Tuesday, January 06, 2004

Independensi Bill Kovach



Pembaca suratkabar Indonesia sulit menilai integritas wartawan

Oleh Andreas Harsono

Ketika Bill Kovach meluncurkan bukunya di Medan, seorang mahasiswi Universitas Sumatera Utara menyatakan terkesan pada buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Kovach dan Tom Rosenstiel itu. Seraya memuji, Farida Hanim, si mahasiswa tersebut, juga bertanya, “Apa kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Bill Kovach?” Hanim merasa orang yang sudah mencapai kebijaksanaan macam Kovach, seyogyanya pernah bikin salah.

Orang-orang tergelak mendengarnya. Kovach tersenyum, “Ini tidak fair. Saya mendapat pertanyaan sulit ketika diskusi hampir berakhir. Padahal saya sudah capek.” Tapi Kovach menjawab bahwa tiap wartawan bisa salah, termasuk dirinya, dan salah satu kesalahan yang mengganggunya belakangan ini adalah sebuah eseinya tentang Charles Longstreet Weltner dalam buku Profiles in Courage for Our Time, suntingan Caroline Kennedy, putri almarhum Kennedy.

Welter anggota Konggres asal negara bagian Georgia, yang terkenal berani. Tahun 1991, ia menerima John F. Kennedy Profile in Courage Award pada 1991, sebuah hadiah yang diberikan tiap tahun oleh sebuah yayasan milik keluarga mantan presiden John F. Kennedy kepada pejabat pemerintah yang dinilai punya keberanian moral.

Dalam esei itu, Kovach menulis bagaimana Weltner memilih mundur dari Konggres pada 1966 karena Lester Maddox, dicalonkan partainya dalam kampanye pemilihan gubernur Georgia. Maddox seorang pendukung segregasi atau seorang rasialis. Weltner melawan partainya sendiri, mengambil risiko dikucilkan, karena Weltner percaya bahwa tiap warga punya hak sama. Kulit putih maupun hitam. Weltner pun kehilangan karir politiknya.

Repotnya, sesudah mundur, Weltner punya kehidupan yang kacau. Dia cerai dari istrinya, suka mabuk, naik sepeda motor besar, dan bergaya macam anak muda. Kovach juga menerangkan bahwa pada periode ini Weltner menikah dengan istri keduanya. Pernikahan hanya bertahan lima bulan. Kovach tak menyebut nama istri kedua itu tapi pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian juga. Belakangan Weltner menikah dengan istri ketiga. Weltner lantas jadi hakim agung dan meninggal pada 1992.

Sesudah buku terbit, Kovach menerima sebuah bungkusan besar, dari mantan istri kedua Weltner. Isinya, berupa fotokopi surat, dokumen, foto, dan sebuah surat panjang. Dalam surat ini, si istri mengatakan Kovach keliru dan telah menghancurkan hidupnya hanya dengan tiga kalimat tersebut. Memang Kovach tak menyebut nama tapi banyak orang tahu siapa mantan istri kedua Charles Weltner. Si mantan istri mengatakan dua tahun itu termasuk periode hidupnya yang paling bahagia. Mereka hidup bahagia. Bahkan sesudah cerai pun, mereka masih sering berkomunikasi.

Kovach mempelajari kiriman itu dan menyesal karena merasa tak cukup melakukan reportase untuk mengetahui periode dua tahun itu. Kovach menelepon si mantan istri dan berjanji akan menulis sebuah esei untuk memperbaiki apa yang sudah ditulisnya. ”Saya mau pergi ke Indonesia tapi saya bilang saya akan mewawancarainya sesudah pulang dari sini. To get things right,“ kata Kovach.

Artinya? Tiap wartawan bisa berbuat salah tapi mereka harus berusaha memperbaiki kesalahannya. Inilah salah satu pelajaran yang saya peroleh ketika jadi penterjemah Kovach pada 1-17 Desember lalu saat dia mengunjungi Medan, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali untuk berceramah dan meluncurkan bukunya. Buku Sembilan Elemen Jurnalisme itu diterjemahkan Yusi Pareanom dan saya menyuntingnya.

