Saturday, November 29, 2014

Mengajar di Wamena


Perbedaan di pasar Wamena.
SELAMA empat hari saya berada di Wamena, mengajar sebuah kelas penulisan serta mencari tahu persoalan penangkapan dua wartawan Perancis pada 6 Agustus 2014. Thomas Dandois dan Valentine Bourrat dari TV Arte, mengambil langkah dengan tak mencari visa wartawan karena melamarnya sulit sekali.

Saya juga jalan-jalan sekitar Wamena. Sejak pertama datang ke Wamena pada 1996, saya selalu merasa tertarik kembali ke kota ini. Makin tahun makin terlihat perubahan di Wamena.

Namun satu hal yang saya belum mengerti adalah mengapa kios, toko dan macam-macam bisnis di Papua, termasuk Wamena, dikuasai oleh orang non-Papua: Bugis, Jawa, Makassar, Tionghoa dan seterusnya. Orang Papua, misalnya di Wamena, berjualan di jalan, duduk di lantai.

Diskriminasi tentu satu faktor. Kredit bank juga diskriminasi lain. Saya ingin mengerti berapa persen bisnis Papua yang dikuasai orang asli? Bagaimana menguji penjelasan, "Orang Papua memang tak suka duduk di kursi?"

Kelas penulisan di Wamena.
Saya mengajar sebuah kelas penulisan hanya dua hari. Belajar soal elemen jurnalisme dari Bill Kovach sampai perkakas menulis dari Roy Peter Clark. Saya minta peserta bikin PR. Dari 20 orang, yang bikin besar hati, hanya tiga tak bikin PR. Sisanya, bikin PR semua. Ini persentase yang tinggi. Tiga peserta cukup bikin saya senang lewat PR mereka. Ceritanya beragam, dari tak ada obat di rumah sakit Wamena sampai kesulitan orang asli daftar jadi pegawai Bank Papua.

Ada peserta perempuan cerita berbagai kesulitan yang dia hadapi dalam pernikahan. Suami selingkuh dan dia memutuskan bercerai dan membawa anak mereka satu-satunya. Saya kira perlu keberanian buat seorang perempuan, dimana pun dia berada, baik di Wamena maupun Jakarta, buat menulis pengalaman buruk.

Seorang peserta menulis dengan berani.
Persoalan pasar juga dibahas dalam kelas. Ada macam-macam jawaban. Saya harap para peserta akan menghasilkan karya yang mencoba menjelaskan persoalan ini. Wamena selalu menimbulkan kesan mendalam.

No comments: