil sikap mereka sendiri.”

”Carter benar sekali,“ kata Kovach, ”Informasi yang sama dipakai untuk dua tujuan yang berbeda. Bahkan berlawanan.“ Ini pula yang membuatnya mengambil sikap teguh untuk independen dari dunia politik maupun politisi. Kovach juga setia pada jurnalisme dan tak pernah mau menerima masuk ke dunia politik.

Inilah salah satu elemen jurnalisme. Wartawan bisa melayani warga dengan sebaik-baiknya apabila mereka bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Independen baik dari institusi pemerintah, bisnis, sosial, maupun, politik. Ketika seorang masuk politik, ia akan mempunyai sikap yang berbeda terhadap informasi, kelak bila kembali ke dunia kewartawanan.

Elemen lainnya menyajikan kebenaran. Bukan kebenaran filosofis tapi kebenaran praktis yang dibutuhkan warga untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Untuk bisa mendapatkan kebenaran praktis, seorang wartawan harus terbiasa dengan disiplin verifikasi. Semua informasi disaring dengan teliti lewat prosedur yang baku. Ada tiga landasan intelektual untuk verifikasi: transparan dalam bekerja; bersikap rendah hati dan senantiasa berpikir terbuka; serta mengetahui urutan informasi. ”Keterangan saksi mata tentu lebih penting dari tangan kedua atau tangan ketiga,“ kata Kovach.

Elemen ketiga menempatkan kesetiaan wartawan kepada warga lebih tinggi dari kesetiaan terhadap pemasang iklan maupun pemilik media di mana wartawan bersangkutan bekerja. Jurnalisme juga harus memantau kekuasaaan serta menyambung lidah mereka yang tertindas. Jurnalisme juga wajib menyediakan forum publik sehingga isu-isu penting didiskusikan dengan terbuka. Ia juga harus menyajikan berita secara memikat tapi tetap relevan. Ia juga harus menyajikan berita secara proporsional sekaligus komprehensif. Dan elemen kesembilan adalah memberikan tempat kepada hati nurani dalam tiap ruang redaksi.


Kovach salah satu wartawan Amerika Serikat yang reputasinya menembus banyak batas negara. Saya merasakan kesenioran ini ketika mengantar Kovach keliling Indonesia. Dari mahasiswa hingga wartawan, dari pemilik media hingga reporter, banyak yang menyatakan kekagumannya pada Kovach.

Saya punya kesan Kovach sangat berhati-hati dengan opininya. Dia bertemu dengan ratusan orang media tapi lebih banyak mendengar orang lain daripada bicara. Jakob Oetama, orang nomor satu Kelompok Kompas Gramedia, mengatakan dia merasa “mendapat kehormatan“ ketika Kovach berkunjung ke kantor Kompas. Dahlan Iskan dari Kelompok Jawa Pos memuji isi buku itu. Goenawan Mohamad dari Tempo pernah mengatakan pada saya bahwa Kovach adalah orang yang sulit dicari kesalahannya. Hary Tanoesoedibjo dari RCTI minta agar Kovach ”mengajarnya“ soal bagaimana mengelola bisnis media.

Anak-anak muda juga terkagum pada Kovach. ”Dia orang yang rendah hati. Dia ibaratnya gunung, punya banyak material di dalamnya, tapi hanya terlihat sedikit saja,“ kata Geg Ary Suharsani dari Akademika, Universitas Udayana, Denpasar.

Tapi Kovach juga tak ragu berpendapat terbuka soal mutu jurnalisme. Dia misalnya mengkritik berbagai suratkabar Indonesia yang kebanyakan tidak memakai byline. Ketiadaan byline membuat accountability atau pertanggungjawaban seorang wartawan jadi samar. Pembaca sulit menilai kinerja seorang wartawan. Pembaca sulit menilai integritas seorang wartawan.

Kovach lahir dari keluarga Amerika keturunan Albania pada 1932 di Tennessee, di bagian Selatan negara Amerika Serikat. Ayahnya seorang Muslim asal Albania. Ibunya seorang Katolik Ortodox. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di harian Johnson City Press-Chronicle. Dari tahun 1960 sampai 1967 ia jadi reporter pada Nashville Tennessean. Di suratkabar ini, Kovach banyak meliput soal gerakan persamaan hak orang kulit hitam di Amerika, politik wilayah Selatan, dan kemiskinan di daerah pegunungan Appalachian. “Saya bangga karena ikut membuat perubahan. Generasi sebelum saya menganggap berita orang hitam tak perlu diliput. Tapi generasi kami mengubah keadaan itu,” kata Kovach.

Pada 1968, Kovach bergabung dengan harian New York Times –salah satu suratkabar terbaik di dunia. Di tempat ini, ia bekerja selama 18 tahun. Dari tahun 1979-1986 ia jadi kepala biro New York Times di Washington –sebuah jabatan yang penting karena biro ini besar sekali. Kovach lalu pindah dan jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution di Atlanta, ibukota Georgia, selama dua tahun.

Selama kurun itu, ia membuat harian itu memenangi dua penghargaan Pulitzer, penghargaan pertama untuk koran ini dalam 20 tahun. Tapi Kovach mundur dari jabatannya karena berbeda pendapat dengan pemilik Journal-Constitution. Dia akhirnya jadi Nieman Fellow di Universitas Harvard pada 1988-1989 dan kemudian jadi kuratornya hingga 2000. Selama 10 tahun di Nieman Foundation, ada tiga wartawan Indonesia yang beruntung mendapat kesempatan menggali ilmu dari Kovach: Goenawan Mohamad dari Tempo, Ratih Harjono dari Kompas dan saya sendiri.


Selama perjalanan 17 hari di lima kota, banyak orang meragukan apakah sembilan elemen jurnalisme itu bisa diterapkan di Indonesia. H. Soffyan, pemimpin redaksi harian Analisa Medan, berpendapat sembilan elemen ini ideal. Mungkin buat generasi wartawan Indonesia hari ini belum bisa dipakai. Cukup banyak wartawan Medan atau di berbagai kota Indonesia lain yang masih bergulat dengan isu “amplop” –sogokan untuk wartawan dalam bentuk uang. Soffyan berharap generasi yang akan datang bisa memakai sembilan elemen ini.

Kovach berpendapat sembilan elemen jurnalisme itu ibarat bintang di langit. Para pelaut membutuhkan bintang-bintang di langit agar tak tersesat. Elemen-elemen jurnalisme itu jadi semacam pedoman ke mana wartawan harus mengarahkan pekerjaannya. Jakob Oetama dan Dahlan Iskan termasuk orang yang setuju dengan pendekatan Kovach.

Ada juga yang bertanya apakah elemen soal independensi juga dilakukan oleh Kovach sendiri? Apakah Kovach juga berani bersikap independen terhadap orang-orang yang dicintainya? Bagaimana kalau anaknya sendiri yang melakukan kesalahan? Apakah Kovach akan meliput mereka sama dengan kalau meliput orang lain?

Kovach menanggapi serius ketika ditanya soal ini. Dia bersyukur karena kini sudah pensiun dan selama bekerja sebagai wartawan tak ada satu pun dari empat anaknya yang bikin perkara. ”Ada aturan dalam rumah tangga saya. Saya selalu bilang pada anak-anak. Kalian boleh melakukan apa saja tapi jangan sampai besok perbuatan itu masuk headline suratkabar. Kalau itu terjadi, saya akan meliput kalian sama dengan saya meliput orang lain,“ jawab Kovach.

Soal keluarga memang tak masalah. Tapi ada cerita yang melibatkan seorang teman dekatnya, Homer Peas, yang diliput Kovach dan berujung dengan pahit. Peas adalah teman main football Kovach ketika mereka sama-sama duduk di sekolah menengah atas. Mereka juga pada waktu yang bersamaan masuk ke dinas militer pada 1951 ketika Perang Korea pecah. Kovach masuk ke Angkatan Laut dan Peas jadi paratrooper.