Kovach dan Rosenstiel menulis ada sembilan prinsip jurnalisme yang mereka simpulkan setelah melakukan diskusi dan mewawancarai lebih dari 3.000 wartawan selama tiga tahun. Tujuan jurnalisme, demikian kesimpulan mereka, adalah melayani warga agar mereka bisa mengambil sikap dalam menjaga kemerdekaan serta mengatur diri mereka sendiri.

Ini penting kalau melihat sejarah. Pada zaman dahulu kala, ketika manusia belum menemukan jurnalisme, informasi lebih banyak diatur dan dimiliki oleh organisasi-organisasi –baik organisasi militer, politik, agama, sosial dan sebagainya. Mereka memiliki cara dan saluran sendiri untuk mendapatkan dan menggunakan informasi. Orang banyak tak tahu tentang kejadian atau orang yang mempengaruhi jalan hidup mereka. Informasi publik baru muncul kalau ada orang datang dari kejauhan dan membawa kabar tentang bencana alam atau berita lain.

Opini publik juga baru muncul ketika informasi mulai jadi konsumsi umum. Ini makin berkembang sekitar 200 tahun lalu dengan munculnya suratkabar-suratkabar pertama. Opini publik mendorong keinginan orang untuk mengatur diri sendiri. ”Jurnalisme dan demokrasi lahir bersama-sama. Tapi jurnalisme dan demokrasi juga akan mati bersama-sama. Jurnalisme gosip, jurnalisme hiburan, jurnalisme propaganda, hanya akan meracuni demokrasi kita,“ kata Kovach. ”Tapi jurnalisme yang dilakukan lewat verifikasi, jurnalisme yang tepat waktu, jurnalisme yang bermutu, akan memperkuat demokrasi.“

Pada beberapa kesempatan, Kovach juga menceritakan perbedaan antara bagaimana politisi dan wartawan memandang informasi. Pada 1979, ketika baru menjadi kepala biro Washington harian New York Times, Kovach sempat diajak ngobrol Presiden Jimmy Carter di Gedung Putih.

Mereka bicara panjang lebar dan sepakat untuk tidak sepakat. Kovach mengutip Carter berkata, “Ketika Anda memiliki kekuasaan, Anda menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kepemimpinan Anda. Namun kalau Anda wartawan, Anda menggunakan informasi untuk membantu orang mengambil sikap mereka sendiri.”

”Carter benar sekali,“ kata Kovach, ”Informasi yang sama dipakai untuk dua tujuan yang berbeda. Bahkan berlawanan.“ Ini pula yang membuatnya mengambil sikap teguh untuk independen dari dunia politik maupun politisi. Kovach juga setia pada jurnalisme dan tak pernah mau menerima masuk ke dunia politik.

Inilah salah satu elemen jurnalisme. Wartawan bisa melayani warga dengan sebaik-baiknya apabila mereka bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Independen baik dari institusi pemerintah, bisnis, sosial, maupun, politik. Ketika seorang masuk politik, ia akan mempunyai sikap yang berbeda terhadap informasi, kelak bila kembali ke dunia kewartawanan.

Elemen lainnya menyajikan kebenaran. Bukan kebenaran filosofis tapi kebenaran praktis yang dibutuhkan warga untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Untuk bisa mendapatkan kebenaran praktis, seorang wartawan harus terbiasa dengan disiplin verifikasi. Semua informasi disaring dengan teliti lewat prosedur yang baku. Ada tiga landasan intelektual untuk verifikasi: transparan dalam bekerja; bersikap rendah hati dan senantiasa berpikir terbuka; serta mengetahui urutan informasi. ”Keterangan saksi mata tentu lebih penting dari tangan kedua atau tangan ketiga,“ kata Kovach.

Elemen ketiga menempatkan kesetiaan wartawan kepada warga lebih tinggi dari kesetiaan terhadap pemasang iklan maupun pemilik media di mana wartawan bersangkutan bekerja. Jurnalisme juga harus memantau kekuasaaan serta menyambung lidah mereka yang tertindas. Jurnalisme juga wajib menyediakan forum publik sehingga isu-isu penting didiskusikan dengan terbuka. Ia juga harus menyajikan berita secara memikat tapi tetap relevan. Ia juga harus menyajikan berita secara proporsional sekaligus komprehensif. Dan elemen kesembilan adalah memberikan tempat kepada hati nurani dalam tiap ruang redaksi.


Kovach salah satu wartawan Amerika Serikat yang reputasinya menembus banyak batas negara. Saya merasakan kesenioran ini ketika mengantar Kovach keliling Indonesia. Dari mahasiswa hingga wartawan, dari pemilik media hingga reporter, banyak yang menyatakan kekagumannya pada Kovach.

Saya punya kesan Kovach sangat berhati-hati dengan opininya. Dia bertemu dengan ratusan orang media tapi lebih banyak mendengar orang lain daripada bicara. Jakob Oetama, orang nomor satu Kelompok Kompas Gramedia, mengatakan dia merasa “mendapat kehormatan“ ketika Kovach berkunjung ke kantor Kompas. Dahlan Iskan dari Kelompok Jawa Pos memuji isi buku itu. Goenawan Mohamad dari Tempo pernah mengatakan pada saya bahwa Kovach adalah orang yang sulit dicari kesalahannya. Hary Tanoesoedibjo dari RCTI minta agar Kovach ”mengajarnya“ soal bagaimana mengelola bisnis media.

Anak-anak muda juga terkagum pada Kovach. ”Dia orang yang rendah hati. Dia ibaratnya gunung, punya banyak material di dalamnya, tapi hanya terlihat sedikit saja,“ kata Geg Ary Suharsani dari Akademika, Universitas Udayana, Denpasar.

Tapi Kovach juga tak ragu berpendapat terbuka soal mutu jurnalisme. Dia misalnya mengkritik berbagai suratkabar Indonesia yang kebanyakan tidak memakai byline. Ketiadaan byline membuat accountability atau pertanggungjawaban seorang wartawan jadi samar. Pembaca sulit menilai kinerja seorang wartawan. Pembaca sulit menilai integritas seorang wartawan.

Kovach lahir dari keluarga Amerika keturunan Albania pada 1932 di Tennessee, di bagian Selatan negara Amerika Serikat. Ayahnya seorang Muslim asal Albania. Ibunya seorang Katolik Ortodox. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di harian Johnson City Press-Chronicle. Dari tahun 1960 sampai 1967 ia jadi reporter pada Nashville Tennessean. Di suratkabar ini, Kovach banyak meliput soal gerakan persamaan hak orang kulit hitam di Amerika, politik wilayah Selatan, dan kemiskinan di daerah pegunungan Appalachian. “Saya bangga karena ikut membuat perubahan. Generasi sebelum saya menganggap berita orang hitam tak perlu diliput. Tapi generasi kami mengubah keadaan itu,” kata Kovach.

Pada 1968, Kovach bergabung dengan harian New York Times –salah satu suratkabar terbaik di dunia. Di tempat ini, ia bekerja selama 18 tahun. Dari tahun 1979-1986 ia jadi kepala biro New York Times di Washington –sebuah jabatan yang penting karena biro ini besar sekali. Kovach lalu pindah dan jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution di Atlanta, ibukota Georgia, selama dua tahun.

Selama kurun itu, ia membuat harian itu memenangi dua penghargaan Pulitzer, penghargaan pertama untuk koran ini dalam 20 tahun. Tapi Kovach mundur dari jabatannya karena berbeda pendapat dengan pemilik Journal-Constitution. Dia akhirnya jadi Nieman Fellow di Universitas Harvard pada 1988-1989 dan kemudian jadi kuratornya hingga 2000. Selama 10 tahun di Nieman Foundation, ada tiga wartawan Indonesia yang beruntung mendapat kesempatan menggali ilmu dari Kovach: Goenawan Mohamad dari Tempo, Ratih Harjono dari Kompas dan saya sendiri.


Selama perjalanan 17 hari di lima kota, banyak orang meragukan apakah sembilan elemen jurnalisme itu bisa diterapkan di Indonesia. H. Soffyan, pemimpin redaksi harian Analisa Medan, berpendapat sembilan elemen ini ideal. Mungkin buat generasi wartawan Indonesia hari ini belum bisa dipakai. Cukup banyak wartawan Medan atau di berbagai kota Indonesia lain yang masih bergulat dengan isu “amplop” –sogokan untuk wartawan dalam bentuk uang. Soffyan berharap generasi yang akan datang bisa memakai sembilan elemen ini.

