Thursday, December 14, 1989

Cuplikan Catatan Harian Soe Hok Gie

Menghadap Bung Karno dengan Jas Pinjaman
Aku tidak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena begitu immoral

Minggu, 24 Februari 1963 

Kemarin dulu aku menghadap Presiden Sukarno, sebagai anggota delegasi pemuda-pemuda yang setuju dengan asimilasi, dan minta restu dari beliau. Aku segan karena aku tak punya pakaian, tetapi kemudian dengan jas pinjaman akhirnya aku pergi juga. Dan dengan guyon-guyon big boss bertanya tentang jas yang kepanjangan itu. 

Niat pertama adalah mengirim delegasi yang tua: Sindhunata, Suharto, Safiuddin; Soe Hok Gie dan Tan Hong Gie. Tokoh-tokoh Anis Ibrahim, Jahja dan sebagainya karena taktis tidak diundang. Anis sebenarnya aneh bagi saya. Ayahnya adalah ulama yang melantik Presiden/Menteri-menteri RPI. Ia karena untuk mendapat tunjangan Rp 1.500 menandatangani surat anti PRRI, pro Manipol-USDEK dan sebagainya sehingga kawan-kawannya mengejek bahwa ia menjual ayahnya untuk Rp 1.500. Sekarang ia anggota Front Nasional daerah, ketua Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Tetapi dalam pembicaran-pembicaran di Yogya kelihatan tendens-tendens tidak puas akan situasi sekarang. Menurut Ong (Onghokham) suatu ketika ia pernah dibuat mabuk dan dalam mabuk itu ia berkata, “I hate him, and I’ll kill him!

Sungguh tragis. Ong sebenarnya disusul oleh Tan untuk ikut dalam delegasi itu tetapi oleh Jahja ditolak karena ia dianggap sebagai orang Star Weekly. Kami akhirnya terdiri dari delegasi Anis, Sindhu, Suharto, Hardja, Safiuddin, Jahja dan Ong.

Sindhu setelah memberikan uraian-uraian tentang usaha-usaha kami (yang diberikan kata pengantar oleh Kol. Sutjipto SH) meminta pendapat Bung Karno, kalau menyeleweng dimarahi. Bung Karno berkata bahwa ia bisa setuju dengan ide-ide itu; lebih-lebih dalam soal kawin campur, ia sangat setuju. Bung Karno tidak setuju dengan rasialisme dan bercita-cita supaya suatu ketika ras Indonesia hanya didukung oleh suatu bangsa yang bulat. 

Bagi Bung Karno, nation building tidak bisa tercapai dengan minoritas. Ia berkata bahwa ia lebih revolusioner dalam tindakan-tindakannya dari pada negara-negara sosialis karena negara-negara itu (di Uni Soviet-Vietnam Utara) masih mempertahankan minoritas. 

Oleh Anis dalam tema relasi dapat dipaksakan bahwa dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, bhineka adalah das Sein dan Tunggal Ika adalah das Sollen. Bung Karno menyatakan bahwa tak ada bangsa yang asli. Dari pembicaraan yang politisi lalu dialihkan ke pembicaraan yang tidak formal.

Bicara tentang kawin campur, lalu Bung Karno bercerita bahwa di Tasykent, dari 10 wanita pasti 9 cantik. Karena di daerah itu kelompok Semit bertemu dengan kelompok Slavia. Dan Safiuddin nyeletuk bahwa kita bisa membuat wanita Indonesia lebih cantik dengan kawin suku ini. Bung Karno setuju dengan pengertian bahwa unsur-unsur ‘asing’ (maksudnya dari keturunan Tionghoa, Arab, Eropa) juga diikut-sertakan. Dan Bung Karno bertanya, bahwa ia mendengar kabar-kabar bahwa CD (artis Citra Dewi? Red.) itu peranakan Tionghoa’ dan itu dibenarkan oleh Chairul Saleh dan Hardjo (hadir antara lain Chairul Saleh dan Dasaad dengan perut gendut kapitalisnya).

Lalu ia tanya dan sedikit menyinggung tentang CD Affair (half prostitute) dengan Subandrio. Juga ia tanya tentang affairnya dengan NB, apakah sudah reda. Dasaad dengan pipi kapitalisnya membenarkan bahwa itu sudah reda.