Ketika keluar dari dinas militer, Kovach kuliah dan lalu jadi wartawan. Peas masuk ke dunia politik dan jadi aktivis Partai Demokrat. Pada 1960, ketika Richard Nixon sedang bertanding melawan John F. Kennedy, untuk jadi presiden Amerika Serikat, Peas ikut bekerja memenangkan Kennedy. Peas membujuk veteran perang untuk memberikan suara mereka dengan imbalan sebotol whisky. Kovach saat itu menyelidiki tentang ”pembelian“ suara dan melihat Peas terlibat.

Ia menelepon Peas dan memberitakan keterlibatan sahabatnya ini. Peas diperiksa polisi, diadili, dan terbukti bersalah. Hukumannya, Peas boleh memilih masuk penjara atau masuk dinas militer lagi. Peas memilih militer dan dikirim ke Vietnam. Pada 1966 Peas meninggal dalam sebuah pertempuran dekat Bien Dien Phu, Vietnam. Peas kehabisan peluru dan melawan gerilyawan Vietnam dengan bayonet.

Dalam perjalanan naik mobil antara Magelang-Yogyakarta, Kovach mengatakan pada saya bahwa kematian Homer Peas hingga hari ini masih mengganggu dan membuatnya merasa sakit. “Saya sering sedih dan marah karena secara langsung saya ikut menyebabkan kematian teman saya. Kalau saya tak menyebut nama Homer, dia jelas takkan berangkat ke Vietnam dan mati di sana. Tapi saya juga tahu bahwa keputusan untuk berbuat salah atau berbuat benar adalah keputusan Homer sendiri. Homer bisa menolak untuk ikut kejahatan yang membahayakan demokrasi kami. Tapi Homer memilih berbuat salah.“

Saya tanya bagaimana sikap Kovach kalau ia menghadapi pilihan yang sama? “Anda dan saya wartawan! Tugas kita adalah memberitahu warga kalau ada penyalahgunaan kekuasaan. Warga harus tahu apa yang salah, apa yang benar, sehingga mereka bisa mengambil sikap dengan informasi yang lengkap. Kalau saya harus menghadapi dilemma ini lagi, saya kira saya akan melakukan hal sama dengan apa yang pernah saya lakukan terhadap Homer,” katanya.

Bulu kuduk saya merinding.

3 comments:

Anonymous said...

salam,
saya tertarik dengan tulisan ini. independensi seorang wartawan terkadang sulit untuk diterapkan. faktor keluarga atau teman dekat/kerabat menjadi salah satu alasan independensi sulit dilaksanakan. akan banyak pergolakan batin terjadi jika dihadapkan pada hal tersebut. apakah seorang anak rela menulis persoalan orang tuanya yg sedang bermasalah dan menjadikan headline di surat kabar. ada dua sisi yg bertolak belakang, ia seorang wartawan yg memang memberikan informasi kepada masyarakat dan tidak memperhatikan siapapun yg ditulisnya. di sisi lain ia mungkin akan dianggap anak yg durhaka krn menjebloskan org tuanya sendiri. tapi, siapa lagi yg akan memperbaiki segala kesalahan/ perbuatan yg tidak benar jika bukan dari diri kita yg memulai utk berusaha meperbaiki diri. dari hal yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang (ungkapan Aa Gym). dan selangkah demi selangkah diterapkan dalam keluarga. heni, pontianak.

Andreas Harsono said...

Saudara Heni,

Saya setuju dengan Anda. Faktor keluarga, teman dan kerabat memang bisa mempersulit wartawan jadi independen. Kalau saya, praktisnya, ya nggak mau mencari teman terlalu banyak. Teman saya kebanyakan ya sesama wartawan saja. Jadi, nggak perlu berteman dengan terutama orang-orang yang punya kuasa a.l. pejabat, perwira, pengusaha dan sebagainya.

diKaNan said...

independensi sampai saat ini, msh menjadi problema di beberapa kalangan wartawan dan media lokal (daerah saya). nyata. tak dapat dipungkiri tulisan dan terbitan yang dirilis, membuat saya tercengang-cengang....mereka menyatakan independen, namun samar krn apa yg dilakukan tidak mencerminkan independensi.

semoga setiap wartawan bisa menjadikan kovach sebagai rujukan independe.
thanks,ahdika.