Thursday, November 15, 2012

Batik Biru dan Topi Hitam


ESTI WAHYUNI, seorang kawan lama saya asal Pulau Lombok, sedang senang mengambil gambar. Dia memotret saya di rumah. Hasilnya, gambar saya sedang bekerja, bercanda, makan dan sebagainya. Pokoknya ramai sekali.

Kami mulai berkenalan ketika Esti sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dia magang di majalah Pantau pada tahun 2001. Orangnya ramah, pandai bergaul dan ceria. Selesai magang, dia lantas membuat skripsi dengan bimbingan Eriyanto, seorang peneliti majalah Pantau, dan lulus. Esti bekerja paruh waktu untuk Pantau.


Baru tahu kalau menghadapi laptop saya duduk membungkuk sekali. Mungkin usia. Makin tua makin bungkuk. Esti bukan saja menangkap saya bekerja dalam gelap, namun juga sinar laptop temaram terpantul pada wajah saya. Kaca jendela memperlihatkan kelap-kelip lampu kota.

Esti mengambil gambar malam hari, tanpa bantuan lampu blitz. Dia mungkin ingin menangkap suasana saya bekerja tapi juga hilir mudik bicara dengan beberapa kawan. Jadinya, ya gambar batik biru dan topi hitam. Dia mempersilahkan saya memilih dan memakai gambar jepretannya.

Saya kira mereka baik sekali menggambarkan suasana hati dan suasana saya bekerja. Esti merekam kegiatan ini ketika saya sedang bergulat mengejar deadline. Ada lonceng tua. Ada laptop Lenovo. Ada tumpukan dokumen dan buku.


Monday, November 05, 2012

Belajar dari Yosemite National Park


SAYA beruntung mendapat kesempatan berjalan-jalan ke Yosemite National Park, California, sebuah cagar alam di California, negara bagian Amerika Serikat, sekitar empat jam naik mobil dari San Francisco. Saya heran lihat ekosistem Yosemite dipelihara teliti sedemikian rupa sehingga ia tak terlalu banyak menerima “barang asing” masuk ke kawasan tersebut. Dampaknya, antara lain, orang praktis tak bisa menerima sinyal telepon, apalagi internet, karena menara untuk sinyal telepon tak bisa dibangun. Hanya sesekali, ketika naik mobil di tempat tinggi, telepon saya bisa terima sinyal.

Yosemite adalah taman nasional paling terkenal di Amerika Serikat. Ia dikenal karena pemandangan alam indah. Saya hanya berkunjung ke Lembah Yosemite, seluas 18 km2 atau hanya setengah persen dari kawasan Yosemite National Park. Ini tempat paling populer di Yosemite.

Disana ada El Capitan, sebuah kumpulan batu granit, berdiri vertikal, sekitar 900 meter. Ia tempat favorit rock climber. Namanya, dari bahasa Spanyol, artinya "Sang Kapitan." Ia terjemahan orang Spanyol terhadap bahasa Indian pribumi setempat, "To-to-kon oo-lah" atau "To-tock-ah-noo-lah."

Sidney Jones, kenalan saya di International Crisis Group, seorang ahli soal Islam dan Indonesia, anjurkan saja naik ke salah satu gunung granit, Sentinel Dome. Saya lihat pepohonan sequoia raksasa, batu granit maha besar, dan ketika musim gugur, pepohonan dengan daun-daun warna kuning keemasan.

Entah berapa ribu batang pohon
tergeletak di Yosemite. Ia tak boleh
diubah, digeser apalagi dibawa
pergi dan dijual. 
Sekitar 95 persen kawasan Yosemite masih ada dalam kondisi liar. Ia ditetapkan sebagai taman nasional pada 1916. Herannya, pohon tumbang pun tak boleh diambil. Pepohonan yang terbakar juga dibiarkan, tak boleh diambil, tak boleh ditanami lagi, tak boleh diotak-atik. Sepanjang saya naik mobil menelusuri Lembah Yosemite –sesuatu yang mengganggu ekosistem tapi diatur minimal-- saya lihat entah berapa ratus pohon yang tumbang karena kena sambar kilat atau sebab alamiah lain. Tampaknya, ekosistem Yosemite dibiarkan berjalan dengan intervensi minimal manusia. Saya bayangkan kalau ia terjadi di hutan lindung di Indonesia, entah berapa truk kayu akan dibawa pergi dan diperdagangkan.

Di berbagai tempat diingatkan bahwa pengunjung dilarang (denda maksimal US$5,000):

• Memberi makan atau mendekati binatang liar;
• Berburu binatang;
• Mengumpulkan reptil atau kupu-kupu;
• Mengambil tanaman termasuk buah pohon cemara (pine cone);
• Memungut barang arkeologis termasuk pucuk anak panah;
• Membawa metal detector atau memakai metal detector guna mencari barang logal bersejarah;
• Mengendarai kendaraan ke daerah sensitif;
• Camping di luar daerah camping;
• Memakai senjata api.

Saya pernah jalan dua kali menelusuri kawasan taman nasional Wasur di Merauke. Orang seenaknya menebang pohon dan membangun rumah-rumah sepanjang jalan. Jangan tanya deh soal buang sampah, memburu hewan. Sepanjang jalan bisa lihat sampah. Bahkan pemerintah daerah Merauke sekarang bangun jalan 15 km antara Kampung Yanggandur dengan Kampung Rawa Biru dalam kawasan Wasur. Saya takkan heran bila Wasur suatu kali dipenuhi pemukiman pendatang.