Pembicaraan ini juga diselingi dengan pembicaraan politis. Menurut dia (Bung Karno? -Red.) BAPERKI merupakan salah satu perkumpulan yang disenangi. Disana, katanya 2 aliran: yang satu ingin bertahan dengan minoritas dan yang lain ingin meleburnya. Dan ia berjanji bahwa ia akan berbicara ‘menghantam ’BAPERKI dalam kongres nya tanggal 13, hal ini akan dikemukakan. 

Chairul Saleh juga mengatakan bahwa salah seorang dari nenek-nenek Djuanda (Perdana Menteri Red.) itu dari keturunan Tionghoa. Menurut Bung Karno oleh penjajah bangsa Tionghoa dipergunakan sebagai orang perantara yang sengaja dilebihkan untuk memisah bangsa Indonesia. Sehingga tak usah heran bila terjadi Peristiwa Tangerang dan Kebumen.   

Hardjo minta fasilitas-fasilitas karena merasa lemah dan Bung Karno agak keras berkata bahwa dalam perjuangan tidak boleh merasa lemah, tetapi berjanji akan memberikan sokongan pemerintah yang sepenuhnya, di samping tetap berjuang di pihak kita. 

Dari pembicaraan-pembicaraan ini mereka beralih dan berdebat tentang homoseks dengan Dr. Arifin. 

Dr. Arifin berkata bahwa itu gejala psikis sedangkan Bung Karno juga melihat adanya gejala fisik dan sebagainya. Lalu ia bercerita tentang anggota tamu negara yang homoseks, yang memukuli seorang banci (sadis) dan bagaimana di Arab, banyak orang-orang banci, menurut keterangan dokter Indonesia.

Dari sini mereka bicara dan (Bung Karno) membayangkan bagaimana rasanya bila memegang-megang buah dada seorang wanita yang diinjeksi dengan plastik. Kol. Sutjipto berkata tidak enak, dan lalu ia diganggu.

Selama pembicaraan-pembicaraan itu bagaimana kiranya yang cantik dipegang-pegang oleh Bung Karno, Chairul Saleh dan Dasaad (dan Hardjo juga katanya), secara amat bebas. Aku merasa agak aneh. Lalu Bung Karno juga mengganggu tentang jas pinjamanku yang kepanjangan dan seterusnya.

Sebagai manusia saya kira saya senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin tidak. Bagaimana ada pertanggungjawaban sosialisme melihat negara dipimpin oleh orang-orang seperti itu? Bung Karno sebagai Ariwijadi penuh humor-humor dengan mop-mop cabul ada punya interesse yang begitu immoral. Lebih-lebih melihat Dasaad yang gendut tapi masih senang gadis-gadis cantik. 

Dia nyatakan bahwa ia akan kawin dengan orang Jepang, jika sekiranya ia masih muda. Bung Karno berkata ia ingin menerima sesuatu (helikopter?) sebagai hadiah dan Dasaad berkata, tahu beres bila surat-suratnya beres.

Suasana begitu informal, bahkan mereka berani mengganggu Chairul Saleh (Waperdam - Red.) dengan barkata “Minang kaffer”, menurut Dasaad di Sumatra Timur, Padang itu jadi taoke, sedang Jawa jadi kuli, sebaliknya di Jakarta Padang dagang kamper sedang Tionghoa jadi tauke. Juga Bung Karno bicara tentang Dampo Awang, Gunung Kawi. 

Aku kira Safiuddin ahli dalam soal-soal Tionghoa, tapi ternyata tidak. Bung Karno pun sama bebalnya dalam sejarah (tapi aku bisa mengerti, karena dia adalah politikus dan tidak mengetahui sejarah secara detail). 

Kesanku hanya satu, aku tidak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena ia lebih immoral. Ia juga cerita bahwa ia jatuh cinta dengan gadis Indo di HBS ketika ia berumur 20 tahun. Ketika ia melamar, ia ditolak dengan dikatakan vuile Javanese. Tetapi 3 tahun kemudian ia bertemu dengan gadis itu sudah begitu rusaknya sehingga ia senang pada Tuhan karena ia ditolak.

Dengan gaya yang lucu ia bercerita (bahasa Belanda):

- “Kawanku Sukarno”
+ "Ya, tapi siapa kamu?”
- “Saya adalah X temanmu”

Sambil Sukarno meniru-niru suara wanita.

“Saya lebih senang memakai sekretaris wanita, karena bila saya tidak in the mood, saya tidak sampai memarah-marahinya.” 

