Thursday, October 20, 2005

Norman's First Text Message

Norman went out with his forth grade friends at Gandhi Memorial International School to visit Takuban Perahu and a tea plantation this Thursday. They went there in some Blue Bird buses with their teachers. It is the very first time ever Norman goes on his own. I brought him to school this morning. He will stay one night in Bandung. He will share the hotel room with his classmate Winarto. He was very enthusiatic to be able to go on his own without his parents.

I also brought him my old handphone 0813-81097697. He usually refused to bring a handphone. The school discourages young students to bring handphones. But it is okay to bring a handphone on such an occassion. As soon as he left the school compound, I began to call him, checking if everything is okay. I also called the hotel in Bandung, checking if everything is okay. Norman has an astma. I have to check the hotel linen etc.

Norman sent me his first text message at 5:07 PM. It read, "Thank you pa I will see you on friday."

I will never want to miss this sentence. I love you Norman! I love you so much.

Wednesday, October 12, 2005

Singapura dan Norman

Aku lagi di airport Singapura, menunggu pesawat ke London. Kemarin sibuk sekali di Jakarta. Pagi harus rapat dengan seorang pejabat perusahaan rokok Bentoel. Rapatnya pukul 7:30 di kantor mereka di bilangan Kuningan.

Lalu ke kantor Yayasan Pantau bersama Eva Danayanti, melihat hasil cetakan 100 eksemplar buku "Jurnalisme Sastrawi."

Seharusnya, kami rapat dengan Swisscontact untuk presentasi hasil penelitian Esti Wahyuni dan Hasrul Kokoh di Ende dan Kupang. Namun pihak Swisscontact minta rapat diundur sore hari.

Aduh. Padahal Norman sore ini ingin bersama aku sebelum pergi ke London. Tapi ya bagaimana?

Norman pulang sekolah pukul 15:00. Aku siapkan makanannya. Untung ada Erni membantu di rumah. Aku bantu ia kerja pekerjaan rumah, riset Google tentang binatang khas dari Sumatra (harimau), Komodo (komodo), Kalimantan (orang utan), Papua (cenderawasih) dan Sulawesi (anoa).

Lalu aku pergi ke Swisscontact dan pulang ke apartemen pukul 19:30. Norman aku temani tidur.

Tadi subuh, pukul 4:00 ia mengantar aku hingga lift. Ketiga teman, Esti, Kokoh dan Anugerah Perkasa, yang menginap di rumah, masih tidur. Norman menangis karena aku pergi ke London.

"I will miss you, Papa."

Rasanya sedih harus sering meninggalkan Norman. Di Singapura, saat transit, aku duduk di pinggir kolam ikan koi yang favorit Norman. Aku selalu ingat wajahnya. Mudah-mudahan kelak ia sering bepergian juga sehingga perasaan bersalah hari ini bisa aku tebus.

Tuesday, October 11, 2005

J. R. R. Tolkien

Aku akan menggunakan sebuah kalimat dari karya J.R.R. Tolkien, "The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring," dalam kalimat terakhir bukuku.

Buku ini akan banyak bicara soal hidup dan mati. Aku kira cocok bila ia diakhiri dengan kalimat Tolkien:

"He deserves death"

"Deserves it! I daresay he does. Many that live deserve death. And some that die deserve life. Can you give it to them? Then do not be too eager to deal out death in judgement. For even the very wise cannot see all ends
."

Coba kau ingat siapa karakter yang mengatakan kalimat terkenal ini?

Ketika hari ini aku google, kalimat ini tercetak pada 31,000 situs web. Ia adalah kalimat terpenting dalam serial J.R.R. Tolkien.

Mungkin kau bisa ingat bila ingat penjelasan Prof. Ralph C. Wood dari Leader University sebagai berikut:

The animating power of this Company is the much-maligned virtue called pity. Frodo had learned the meaning of pity from his Uncle Bilbo. When he first obtained the Ring from the vile creature called Gollum, Bilbo had the chance to kill him but did not. Frodo is perplexed by this refusal. 'Tis a pity, he contends, that Bilbo did not slay such an evil one. This phrase angers the wise Gandalf. It prompts him to make the single most important declaration in the entire Ring epic:

"Pity? It was pity that stayed his hand. Pity, and Mercy: not to strike without need. And he has been well rewarded, Frodo. Be sure that [Bilbo] took so little hurt from the evil, and escaped in the end, because he began his ownership of the Ring so. With Pity."

"I am sorry," said Frodo. "But ... I do not feel any pity for Gollum.... He deserves death."

"Deserves it! I daresay he does," [replies Gandalf]. "Many that live deserve death. And some that die deserve life. Can you give it to them? Then do not be too eager to deal out death in judgement.... [T]he pity of Bilbo will rule the fate of many -- yours not least."

"The pity of Bilbo will rule the fate of many" gradually becomes the motto of Tolkien's epic. It is true in the literal sense, because the Gollum whom Bilbo had spared so long ago is the one who finally destroys the Ring. But the saying is also true in a deep spiritual sense. Gandalf the pagan wizard here announces the nature of Christian mercy. As a creature far more sinning than sinned against, Gollum deserves his misery. He has committed Cain's crime of fratricide in acquiring the Ring. Still Gandalf insists on pity, despite Frodo's protest that Gollum be given justice. If all died who deserve punishment, none would live. Many perish who have earned life, Gandalf declares, and yet who can restore them? Neither hobbits nor humans can live by the bread of merit alone. Hence Gandalf's call for pity and patience: the willingness to forgive trespasses and to wait on slow-working providence rather than rushing to self-righteous judgment.

Villa Cibodas untuk Menulis


Seorang pengusaha periklanan, RTS Masli, menawari Yayasan Pantau untuk memakai dan mengelola sebuah villa ukuran 500 meter di daerah Cibodas, Puncak. Ia merasa anak-anaknya sudah besar. Satu di Australia, satunya juga sudah dewasa, akan kuliah di Jakarta.

Villa itu lantas jarang dipakai. Sudah tiga tahun bahkan tak pernah dikunjunginya. Mau dijual juga sayang. Meubel, peralatan dapur, instalasi listrik, saluran air dan kebun dirawat baik. Ada petugas keamanan bersama. Ada tukang kebun. Setiap bulan, walau sedikit, ia bayar rekening telepon, listrik, air serta petugas.

Ia percaya pada Yayasan Pantau. Ia menawarkan Pantau untuk memakainya. Ia hendak menunggu hingga Januari. Kalau Pantau tak hendak memakai, ia akan mempertimbangkan menjual villa itu.

Persoalannya, untuk apa? Kalau kantor Pantau pindah ke Cibodas, saya kira, kami terlalu jauh dari Jakarta. Kalau dipakai untuk istirahat akhir pekan, juga terlalu sedikit orang Pantau yang bisa memanfaatkannya. Kebanyakan para kontributor Pantau bahkan tinggal jauh dari Jakarta. Kami juga tampaknya punya perasaan bersalah bila istirahat akhir pekan di sebuah villa. Mungkin semangat anti borjuasi kami cukup besar ya?

Saya sempat punya ide. Bagaimana bila villa ini diatur untuk membantu orang yang mau menulis buku dengan serius?

Image hosted by Photobucket.com

Soalnya, saya sering lihat dan juga mengalami sendiri, kesulitan menulis serius di Jakarta. Negeri ini kurang menghargai cendekiawan yang mau menulis. Ia tak punya institusi yang secara lumayan memberi dukungan kepada orang yang mau menulis. Baik ilmuwan, wartawan, seniman atau apapun. Hasilnya, kebanyakan buku dibuat seadanya. Coba deh datang ke toko buku, bandingkan karya internasional dan lokal. Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal secara bergurau bilang "non-book book" karena kebanyakan isinya kumpulan karangan pendek.

Menulis sebuah buku beda dengan menulis karangan pendek. Sebuah feature atau esei memiliki satu atau dua atau tiga ide. Sebuah buku punya ide banyak. Ia butuh waktu dan perenungan. Ia butuh riset panjang. Ia butuh wawancara banyak. Ia butuh pengetesan. Ia butuh sparing partner. Ia butuh editor. Ia butuh perpustakaan. Ia juga butuh suasana.

Image hosted by Photobucket.com

Saya pribadi sejak Juli 2003 menulis sebuah buku tentang nasionalisme Indonesia, From Sabang to Merauke. Aduh, susahnya setengah mati. Rekan sesama Pantau, Linda Christanty, juga ingin menulis novel. Alamak, tidak jalan atau setengah jalan. Mau mampus rasanya!

Ini bicara soal buku serius ya. Buku serius bukan harus susah dibaca tapi isinya dalam. Bukan "non-book book."

Uang tak cukup, waktu habis buat mencari uang, suasana tak mendukung, kesibukan mengalir terus, buku terbatas dan lain-lain. Ini belum lagi kalau urusan domestik bermunculan. Belum lagi urusan jaga disiplin. Belum lagi lawan tanding diskusi. Padahal lawan tanding penting untuk menjaga mutu penulisan. Pendek kata, menulis buku serius sulit sekali di negeri ini.

Saya berpikir, bagaimana kalau kita ciptakan program penulisan di villa Cibodas ini? Pantau bisa menyediakan sparing partner, perpustakaan kecil dan tempat menyepi.

Bagaimana bentuknya, saya belum tahu. Siapa yang bisa diterima? Siapa panitianya? Bagaimana duitnya? Apa kerja sama dengan penerbit buku? Saya juga belum tahu.

Image hosted by Photobucket.com

Saya hanya ingat pengalaman dulu diundang The Aspen Institute untuk duduk dan berpikir di sebuah rumah peternakan luas di Maryland. Ada perpustakaan. Ada ruang diskusi. Ada suasana terbuka. Jakob Oetama dari Kompas dan pastor Y.B. Mangunwijaya juga pernah diundang kesana. Mereka bahkan menghasilkan banyak seminar penting dari rumah pertanian itu.

Mungkin secara kecil-kecilan dan murah ide itu bisa dipakai di Cibodas? Nah, bagaimana pendapat Anda? Bantu kasih ide dong.

Friday, October 07, 2005

Sometimes in April

Saya merekomendasikan Anda nonton film "Sometimes in April" karya Raoul Peck buatan 2005. Perasaan saya diobrak-abrik film ini. Intinya, cerita tentang genocide terhadap orang Tutsi oleh milisi dan tentara Rwanda dari etnik Hutu pada tahun 1994. Penggarapan apik. Karakter-karakter jalan. Ia dishooting di Rwanda sehingga tempat-tempatnya terasa lebih mencekat.

Film ini mungkin mengesankan karena saya lagi belajar soal "ethnic cleansing" dan "genocide." Ia juga terjadi di negeri ini. Saya berhenti lebih dari lima kali ketika menonton "Sometimes in April" –selama tiga hari-- karena tak tahan terhadap kekejaman di Rwanda.

Secara sederhana, "genocide" adalah upaya-upaya untuk menghancurkan sekelompok atau sebagian orang karena kebangsaannya, etnik, ras atau agamanya.

"Ethnic cleansing" adalah upaya sama namun hanya etnik. Istilah "ethnic cleansing" berasal dari Serbia. Ia menjadi populer 1990-an ketika tentara dan milisi Serbia "membersihkan" atau "cleaning" sebuah wilayah dari etnik non-Serbia misalnya Bosnia atau Albania.

Definisi "genocide" diresmikan pada "Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide" yang disetujui oleh U.N. General Assembly dalam sidang umum 9 Desember 1948.

Pasal 2 tentang definisi "genocide" “… any of the following acts committed with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnical, racial or religious group, as such:

(a) Killing members of the group;
(b) Causing serious bodily or mental harm to members of the group;
(c) Deliberately inflicting on the group conditions of life calculated to bring about its physical destruction in whole or in part;
(d) Imposing measures intended to prevent births within the group;
(e) Forcibly transferring children of the group to another group
.”

Sama dengan film “Hotel Rwanda” karya Terry George, film ini membuat saya berpikir lebih dalam tentang pembunuhan terhadap orang Madura di Kalimantan, orang yang dituduh komunis di Jawa dan Bali, diskriminasi orang Tionghoa, pembunuhan bangsa Papua, bangsa Acheh, Ambon, Poso dan sebagainya.

Ia juga mendidik saya bagaimana media bisa menciptakan kebencian. Ia bukan monopoli Rwanda tapi juga ada dan nyata di negeri ini. Silahkan menonton deh.

Saturday, October 01, 2005

Diskusi Jurnalisme di Samarinda

Rusman dari Yayasan Pena Samarinda mengundang aku bicara soal jurnalisme di Samarinda bersama Mediyatama Suryodiningrat dari The Jakarta Post dan Katamsi Ginano dari PT Newmont Pacific Nusantara pada 1 Oktober ini.

Kami bikin acara di sebuah hotel kecil di Samarinda. Pesertanya, sekitar 10 orang dari Tribun Kaltim milik Kelompok Kompas Gramedia, Kaltim Post dari Kelompok Jawa Pos, maupun wartawan lain.

Aku banyak bicara soal beberapa elemen jurnalisme ala Bill Kovach dan Tom Rosenstiel namun aku juga banyak bicara soal bias nasionalisme dalam "media Indopahit" --Indonesia keturunan Majapahit.

Aku menyinggung soal sejarah jurnalisme yang baru bebas dari sensor dan tekanan pada saat Jendral Suharto jatuh 1998. Artinya, kebebasan pers baru berumur enam tahun. Sayangnya, kebebasan yang singkat ini langsung didominasi konglomerat media.

Kami sempat diajak mampir ke kantor Tribun Kaltim di Balikpapan. Mereka minta aku menilai komposisi berita mereka. Bergurau aku mengatakan, "Kalian harus mengubah suratkabar ini dari Tribun Jawa jadi Tribun Kaltim. Beritanya didominasi dari Jawa."

Rusman membelikan tiket pesawat untuk anakku Norman sehingga ia bisa ikut ke Samarinda. Norman kebetulan juga lagi riset soal Kalimantan untuk tugas sekolahnya. Alhasil, ia lebih sering tidur di kamar hotel!

Aku juga baru sadar bahwa Samarinda dan Balikpapan dekat sekali, 120 kilometer, dan bandar udara terletak di Balikpapan.