Luas Yosemite sekitar 3,000 km2, terletak di sisi barat pegunungan Sierra Nevada. Ia terletak bertetangga dengan Stanislaus National Forest, luasnya 3,600 km2, lebih besar dari Yosemite, sehingga gabungan keduanya, kira-kira 11 kali luas kota Jakarta. Cukup luas untuk jalan dari ujung ke ujung –kalau pun bisa semuanya dilewati mobil.

Kami tinggal di Evergreen Lodge, sebuah penginapan dengan belasan kabin, di pinggiran Yosemite. Kamar-kamarnya bersih, setiap kabin ada dua kamar tidur dan satu tempat mandi. Lengkap dengan air panas. Air keran mereka didapat dari pengeboran sumur, kedalaman 700 meter. Bersih dan bisa langsung diminum. Penginapan ini didirikan sejak 1921. Ia juga ada restoran, tavern, rumah rekreasi maupun tempat duduk dengan perapian. Saya datang saat musim gugur, suhu berkisar 2 Celcius malam hari dan 20 Celcius siang hari.

Selama empat hari, tiap pagi, saya biasa bangun pukul 5, membaca buku The Obamians: The Struggle Inside the White House to Redefine American Power, lalu berjalan-jalan di hutan dekat penginapan. Pukul 8 sarapan pagi. Sarapannya sederhana, enak sekali. Makan siang favorit saya adalah Elk Chilli. Ia adalah makanan dari kacang polong merah dicampur dengan daging binatang elk, rusa besar, yang boleh dipelihara, di beberapa peternakan kecil di Yosemite.

Ada sebuah telaga kecil dekat Evergreen. Saya melewati telaga ini setiap pagi. Saya suka duduk dan menikmati bayangan pepohonan pada permukaan air. Sebuah tempat liburan yang mengesankan.

Saya sangat suka dengan tempat ini.

Kalau ada daerah di Yosemite yang mengganggu pikiran saya, ia adalah Hetch Hetchy Reservoir, tempat penampungan air bersih, untuk kota San Francisco. Reservoir ini ditandai dengan Dam O'Shaughnessy, setinggi 100 meter, yang mengumpulkan air bersih dari lelehan salju dan berbagai sumber air sekitar Hetch Hetchy.

Ide membangun dam dimulai pada 1903. Kalangan pecinta lingkungan, termasuk John Muir, tokoh lingkungan hidup dan presiden Sierra Club, menentang rencana reservoir. Ia akan ganggu ekosistem Yosemite. Rencana reservoir diveto dua kali Presiden Theodore Roosevelt, kawan John Muir. Sesudah Roosevelt selesai masa jabatan pada 1909, kampanye dimulai lagi. Pada 1913, parlemen Amerika Serikat voting lagi. Hasilnya, kalangan pendukung dam menang 43–25 (dengan 29 anggota parlemen abstain). Presiden Woodrow Wilson setuju dengan hasil voting. Pada 1914, insinyur Irlandia, Michael O'Shaughnessy, mulai memimpin proyek pembangunan dam. John Muir kecewa. Dia menulis kepada kawannya, "As to the loss of the Sierra Park Valley [Hetch Hetchy] it's hard to bear. The destruction of the charming groves and gardens, the finest in all California, goes to my heart." Muir meninggal dunia sesaat sesudah keputusan. Dam selesai dibangun pada 1923. Singkatnya, perlu waktu 20 tahun guna memperdebatkan dam.

Ia mengingatkan saya bahwa upaya konservasi alam selalu berhadapan dengan kepentingan praktis manusia. Ia memang sering harus kompromi. Negara harus mengatur kompromi tersebut. Kalau kini Yosemite masih terpelihara dengan baik, walau pun ada dam O'Shaughnessy,ia terjadi karena proses perdebatan dan kompromi. Saya harap berbagai macam hutan di Indonesia bisa juga diperdebatkan dengan serius macam Yosemite.

El Capitan adalah sebuah kumpulan batu granit, berdiri vertikal, sekitar 900 meter. Ia adalah salah satu tempat favorit rock climber. Namanya, dari bahasa Spanyol, artinya "Sang Kapitan."

Luas Yosemite sekitar 3,000 km2, terletak di sisi barat pegunungan Sierra Nevada. Resminya, kawasan ini dijadikan kawasan perlindungan alam pada 1916.

Hetch Hetchy Reservoir, tempat penampungan air bersih, untuk kota San Francisco. Ia selesai dibangun pada 1923 buat menyediakan air bersih untuk San Francisco. Kalangan pecinta lingkungan menentang keras keberadaan reservoir ini karena merusak alam Yosemite.

Saya sempat naik ke salah satu gunung granit. Terpesona dengan pemandangan Yosemite. Saya lihat pepohonan sequoia raksasa, batu granit maha besar, dan ketika musim gugur, pemandangan keemasan dari pohon. Sekitar 95 persen kawasan Yosemite masih ada dalam kondisi liar.

Sebuah telaga kecil dekat Evergreen, tempat saya menginap. Saya melewati telaga ini setiap pagi, sesudah bangun dan baca buku. Saya suka sekali duduk dan menikmati pemandangan di telaga ini.