Kovach berpendapat sembilan elemen jurnalisme itu ibarat bintang di langit. Para pelaut membutuhkan bintang-bintang di langit agar tak tersesat. Elemen-elemen jurnalisme itu jadi semacam pedoman ke mana wartawan harus mengarahkan pekerjaannya. Jakob Oetama dan Dahlan Iskan termasuk orang yang setuju dengan pendekatan Kovach.

Ada juga yang bertanya apakah elemen soal independensi juga dilakukan oleh Kovach sendiri? Apakah Kovach juga berani bersikap independen terhadap orang-orang yang dicintainya? Bagaimana kalau anaknya sendiri yang melakukan kesalahan? Apakah Kovach akan meliput mereka sama dengan kalau meliput orang lain?

Kovach menanggapi serius ketika ditanya soal ini. Dia bersyukur karena kini sudah pensiun dan selama bekerja sebagai wartawan tak ada satu pun dari empat anaknya yang bikin perkara. ”Ada aturan dalam rumah tangga saya. Saya selalu bilang pada anak-anak. Kalian boleh melakukan apa saja tapi jangan sampai besok perbuatan itu masuk headline suratkabar. Kalau itu terjadi, saya akan meliput kalian sama dengan saya meliput orang lain,“ jawab Kovach.

Soal keluarga memang tak masalah. Tapi ada cerita yang melibatkan seorang teman dekatnya, Homer Peas, yang diliput Kovach dan berujung dengan pahit. Peas adalah teman main football Kovach ketika mereka sama-sama duduk di sekolah menengah atas. Mereka juga pada waktu yang bersamaan masuk ke dinas militer pada 1951 ketika Perang Korea pecah. Kovach masuk ke Angkatan Laut dan Peas jadi paratrooper.

Ketika keluar dari dinas militer, Kovach kuliah dan lalu jadi wartawan. Peas masuk ke dunia politik dan jadi aktivis Partai Demokrat. Pada 1960, ketika Richard Nixon sedang bertanding melawan John F. Kennedy, untuk jadi presiden Amerika Serikat, Peas ikut bekerja memenangkan Kennedy. Peas membujuk veteran perang untuk memberikan suara mereka dengan imbalan sebotol whisky. Kovach saat itu menyelidiki tentang ”pembelian“ suara dan melihat Peas terlibat.

Ia menelepon Peas dan memberitakan keterlibatan sahabatnya ini. Peas diperiksa polisi, diadili, dan terbukti bersalah. Hukumannya, Peas boleh memilih masuk penjara atau masuk dinas militer lagi. Peas memilih militer dan dikirim ke Vietnam. Pada 1966 Peas meninggal dalam sebuah pertempuran dekat Bien Dien Phu, Vietnam. Peas kehabisan peluru dan melawan gerilyawan Vietnam dengan bayonet.

Dalam perjalanan naik mobil antara Magelang-Yogyakarta, Kovach mengatakan pada saya bahwa kematian Homer Peas hingga hari ini masih mengganggu dan membuatnya merasa sakit. “Saya sering sedih dan marah karena secara langsung saya ikut menyebabkan kematian teman saya. Kalau saya tak menyebut nama Homer, dia jelas takkan berangkat ke Vietnam dan mati di sana. Tapi saya juga tahu bahwa keputusan untuk berbuat salah atau berbuat benar adalah keputusan Homer sendiri. Homer bisa menolak untuk ikut kejahatan yang membahayakan demokrasi kami. Tapi Homer memilih berbuat salah.“

Saya tanya bagaimana sikap Kovach kalau ia menghadapi pilihan yang sama? “Anda dan saya wartawan! Tugas kita adalah memberitahu warga kalau ada penyalahgunaan kekuasaan. Warga harus tahu apa yang salah, apa yang benar, sehingga mereka bisa mengambil sikap dengan informasi yang lengkap. Kalau saya harus menghadapi dilemma ini lagi, saya kira saya akan melakukan hal sama dengan apa yang pernah saya lakukan terhadap Homer,” katanya.

Bulu kuduk saya merinding.

Monday, January 05, 2004

Literary Journalism Course V

Pada 1973 Tom Wolfe menerbitkan buku The New Journalism. Dunia jurnalisme Amerika Serikat gempar. Sebuah gerakan muncul. Ia mengawinkan disiplin yang paling keras dalam jurnalisme dengan daya pikat karya sastra. Ibarat novel tapi faktual. Ibarat novel ia mencerahkan. Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemen-elemennya ketika kecepatan televisi memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang lebih dalam dan lebih memikat daya baca.

Kini gerakan itu diperkenalkan di Indonesia. Belajar menulis dengan dalam sekaligus memikat. Dunia suratkabar Indonesia, cepat atau lambat, akan lebih banyak menerangkan ketimbang sekedar menurunkan laporan hardnews. Dunia suratkabar Indonesia takkan mampu melayani publik dengan baik bila ia tak bisa tampil lebih dalam dari apa yang dilaporkan televisi atau internet.

Waktu:
5 Januari – 19 Januari 2004 (tiap Senin, Rabu, Jumat total enam hari, disediakan sela satu hari buat pekerjaan rumah)

Instruktur:
Janet E. Steele, profesor dari School of Media and Public Affairs, George Washington University, mengampu matakuliah jurnalisme sastrawi di sana, kini menulis buku tentang majalah Tempo, (202) 994-2004
Andreas Harsono, redaktur pelaksana majalah Pantau soal media dan jurnalisme, sempat mengambil matakuliah ini selama dua semester di Universitas Harvard, (21) 8573388

Pendaftaran:
Indarwati Aminuddin 021-72801163 mobile 0818-764776

Syarat:
Peserta adalah wartawan atau penulis freelance yang biasa menulis. Setidaknya sudah berpengalaman lima tahun. Kemampuan berbahasa Inggris dibutuhkan untuk membaca bahan-bahan bacaan. Peserta juga bersedia mengerjakan tugas-tugas dari membaca, meliput dan menulis, dalam kursus ini. Dua minggu penuh si peserta diminta memberikan konsentrasi pada kursus. Peserta maksimal 15 orang agar instruktur punya perhatian memadai buat semua peserta. Pekerjaan rumah tangga tolong dibuatkan fotokopi dua kali (satu untuk peserta dan satunya untuk instruktur).

Biaya:
Rp 2.5 juta termasuk makan siang dan materi termasuk buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Materi kursus non-buku kira-kira 200 halaman akan dikirim ke peserta lebih dulu untuk dibaca di rumah.

Jadwal:
MINGGU PERTAMA [Janet Steele]

SESI 1 Senin 5 Januari pukul 10:00-12:00 – Pembukaan: membicarakan silabus, perkenalan, bagi tugas, dan diskusi tentang jurnalisme sastrawi, tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, melontarkan pertanyaan, menilai dokumen, mengutip sumber, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.”
Bacaan: "The New Journalism" oleh Tom Wolfe; "Literary Journalism: Breakable Rules for Literary Journalists" oleh Mark Kramer; “The Girl of the Year” oleh Tom Wolfe; “Dua Jam Bersama Hasan Tiro“ oleh Arif Zulkifli dari Tempo oleh Steele dan Harsono.

SESI 2 Senin 5 Januari pukul 13:00-15:00 - Diskusi lanjutan tentang definisi jurnalisme sastrawi, dari Tom Wolfe hingga Mark Kramer, dan pengaruhnya pada perkembangan suratkabar mainstream di Amerika Serikat.
Tugas untuk Rabu: Rekamlah pembicaraan dengan seorang teman, anggota keluarga, atau seorang nara sumber, dengan tujuan bahan itu bisa dijadikan sebuah narasi (monolog). Buat transkripnya, lalu disunting sehingga enak dibaca. Topiknya bisa apa saja tapi yang bisa memikat pembaca untuk membaca narasi itu. Modelnya “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini.

SESI 3 Rabu 7 Januari pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang “immersion reporting” berdasarkan karya Truman Capote "In Cold Blood" serta membandingkannya dengan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” karya Chik Rini.
Bacaan: Steele menyediakan beberapa bagian dari “In Cold Blood” dan “Wealthy Family, 3 of Family Slain” dari The New York Times pada 1959.

SESI 4 Rabu 7 Januari pukul 13:00-15:00 – Diskusi tentang bagaimana memanfaatkan narasi dalam berita hangat (breaking news) dengan contoh “Tikungan Terakhir” oleh Agus Sopiann dan “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin.
Bacaan: “Tikungan Terakhir” (laporan kematian wartawan Rudi Singgih) oleh Agus Sopian dan beberapa artikel suratkabar tentang pembunuhan Rudi Singgih serta “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin.
Tugas untuk Jumat: Tulislah sebuah narasi dengan gaya orang pertama ("saya") untuk menggambarkan sebuah adegan dengan menggunakan teknik Jurnalisme Baru. Gunakan model "The Armies of the Night" karya Norman Mailer sebagai contoh di mana Mailer memasukkan dirinya dalam laporannya. Bahan ini akan dibacakan di depan kelas. Panjang maksimal 2 halaman.

SESI 5 Jumat 9 Januari pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang pekerjaan rumah yang dibuat berdasarkan “The Armies of the Night.”
SESI 6

MINGGU PERTAMA [Andreas Harsono]

SESI 7 Senin 12 Januari pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang jurnalisme dasar serta sembilan elemen jurnalisme dari Committee of Concerned Journalists serta kesempatan yang ditawarkan genre ini untuk pengembangan suratkabar atau majalah di Indonesia, termasuk pemakaian byline, pagar api, kolumnis dan sebagainya.
Bacaan: “The Elements of Journalism” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel; resensinya “Sembilan Elemen Jurnalisme” oleh Andreas Harsono.

SESI 8 Senin 12 Januari pukul 13:00-15:00 – Diskusi tentang jurnalisme sastrawi: pengelolaan database, persoalan etika, pengelolaan emosi pembaca dan sebagainya.
Bacaan: "Literary Journalism: Breakable Rules for Literary Journalists" oleh Mark Kramer; "The New Journalism" oleh Tom Wolfe (bab pengantar dalam buku Wolfe berjudul The New Journalism); “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana.
Tugas untuk Rabu: Coba pikirkan bagaimana kita bisa meningkatkan minat orang membaca naskah kita? Apa yang bisa dilakukan secara pribadi? Apa yang harus dilakukan secara kelembagaan? Tuliskan dalam beberapa alinea dan nanti didiskusikan bersama.

SESI 9 Rabu 28 Januari pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang pekerjaan rumah lalu soal liputan Aceh dengan melihat struktur karangan, membandingkan dua karangan berbeda dengan isu yang sama.
Bacaan: “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini dan “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” oleh Alfian Hamzah (Rini dan Alfian adalah alumni kursus jurnalisme sastrawi angkatan II).

SESI 10 Rabu 28 Januari pukul 13:00-15:00 – Diskusi tentang John Hersey membuat laporan “Hiroshima” yang diterbitkan majalah The New Yorker pada Agustus 1946.
Bacaan: “Hiroshima” oleh John Hersey, “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey” oleh Bimo Nugroho, dan “About Town” oleh Ben Yagoda. Satu kelompok akan dipilih untuk membaca semua bab dalam “Hiroshima” dan cerita soal laporan ini.
Tugas untuk Jumat: Membaca “The Terrorist Within” oleh Seattle Times. Diskusi akan dilakukan oleh dua kelompok. Kelompok pertama bertugas menerangkan bagian pertama dari laporan tersebut sedang kelompok kedua mendiskusikan bagian terakhir.

SESI 11 Jumat 30 Januari pukul 10:00-12:00 – Diskusi bagaimana The Seattle Times membuat laporan “The Terrrorist Within” tentang Ahmed Ressam dari al Qaeda.
Bacaan: Tiap peserta harus membaca “The Ticking Bomb” dari laporan 17 hari yang diterbitkan Seattle Times http://seattletimes.nwsource.com/news/nation-world/terroristwithin/chapter11.html. Satu kelompok akan membaca 17 bab dalam “The Terrorist Within” dan cerita soal laporan ini.
SESI 12 Jumat 30 Januari pukul 10:00-13:30 – Penutupan serta tanya jawab [Steele dan Harsono].