Kol. Sabur, ajudannya, diperlakukan tidak dengan hormat, tetapi sebagai kacung/atau aku salah tafsir? Karena intim mungkin.

Kamis, 22 Agustus 1968

SETELAH rapat soal MPM saya pergi bersama Josi dengan persoalan penyerbuan Ceko oleh Rusia. Saya mencari Ny. Asman tapi tak bertemu. Lalu saya ke Lasykar dan bicara dengan Louis Wangge. Ia setuju demonstrasi dan janji untuk membicarakan soal ini. Saya pulang. Dari RAF Mully kemudian saya dengar bagaimana David menolak dengan menyatakan bahwa soal itu adalah soal intern negara-negara komunis. Pokoknya tak ada sambutan. 

Saya ragu-ragu apakah saya akan demonstrasi karena dituduh ambisius. Tetapi saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

Senin, 28 Oktober 1968 

“Saya mimpi tentang sebuah dunia, dimana ulama-buruh dan pemuda Bangkit dan berkata Stop, semua kemunafikan Stop semua pembunuhan atas nama apapun…”

“Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun Agama apapun, rasa apa pun dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik...”
“Tuhan – saya mimpi tentang dunia tadi yang tak pernah akan datang…”

Nobody knows the troubles I see; nobody knows my sorrow.

Kamis, 3 Juli 1969

Setelah mengantarkan Gul ke LEKNAS, saya bersama Nono (Nono Anwar Makarim-Red.) berceramah di Lembaga Indonesia Amerika di hadapan 18 guru-guru AS. Nono ceramah tentang birokrasi di Indonesia. Bahwa di Indonesia yang berkuasa bukan Suharto tapi birokrasi yang mencengkam seluruh lapisan kehidupan. Indonesia army is not army anymore. Dengan gaya yang meyakinkan Nono baik sekali ceramahnya.

Saya bicara tentang image yang salah tentang Indonesia dan AS. Di Indonesia pendapat bahwa AS adalah negara dekaden, CIA, seks, crime dan hippies. Ini karena salah informasi karena salah supply diterima dari film-film Holywood. Sebaliknya AS berpikir bahwa Indonesia adalah negara yang sentralistis AD. Indonesia baik dan punya chain of command. Saya bantah dan menunjukkan betapa luas dan kompleksnya Indonesia. Revolusi dinilai dari pengalaman frame of reference masing-masing. 
Dari sana saya ke Arief (Arief Budiman, kakak kandung Soe Hok Gie) dan makan. Saya lapar sekali. Jopie tak ada dan saya bicara dengan Bebas. Ayahnya diserang dalam barisan Berdikari, Bandung, sebagai seorang manipulator dan korup oleh Turner. Ia di ganti sebagai kuasa atas perkebunan Condong. 

Turner yang kesal karena pengembalian kebun-kebunnya di Ciasem Laud belum kembali juga. Dengan kelihaiannya ia menempel sejumlah orang-orang dalam (antara lain Brigjen Sudarmono?) dan mendapatkan dokumen-dokumen yang sangat rahasia. Antara lain manipulasi, simpanan uang di bank dari Frans Seda, Prof. Thojib, Syamsuddin (BPU Dwikora), Adam Malik, dan Ali Sadikin. Ia ingin agar dengan dokumen-dokumen ini “memeras” pemerintah. Ayahnya Jopie menolak dan karena itulah Turner bertindak.

Dan saya tahu bahwa IR, dibiayai oleh PT Condong Lasut mensupply sehingga IR dapat tetap hidup. Jopie mulai menulis seri karangan-karangannya dan ini membuat semua orang panik.

Hari ini keluar keputusan Presiden untuk melarang perwira-perwira ABRI bercampur dengan orang asing. Katanya Adam Malik telah minta agar soal ini distop. Mochtar Lubis yang khawatir bahwa namanya (dan Indoconsult) terbawah-bawah memanggil Tides (maksudnya Aristides Katoppo, Redaksi harian Sinar Harapan – Red.) untuk mengstop artikelnya Jopie. Bebas dan kawan-kawan kelihatannya kesal sekali pada Mochtar. Saya ingat cerita Henk tentang penolakannya memuat kisah-kisah korupsi PT Berdikari, karena Suhardiman adalah klien Indoconsult. Benar-benar soal ini memusingkan. Jam 23.30 Jopie/Bebes/Henk masih datang ke rumah saya. Hampir-hampir saya ikut ke Bandung bersama mereka. 

No comments: